Anda di halaman 1dari 67

RUQYAH SYAR’IYYAH

Oleh
Aiyub Sufyan
Rukyah Syar’iyyah Sebuah Terapi
Islami terhadap Gangguan Jin
dan Lainnya.
Ada beberapa hal yang melandasi
kita semua untuk membahas
masalah Ruqyah dalam kondisi
masyarakat kita sekarang ini.
Diantaranya adalah :
1. Menghidupkan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi
wasalam dalam hal penjagaan dan perlindungan diri serta
terapi pengobatan penyakit jiwa maupun fisik.

2. Minimnya pembentengan diri yang dilakukan oleh


sebagian umat Islam dengan wirid-wirid dan dzikir syar'i
sehingga banyak yang rentan terkena pengaruh buruk
pandangan mata kedengkian manusia dan jin ( penyakit
'ain ) disamping banyaknya korban kejahtan dunia sihir
dan perdukunan.
3. Ruqyah Syar'iyyah adalah sarana dakwah yang sangat
efektif untuk menyelamatkan aqidah masyarakat dari
bahaya kesesatan dan kesyirikan yang diakibatkan oleh
maraknya dunia klenik dan perdukunan ditengah
masyarakat akhir-akhir ini. Apalagi hal itu didukung oleh
kebebasan media masa cetak maupun elektronik untuk
mengekpose dan mempromosikannya secara besar-
besaran.

4. Ruqyah Syar'iyyah merupakan sarana yang efektif dalam


penjagaan dan peningkatan kondisi rohani dan keimanan
khususnya bagi aktifis dakwah Islam.
Apa Yang Dimaksud Dengan
Rukyah ?
Ruqyah secara bahasa adalah jampi-
jampi atau mantera (*)

(*) Buletin Dakwah An-Nur. Th XI No. 500 Jum’at 1 Jumadal


Ula 1426 H. / 10 Juni 2005 M
Sedangkan Ruqyah secara syar’i (ruqyah syar’iyyah)
adalah kumpulan ayat – ayat al – Qur’an, ta’awwudz
dan do’a-do’a yang bersumber dari Nabi
Shollahu’alaihi wasallam yang dibaca oleh seorang
muslim untuk dirinya, anaknya, keluarganya atau
kaum muslimin untuk mengobati penyakit rohani
atau penyakit yang ditimbulkan oleh kejelekan ‘ain
(mata jahat) manusia dan jin, kerasukan syaitan,
sihir, ataupun penyakit-penyakit yang lain.

[Thoriiquka ilash Shihhah an-Nafsiyyah wal-’Udhwiyyah,


karya Abdullah bin Abdul Aziz al-’Iedan, edisi bhs indonesia
(hal. 23) Penerbit Pustaka Imam Syafi’i]
Inilah rukyah syar’iyyah, tidak sebagaimana
yang dibayangkan oleh sebagian orang
bahwa ia merupakan bagian dari sihir,
sulap, ataupun bid’ah mungkar yang tidak
mempunyai asal-usul (sumber) dalam
agama.

[Thoriiquka ilash Shihhah an-Nafsiyyah wal-’Udhwiyyah, karya


Abdullah bin Abdul Aziz al-’Iedan, edisi bhs indonesia (hal. 23)
Penerbit Pustaka Imam Syafi’i]
Oleh karena itu, manakala makna rukyah ini dipahami
secara sempit dan salah di benak mereka, maka mereka
pun menuju tukang sihir dan para penipu untuk mencari
kesembuhan. Ini sangat berbahaya bagi ‘aqidah seorang
muslim. Atau bisa jadi, mere ka akan mengabaikan
beraneka ragam penyakit mereka sampai-sampai mereka
merasakan penderitaan dan efek buruk penyakit tersebut
dalam jiwa dan kehidupan mereka, di mana hanya Allah
yang mengetahui sejauh mana kemudharatan hal ini.
Semua ini disebabkan kebodohan dan pelecehan
terhadap manfa’at rukyah dalam mengobati penyakit-
penyakit tersebut.
[Thoriiquka ilash Shihhah an-Nafsiyyah wal-’Udhwiyyah, karya Abdullah bin
Abdul Aziz al-’Iedan, edisi bhs indonesia (hal. 24) Penerbit Pustaka Imam Syafi’i]
Dalil dan Manfa’at Ruqyah
Terdapat banyak dalil syar’i dari al-Qur’an
dan as-Sunnah yang menjelaskan
keumuman manfa’at rukyah untuk segala
penyakit dan tidak dikhususkannya rukyah
untuk penyakit tertentu(*), di antaranya
adalah ;

(*) Thoriiquka ilash Shihhah an-Nafsiyyah wal-


’Udhwiyyah, karya Abdullah bin Abdul Aziz al-’Iedan,
edisi bhs indonesia (hal. 35) Penerbit Pustaka Imam
Syafi’i
1. Firman Allah Ta’ala, Q. S.
Fushshilat; 44
‫شفَاء‬ َ ‫قُ ْل ُه َو ِللَّ ِذ‬
ِ ‫ين آ َمنُوا ُهدًى َو‬

Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah


petunjuk dan penawar bagi orang-
orang yang beriman”.
2. Firman Allah Ta’ala, Q. S. Al-
Isro; 82
‫شفَاء َو َر ْح َمة‬
ِ ‫آن َما ُه َو‬ ِ ‫ر‬ْ ُ ‫ق‬ ْ
‫ل‬ ‫َونُنَ ِز ُل ِم َن ا‬
َ ِ‫ِل ْل ُم ْؤ ِمن‬
‫ين‬

“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu


yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu
tidaklah menambah kepada orang-orang
yang dzalim selain kerugian”.
3. Firman Allah Ta’ala, Q. S. Yunus; 57
ُ َّ‫يَاأَيُّ َها الن‬
ِ ‫اس قَ ْد َجا َءتْ ُك ْم َم ْو ِع َظة ِم ْن َر ِب ُك ْم َو‬
‫شفَاء‬
َ ‫ُور َو ُهدًى َو َر ْح َمة ِل ْل ُم ْؤ ِم ِن‬
‫ين‬ ِ ‫صد‬ُّ ‫ِل َما ِفي ال‬

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang


kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman”.
Hadits riwayat Muslim dan Abu
Dawud;

ِ ‫الرقَى َما لَ ْم تَك ُْن‬


‫ش ْرًًا‬ َ َ ‫ََل بَأ‬
ُّ ‫س ِب‬

“Tidak mengapa melakukan rukyah selama


bukan syirik”.
Macam-Macam Ruqyah
Ruqyah secara umum terbagi
kepada dua macam (*);

(*) Buletin Dakwah An-Nur. Th XI No. 500 Jum’at 1 Jumadal Ula


1426 H. / 10 Juni 2005 M
Pertama; Ruqyah yang diperbolehkan
oleh syari’at Islam yaitu disebut
ruqyah syar’iyyah

Kedua; Ruqyah Syirkiyyah, yaitu ruqyah


dengan menggunakan bahasa-bahasa
yang tidak dipahami maknanya atau
ruqyah yang mengandung unsur-unsur
kesyirikan. Dan ini jenis yang tidak
dperbolehkan oleh syari’at Islam.
CIRI - CIRI RUQYAH SYIRKIYYAH;

1. Bertanya namanya, nama ayahnya dan nama ibunya untuk


dimantera.

2. Meminta salah satu benda penderita (fhoto, kain, sapu-


tangan, peci, baju dsb.

3. Terkadang minta binatang dengan sifat tertentu atau media


lain seperti bunga, misk, daun sirih, tanah dari rumah
penderita, tanah kuburan, selamatan dsb.

4. Menulis jimat-jimat tertentu (rajah), menggambar segi


empat yang didalamnya ditulisi huruf dan angka, dll.
5. Membaca mantra-mantra yang tidak difahami, potongan ayat Al-
Qur'an dsb.

6. Kadang-kadang menyuruh penderita menyepi tidak terkena sinar


matahari.
7. Kadang-kadang tidak boleh menyentuh air pada masa-masa tertentu
atau mandi ditengah malam.

8. Memberi benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah, ditempel


diatas pintu, sikep, susuk, keris, akik, cincin besi, air sakti, telur, sabuk
perlindungan, benang untuk ditalikan di tubuh, dsb.

9. Menyuruh penderita beribadah dan berwirid bi'dah.

10. Terkadang sudah tahu dulu permasalahan, nama dan tempat asal,
bisa melihat ada jin dalam diri seseorang atau di suatu tempat.
11. Terkadang punya kamar khusus di rumahnya
yang tidak dapat dimasuki oleh orang lain.

12. Ada pantangan terhadap dirinya dan


penderita terhadap hari dan tanggal tertentu
(Tathoyyur).

13. Menulis Al-Qur'an dengan terbalik, dari kiri


atau dengan darah (haid) atau dengan sesuatu
yang najis.

14. Suram wajahnya, kebanyakan merokok,


membakar kemenyan, sulit untuk tawadlu'
SEJARAH RUQYAH
Sebelum agama Islam datang, ruqyah
ini sudah dikenal di kalangan
masyarakat. Dalil-dalil yang
mengindikasikan hal itu (*), antara
lain:

(*) Arruqo ‘ala dhou’i ‘Aqidati Ahlissunnah wal Jama’ah karya


Dr. Ali bin Nafi’. Edisi bhs indonesia, Ruqyah : Obat Guna-Guna
dan Sihir (hal. 15-19) Penerbit Darul Falah
Disebutkan oleh Imam Malik dalam Kitab
Al-Muatha’ yang diriwayatkan oleh umrata
bintu Abdurrahman bahwa Abu Bakar As-
Siddiq ‫ رضي هللا عنه‬masuk menemui Aisyah
yang sedang mengeluh karena sakit,
sementara itu di sampingnya ada seorang
perempuan Yahudi sedang meruqyahnya.
Maka Abu Bakar berkata, “Apakah ia
merukyahnya dengan Kitab Allah?”
Hadits ini mengindikasikan bahwa dahulu Ahlu
Kitab mempunyai do’a-do’a atau dzikir-dzikir
(mantera) yang mereka gunakan untuk
meruqyah. Dan perkataan Abu Bakar As-Shiddiq
yang menanyakan, “Apakah ia merukyahnya
dengan Kitab Allah?” Maksudnya adalah, apakah
ia meruqyahnya dengan menggunakan apa yang
terdapat di dalam kitab At-Taurat; dari sini jelas
bahwa orang-orang Yahudi telah mengubah
hukum-hukum Allah dan akidah atau keyakinan
yang benar dalam kitab mereka (At-Taurat).
Namun terhadap ruqyah tidak
demikian, mereka tidak
mengubahnya dengan tujuan
untuk bisa mengambil manfaat
darinya. Sebab apabila diubah,
maka ruqyah itu tidak akan bisa
memberikan manfaat.
Dan seandainya jika do’a-do’a dan
dzikir-dzikir (mantera) yang ada
dalam kitab At-Taurat tersebut juga
diubah oleh mereka, tentu Abu
Bakar Ash-Shiddiq tidak akan
membiarkan perempuan Yahudi
meruqyah Aisyah putrinya.
Selain itu juga yang menunjukkan bahwa ruqyah
sudah dikenal sebelum kedatangan agama Islam,
adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dalam Musnadnya:
Diriwayatkan dari Zainab, istri Abdullah bin
Mas’ud, ia berkata,”Dahulu apabila Abdullah bin
Mas’ud selesai dari pekerjaannya, ia berhenti di
pintu sambil berkeluh dan meludah, sebagai
isyarat ketidaksukaannya apabila salah seorang di
antara kami (keluarganya) menyambut
kedatangannya dengan sesuatu yang kebetulan
tidak ia sukai”.
Zainab melanjutkan perkataannya. “Suatu hari
Ibnu Mas’ud datang sambal berkeluh kesah,
sedangkan aku bersama seorang perempuan tua
yang sedang meruqyahku dengan menggunakan
suatu benda yang berwarna merah. Akupun
menyimpan benda tersebut di bawah ranjang,
kemudian Ibnu Mas’ud masuk lalu duduk di
sampingku. Ketika ia melihat ada seutas benang
di leherku, lantas ia berkata, ‘Benang apa ini?’
Saya menjawab, ‘Benang untuk melindungiku’ “.
Zainab melanjutkan, “Ia lalu mengambil benang
itu lantas memutuskannya, kemudian berkata,
‘sungguh keluarga Abdullah tidak perlu kepada
kesyirikan.’
Kemudian ia berkata lagi, ‘Aku mendengar
Rosulullah bersabda, ‘Sesungguhnya ruqo
(ruqyah), tama’im dan tiwalah adalah
syirik’.
Maka aku (Zainab) berkata lagi kepadanya,
“Engkau bias bicara demikian; sementara
dahulu mataku pernah terkena lemparan,
kemudian aku pun pergi ke tempat si fulan
Yahudi agar dia meruqyahnya. Setelah si
Yahudi itu meruqyahnya, mataku pun
sembuh.
‘Ibnu Mas’ud lalu berkata,
‘Sungguh itu adalah perbuatan
syaitan; orang Yahudi itu
mencoloknya (ruqyah) dengan
tangannya bila ia sudah
meruqyahnya, ia tidak akan
mencoloknya lagi.
Sebenarnya hanya cukup bagimu
untuk membaca seperti apa yang
dibaca oleh Rosulullah, ‘Hilangkanlah
kesusahan dan sembuhkanlah, (wahai)
Engkau Dzat Yang Maha
Menyembuhkan. Tidak ada
kesembuhan kecuali kesembuhan dari-
Mu, kesembuhan yang tidak
meninggalkan rasa sakit’.
Hal ini menunjukkan bahwa orang-
orang Yahudi mempunyai do’a-do’a
dan dzikir-dzikir (mantera) yang
mereka gunakan untuk meruqyah.
Ruqyah ini tidak hanya dikenal di
kalangan ahli kitab saja, namun orang-
orang Arab terdahulu pun (zaman
jahiliyyah) juga telah mengenalnya.
Sebagaimana yang diberitakan oleh
Imam Muslim dalam shohihnya, terkait
seorang tukang ruqyah yang bernama
Dimad, ia dari kabilah Azad Sya’nuah.
Istilah Ruqyah telah ada sebelum masa
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Hal ini bisa diketahui dari ungkapan salah
seorang sahabat yang mengatakan: "Ini
dahulu merupakan ruqyah yang kami
pakai untuk menanggulangi sengatan
kalajengking".
Hanya saja pada masa-masa sebelum
Islam, belum ada batasan-batasan yang
menjelaskan mana yang boleh dan mana
yang tidak, sehingga terdapat banyak
penyimpangan-penyimpangan yang
mengandung kesyirikan. Ketika beliau
diutus sebagai rasul yang membawa ajaran
tauhid, beliau melihat banyaknya
kekeliruan yang terjadi, akhirnya beliau
melarang ruqyah.
Setelah pelarangan tersebut, para
sahabat mengklarifikasikan hal itu
kepada beliau yang kemudian meminta
mereka untuk memaparkan ruqyah-
ruqyah yang selama ini telah mereka
lakukan. Setelah pemaparan itu
akhirnya beliau menetapkan bahwa;
Ruqyah yang diperbolehkan itu adalah
yang tidak mengandung kesyirikan.
Batasan yang telah ditetapkan Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam memberikan
sebuah penegasan bahwa meskipun istilah
yang dipakai tetap sama (yaitu; ruqyah)
akan tetapi makna dan hakikat yang
terkandung di dalamnya sangat berlainan.
Begitu juga dengan istilah-istilah lain yang
ada dalam khazanah keislaman, meskipun
sama secara bahasa, akan tetapi berbeda
batasan definisinya secara istilah.
Batasan yang sudah diberikan Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam berlaku untuk setiap
muslim kapan pun dan dimana pun. Ini
merupakan tolak ukur yang paling utama dalam
ruqyah. Berdasarkan hal ini, akhirnya bisa
dibedakan mana Ruqyah yang sesuai dangan
Syariat Islam dan mana yang tidak. Adanya
pembatasan tersebut akan mempermudah untuk
mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang
telah terjadi di tengah masyarakat, meskipun
mereka menggunakan istilah yang sama.
SYARAT-
SYARAT RUQYAH SYAR’IYYAH
Para ulama telah ijma` tentang
bolehnya ruqyah setelah
tercukupinya tiga syarat (*)
berikut ini :
(*) Diambil dari buku Do’a dan Wirid karya Yazid bin Abdul
Qadir Jawas (hal.421): Lihat Fathul Baari (X/195) dan Fataawa
syaikh bin Baz (II/384).
(*) Buletin Dakwah An-Nur. Th XI No. 500 Jum’at 1 Jumadal
Ula 1426 H. / 10 Juni 2005 M
1. Hendaknya Ruqyah itu dengan Ayat-ayat Alquràn
atau dengan Asmaul Husna. Imam Nawawi
menambahkan : zikir yang bersumber dari hadits yang
shahih.

2. Hendaknya menggunakan Bahasa Arab atau bahasa


yang bisa difahami maknanya.

3. Tidak boleh meyakini bahwa ruqyah itu sendiri yang


menyembuhkan tapi kesembuhan itu berlaku atas izin
dan takdir Allah.
Beberapa Sifat Dan Adab Orang Yang
Meruqyah Dengan Ruqyah Yang Syar’i

{Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin yang


beliau tandatangani}
Sumber : Fatwa-Fatwa Terkini, jilid 3,
hal:151-153, cet: Darul Haq Jakarta
Pertanyaan:
Sifat-sifat dan adab-adab bagaimanakah
yang seharusnya dilakukan oleh orang
yang meruqyah?

Jawaban:
Bacaan ruqyah tidak akan berguna
terhadap orang yang sakit kecuali dengan
beberapa syarat:
Syarat pertama: Pantasnya orang yang
meruqyah adalah seorang yang baik,
shalih, konsisten (istiqamah), memelihara
shalat, ibadah, dzikir-dzikir, bacaan, amal-
amal shalih, banyak melakukan kebaikan,
jauh dari perbuatan maksiat, bid’ah,
kemungkaran-kemungkaran, dosa-dosa
besar dan kecil, berusaha selalu makan
yang halal, khawatir dari harta yang haram,
atau syubhat,
karena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam,

ْ ‫أ َ ِط ْب َم ْطعَ َم َك تَك ُْن ُم‬


َ ‫ست َ َج‬
.ِ ‫اب ال َّدع َْو‬

“Perbaikilah makananmu, niscaya kamu


menjadi orang yang doa-nya terkabul.”

{HR. ath-Thabrani di dalam al-Ausath


sebagaimana di dalam Majma’ al-Bahrain,
no. 5026.}
Makanan yang halal termasuk di
antara penyebab dikabulkannya doa.
Di antaranya lagi adalah tidak
menentukan upah atas orang yang
sakit, menjauhkan diri dari mengambil
upah yang lebih dari kebutuhannya.
Maka semua itu lebih mendukung
kemanjuran ruqyahnya.
Syarat kedua: Mengenal ruqyah-ruqyah yang
dibolehkan berupa ayat-ayat al-Qur`an seperti
al-Fatihah,al-Mu’awwidzatain, surat al-Ikhlash,
akhir surat al-Baqarah, permulaan surat Ali
Imran dan akhirnya, ayat Kursi, akhir surat at-
Taubah, permulaan surat Yunus, permulaan
surat an-Nahl, akhir surat al-Isra`, permulaan
surat Thaha, akhir surat al-Mu’minun,
permulaan surat ash-Shaffat, permulaan surat
Ghafir, akhir surat al-Jatsiyah, akhir surat al-
Hasyr.
Dan di antara doa-doa al-Qur`an yang
disebutkan terdapat dalam al-Kalim
ath-Thayyib dan seumpamanya,
disertai meludah sedikit setelah
membaca, dan mengulangi ayat
tersebut sebanyak tiga kali
umpamanya, atau lebih banyak lagi.
Syarat ketiga: orang yang sakit
adalah orang yang beriman, shalih,
baik, takwa, konsisten (istiqamah)
di atas agama, jauh dari yang
diharamkan; maksiat, sifat aniaya,
karena Firman Allah Subhanahu Wata’ala,

َ ِ‫شفَآء َو َر ْح َمة ِل ْل ُم ْؤ ِمن‬


‫ين‬ ِ ‫ان َما ُه َو‬ ِ ‫ء‬
َ ‫ر‬ْ ُ ‫ق‬ ْ
‫ل‬ ‫َونُنَ ِز ُل ِم َن ا‬
‫ارا‬
ً ‫س‬ َ ‫َوَلَيَ ِزي ُد ال َّظا ِل ِم‬
َ ‫ين ِإَلَّ َخ‬

“Dan Kami turunkan dari al-Qur`an suatu yang


menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman dan al-Qur`an itu tidaklah
menambah kepada orang-orang yang zhalim
selain kerugian.”
(Al-Isra`: 82).
Biasanya tidak begitu berpengaruh
terhadap ahli maksiat, meninggalkan
kewajiban, takabbur, sombong,
ketinggalan shalat dan menundanya,
melalaikan ibadah dan yang
seumpama dengan itu.
Syarat keempat: Orang yang sakit
meyakini bahwa al-Qur`an adalah
penawar, rahmat, dan obat yang
berguna. Apabila ia ragu-ragu, maka
hal itu tidak ada gunanya. Misalnya ia
berkata, “Coba-lah ruqyah. Jika
bermanfaat, alhamdulillah dan jika
tidak bermanfaat juga tidak apa-apa.”
Tetapi ia harus yakin dengan mantap
bahwa ayat-ayat tersebut benar-benar
bermanfaat dan sesungguhnya ayat-
ayat itulah yang merupakan penawar
yang sebenarnya, sebagaimana yang
dikabarkan oleh Allah Subhanahu
Wata’ala.
Apabila syarat-syarat ini telah
terpenuhi, niscaya bermanfaat
dengan izin Allah Subhanahu
Wata’ala.
DO’A DAN ADAB CARA MERUQYAH
DIRI DENDIRI

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan


Pembina Konsultasisyariah.com)
Ada beberapa adab yang bisa anda
lakukan ketika hendak meruqyah;

[1] Berwudhu terlebih dahulu, karena ketika


membaca kalimat thayibah, dianjurkan dalam
keadaan suci.
[2] Baca ayat al-Quran yang sering digunakan
untuk ruqyah, dengan niat ruqyah. Seperti ayat
kursi, dua ayat terakhir surat al-Baqarah, atau
surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, atau ayat
lainnya.
[3] Bisa juga dengan menggunakan doa yang
pernah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
[4] Bisa juga dengan mengusapkan tangan ke
anggota tubuh yang bisa dijangkau, atau ke
anggota tubuh yang sakit.
[5] Atau menggunakan media air. Caranya, kita
membaca ayat-ayat ruqyah dengan
mendekatkan segelas air bersih di mulut. Selesai
baca, air diminum.
[6] Selanjutnya, tawakkal kepada Allah.
Beberapa Praktek Ruqyah diri
Sendiri

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan


Pembina Konsultasisyariah.com)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajarkan kepada kita beberapa
doa dan ruqyah yang bisa kita baca ketika
sakit. Diantaranya,
Pertama, doa ketika ada bagian anggota tubuh
yang sakit.
Caranya,
[1] Letakkan tangan di bagian tubuh yang sakit
[2] Baca “bismillah” 3 kali
[3] Lanjutkan dengan membaca doa berikut 7 kali,
‫عوذُ ِب ِع َّز ِ هللاِ َوقُ ْد َر ِت ِه ِم ْن ش َِر َما أ َ ِج ُد َوأ ُ َحا ِذ ُر‬
ُ َ‫أ‬

“Aku berlindung dengan keperkasaan


Allah dan kekuasaan-Nya, dari
kejelekan yang aku rasakan dan yang
aku khawatirkan.”
Dalilnya:
Dari Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhu,
bahwa beliau mengadukan rasa sakit di
badannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam.. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menyuruhnya,

“Letakkanlah tanganmu di atas tempat yang


sakit dari tubuhmu,”
lalu beliau ajarkan doa di atas.

(HR. Muslim 5867 dan Ibnu Hibban 2964)


Kedua, ruqyah sebelum tidur
Gabungkan dua telapak tangan, lalu
dibacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq dan
an-Naas, lalu tiupkan ke kedua telapak
tangan. Kemudian usapkan kedua
telapak tangan itu ke seluruh tubuh
yang bisa dijangkau. Dimulai dari
kepala, wajah dan tubuh bagian
depan.
Kemudian diulang sampai tiga kali.
Ini berdasarkan hadis dari
A’isyah radhiyallahu ‘anha, yang
menceritakan kebiasaan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebelulm tidur.

(HR. Bukhari 5017 dan Muslim 2192).


Ketiga, ruqyah ketika terluka
Ambil ludah di ujung jari, kemudian
letakkan di tanah, selanjutnya
letakkan campuran ludah dan
tanah ini di bagian yang luka,
‫س ِقي ُمنَا‬ ْ ُ‫َّللاِ ت ُ ْربَةُ أ َ ْر ِضنَا ِب ِريقَ ِة بَ ْع ِضنَا ي‬
َ ‫شفَى‬ َّ ‫س ِم‬
ْ ‫ِب‬
‫ِب ِإ ْذ ِن َر ِبنَا‬

“Dengan nama Allah, Debu tanah kami


dengan ludah sebagian kami semoga
sembuh orang yang sakit dari kami
dengan izin Rabb kami.”

(HR. Bukhari 5745 & Muslim 5848).