Anda di halaman 1dari 43

OTOSKLEROSIS

• DEFINISI. Penyakit pada kapsul tulang labirin


yang mengalami spongiosis di daerah kaki stapes

• ETIOLOGI. Otosklerosis diturunkan secara


autosomal dominan. Tetapi dapat juga
disebabkan karena infeksi.
• PATOFISIOLOGI.

Lapisan mukosa
infeksi telinga tengah
berubah

Pendengaran Tuba eustachius


terganggu tersumbat
• PATOFISIOLOGI.

Lapisan mukosa Nyeri dan


Gendang telinga
di dalam telinga demam akan
membengkak
berubah timbul

Gendang telinga Jika cairan tidak


Tuli
perforasi dikeluarkan
• Secara histologi dibagi menjadi 2 fase :
• Fase awal ditandai oleh resorbsi tulang dan
peningkatan vaskularisasi.
• Bila kandungan dari maturasi kolagen berkurang, tulang
menjadi kelihatan spongios (otospongiosis)
• Fase lanjut, tulang yang telah diresorbsi digantikan
oleh tulang sklerotik yang tebal, sehingga dinamakan
otosklerosis
• Dalam kodisi normal suara dihantarkan dari meatus akustikus eksterna ke membran

timpani berupa gelombang- gelombang suara yang menggetarkan membran timpani dan

secara simultan menggerakkan rantai osikule (maleus, inkus, stapes) menuju ke telinga

dalam.

• Jika tulang-tulang dalam telinga tengah tidak bervibrasi secara normal maka telinga dalam

tidak bisa menerima keseluruhan getaran suara dan terjadilah penurunan pendengaran. Hal

inilah yang terjadi pada otosklerosis. Walaupun maleus dan inkus bergerak secara normal

tapi stapes terfiksasi karena proses otosklerosis. Sehingga gelombang suara tidak dapat

dihantarkan dengan baik.


• Menurut PL. Dhingra otosklerosis diklasifikasikan
menjadi 3 tipe :
• Otoskeloris stapedial
• Otoskeloris koklear
• Otoskeloris histologi
• Otosklerosis stapedial
• fiksasi stapes dan tuli konduktif
• Lesi dimulai dari foramen ovale

• Otosklerosis koklear
• Melibatkan area disekitar foramen ovale atau daerah lain didalam
kapsul otik  tuli sensorineural
• Kemungkinan disebabkan oleh material toksik

• Otosklerosis histologi
• Gejala sisa dan tidak dapat menyebabkan tuli
• DIAGNOSIS

ANAMNESIS Kehilangan pendengaran

Tinitus

Vertigo (Pusing yang berputar, mual, muntah)

Ada riwayat penyakit sama dalam keluarga


• DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN Membran timpani terkadang Schwartze Sign


FISIS

Tuli konduktif

Tes Weber menunjukan lateralisasi ke arah telinga


yang memiliki derajat conduting hearing loss lebih
besar
Paracusis Willisi (pasien merasa lebih baik dalam
ruangan yang bising)
• Pada pemeriksaan ditemukan
membran timpani utuh,
kadang-kadang tampak
promontorium agak merah
jambu, terutama bila
membran timpaninya
transparan. Gambaran
tersebut dinamakan tanda
Schwartze yang menandakan
adanya hipervaskularisasi dari
promontorium koklea
• DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Audiogram. Gambaran biasanya konduktif, tetapi dapat
juga mixed atau sensorineural.
• Mungkin menunjukan “on-off” effect. Gambaran
timpanogram biasanya adalah tipe A dengan compliance
yang rendah
• CT scan. Adanya area radiolusen didalam dan sekitar
koklea dapat ditemukan pada awal penyakit ini
• PENATALAKSANAAN

AMPLIFIKASI MEDIKAMENTOSA
• Alat Bantu dengar baik • sodium florida 20-120 mg/hari
secara unilateral atau • 400 U vitamin D
bilateral • 10 mg Calcium Carbonate

BEDAH
• Stapedektomi
• Stapedotomi
Timpanosklerosis
Definisi
Timpanosklerosis merupakan penyakit pada membran timpani
yang menunjukkan gambaran bercak-bercak putih tebal atau
menjadi putih dan tebal seluruhnya akibat timbunan kolagen
terhialinisasi pada bagian tengahnya, keduanya dan jika meluas
dapat mempengaruhi pendengaran

• Timpanosklerosis ini diklasifikasikan sebagai berikut :


- Myringosclerosis, hanya mengenai membran timpani
- Intratympanic tympanosclerosis, mengenai bagian telinga
tengah lain.
Anatomi
Anatomi
• Membran timpani merupakan pembentuk utama dinding lateral
telinga tengah, berupa lapisan tipis, resisten, semitransparan, abu-abu
mengkilat, dan mirip kerucut (cone-like).
• Apeks membran timpani terletak pada umbo, yang mana
berhubungan dengan bagian terbawah dari tangkai malleus.
• Kebanyakan keliling membran timpani menebal untuk membentuk
suatu cincin fibrokartilago, annulus timpani, yang terletak pada alur
tulang timpani yang disebut dengan sulkus timpani.
Etiologi..
Etiologi dari timpanosklerosis belum diketahui dengan pasti,
mungkin dibentuk dari sisa-sisa/bekas yang berhubungan dengan
inflamasi kronis telinga tengah.
Etiologi ..
Faktor-faktor lain yang mungkin berhubungan antara lain :
- Otitis media supurativa kronis (OMSK) dan otitis media dengan
efusi.
- Insersi Grommet (timpanostomi tuba) meningkatkan resiko
terjadinya timpanosklerosis
- Sklerosis sistemik.
Gambaran Klinis
• Plak putih pada membran timpani
• Tuli konduktif
Patogenesis..
• Timpanosklerosis secara histologi tampak sebagai hialinisasi
jaringan penyangga subepitelial membran timpani dan telinga
tengah, pada kebanyakan kasus dapat ditemukan kalsifikasi.

• Osteogenesis  muncul bersamaan dengan lesi yang terjadi.


Saat plak muncul pada membrane timpani, plak tersebut hanya
terbatas pada lamina propia.
• Hussl dan Lim  bahwa plak ini merupakan proses 4 degenerative
yang mengakibatkan terjadinya kalsifikasi pada jaringan
penyangga pada telinga tengah.
• Degenerasi kolagen dapat merupakan akibat langsung dari
inflamasi atau infeksi yang terjadi pada telinga tengah (oleh
proteinase dan kolagenase bakteri). enyebab lain yang
mungkin adalah proses autoimun yang terjadi pada membran
timpani.
Patogenesis
Diagnosis
 Otoskopi  gambaran semisirkuler atau seperti sepatu kuda
yang berwarna putih pada membrane timpani.
 pemeriksaan penunjang yang dapat membantu antara lain:
- Audiometri, dapat menentukan derajat dan tipe gangguan
pendengaran
- Timpanometri, hasil timpanogram dapat dipengaruhi oleh
adanya
timpanosklerosis
- CT Scan dapat membantu menegakkan diagnosis terutama bila
disertai dengan
kelainan pada kavitas telinga tengah.
. (A) Membran timpani pada timpanosklerosis, (B), Telinga kiri, perforasi
anateroinferior kering, (C) Perforasi anteroinferior dengan plak
timpanosklerotik, (D) Telinga kiri, perforasi subtotal karna timpanosklerosis
(A) Telinga kanan, plak timpanosklerosis pada rantai osiikular,
(B) Telinga kiri, perforasi total dengan timpano sklerosis.
Pemeriksaan penunjang
• - Audiometri, dapat menentukan derajat dan tipe gangguan
pendengaran
• - Timpanometri, hasil timpanogram dapat dipengaruhi oleh adanya
• timpanosklerosis
• - CT Scan dapat membantu menegakkan diagnosis terutama bila
disertai dengan kelainan pada kavitas telinga tengah.7
Penatalaksanaan
• Timpanoplasti dan rekonstruksi osikular
• namun resiko untuk kerusakan kokhlea lebih tinggi
dibandingkan dengan yang disebabkan oleh penyakit telinga
tengah lain, ini dikarenakan oleh tindakan diseksi luas yang
dibutuhkan pada kasus timpanosklerosis dan terdapatnya
erosi dari labirin.
PRESBIKUSIS
Pendahuluan

– Presbikusis adalah tuli sensorineural frekuensi tinggi , umumnya


terjadi mulai usia 65 tahun, simetris pada telinga kanan dan kiri .
– Presbikusis dapat mulai pada frekuensi 1000 Hz atau lebih.
– Progresifitas penurunan pendengaran dipengaruhi oleh usia dan
jenis kelamin , pada laki-laki lebih cepat dibandingkan
perempuan.
– WHO: tahun 2000 terdapat 250 juta pddk dunia menderita
gangguan pendengaran 75-140 juta di Asia Tenggara
Etiologi

Proses
degenerasi

presbikusis
Factor lain :
-herediter
- pola makanan
- metabolisme,
-aterosklerosis,
-infeksi ,
-bising
-gaya hidup atau bersifat
multi faktor
Anatomi Telinga

Telinga terdiri dari :

1. Telinga luar
2. Telinga tengah
3. Telinga dalam TL TT TD
Telinga Dalam
Disebut juga Auris Interna = Labirin
Terdiri 2 bagian :
1. Tulang : labirinthus osseus.
2. Membran : labirinthus membranaceus.

Lab. Membran terdapat di dalam labirin osseus,


diantara keduanya terdapat perilympe
Sedangkan di dalam labirin membr terdapat endolympe
Patologi

Pada koklea atrofi dan


Perubahan struktur degenerasi sel-sel
Proses degenerasi
koklea dan NVIII rambut penunjang pada
organ corti

Terdapat perubahan
berkurangnya jumlah Proses atrofi disertai
Menyebabkan
dan ukuran sel ganglion dengan perubahan
berkurangnya
dan saraf. vaskular juga terjadi
pendengaran.
pada stria vaskularis
Klasifikasi prebiskusis
menurut Schuknecht dkk

Metabolik ( strial Mekanik ( cochlear


Sensorik Neural
presbycusis) prebycusis)
• Lesi terbatas • Sel sel neuron • Atrofi stria • Terjadi
pada koklea pada koklea dan vaskularis perubahan
• Atrofi organ corti jaras auditorik • Potensial gerakan mekanik
• Jumlah sel berkurang mikrofonik ductus koklearis
rambut dan sel menurun • Atrofi
penunjang • Fungsi sel dan ligamentum
berkurang keseimbangan sprilalis
koklea berkurang • Membran
basilaris lebih
kaku.
Gejala klinis

– Keluhan utama : berkurangnya pendengaran secara perlahan-lahan dan


progresif, simetris pada kedua telinga, kapan dikatakan berkurangnya
pendengaran tidak diketahui secara pasti oleh pasien.
– Keluhan lainnya :
telinga berdenging ( tinitus nada tinggi ), pasien dapat mendengar suara
percakapan , tetapi sulit untuk memahaminya, terutama bila diucapkan dengan
cepat di tempat dengan latar belakang yang bising ( cocktail party deafness)
– Intensitas suara di tinggikan akan timbul nyeri di telinga yang disebabkan oleh
factor kelelahan saraf (recuitment).
Diagnosis

– Pemeriksaan otoskopik tampak :


membran timpani suram, mobilitasnya berkurang.
– Pada tes penala didapatkan tuli sensorineural
– Pada pemeriksaan audiometri nada murni menunjukan tuli saraf nada tinggi
bilateral dan simetris.
Pada tahap awal terdapat penurunan yang tajam ( sloping) setelah frekuensi
2000 Hz ( khas pada sesorik neural ) atau terjadi penurunan frekuensi
pendengaran dimulai dari frekuensi 1000-8000 Hz. Pada semua jenis
presbikusis tahap lanjut juga terjadi penurunan pada frekuensi yang lebih
rendah.
– Pada presbikusis metabolik dan mekanik penurunan fungsi pendengaran pada
audiometri sedikit mendatar.
– Pada sensorineural presbikusis penurunan fungsi pendengaran audimetri
digambarannya turun drastis.
– Pada audiometri tutur menunjukan adanya gangguan diskriminasi wicara (
speech discrimination) khas pada presbikusis jenis neural dan koklear.
Presbikusis

Presbikusis sensoris

– Degenerasi sel rambut dan sel


penunjang.
– Mayoritas sel yang terkena
berlokasi pada bagian basal koklea.
– Audiogram: abrupt high-tone
hearing loss (steeply sloping high
frequency hearing loss)
– Persepsi tutur (speech perception)
secara relatif normal.
Presbikusis2

Presbikusis strial atau metabolik:

– Degenerasi stria vaskularis


(paling berat pada bagian
tengah dan apeks koklea).
– Audiogram: flat sensorineural
hearing loss
– Diskriminasi wicara baik.
Presbikusis3

Presbikusis Neural:
– Gangguan pada neuron-neuron
ganglion spiralis.
– Audiogram: bentuk landai,
penurunan pd semua frekuensi
(sloping audiogram).
– Terjadi gangguan diskriminasi
wicara yang signifikan tanpa
disertai gangguan pendengaran
nada murni yang berat.
Presbikusis4

Presbikusis konduktif koklea (Mekanik):

– Degenerasi duktus koklea.


– Lesi membran basilaris & atrofi
ligamentum spiralis perubahan
gerakan mekanik duktus koklearis
– Audiogram berupa grafik yang melandai
turun (slowly progressive sloping high
frequency sensoryneural hearing loss).
Tatalaksana

– Rehabilitasi sebagai upaya mengembalikan fungsi pendengaran dengan


pemasangan ABD ( alat bantu dengar) atau hearing aid.
– Selaian ABD dikombinasi dengan latihan membaca ujaran ( speech reading) dan
latihan mendengar ( auditory training) . Prosedur pelatihan tersebut dilakukan
bersama ahli terapi wicara ( speech therapist).
– menghindari suara / tempat yang bising

Anda mungkin juga menyukai