Anda di halaman 1dari 70

+

KEDOKTERAN KELUARGA
DIABETES MELITUS TYPE II PADA
LANSIA DENGAN ULKUS PEDIS

Pembimbing : dr. Aras Utami, M.P.H, AAK.

Oleh : Asti Nurhidayati


Kindy Agustin
M Dimas Rizaputra
+
BAB 1 PENDAHULUAN
+ LATAR BELAKANG
• Kedokteran keluarga  sekumpulan pengetahuan mengenai berbagai
masalah yang dihadapi oleh para dokter keluarga
• Dokter keluarga  dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga

Pelayanannya diselenggarakan secara holistik, komprehensif,


kontinu, dan integratif dengan mengutamakan pencegahan,
menimbang peran keluarga dan lingkungan serta pekerjaannya
Diabetes melitus merupakan
penyakit metabolik yang Bersifat kronis dan jumlah penderitanya
terus meningkat diseluruh dunia seiring
ditandai oleh hiperglikemia dengan bertambahnya jumlah populasi,
akibat kegagalan sekresi usia, prevalensi obesitas dan
insulin, kerja insulin atau penurunan aktivitas fisik
keduanya
Total prevalensi diabetes di Amerika tahun 2012 adalah 29,1 juta jiwa (9,3%), Indonesia
menempati urutan keempat terbesar dalam jumlah penderita diabetes di dunia

Mengingat jumlah penderita DM yang terus meningkat dan besarnya biaya


perawatan pasien diabetes yang terutama disebabkan oleh karena
komplikasinya
penatalaksanaan diabetes mellitus di
Indonesia meliputi empat pilar yakni PERKENI tahun 2011  2015
edukasi, terapi nutria medis, latihan
jasmani, dan medikamentosa
Melakukan pendekatan kedokteran keluarga terhadap pasien lansia dengan
Tujuan penyakit tidak menular yakni Diabetes Melitus Tipe II.

Umum

• Mengetahui karakteristik (fungsi keluarga, bentuk keluarga, dan siklus


keluarga) keluarga pasien lansia dengan DM tipe II.
Tujuan • Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan
KHUSUS pada pasien lansia dengan DM tipe II dan keluarganya.
• Mendapatkan pemecahan masalah kesehatan pasien pasien lansia dengan
DM tipe II dan keluarganya.
+ MANFAAT KEGIATAN

BAGI MAHASISWA
• Menambah pengetahuan penulis
tentang kedokteran keluarga, serta BAGI KELUARGA PASIEN
penatalaksanaan kasus Diabetes
Melitus dengan pendekatan • Memberikan informasi kepada pasien
kedokteran keluarga. dan keluarganya bahwa keluarga juga
memiliki peranan yang cukup penting
dalam kesembuhan dan mencegah
kekambuhan Diabetes Melitus tipe II.
+
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
+
KEDOKTERAN KELUARGA

Kedokteran keluarga adalah ilmu kedokteran yang khusus mempelajari pelayanan


kesehatan untuk pasien dan keluarganya secara berkesinambungan dan komprehensif

DOKTER KELUARGA
Tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang
dihadapi

Tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin sedini
dan sedapat mungkin, secara menyeluruh, paripurna, berkesinambungan
+Pelayanan
Kegiatan  pelayanan kedokteran
menyeluruh yaitu comprehensive
Available
medical services (CMC) :

Integrated Continued Sasaran  1 unit keluarga

Affordable Quality

Komperhensif
+

Diagnostik
Diagnositk
+
Holistik
Holistik

Proses diagnosis secara sistematis, dengan


kerangka kerja yang dari aspek keluhan,
diagnosis klinis, masalah perilaku, pemicu
yang ada dalam keluarga dan kehidupan
sosialnya
+

Aspek Klinis: Aspek risiko internal :


Aspek Personal:
Masalah medis, seperti pengaruh
alasan kedatangan,
diagnosis kerja genetik, gaya hidup,
harapan, kekhawatiran
berdasarkan gejala dan kepribadian, usia,
dan persepsi
tanda gender

eksternal dan Derajat Fungsional:


psikososial: Kualitas Hidup Pasien .
Berasal dari lingkungan Penilaian dengan skor 1 – 5,
(keluarga, tempat kerja, berdasarkan disabilitas dari
tetangga, budaya) pasien
LANSIA (WHO) :
seseorang yang telah memasuki usia 60
tahun keatas  Aging Process atau proses
penuaan dan yang telah memasuki
tahapan akhir dari fase kehidupannya.

WHO : Depkes :
a) Usia pertengahan : 45-59 1) pra lansia : 45-59 tahun
tahun
b) Lansia : 60-74 tahun
2) lansia : 60-69 tahun
c) Lansia tua : 75-90 tahun 3) lansia beresiko :> 70
d) Usia sangat tua : > 90 tahun tahun
Assesment/Penilaian pada Lansia :

MMSE
(Mini Mental
Status ADL
Examination) (ACTIVITY DAILY
LIVING)
+
MMSE : Suatu media px status mental untuk mendeteksi dan mengikuti perkembangan gangguan
kognitif yang berkaitan dengan kelainan neurodegeneratif. 5-10 menit

 Skala :

- Orientasi tempat (negara, provinsi, kota)

- Orientasi waktu (tahun, bulan, hari dan tanggal)

- Registrasi (mengulang dengan cepat 3 kata)

- Atensi dan konsentrasi (secara berurutan mengurangi 7, dimulai 100 atau mengeja kata WAHYU
secara terbalik)

- Mengingat kembali (mengingat kembali 3 kata yang telah diulang sebelumnya)

- Bahasa (memberi nama 2 benda)

- Mengulang kalimat, membaca dengan keras dan memahami suatu kalimat, menulis kalimat dan
kontruksi visual (menyalin gambar).
+

INTERPRETASI :

1. Skor 24-30 : fungsi kognitif


normal
2. Skor 17-23 : probable
gangguan kognitif
3. Skor 0-16 : definite
gangguan kognitif.
+
ADL (ACTIVITY DAILY LIVING)

Kegiatan melakukan pekerjaan rutin sehari-hari aktivitas pokok perawatan diri (


ke toilet, makan, berpakaian (berdandan), mandi)
+
Skala Deskripsi & jenis skala Kehandalan, kesahihan & sensivitas Waktu & pelaksanaan Komentar

Indeks barthel Skala ordinal dengan skor 0(tota Sangat handal & sangat sahih, dan <10 menit,sangat ssuai untuk Skala ADLyang sudah
ldependent)- 100(total independent) cukup sensitif. skrining, penilaian formal, diterima secara luas,
: 10 item :makan, mandi, berhias, pemantauan & pemeliharaan kehandalan dan
berpakaian, kontrol kandung terapi. kesahihan sangat baik.
kencing,dan
kontrol anus, toileting, transfer
kursi/tempat tidur, mobilitas dan
naik tangga.

Indeks Katz Penilaian dikotomi dengan urutan Kehandalan & kesahihan cukup; < 10 menit, sangat sesuai Skala ADLyang sudah
dependensiyang hierarkis : mandi, kisaran ADL sangat terbatas (6 item) untuk skrining, penilaian diterima secara luas,
berpakaian, toileting, transfer, formal, pemantauan & kehandalan dan
kontinensi, dan makan.Penilaian pemeliharaan terapi. kesahihan cukup,
dari A (mandiri pada keenam item) menilai keterampilan
sampai G (dependentpada keenam dasar, tetapi tidak
item). menilai berjalan & naik
tangga

FIM(Functional Skala ordinal dengan 18 item, 7 Kehandalan & kesahihan baik, sensitif < 20 menit, sangat sesuai Skala ADLyang sudah
Independence Measure) level dengan skor berkisar antara dan dapat mendeteksi perubahan kecil untuk skrining, penilaian diterima secara luas.
18-126; area yang dievaluasi; dengan 7 level. formal, pemantauan & Pelatihan untuk petugas
perawatan diri, kontrol stingfer, pemeliharaan terapi serta pengisi lebih lama
transfer, lokomosi, komunikasi, dan evaluasi program. karena item banyak.
kognitif sosial.
Diabetes Melitus
Gangguan metabolisme yang terjadi karena kelaianan sekresi
insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya dengan manifestasi
berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
DM Tipe I

DM Tipe II
DM Tipe II : penyakit gangguan metabolik yang di tandai oleh
kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel
DM tipe lain beta pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi
insulin)
DM
Gestasional
Keluhan klasik :
poliuria, polidipsia, polifagia, dan
penurunan berat badan yang tidak
Kriteria Diagnosis dapat dijelaskan sebabnya.

Keluhan lain :
lemah badan. Kesemutan, gatal, mata
kabur, dan disfungsi ereksi pada pria,
serta pruritus vulva pada wanita.
+
Ulkus Diabetikum
 luka pada kaki yang merah kehitam – hitaman dab berbau busuk akibat sumbatan
yang terjadi di pembuluh sedang atau besar di tungkai

Faktor • Genetik, Metabolik


• Angopati diabetik
Endogen • Neuropati Diabetik

Faktor • Trauma
• Infeksi
Eksogen • Obat
+
Gejala Klinis (5P)

Pain

Paralysis Paleness

Pulseless
Parasthesia
ness
+
Bila terjadi sumbatan kronik, akan timbul
gambaran klinis menurut pola dari fontaine

Stadium 1 Stadium 2 Stadium 3 Stadium 4

• asimptomatis • terjadi • timbul nyeri • kerusakan


atau gejala klaudikasio saat istitrahat jaringan
tidak khas intermiten karena
anoksia
+ Derajat Ulkus

Derajat 0 :
tidak ada lesi terbuka, Derajat I Derajat II :
kulit masih utuh dengan
ulkus superficial terbatas ulkus dalam, menembus
kemungkinan disertai
pada kulit tendon atau tulang
dengan kelainan bentuk
kaki "claw,callus"

Derajat IV :
Derajat III :
ulkus pada jari kaki atau
abses dalam dengan atau
bagian distal kaki atau
tanpa osteomilitas
tanpa selulitas
PENATALAKSANAAN

• Gaya hidup • jadwal makan • 3-5 kali seminggu • Obat

Terapi Nutrisi Medis

Farmakologis
Edukasi

Latihan Jasmani
• Pemantauan • Jenis makanan durasi 30-45 antihiperglikemik
glukosa darah • jumlah makanan menit total 150 oral
mandiri, menit/minggu • Obat
• Tanda dan gejala • Jeda antar latihan antihiperglikemik
hipoglikemia tidak boleh suntik
serta cara >2hari berturut-
mengatasinya turut
• Aerobik
intensitas sedang
Dosis awal Lama kerja Frekuensi
Nama Generik Dosis harian (mg)
(mg) (jam) pemberian
1.Sulfonilurea : Meningkatkan sekresi insulin
Khlorpropamid
100-500 - 24-36 1
(100-250mg)
Glibenclamide
2.5-5 - 12-24 1-2
(2.5-5mg)
Glipizid
5-20 5 10-16 1-2
(5-10mg)
Glicazid 30-120 30 24 1
Gliquidon (30mg) 30-120 30 - 1-3
Glimeprid 6 1 - 1
2. Glinid : Meningkatkan sekresi insulin
Repaglinide
6 0.5 - 1-3
(0.5mg,1mg, 2mg)

3. Biguanid : Menekan produksi glukosa hati & menambah sensitifitas terhadap insulin

Metformin
250-3000 - 6-8 1-3
(500-850mg)
4. Tiazolindion : Menambah sensitifitas terhadap insulin
Pioglitazone
15-30 15 24 1
(15mg-30mg)
5. Penghambat alfa glukosidase
Acarbose
50-300 1-3
(50-100mg)
6. DPP IV inhibitor : Meningkatkan sekresi insulin, menghambat sekresi glukagon
+ BAB III
LAPORAN KASUS
+ IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Ny. S

Usia Pasien : 73 Tahun

Alamat Pasien : Dusun Mendalan I/I, Desa Tanjungsari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten
Magelang.

Agama : Islam

Pend. Terakhir : SLTA

Suku : Jawa

Pekerjaan : Guru

Status Pernikahan : Menikah

Kunjungan ke pelayanan kesehatan : 27 April 2017

Kunjungan rumah : 28 April 2017


+ Ny. S, 73 th
KU : Luka pada telapak kaki kiri yang tidak sembuh sejak satu
bulan.
KT : Kelelahan, sering merasa lapar, dan haus.

RPS : Pasien datang ke PKM Borobudur 28 April 2017,


dengan keluhan luka pada telapak kaki kiri yang tidak
sembuh sejak satu bulan. Luka awalnya, akibat tertusuk
paku, sudah dilakukan penyuntikkan ATS namun luka tidak
kunjung sembuh dan semakin membesar, bernanah, dan
mengeluarkan bau yang tidak sedap. Riwayat Penyakit Dahulu
Ny. S sering terbangun malam hari saat tidur untuk buang Tidak ada
air kecil hingga 5-6 kali dan sering merasa haus. Keluhan Riwayat Penyakit Keluarga
sering buang air kecil tidak disertai rasa nyeri, buang air Ayah dan ibu pasien menderita
kecil tersendat, buang air kecil terdapat batu, dan maupun diabetes melitus
buang air kecil disertai darah.
Th 2012  diketahui oleh dokter bahwa ia memiliki
penyakit diabetes mellitus dengan hasil pemeriksaan GDS
200 mg/dL. Ny. S awalnya mengkonsumsi obat penurun
gula darah dari dokter, tapi setelah gula darah normal dan
kondisinya membaik Ny. S jarang kontrol ke dokter dan
tidak lagi meminum obatnya.
+ Riwayat Personal Sosial
Riwayat Pendidikan :
Riwayat Menstruasi :
Pasien sudah menopause. Haid
SLTA. pertama usia 14 tahun. Haid teratur,
Riwayat Pekerjaan : lama haid 5-6 hari, dalam satu hari
Guru. pasien bisa 3-4 kali ganti pembalut
Riwayat Perkawinan : saat haid. Pasien merasa nyeri saat
Pasien menikah satu kali pada usia 18 tahun. Suami menjelang haid namun tidak sampai
pasien sudah meninggal. mengganggu aktivitas.
Riwayat Sosial : Riwayat Kontrasepsi :
Pasien sudah lama pensiun sebagai guru SD. Saat ini Pasein menggunakan KB IUD selama
aktivitas pasien hanya dirumah dan rutin mengikuti 30 tahun. Tidak ada keluhan saat
kegiatan posyandu lansia. Hubungan dengan tetangga menggunakan KB.
sekitar baik.
Gaya Hidup :
Pasien tidak merokok dan tidak minum alkohol. Namun Anamnesis sistemik
sebelum didiagnosis terkena diabetes pasien memiliki Sistem integumentum : Tidak ada keluhan
kebiasaan senang makan makanan manis, tinggi lemak Sistem muskuloskeletal : Tidak ada keluhan
dan tinggi karbohidrat. Sehari-hari Ny. S makan tiga kali Sistem gastrointestinal : Tidak ada keluhan
dan kadang mengkonsumsi cemilan satu sampai dua kali Sistem urogenital : Tidak ada keluhan
Sistem neurologi : Tidak ada keluhan
sehari. Ny. S hanya baru baru ini rutin mengikuti senam Sistem kardiovaskular : Tidak ada
saat posyandu lansia, sebelumnya, Ny. S mengaku jarang keluhan
berolah raga. Sistem respirologi : Tidak ada keluhan
+ Aspek Personal
No. Komponen Pasien
1 Perasaan Pasien merasa khawatir dengan komplikasi
penyakit yang di deritanya
2 Ide/Pemikiran Pasien mempunyai pemikiran untuk merubah gaya
hidup dan akan meminum obat secara rutin sesuai
anjuran dokter
3 Harapan  Pasien menginginkan agar keluhannya
berkurang
 Pasien berharap anak dan cucu pasien tidak
memiliki penyakit yang sama seperti pasien
dengan menjalani gaya hidup sehat
4 Efek terhadap fungsi social Pasien memiliki keterbatasan dalam menjalani
kegiatan sehari- hari karena keluhannya saat ini
+
PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum Vital Sign


Kesadaran : Compos TD :
Mentis 130/90mmHg
Keadaan Umum : Sakit sedang HR : 88 x/menit
Berat badan : 65 kg RR : 20 x/menit
Tinggi badan : 150 cm Suhu : 36,4oC
+ STATUS GENERALIS

Pemeriksaan Kulit : tidak ada kelainan


Pemeriksaan Kepala
Bentuk kepala : normocephal
Rambut : distribusi merata, warna
keputihan
Pemeriksaan Mata
Palpebra : tidak edema
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ikterik
Pupil : isokor kanan dan kiri, refleks
cahaya langsung (+/+), refleks cahaya tidak langsung
(+/+)
Pemeriksaan Telinga : Dalam batas normal
Pemeriksaan Hidung : Sekret (-), septum
deviasi (-), konka inferior hiperemis (-/-).
Pemeriksaan Leher
Kelenjar tiroid : tidak teraba membesar
Kelenjar limfonodi : tidak teraba membesar
JVP : tidak meningkat

Pemeriksaan Penunjang
Tes Gula Darah Sewaktu : 200 mg/dl
+

PEMERIKSAAN
ANAMNESA FISIK
DIAGNOSA

1. DIABETES
MELLITUS TIPE II

2. ULKUS PEDIS
SINISTRA
+
Keadaan rumah

Lokasi

 Dusun Mendalan I/I, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Kondisi rumah

 Rumah pasien terletak di permukiman penduduk yang tidak terlalu padat dan
termasuk permukiman perumahan biasa di pedesaan.

Luas bangunan

 200m2
+ Lantai rumah

 Seluruh lantai rumah termasuk dapur menggunakan semen yang kedap air.
Sedangkan kamar mandi menggunakan keramik.

Jendela rumah

 Terdapat di ruang tamu, ruang keluarga, dan setiap kamar. Setiap harinya jendela
kamar di buka.

Pencahayaan

 Cukup Baik, terdapat beberapa genteng kaca di bagian dapur dan ruang keluarga.

Kebersihan dan tata letak ruang

 Kebersihan terjaga. Rumah terdiri dari 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 3 kamar tidur, 1
kamar mandi dengan WC duduk, 1 ruang makan dan dapur.
+ Sanitasi dasar

 Limbah rumah tangga di alirkan ke septic tank, terdapat tempat sampah di dalam
rumah, kemudian sampah di kubur di halaman belakang.

Halaman

 Pasien memiliki halaman yang luas, halaman depan memiliki beberapa tanaman
bunga dan rumput . Halaman belakang terdapat kandang bebek dan angsa.

Kesan kebersihan

 Kebersihan baik
+
Denah Rumah

Halaman belakang dan kandang bebek

Kamar 3
Kamar mandi

Kamar 2

Dapur
Kamar 1

Ruang tamu

TERAS

HALAMAN DEPAN
Indikator Rumah
+
Sehat
+

Penetapan skor kategori rumah sehat:


Baik : Skor 35-42 (>83%)
Sedang: Skor 29-34 (69-83%)
Kurang : Skor <29 (<69%)
Pada rumah pasien termasuk ke dalam kategori rumah dalam kondisi baik.
+
Daftar anggota keluarga serumah
+
Genogram

Genogram Keluarga Ny. S, dibuat tanggal 28 April 2017,


narasumber: Ny. S (Pasien).
+
Family map
+
Apgar
+
Family Screem
+
Family Life Line
+
Family Life Cycle

Pada keluarga termasuk ke dalam bentuk keluarga single family dimana dalam
keluarga suami sudah meninggal. Sedangkan untuk siklus hidup keluarga termasuk
dalam tahap keluarga usia jompo (aging family member) dimana dimulai dari anak
sulung meninggalkan rumah tetapi anak bungsu masih tinggal di rumah.
+
Indikator PHBS
+
Peta rumah dari pelayanan kesehatan
DIAGNOSIS
HOLISTIK
Aspek Personal
• Alasan kedatangan :
Pasien datang berobat ke puskesmas karena pasien mengeluh luka
tertusuk paku pada telapak kaki kiri yang tidak kunjung sembuh.

• Harapan :
Pasien memiliki harapan untuk sembuh dan keluhan segera membaik.

• Kekhawatiran :
Pasien khawatir terhadap komplikasi dari Diabetes Mellitus yang di
deritanya.
Aspek Eksternal
Aspek Internal Faktor pendukung kesehatan pasien yang berasal dari
• Genetik : keluarga ialah adanya dukungan dari anak-anaknya
Terdapat faktor genetik dalam keluhan yang mengupayakan agar pasien mengkonsumsi pola
yang dialami pasien yaitu bapak dan ibu makan gizi seimbang, menghindari makanan
pasien. mengandung tinggi gula, rutin untuk berolahraga, dan
memberitahu agar pasien rutin kontrol ke Puskesmas
• Pola makan : dan meminum obat.
Pola makan pasien belum memenuhi pola
gizi seimbang dan tinggi karbohidrat.
Derajat Fungsional
• Kebiasaan : Menurut skala pasien termasuk derajat 1 dimana
Pasien memiliki kebiasaan makan cemilan pasien dapat secara mandiri melakukan perawatan
manis disela waktu makan, dan jarang diri dan melakukan seluruh aktivitasnya tanpa dibatasi
berolahraga. oleh masalah.

• Spiritual :
Pasien percaya bahwa penyakit yang
dideritanya adalah ketentuan Allah SWT, Aspek Klinis
pasien juga berdoa agar selalu diberikan
Diagnosis kerja : Diabetes Melitus dengan Ulkus
kesehatan.
Pedis Sinistra
MANAJEMEN KOMPREHENSIF

• Edukasi dan konseling • Edukasi mengenai diet


mengenai DM (definisi, (membatasi asupan karbohidrat
penyebab, pencegahan, dan makanan manis)
pengobatan, diet) pada
PROMOT PREVENT
• Perbanyak olahraga dan
pasien dan keluarga IF IF
aktivitas
• Anjuran kontrol gula darah • Hindari stress
rutin

REHABILI
• Glibenclamide 80 mg ½ -
tablet 1 kali sehari.
KURATIF • Belum perlu dilakukan
TATIF
Identifikasi Fungsi-fungsi
Keluarga
FUNGSI
FUNGSI PSIKOLOGIS
BIOLOGIS
• Pasien mengetahui • Pasien tinggal bersama anak pertama, menantu
penyakitnya pada tahun serta salah satu cucunya.
2012
• Hubungan antara anggota keluarga baik, selalu
• Terdapat riwayat diabetes memberikan motivasi untuk berperilaku hidup
mellitus pada ayah dan ibu sehat. Jika ada masalah secara musyawarah
pasien. antara pasien.
FUNGSI PENDIDIKAN

• Pendidikan terakhir SLTA.


• Pendidikan terakhir menantunya SMA, sedangkan anaknya tamat
SMP, dan cucunya tamat S1.

FUNGSI SOSIAL DAN


BUDAYA

• Pasien diberi pembekalan agama dan pendidikan sebelum masuk ke


masyarakat dan diberi kebebasan untuk bergaul. Pasien hidup dalam
keluarga yang sederhana, hubungan bermasyarakat dengan tetangga-
tetangganya baik. Keluarga pasien dikenal baik oleh seluruh tetangganya.
Pasien rutin mengikuti posyandu lansia. Keluarga pasien turut aktif dalam
kegiatan kemasyarakatan.
FUNGSI EKONOMI

Sumber penghasilan dari keluarga pasien didapatkan dari uang pensiunan pasien, dan
hasil kerja menantu pasien yang bekerja sebagai pegawai swasta. Selain itu, cucunya
yang sudah bekerja sebagai pegawai bank juga sesekali memberikan uang untuk
dipakai membantu biaya pengobatan pasien. Kebutuhan keluarga sudah tercukupi
dengan baik.
bagai pegawai bank juga sesekali memberikan uang untuk dipakai membantu biaya
pengobatan pasien. Kebutuhan keluarga sudah tercukupi dengan baik.

FUNGSI RELIGIUS

Pasien adalah seorang muslim yang taat beragama, selalu menjalankan sholat lima waktu
dan sering sholat berjamaah di Masjid. Keluarga pasien sering melakukan sholat
berjamaah terutama sholat maghrib dan sholat isya.
Pola Konsumsi Makan Pasien
dan Keluarga

Frekuensi makan rata – rata setiap harinya


3x/hari dengan variasi makanan sebagai
berikut : nasi putih, lauk (tempe/tahu), sayur
(bayam, sayur asem, dan sayuran lainnya).
Pasien sering memakan cemilan manis disela
makan. Pasien dan keluarganya jarang
mengkonsumsi daging merah (hanya pada hari
raya besar saja) dan jarang makan buah.
Faktor Perilaku Keluarga

Dalam beraktivitas sehari-hari pasien jarang Faktor-Faktor yang


melakukan aktivitas fisik di rumah. Pasien Mempengaruhi Kesehatan
tidak pernah melakukan olahraga. Setiap hari
pasien mengkonsumsi makanan yang diolah Faktor Non-Perilaku
sendiri sebanyak 3 kali/ hari, namun sering
makan dan minuman manis. Diantara waktu Terdapat fasilitas pelayanan kesehatan yang
makan tersebut pasien sering menyelingi sering didatangi oleh pasien yaitu bidan desa
dengan cemilan manis seperti biskuit, yang berjarak ± 1 km dapat ditempuh dengan
gorengan, dan teh manis. Jika keluar rumah berjalan kaki dan Puskesmas yang berjarak ± 500
lebih sering menggunakan kendaraan meter dapat ditempuh dengan kebdaraan
bermotor. Pasien tidak merokok. pribadi. Pembiayaan pengobatan pasien maupun
Keluarga yang tinggal serumah keluarga dengan menjadi peserta BPJS
mengkonsumsi makanan yang dimasak
dirumah namun tidak menyukai makanan dan
minuman manis, anggota keluarga tidak ada
yang merokok dan jarang berolahraga. Jika
ada anggota keluarga yang sakit, pasien dan
keluarga langsung berobat ke bidan, dokter di
klinik, dan Puskesmas. Pasien dan keluarga
sudah menjadi peserta BPJS.
Diagram Realita Pada Keluarga
PERMASALAHAN PASIEN DAN KELUARGA
PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN
KELUARGA
No Resiko dan Rencana pembinaan Sasaran Tanggal Kegiatan yang Keluarga Hasil kegiatan
Masalah dilakukan yang terlibat
Kesehatan
28-04- Edukasi tentang Pasien dan Pasien dan
1 Tidak mau rutin Memberikan penjelasan kepada Pasien dan
2017 DM, Pencegahan ibunya ibunya
mengontrolkan pasien dan anggota keluarga keluarga
gula darah memahami
penyakit DM-nya lainnya agar selalu
meningkat dengan penjelasan
mengontrolkan dirinya ke
kurangi yang diberikan.
puskesmas atau pelayanan
penggunaan gula
kesehatan lainnya.
berlebih dan
2 Belum dapat Memberikan penjelasan kepada Pasien dan
makan manis-
menjaga pola pasien tentang bahaya akibat keluarga
manis, perbanyak
makannya tidak menjaga pola makannya.
olahraga terapi
3 Masih belum rutin Memberikan penjelasan kepada Pasien dan
dan pencegahan.
untuk olahraga. pasien dan keluarga tentang keluarga
pentingnya beraktivitas dan
olahraga secara teratur.
KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA

Tingkat pemahaman
Pemahaman terhadap edukasi yang dilakukan cukup baik.
Faktor pendukung
• Keluarga mampu memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan dengan
baik.
• Kesadaran keluarga pasien untuk mendukung kesembuhan penderita sangat
baik, sehingga keluarga sangat kooperatif untuk mengubah perilaku yang tidak
baik bagi kesehatan
• Keluarga mampu membeli makanan dengan menu bervariasi dan gizi seimbang.
Faktor penyulit : tidak ada
Indikator keberhasilan
• Pengetahuan tentang DM meningkat sehingga dapat membantu pasien
mengontrol penyakitnya.
• Kesadaran berobat ke puskesmas dan minum obat.
• Kesadaran melakukan aktivitas fisik dan olahraga.
• Keluhan berkurang dan gula darah terkontrol.
+
Penutup

Faktor-faktor yang mempengaruhi


derajat kesehatan Ny. S yaitu terdiri dari Keluarga memiliki peranan penting
faktor perilaku, lingkungan, dan dalam proses kesembuhan penyakit
pelayanan kesehatan. Adapun faktor pasien yaitu Diabetes Melitus pada Ny.
yang paling berpengaruh adalah genetik S terutama dalam hal pengawasan
dan perilaku, dimana pasien sudah minum obat, dan pengaturan diet. Peran
memiliki faktor resiko terkena diabetes keluarga untuk meningkatkan derajat
mellitus yaitu pasien memiliki kebiasaan kesehatan dengan peningkatan
makan makanan yang manis, minuman pengetahuan tentang diabetes melitus.
manis dan jarang berolahraga.
+
BAB IV PENUTUP
+
Saran

Kepada keluarga untuk selalu melakukan pengawasan


minum obat

Kepada tenaga kesehatan untuk juga melakukan


pendekatan kedokteran keluarga dalam menangani
kasus diabetes mellitus terutama pada lansia

Penyuluhan, penyebaran pamflet dan poster kepada masyarakat tentang


diabetes melitus berguna untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat agar
lebih sigap dalam pengenalan gejala dini dan pengobatan.
+

DOKUMENTASI
+

HALAMAN SAMPING RUMAH

HALAMAN BELAKANG RUMAH


+

DAPUR CUCI
DAPUR MASAK
+

KAMAR MANDI

KANDANG TERNAK BEBEK <10M


+ PEMERIKSAAN FISIK
+
TERIMAKASIH
+
DAFTAR PUSTAKA

 Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia. 2006. Standar Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta: PDKI.

 Amadea, Ikhsan. 2015. Diagnosis Holistik. Sumber:


https://www.academia.edu/5541407/Diagnosis_holistik?auto=download, diakses tanggal 15 April 2017.

 American Psychiatric. 2004. Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders Fouth Edition. Washington DC:
American Psychiatric Association

 Bennett, P. Epidemiology of Type 2 Diabetes Militus. In LeRoithet. al Diabetes Militus Fundamental and Clinical Text.
Philadelphia:Lippincott William & Wilkin s. 2008;43(1): 544-7.

 Buraerah, Hakim. Analisis Faktor Risiko Diabetes Melitus tipe 2 di Puskesmas Tanrutedong, Sidenreg Rappan,. Jurnal
Ilmiah Nasional;2010 Available from :http://lib.atmajaya.ac.id/

 Diabetes Association. Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus. Diabetic Care. 2012;35 suppl:568.

 Hardywinoto, Setiabudi. 2005. Panduan Gerontologi. Jakarta : Gramedia.

 Magerssa YC, Gebre MW, Birru SK, Goshu AR, Tesfaye DY. Prevalence of Undiagnosed Diabetes Melitus and its Risk
+
DAFTAR PUSTAKA

 Pubmed. 2010.Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus. NCBI


Pubmed.Sumber:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2797383/,diakses Tanggal 15 April 2017.

 Prasetyawati, A. E. Kedokteran Keluarga dan Wawasannya. Solo: Universitas Sebelas Maret.

 Sherwood, Laurale. 2001. Fisiologi manusia Edisi 2.Jakarta: EGC.

 Soewondo, P. 2011. Konsensus Diabetes Melitus. Jakarta: PERKENI.

 Sugiarto, Andi. 2005. Penilaian Keseimbangan Dengan Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari Pada Lansia Dip Anti Werdha Pelkris Elim Semarang Dengan
Menggunakan Berg Balance Scale Dan Indeks Barthel. Semarang : UNDIP.

 Teixeria L. Regular physical exercise training assists in preventing type 2 diabetes development: focus on its antioxidant and anti-inflammantory
properties. Biomed Central Cardiovascular Diabetology.2011; 10(2);1-15.

 Yaturu, S. Obesity and type 2 diabetes. Journal of DiabetesMellitus. 2011; 1(4);10-6.

 Puskesmas Borobudur. 2016. Profil Puskesmas Borobudur Tahun 2016. Kabupaten Magelang : Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang.