Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

HIPERMELANOSIS

Oleh:
Gusti Ahmad Faiz Nugraha I4061172064

Pembimbing
dr. Teguh Alyansyah, Sp. KK, M.KED

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNTAN
RSUD DOKTER ABDUL AZIS
SINGKAWANG
2018
BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
Warna kulit manusia ditentukan oleh berbagai pigmen. Karoten, melanin,
oksihemoglobin, hemoglobin yang tereduksi, melanin berperan pada penentuan warna
kulit. Pigmen melanin paling berperan dalam menentukan warna kulit.
Kelainan pigmentasi adalah perubahan warna kulit menjadi lebih putih, lebih
hitam, atau coklat, dibandingkan dengan warna kulit normal serta bersifat makuler.
Salah satu contoh kelainan pigmentasi adalah hipermelanosis, yaitu suatu keadaan
dimana meningkatnya sel melanosit maupun hanya karena pigmen melanin saja yang
bertambah baik dalam epidermis maupun dermis.
Hipermelanosis dapat terjadi oleh karena beberapa faktor, diantaranya adalah
genetik, metabolik, endokrinologik, inflamasi, nutrisi, bahan kimia, fisik, dan neoplastik
BAB II
Tinjauan Pustaka
Melanosit
 Melanosit berasal dari sel krista neural
 Melanosit memiliki badan sel bulat, dan dari badan sel tersebut terjulur cabang-
cabang yang yang tak teratur dan panjang kedalam epidermis, yang berjalan diantara
sel-sel stratum basale dan stratum spinosum
 Meskipun melanosit tidak terikat pada keratinosit yang berdekatan melalui
desmosom, hemidesmosom mengikat melanosit ke lamina basalis
 Sintesis melanin berlangsung didalam melanosit; dengan tirosinase yang berperan
penting dalam proses ini. Akibat kerja tirosinase, tirosin mula-mula diubah menjadi
3,4-dihidroksi fenilalanin (dopa) dan kemudian menjadi dopaquinon, yang setelah
beberapa kali transformasi, dikonversi menjadi melanin
BAB II
Tinjauan Pustaka
Gangguan Pigmentasi
Kulit  Gangguan pigmentasi (melanosis) adalah kelainan warna kulit akibat berkurang atau
bertambahnya pembentukan melanin pada kulit
 Pada dasarnya ada dua macam tipe melanin, yaitu eumelanin yang memberikan
warna gelap, terutama hitam atau coklat dan feomelanin yang memberikan warna
kemerahan atau pirang.
 Pada proses produksi melanin bisa saja terjadi gangguan seperti produksi pigmen
melanin yang bertambah dari pada biasanya (hipermelanosis) atau berkurangnya
produksi pigmen melanin dari pada biasanya (hipomelanosis).
Hipermelanosis

Definisi Etiologi
Hipermelanosis adalah suatu keadaan dimana  Genetik
terdapat gangguan pada produksi melanin  Metabolik
berupa bertambah banyaknya produksi pigmen  Endokrinologik
melanin dari pada biasanya.  Inflamasi
 Nutrisi
 Bahan kimia
 Fisik
 Neoplastik
Penyakit Kelainan Pigmentasi
Melasma
Definisi Klasifikasi Epidemiologi
Melasma merupakan hipermelanosis didapat,  Tempat predileksi melasma adalah tempat yang
umumnya simetris, berupa makula berwarna sering terpajan sinar ultraviolet (pipi, dahi,
cokelat muda sampai cokelat tua yang tidak daerah atas bibir, hidung, dagu) dan dapat
merata, mengenai area yang terpajan sinar mengenai semua ras, terutama penduduk daerah
ultraviolet dengan tempat predileksi pipi, dahi, tropis
daerah atas bibir, hidung dan dagu.  Melasma terutama lebih sering mengenai
wanita, indeks terbanyak 30-44 tahun, yaitu pada
wanita usia subur dengan riwayat pajanan sinar
matahari
 Di Indonesia perbandingan kasus melasma pada
perempuan dan laki-laki ialah 24:1
Etiologi Klasifikasi

 Sinar ultraviolet Klasifikasi berdasarkan gambaran klinis:


 Sentro-fasial
 Hormon
 Malar
 Obat  Mandibular
 Genetik
 Kosmetika Klasifikasi berdasarkan pemeriksaan lampu Wood:
 Tipe epidermal
 Ras
 Tipe dermal
 Idiopatik  Tipe campuran
 Tipe sukar dinilai karena warna kulit gelap

Klasifikasi berdasarkan gambaran histopatologi:


 Melasma tipe epidermal
 Melasma tipe dermal
Patogenesis Gejala Klinis
Belum ada teori yang dapat menjelaskan secara Gambaran klinis kasus melasma pada dasarnya
pasti bagaimana patogenesis dari penyakit cukup mudah dikenali. Diantaranya lesi kulit
melasma. Beberapa hal yang sering dikaitkan berupa makula hiperpigmentasi berwarna cokelat
dengan penyakit melasma antara lain adalah terkadang dapat sampai berwarna hitam dengan
pengaruh sinar matahari, kehamilan, penggunaan batas jelas, dengan tepi irregular dan biasanya
hormon kontrasepsi dan kosmetik simetris
Diagnosis
Anamnesis Pemeriksaan Fisik
Anamnesis yang dapat mendukung penegakan diagnosisDiagnosis
Lesi yang khas dari melasma ialah
melasma:
1. Pasien wanita dengan kisaran umur 30-40 tahun makula hiperpigmentasi pada wajah
2. Pasien dengan riwayat kehamilan berulang
Pemeriksaan
3. Pasien dengan penggunaan oral kontrasepsi
4. Pasien yang memiliki aktifitas yang sering Penunjang
berpaparan dengan sinar matahari secara langsung Tipe Melasma Gambaran Klinis
5. Lesi timbul setelah berminggu-minggu dan semakin Epidermal Berbatas tegas
terlihat saat kontak dengan sinar matahari Berwarna cokelat tua
Terlihat lebih kontras dibawah sinar
6. Pasien dengan riwayat penggunaan kosmetik Memberikan respon yang baik terhadap
7. Pasien wanita menopause yang sedang menjalani pengobatan
terapi hormon Talaksanaan
Dermal Berbatas tidak tegas
Berwarna cokelat muda
Terlihat tidak bertambah kontras dibawah sinar
Memberikan respon yang buruk terhadap
pengobatan
Mixed Kombinasi warna cokelat tua dan muda
Memberikan respon hanya sebagian saja
Tidak Jelas Dengan sinar wood lesi menjadi tidak jelas,
sedangkan dengan sinar biasa jelas terlihat.
Diagnosis Banding Tatalaksana

 Riehl’s melanosis Pengobatan topikal:


 Hidrokuinon
 Horis’s macules
 Asam retinoat
 Postinflammatory hyperpigmentation  Asam azaleat
(PIH)
Pengobatan sistemik:
 Asam askorbat/ vitamin C
 Glutation

Tindakan khusus:
 Pengobatan kimiawi
 Bedah laser
Komplikasi Prognosis

 Pemakaian hidrokuinan dalam waktu yang Prognosis baik bila pengobatan dilakukan dengan

lama juga dapat menyebabkan reaksi benar dan teratur

iritasi, sensitasi ringan di tandai dengan


rasa gatal , rasa terbakar, dan dermatitis
alergika.
 Pemakaian azelaic acid mempunyai
kemampuan untuk memutihkan kulit ,
hasilnya hampir sama dengan hidrokuinon
tetapi dapat megakibatkan rasa gatal dan
menyengat.
Lentiginosis

Definisi Klasifikasi Etiologi


 Lentigo (lentigines) adalah suatu makula Disebabkan karena bertambahnya jumlah melanosit
berwarna coklat sampai coklat gelap atau pada taut dermo-epidermal tanpa adanya proliferasi
hitam, sirkumskripta, dengan diameter fokal.
kurang dari 0,5 cm
 Lesi ini mempunyai warna yang sama
(uniform) ataupun berseling-seling
(variegated), dan bisa didapatkan di mana
saja dipermukaan kulit, termasuk telapak
tangan, telapak kaki, dan membran mukosa
 Lentigo bisa berbentuk oval atau regular
 Lentiginosis adalah keadaan timbulnya
lentigo dalam jumlah yang banyak atau
dengan distribusi tertentu
Klasifikasi Gejala Klinis
1. Lentiginosis generalisata  Makula tersebut selalu mengenai selaput lendir
 Lentiginosis eruptif mulut berbentuk bulat, oval, atau tidak teratur;

 Sindrom lentiginosis multipel berwarna coklat kehitaman berukuran 1 – 5 mm


 Bercak dimuka tampak lebih kecil dan lebih gelap
2. Lentignosis sentrafasial
terutama disekitar hidung dan mulut, pada tangan
3. Sindrom Peutz-Jeghers
dan kaki bercak tampak lebih besar
 Gejala lain adalah polip diusus, penderita biasanya
mengalami melena.
Diagnosis Diagnosis Banding
Pada pemeriksaan histopatologik dari makula  Sindrom Addison
hiperpigmentasi didapatkan jumlah melanosit bertambah  Freckles
dilapisan sel basal dan makrofag berisi pigmen di dermis
bagian atas. Diseluruh epidermis terdapat banyak granula
melanin.
Tatalaksana

Terapi dengan pembedahan


Talaksanaan
Efelid
Definisi Gejala Klinis
Makula hiperpigmentasi berwarna coklat terang Biasanya efelid timbul pada umur lima tahun,
yang timbul pada kulit yang sering terkena sinar berupa makula hiperpigmentasi terutama pada
matahari. Lebih sering pada orang berkulit daerah kulit yang sering terkena sinar matahari.
putih. Efelid diturunkan secara dominan Pada musim panas jumlahnya akan bertambah, lebih
autosomal. besar dan lebih gelap. Kadang-kadang efelid ini tidak
begitu berarti, tetapi kadang-kadang merupakan
problem kosmetik. Penderita cenderung mendapat
melanocytic naevi.
Diagnosis Diagnosis Banding
Pada pemeriksaan histopatologik didapatkan tidak Efelid harus dibedakan dengan
adanya penambahan jumlah melanosit, tetapi xeroderma pigmentosum dan
melanosom panjang dan berbentuk bintang seperti yang lentiginosis lain.
didapatkan pada orang berkulit hitam. Pembentukan
melanin lebih cepat setelah penyinaran matahari. Jumlah
Tatalaksana
melanin diepidermis juga bertambah.
Dapat dicoba dengan obat pemutih
Talaksanaan
atau dikelupas dengan fenol 40%
kemudian dinetralkan dengan alkohol.
Sunscreen diberikan untuk
pencegahan.
Lentigo Senilis (Liver
Spot)
Definisi Klasifikasi Diagnosis
Makula hiperpigmentasi pada kulit daerah yang Pemeriksaan histopatologik menunjukkan
terbuka, biasanya pada orangtua usia > 40 terpisahnya geligi epidermal dan lapisan basal
tahun. Sering bersama makula depigmentasi, berbentuk seperti pemukul baseball.
ekimosis senilis, dan degenerasi aktinik kronik. Hiperpigmentasi oleh karena adanya peningkatan
Sering kali terlihat pada punggung tangan. melanosit.
Gejala Klinis
Dermatitis Barloque
Terdapat makula hiperpigmentasi,
Definisi
Diagnosis umumnya didaerah lesi atau tempat-
Dermatitis barloque adalah kelainan kulit berupa
tempat lain, berwarna coklat, konfigurasi
hiperpigmentasi, akibat fotosensitisasi karena pemakaian
mengikuti pola percikan material.
bahan-bahan yang mengandung –metoksi psoralen
Pigmentasi ini akan menghilang dalam
(berhapten) atau lain-lain furokumarin
beberapa minggu atau bulan

Diagnosis
Pada pemeriksaan histopatologi akan
Talaksanaan
didapatkan kenaikan jumlah melanosit
yang fungsional dengan bertambahnya
dendrit dan dopa positif
Bercak Mongol
Gejala Klinis Klasifikasi
Kelainan ini dijumpai sejak lahir, berupa bercak Kikuchi (1982) membagi bercak mongol menjadi 3
kebiru-biruan atau coklat keabu-abuan pada tipe berdasarkan atas kecepatan regresinya, yaitu:
daerah lumbosakral bagian sentral. Morooka  Tipe biasa
mendapatkan bahwa ukuran bercak mencapai  Tipe ekstensif
maksimal pada usia 2 tahun, sedangkan  Tipe persisten
intensitas warna maksimal pada usia 1 tahun.
Ukuran lesi bervariasi dari beberapa milimeter
sampai centimeter. Lesi dapat soliter maupun
multipel. Pada kebanyakan kasus dapat
mengalami regresi spontan, namun ada juga
yang persisten.
Hiperpigmentasi Pasca
Inflamasi (HPI)
Definisi Epidemiologi
Hiperpigmentasi post inflamasi adalah kelainan HPI cenderung terjadi pada pasien berkulit hitam
pigmentasi kulit yang disebabkan daripada pasien berkulit putih
oleh peningkatan melanin akibat oleh proses
inflamasi. Hipermelanosis ini dapat terjadi
pada epidermis, dermis, atau kedua-duanya.
Etiologi Patogenesis

 Dermatofitosis atau eksema virus, reaksi alergi  Hiperpigmentasi post inflamasi terjadi akibat
seperti gigitan serangga atau dermatitis kelebihan produksi melanin atau tidak
kontak, penyakit papuloskuamous seperti teraturnya produksi melanin setelah proses
psoriasis atau liken planus, akibat induksi obat inflamasi
seperti reaksi hipersensitivitas, cedera kulit  Meskipun mekanisme yang tepat belum
karena iritasi danluka bakar akibat prosedur diketahui, peningkatan produksi dan transfer
kosmetik melanin dirangsang oleh prostanoids, sitokin,
 Akne vulgaris, dermatitis atopi, dan impetigo kemokin, dan mediator inflamasi serta spesi
merupakan penyebab umum HPI. Bahkan HPI oksigen reaktif yang dilepaskan selama inflamasi
merupakan gejala sisa yang sering pada akne
pasien berkulit gelap
Gejala Klinis Diagnosis
 Proses inflamasi awal pada HPI biasanya
 Diagnosis HPI berdasarkan anamnesis yang cermat
bermanifestasi sebagai makula atau bercak yang
dan pengamatan gambaran klinis yang akurat
tersebar merata
 Anamnesis yang dapat mendukung penegakan
 Hipermelanosis pada epidermis memberikan warna
diagnosis HPI adalah riwayat
coklat dan dapat hilang berbulan-bulan sampai
penyakit sebelumnya yang mempengaruhi
bertahun-tahun tanpa pengobatan
kulit seperti infeksi, reaksi alergi, luka mekanis, dll
 hipermelanosis pada dermis memberikan warna abu-
abu dan birupermanen atau hilang selama periode
waktu yang berkepanjangan jika dibiarkan tidak
diobati
Tatalaksana

 Terapi HPI harus dimulai dengan mengatasi peradangan pada kulit yang
mendasarinya
 Ada berbagai obat dan prosedur di samping fotoproteksi yang dapat secara aman
dan efektif mengobati HPI pada pasien berkulit gelap
 Agen topikal depigmentasi seperti hidrokuinon, asam azelat, kojic acid, ekstrak
licorice, danretinoic 0,1-0,4% dapat digunakan bersamaan dengan salep
hidrokuinon-asam laktat
Incontinensia
Pigmentosis (IP)
Definisi Klasifikasi epidemiologi
Penyakit kulit yang ditandai dengan bintik hitam  Inkontinensia pigmentosis lebih banyak terjadi
yang menyebar pada tubuh, sebelumnya pada perempuan
didahului oleh urtika, vesikula, peradangan  Insidens IP diperkirakan terjadi 1/10.000 hingga
verukosa pada bayi wanita yang baru lahir 1/100.000 populasi
 Prevalensi IP tidak diketahui dengan pasti,
namun telah lebih dari 700 kasus IP dilaporkan
dalam literatur
Etiologi Gejala Klinis
 Karakteristik lesi kulit pada IP timbul sejak lahir
 Inkontinensia pigmentosis (IP, Bloch-Sulzberger
atau 2 minggu pertama setelah lahir dengan
syndrome) merupakan genodermatosis yang
distribusi linier mengikuti garis Blaschko
diturunkan secara dominan terkait-X
 Lesi kulit biasanya terjadi dalam 4 stadium,
dapat secara berurutan, tetapi dapat saling
tumpang tindih.
 Kelainan ini secara klinis ditandai oleh displasia
ektodermal dan mesodermal, melibatkan kulit,
mata, rambut, gigi, sistem saraf pusat, dan
sistem skeletal
Diagnosis
Tatalaksana
Diagnosis pasti IP ditegakkan dengan analisis molekular
Sampai saat ini belum ada pengobatan
dan didapatkan mutasi pada gen NEMO. Akan tetapi jika
yang efektif
identifikasi gen tidak dapat dilakukan, diagnosis IP dapat
ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan
histopatologis
Prognosis
Diagnosis Banding
 Epidermolisis bulosa Kurang baik, stadium akhir umumnya
 Pemphigoid bulosa Talaksanaan
berakhir dengan kematian pada usia 2
tahun atau menjelang remaja
Melanosis Riehl

Definisi Etiologi
Kelainan ini pertama kali dinyatakan oleh Riehl Belum diketahui pasti. Bahan makanan, derivat ter,
sebagai dermatitis akibat fotosensitivitas. pewangi, dan kosmetika diduga merupakan
Dimulai dengan pruritus, eritema, dan penyebab karena memberikan hasil positif pada uji
pigmentasi yang meluas secara perlahan. Sering tempel.1
didapati pada wanita dewasa. Dianggap serupa dengan melanodermatokesika yang
merupakan melanosis karena pekerjaan yang
berkontak dengan bahan aspal, pitch kreosot dan
minyak mineral. Diagnosa ditegakkan atas dasar
riwayat dan uji tempel dengan sinar
Gejala Klinis Diagnosis
Pigmentasi bercak berwarna coklat muda sampai coklat Pada pemeriksaan histopatologi
Diagnosis
tua, terutama pada dahi, belakang telinga, dan sisi leher ditemukan adanya degenarasi
serta tempat-tempat yang sering terkena sinar matahari. perkijauan pada sel basal disertai
Pigmentasi pada tempat tertutup biasanya karena banyak melanofag didalam dermis. Pada
gesekan, misalnya ketiak dan umbilikus. Selain melanosis dermis pars papilaris dijumpai infiltrasi
sering dijumpai adanya telangiektasis dan hiperemia. sel limfosit dan histiosit.

Tatalaksana
Pada kebanyakan kasus deposit pigmen
Talaksanaan
terutama didermis. Untuk mengurangi
pigmentasi diepidermis dapat dipakai
hidroquinon dan menghilangkan penyebab.
Perubahan Warna Perubahan Warna
Karena Logam Kulit Karena Obat
Definisi
 Minosiklin
Perubahan warna karena logam berupa
 Klorpromasin
pigmentasi akibat adanya deposit partikel
 Klofamizin
logam yang dibawa aliran darah atau akibat
 Karoten
aplikasi topikal.
Klasifikasi
 Algiria
 Bismuth
 Emas
 Merkuri
BAB III
Penutup

Kelainan pigmentasi adalah perubahan warna kulit menjadi lebih putih, lebih
hitam, atau coklat, dibandingkan dengan warna kulit normal serta bersifat makuler.
Salah satu contoh kelainan pigmentasi adalah hipermelanosis, yaitu suatu
keadaan dimana meningkatnya sel melanosit maupun hanya karena pigmen melanin
saja yang bertambah baik dalam epidermis maupun dermis.
Hipermelanosis dapat terjadi oleh karena beberapa faktor, diantaranya
adalah genetik, metabolik, endokrinologik, inflamasi, nutrisi, bahan kimia, fisik, dan
neoplastik. Penyakit-penyakit dengan gejala hipermelanosis yaitu melasma, efelid,
lentiginosis, lentigo senilis, melanosis riehl, dermatitis berloque, bercak mongol,
hiperpigmentasi pasca inflamasi, inkontinensia pigmentosis, dll.
Daftar Pustaka
1. Soepardiman Lliy. Kelainan Pigmen: dalam Prof. Dr. dr. Adhi Djuanda, dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Edisi 6. Jakarta: FKUI. 2010
2. Kabulrachman. Kelainan Pigmen: dalam Prof. Dr. Marwali Harahap, dkk. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta:
Hipokrates. 2000
3. Grawkrodjer DJ. Pigmentation. In: Dermatology an Illustrated Colour Text. 3rd ed. British: Crurchill
Livingstone. 2002
4. Roberts WE. Melasma. In: Kelly AP, Taylor SC, editors. Dermatology for Skin of Colour. New York:
McGraw-Hill; 2009
5. Handel A.C, Miot L.D.B, Miot H.A. Melasma: a clinical and epidemiological review. An Bras Dermatol.
2014;89(5):771-82.
6. Lynde CB, Kraft JN, Lynde CW. Topical Treatments for Melasma and Postinflammatory
Hyperpigmentation. In: Maddin S, editor. Skin Therapy Letter. 2006
7. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004
8. Kim, Min Sung, et al. "Generalized eruptive lentiginosis in a healthy elderly man." Annals of
dermatology 26.5 (2014): 649-650.
9. Davis C and Callender VD. Postinflammatory Hyperpigmentation. The Journal of Clinical and Aesthetic
Dermatology. 2010;3(7): 20-31
10. Plensdorf S, Martinez J. Common pigmentation disorders, Am Fam Physician. 2009 Jan 15;79(2):109-
16.2009
11. Poziomczyk CS, Maria, FDS, Freitas AM, et al. Incontinentia pigmenti. An Bras Dermatol 2014;89:26-36
12. Berlin AL, Paller AS, Chan LS. Incontinentia pigmenti: A review and update on the molecular basis of
pathophysiology. J Am Acad Dermatol 2002;47:169-87
TERIMA KASIH