Anda di halaman 1dari 35

Hamdan Syakuri (HS)

Anandita Ekasanti (AE)


Dewi Nugrayani (DN)
Latar Belakang
 Wabah penyakit termasuk salah satu permasalahan
utama pada industri budidaya perairan yang
mengakibatkan kerugian ekonomis dan ekologis yang
tinggi.
 New emerging diseases
 Re-emerging diseases
 Matakuliah wajib sebagai bekal bagi calon sarjana
perikanan dari program studi BDP
Deskripsi matakuliah
 Matakuliah yang termasuk matakuliah khusus prodi
BDP ini diawali dengan uraian tentang status penyakit
ikan di Indonesia sebagai pengantar.
 Selanjutnya akan dibahas
 mekanisme dan proses terjadinya penyakit,
 metode identifikasi dan diagnosis organisme pathogen,
dan
 jenis-jenis penyakit ikan yang telah dilaporkan
mewabah di budidaya perairan di Indonesia.
Deskripsi matakuliah
 Beberapa agensia penyebab penyakit dipaparkan secara
lebih terperinci sebagai model untuk menjelaskan
kelompok penyakit tertentu, seperti
 Aeromonas hydrophila untuk menjelaskan penyakit bakterial,
 Koi herpesvirus dan beta nodavirus ikan untuk penyakit viral,
 Ichtyopthirius multifiliis danTrichodina sp. untuk kelompok
protozoa,
 Dactylogyrus, Gyrodactylus, untuk kelompok cacing monogenean,
dan Anguilicola (Nematoda)
 Learnea dan Argulus untuk kelompok crustacea.
 Kondisi tidak normal pada ikan yang disebabkan oleh
faktor lingkungan, keturunan, dan malnutrisi diuraikan
sebagai contoh penyakit non infeksi pada ikan.
Bidang kajian
 Parasitology: ilmu yang mempelajari organisme parasit,
inangnya, dan interaksi antar keduanya.
 Bacteriology mempelajari prokariot (bakteri)
 Pathology: mempelajari penyakit dan diagnosisnya
 Meliputi empat aspek penyakit:
 Penyebab/etiology
 Mekanisme perkembangan penyakit (pathogenesis)
 Perubahan struktur sel (morphological changes)
 Manifestasi klinis
 Etiology: studi tentang penyebab penyakit
 Epidemiology: ilmu atau studi tentang pola, penyebab, dan
dampak penyakit pada suatu populasi
 Serology: studi tentang plasma atau serum dan cairan
tubuh lainnya. Umumnya digunakan untuk mengacu
identifikasi diagnostik antibodi
Materi perkuliahan
Materi Pert. ke-
(Dosen)
Pendahuluan 1 (HS)
Penyakit viral 2-4 (HS)
Penyakit bakterial 5-7 (HS)
Penyakit non infeksi 8-9 (DN)
Penyakit fungal 10 (DN)
Parasit ikan golongan protozoa 10-11 (AE)
Parasit ikan golongan metazoa 13-14 (HS)
Pustaka utama
 Fish Diseases and Disorder, Volume 1: Protozoan and
Metazoan Infections. Patrick T.K. Woo (Ed)
 Fish Diseases and Disorder, Volume 2: Non-infektious
disorder. J.F. Leatherland & P.T.K Woo (Eds)
 Fish Diseases and Disorder, Volume 3: Viral, Bacterian
and Fungal Infections. P.T.K Woo & D.W. Bruno (Eds)
 Beberapa artikel dari jurnal ilmiah
Prasyarat Utama
 Biologi Dasar
 Fisiologi Hewan Air
 Ikhtiologi
 Mikrobiologi Akuatik
 Virus
 Bakteri
 Protozoa
 Fungi
Evaluasi perkuliahan
 Komponen nilai:
 Tugas terstruktur 20%
 UTS 25%
 UAS 25%
 Praktikum 30%
 Nilai D dan E diberikan untuk yang tidak lengkap
atau nilai yang terlalu rendah
 Nilai E untuk yang tidak jujur saat ujian
Tugas terstruktur
 Diberikan untuk membantu memahami materi
perkuliahan
 Jenis-jenis tugas terstruktur dan penilaiannya, pilih salah
satu (pertemuan pertama)
 Presentasi artikel (kelompok)
 4-5 mahasiswa/kelompok

 membuat proposal PKM di bidang parasit dan penyakit ikan


 Menyertakan anggota dari angkatan lain
 Tugas berlaku untuk matakuliah parasit dan penyakit ikan dan
manajemen kesehatan ikan
 Jumlah maksimum 16 judul. Yang berminat harus menyerahkan
abstrak proposal pada pertemuan kedua sebagai bahan seleksi
Proses penilaian dan Etika
perkuliahan
 Penilaian dilakukan berdasarkan hasil dan
mempertimbangkan proses
 Perkuliahan dimulai tepat waktu
 Toleransi: ? Menit
 Jumlah kehadiran sesuai ketentuan
 Tidak diperkenankan berbuat tidak jujur dalam
perkuliahan dan saat ujian
Praktikum
 Peserta wajib mengikuti seluruh kegiatan praktikum
 Praktikum susulan dimungkinkan hanya dengan biaya dari
praktikan kecuali karena ada penugasan dari kampus
 Acara:
 Pengamatan ektoparasit dan endoparasit
 Penyakit bakterial: isolasi dan reinfeksi
 Penyakit fungal: isolasi dan pengamatan mikroskopik
 Laporan bersifat kelompok: tidak ada plagiat dan duplikasi
 Presentasi laporan*
 Pre-test dan atau post-test (?)
 Waktu pelaksanaan: dimulai di awal semester (?)
A disease is a particular abnormal condition
that negatively affects the structure or
function of part or all of an organism, and
that is not due to any external injury

 Diseases are often construed as medical


conditions that are associated with
specific symptoms and signs
Symptom vs. Sign
 A symptom is a departure from normal function or feeling
which is noticed by a patient, reflecting the presence of an
unusual state, or of a disease.
 A symptom is subjective, observed by the patient, and
cannot be measured directly,
 whereas a sign is objectively observable by others.
 For example, paresthesia is a symptom, whereas erythema
is a sign.
 Symptoms and signs are often nonspecific, but often
combinations of them are at least suggestive of certain
diagnoses, helping to narrow down what may be wrong.
 http://www.oie.int
 OIE-Listed diseases, infections and Infestations in
force in 2017
 notifiable terrestrial and aquatic animal diseases,
penyakit yang harus dilaporkan ke pihak yang
berwenang/pemerintah
Fish diseases
1. Epizootic haematopoietic necrosis disease
2. Infection with Aphanomyces invadans (epizootic
ulcerative syndrome)
3. Infection with Gyrodactylus salaris
4. Infection with HPR-deleted or HPR0 infectious salmon
anaemia virus
5. Infection with salmonid alphavirus
6. Infectious haematopoietic necrosis
7. Koi herpesvirus disease
8. Red sea bream iridoviral disease
9. Spring viraemia of carp
10. Viral haemorrhagic septicaemia
Mollusc diseases
1. Infection with abalone herpesvirus
2. Infection with Bonamia exitiosa
3. Infection with Bonamia ostreae
4. Infection with Marteilia refringens
5. Infection with Perkinsus marinus
6. Infection with Perkinsus olseni
7. Infection with Xenohaliotis californiensis
Crustacean diseases
1. Acute hepatopancreatic necrosis disease
2. Crayfish plague (Aphanomyces astaci)
3. Infection with yellow head virus
4. Infectious hypodermal and haematopoietic necrosis
5. Infectious myonecrosis
6. Necrotising hepatopancreatitis
7. Taura syndrome
8. White spot disease
9. White tail disease
Amphibians
 Infection with Batrachochytrium dendrobatidis
 Infection with ranavirus
Hamdan Syakuri and Satya Wicaksana

Faculty of Fisheries and Marine Science, Jenderal Soedirman University, Indonesia

THE 2ND INTERNATIONAL SYMPOSIUM ON MARINE AND FISHERIES RESEARCH


24-25 July 2017
Eastparc Hotel Yogyakarta
 Giant gourami is one of main commodity in
freshwater aquaculture, especially in Banyumas
 Slow-growing fish
 Intestinal metazoan infection could decrease
growth rate
 An acanthocephalan is found to infect giant
gourami from Banyumas
 Objective:
 to asses prevalence and intensity
 to molecularly identify the parasite based on partial
nuclear small sub unit ribosomal DNA (nSSU rDNA)
sequence.
Digestive track + Viscerals Prevalence
(A traditional market)
Intensity
Acanthocephalan
examination
Molecular
identification
DNA extraction
Purelink DNA genomic purification

Sequencing and sequence


Amplification of nSSU gene analysis:
• Platinum PCR supermix • BLASTn analysis
• Primer: • Phylogenetic analysis (phylogeny.fr)
• SSU-F04 (5’-GCTTGTCTCAAAGATTAAGCC-
3’) • Multiple sequences alignment
• SSU-R26 (5’ATTCTTGGCAAATGCTTTCG-3’)
analysis (Clustal omega)
Result and Discussion

1 cm

 Infected organ/tissue: intestine, visceral


tissue, liver
Number of Length of Prevalence Intensity
Time
sample intestine (cm) (%) (ind)
24.01.2017 9 69,2 88 14 (2-33)
26.01.2017 12 69,1 58 15 (3-55)
31.01.2017 12 68,3 33 3 (1-6)
13.02.2017 9 66,3 0 0

• High prevalence and intesity for sampling 1-3 indicate that


fish might come from same area of aquaculture
• No acanthocephan was found from sampling 4
Anterior Posterior
 Part of nSSU rDNA of four (4) samples was
successfully amplified and sequenced (914
bp)
 All sample showed same sequence (100% of
identity)
 Result of Blastn analysis:
 High identity with Pallisentis 89-97%
 and other acanthocephalans 80-90%
Sample in this work
Pallisentis

 Further identification is limited by database available in gene Bank


 It should be supported by morphological characteristics
Acc. number Identity (%)
This sample might
KU715090.1 82.91
represent different
KY305516.1 92.58 species of Pallisentis
KR261433.1 95.32
KU715089.1 94.98
KY305525.1 92.39
KY491740.1 94.57
KU715091.1 94.83
 Reports of occurrence are mostly from India
 Channidae, 15-67 % of prevalence
 Study of Pallisentis is very rarely, especially in
Indonesia
 Information of geographical distribution and other
aspects is limited
 High intensity of this parasite could affect fish
health, which should be further studied
 This acanthocephalan was found to infect the
fish at 33-88% of prevalence and 3-14 of
intensity (individual acanthocephalan per
infected fish)
 This animal is molecularly identified as
Pallisentis spp.
 Further study might address geographical
distribution, tissue distribution, other host,
host-parasite interaction
Hamdan Syakuri , Naufal AR, dan Dyna T

Faculty of Fisheries and Marine Science, Jenderal Soedirman University, Indonesia


10 cm

 Kondisi ikan mati tanpa menunjukkan gejala


penyakit eksternal
 Gejala penyakit internal: bintil (nodul) berwarna
putih di ginjal
 Nodul putih tidak ditemukan di organ/jaringan
lain
 Hasil identifikasi molekuler menunjukkan ikan
terinfeksi Nocardia seriolae

Anda mungkin juga menyukai