Anda di halaman 1dari 9

MANAGEMEN IBU HAMIL

DENGAN HIV DAN HEPATITIS B


PENDAHULUAN
Hepatitis adalah istilah umum yang berarti peradangan sel-sel hati, yang bisa disebabkan
oleh infeksi (virus, bakteri, parasit), obat-obatan (termasuk obat tradisional), konsumsi
alkohol, lemak yang berlebih dan penyakit autoimmune.

Indonesia merupakan Negara dengan endemisitas tinggi Hepatitis B terbesar kedua di


negara South East Asian Region (SEAR) setelah Myanmar.

Penularan infeksi VHB dapat terjadi dengan 2 cara, yaitu penularan horizontal dan
vertikal. Penularan horizontal VHB dapat terjadi melalui berbagai cara yaitu penularan
perkutan, melalui selaput lendir atau mukosa.
PENDAHULUAN
Mother-to-child-transmission (MTCT) terjadi dari seorang ibu hamil yang menderita
hepatitis B akut atau pengidap persisten HBV kepada bayi yang dikandungnya atau
dilahirkannya. Penularan HBV vertikal dapat
dibagi menjadi penularan HBV in-utero, penularan perinatal dan penularan post natal.

Kehamilan tidak akan memperberat infeksi virus, akan tetapi jika terjadi infeksi akut bisa
mengakibatkan hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan mortalitas tinggi pada ibu
dan bayi.
MANAGEMEN IBU HAMIL DENGAN HEPATITIS B

Pada tatalaksana tidak ada yang membedakan prinsip terhadap hepatitis akut pada
kehamilan dengan tanpa kehamilan. Istirahat yang cukup dan terapi simtomatik tetap
menjadi dasarnya.

Aspek yang perlu ditimbangkan ialah tatalaksana terkait dengan kemungkinan


terjadinya transmisi vertikal virus penyebabnya, karena hal ini dapat berpengaruh pada
morbiditas dan mortalitas anak di hari kehamilan.
Menurut American College of Gastroenterology (ACG) danAmerican
Association for the Study of Liver Disease (AASLD) sangat
merekomendasikan inisiasi antivirus pada pasien dengan viremia
yang tinggi pada 28-32 minggu ke hamilan untuk mengurangi MTCT.
Tenofovir dan telbivudin tetap menjadi terapi lini pertama

Infeksi dapat dicegah dengan vaksinasi dan bagi yang


diduga telah terpapar dianjurkan untuk juga diberikan
imunoglobulin (HBIG).

Apabila ibu mengalami HbeAg positif (HBV DNA load


tinggi) sebaiknya diberikan HBIG dan vaksin untuk bayi.
Bagi bayi yang ibunya HbeAg positif berisiko tinggi
menjadi infeksi HBV kronik
Pemberian imunisasi Hepatitis B berdasarkan status HbsAg ibu pada
saat melahirkan

Mengenai menyusui bayi,


tidak ada masalah untuk
menyusui bayinya. Jika bayi
telah divaksinasi segera
setelah lahir, maka tubuh bayi
akan membentuk antibodi
sehingga tidak terjadi
penularan dari ibu ke bayi .
MENURUT PERMENKES No.53 TAHUN 2015
Penanganan pada Ibu hamil
• Bila hasil pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi reaktif, maka pasien dirujuk
ke rumah sakit yang telah mampu melakukan tatalaksana Hepatitis B dan C
terdekat.
• Penanganan selanjutnya sesuai SOP rumah sakit rujukan
• Pembiayaan secara mandiri, atau menggunakan BPJS atau asuransi lainnya.
• Hasil pemeriksaan, penanganan dan rekomendasi tim ahli di rumah sakit rujukan
dikirim ke puskesmas yang merujuk untuk umpan balik (feedback).
• Bila hasil deteksi dini hepatitis B di puskesmas nonreaktif, maka ibu hamil
tersebut dianjurkan pemeriksaan anti-HBs untuk mengetahui ada tidaknya
antibodi.
• Bila hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs nonreakif, maka dianjurkan vaksinasi
hepatitis B sebanyak 3 kali secara mandiri.
MENURUT PERMENKES No.53 TAHUN 2015
Penanganan bayi yang dilahirkan dari Ibu dengan hepatitis B reaktif
• Bayi yang dilahirkan dari ibu yang hepatitis B (HbsAg) reaktif, maka
dianjurkan agar diberikan Hepatitis B Immunoglobulin (HBIg), vitamin
K, vaksinasi hepatitis B hari ke-0 (HB 0) diberikan sesegera mungkin
kurang dari 24 jam setelah kelahiran, diikuti vaksinasi hepatitis B
berikutnya sesuai jadwal program imunisasi nasional.
• Setelah bayi berusia di atas 9 bulan, perlu dilakukan pemeriksaan
HBsAg dan anti-HBs pada bayi tersebut.
MENURUT PERMENKES No.53 TAHUN 2015
Penanganan bayi yang dilahirkan dari Ibu dengan hepatitis B non-
reaktif
• Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan hepatitis B nonreaktif, maka
diberikan vitamin K dan HB 0 sesegera mungkin (dianjurkan agar
diberikan kurang dari 24 jam) setelah kelahiran, diikuti vaksinasi
hepatitis B berikutnya sesuai jadwal program imunisasi nasional.