Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI BESAR

REFERAT “ABSES PARU”

Pembimbing :
dr. Indah Rahmawati, Sp.P

Disusun oleh:
Rizki Putri Andini R 1710221099

SMF ILMU PENYAKIT DALAM


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
2018
PENDAHULUAN
Abses paru adalah infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang
terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru
pada satu lobus atau lebih.

Studi di Taiwan pada tahun 1995-2003, menunjukkan kasus abses paru sebesar 336
kasus dan 120 kasus diantaranya menunjukkan hasil infeksi bakteri dari jaringan paru,
efusi pleura atau kultur darah. Sebesar 90 kasus terinfeksi, diklasifikasikan sebagai
community acquired infection dan 30 diantaranya termasuk infeksi nosokomial.

Prognosis abses paru pada era antibiotik secara umum baik dan lebih dari 90% kasus
tanpa komplikasi dapat disembuhkan dengan terapi medikamentosa. Manajemen abses
paru perlu diketahui oleh tenaga medis, karena pengobatan yang relatif mudah dengan
antibiotik yang adekuat dan prognosis yang baik.
DEFINISI
ABSES PARU

Abses paru adalah infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada


jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas
yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada satu lobus
atau lebih.

Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple


small abscesses) dinamakan “necrotizing pneumonia”.
PATOFISIOLOGI
Abses Paru Abses Paru Aspirasi dari bahan orofaring yang terkontaminasi
menyebabkan infeksi dan nekrosis yang berdistribu
si secara segmental, dibatasi oleh pleura.
Akut Primer
Kavitas yang terbentuk biasanya soliter, berdinding
tebal, dan dikelilingi oleh jaringan fibrosa.
Kronik Sekunder
Perluasan ke rongga pleura jarang terjadi.
Oleh karena aspirasi bahan gaster biasanya terjadi
pada posisi supinasi, pada aspirasi yang berkaitan
dengan abses paru, lesi yang ditemukan terletak
pada lobus paru kanan dan dalam bagian paru
tertentu (misalnya, segmen posterior dari lobus
atas paru kanan dan segmen superior dari kedua
lobus bagian bawah paru).
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
 93% bakteri anaerob yang merupakan flora normal pada mulut dan gastrointestinal
bagian atas (Peptostreptococcus, Bacteroides, Prevotella, & Fusobacterium spp).

 Staphylococcus aureus [beberapa resisten meticilin (MRSA)], Haemophillus influenza


(tipe b dan c), Streptococcus pyogenes, Nocardia, dan Actinomyces.

 Infeksi bakteri aerob dan mikroaerofilik Streptococcus, serta bakteri Gram negatif
seperti Klebsiella pneumoniae yang lebih tinggi pada populasi Asia.

 Infeksi Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, atau Klebsiella pneumonia


dihubungkan dengan prognosis yang lebih buruk dan tingginya angka mortalitas.
PATOGENESIS
ABSES PARU

Bronkogenik Hematogen

Aspirasi, stasis sekresi, benda asing, Septikemi atau sekunder dari fokus
tumor dan striktur bronkial infeksi bagian tubuh lain (mis.
tricuspid valve endocarditis)
Obstruksi bronkus dan terbawanya
organisme virulen Umumnya akan terbentuk abses
multipel dan biasanya disebabkan
Infeksi pada daerah distal obstruksi oleh Staphylococcus aureus,
Klebsiella pneumoniae dan grup
Pseudomonas
PATOGENESIS
Abses bisa mengalami ruptur ke dalam Kadang-kadang abses ruptur ke
bronkus, dengan isinya diekspektorasikan rongga pleura sehingga terjadi
keluar dengan meninggalkan kavitas empiema yang bisa diikuti dengan
yang berisi air dan udara. terjadinya fistula bronkopleura

Dapat terlihat batas Abses yang pecah akan


udara-air (air-fluid level) keluar bersama batuk
pada pemeriksaan sehingga terjadi aspirasi
radiografik. pada bagian lain dan
akhirnya membentuk abses
paru yang baru.
DIAGNOSIS
ANAMNESIS
 Onset penyakit bisa berjalan lambat atau mendadak/akut.
 Umumnya pasien mempunyai riwayat perjalanan penyakit
1-3 minggu dengan gejala awal adalah badan terasa lemah,
tidak nafsu makan, penurunan berat badan, batuk kering,
keringat malam hari, demam intermitten bisa disertai
menggigil dengan suhu tubuh mencapai 39,4°C atau lebih.
 Setelah beberapa hari dahak dapat menjadi purulen dan da
pat mengandung darah.
 Sputum yang berbau amis dan berwarna anchovy menunjuk
kan penyebab infeksi adalah bakteri anaerob dan disebut de
ngan putrid abscesses.
 Nyeri dada, batuk darah.
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN FISIK
 Suhu badan meningkat sampai 40°C.
 Nyeri tekan lokal, perkusi pada daerah terbatas terdengar
redup dengan suara napas bronkial.
 Bila abses luas dan letaknya dekat dengan dinding dada
kadang dapat terdengar suara amforik.
 Pada empiema torakis dapat ditemukan pergerakan dinding
dada tertinggal pada tempat lesi, vokal fremitus menghilang,
bunyi napas menghilang dan terdapat tanda-tanda
pendorongan mediastinum terutama pendorongan jantung
ke arah kontra lateral tempat lesi.
 Pada abses paru dijumpai jari tabuh, yang proses terjadinya
berlangsung cepat.
TANDA DAN GEJALA

 Malaise
 Demam
 Batuk
 Nyeri pleuritik
 Sesak
 Anemia
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hitung leukosit umumnya tinggi berkisar 10.000-30.000/mm3 dengan hitung


jenis bergeser ke kiri dan sel polimorfinuklear yang banyak terutama neutrophil
yang immatur.

Pada abses lama dapat ditemukan anemia.

Pemeriksaan dahak dengan pewarnaan langsung dengan teknik gram, biakan


mikroorganisme
PEMERIKSAAN PENUNJANG
BRONKOSKOPI & ASPIRASI JARUM PERKUTAN

Bronkoskopi dengan biopsi sikatan yang terlindung dan bilasan bronkus


merupakan cara diagnostik yang paling baik dengan akurasi diagnostik bakteri
ologi melebihi 80%. Sebaiknya dilakukan pada pasien AIDS sebelum dimulai
pengobatan karena banyaknya kuman yang terlibat dan sulit diprediksi secara
klinis. Selain itu 10%-25% dari penyebab abses paru pada orang dewasa
adalah karsinoma bronkogenik, dan 60% di antaranya dapat didiagnosis
dengan menggunakan bronkoskopi.
Aspirasi jarum per kutan mempunyai akurasi tinggi untuk diagnosis
bakteriologis dengan spesifitas melebihi aspirasi transtrakeal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
RONTGEN THORAKS
Temuan radiologis terdiri dari cavitas berdinding tebal, bersifat soliter atau multiple
dengan batas ireguler
Pada hari-hari pertama penyakit, foto thoraks hanya menggambarkan gambaran
opak dari satu ataupun lebih segmen paru, atau hanya berupa gambaran densitas
homogen yang berbentuk bulat. Kemudian akan ditemukan gambaran radiolusen
dalam bayangan infiltrat yang padat.
Selanjutnya bila abses tersebut mengalami ruptur sehingga terjadi drainase
abses yang tidak sempurna ke dalam bronkus, maka akan tampak kavitas
ireguler dengan batas cairan dan permukaan udara (air-fluid level) di dalamnya
Khas pada infeksi bakteri anaerob, kavitasnya bersifat single (soliter) yang
biasanya ditemukan pada infeksi paru primer, sedangkan abses paru sekunder
(aerobik, nosokomial atau hematogen) lesinya dapat multipel.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
RONTGEN THORAKS

A. Foto Thoraks AP. Terdapat area berbatas tegas transparan di lobus kiri atas (panah
putih). Kavitas diisi oleh cairan dan udara/air-fluid level (panah hitam).
B. Foto Thoraks Lateral. Tampak gambaran air-fluid level di lobus kanan atas paru.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT SCAN THORAKS
Dapat menunjukkan obstruksi endobronkial akibat keganasan atau adanya benda
asing dan dapat menunjukkan ukuran serta lokasi lesi.
Dapat membedakan antara abses paru dengan empiema.
Gambaran abses paru khas tampak seperti massa bulat terletak dalam parenkim
paru dengan kavitas sentral berdinding tebal, tidak teratur, tidak menekan bronkus
yang berdekatan, dan membentuk sudut yang tajam dengan dinding thoraks.
Sedangkan gambaran empiema khas, yaitu berbentuk lentikuler, tampak pemisahan
pleura parietal dan visceral (pleura split), terdapat kompresi pada parenkim
paru yang berdekatan, dan membentuk sudut yang tumpul dengan dinding thoraks.
Lokasi abses paru umumnya 75% berada di lobus kanan bawah paru.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT SCAN THORAKS
TERAPI
NON MEDIKAMENTOSA

Bila abses paru pada foto thoraks menunjukkan diameter 4 cm


atau lebih sebaiknya pasien dirawat inap.

Posisi berbaring pasien hendaknya miring dengan paru yang


terkena abses berada di atas agar gravitasi drainase lebih baik.

Bila segmen superior lobus bawah yang terkena, maka hendak


nya bagian atas tubuh pasien/kepala berada di bagian terbawah
(posisi Trendelenberg).

Diet biasanya bubur biasa dengan tinggi kalori dan tinggi protein.
Bila abses telah mengalami resolusi dapat diberikan nasi biasa
TERAPI
ANTIBIOTIK
Kombinasi amoksisilin dan metronidazol merupakan pilihan yang
baik dengan efek samping minimal dibandingkan beberapa obat
lainnya.
Pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas ampisilin, pengguna
an amoksisilin harus disubstitusi dengan golongan makrolid seperti
eritromisin, klaritromisin atau azitromisin.
Antibiotik pilihan yang disarankan adalah β laktam/ β laktamase
inhibitor atau sefalosporin generasi kedua atau ketiga dengan
klindamisin atau metronidazol.
Klindamisin denngan dosis 3x600 mg IV dilanjutkan 4x150-300 mg
/oral/hari
TERAPI
ANTIBIOTIK
Regimen alternatif: penisilin G 2-10 juta unit/hari, sampai dengan
25 juta unit atau lebih/hari dikombinasikan dengan streptomisin,
kemudian dilanjutkan dengan penisilin oral 4x500-750 mg/hari.
Kombinasi lain: penisilin 12-18 juta unit/hari dan metronidazol 2 gr/hari
dengan dosis terbagi (untuk penyebab bakteri anaerob) selama 10 hari
Patogen aerob yang biasa digunakan adalah klindamisin+penisilin atau
klindamisin + sefalosporin.
Pilihan antibiotik pada abses paru yang disebabkan oleh nocardia
adalah sulfonamid 3x1 gram oral.
Pada abses paru amubik dapat diberikan metronidazol 3x750 mg,
sedangkan bila penyakitnya serius seperti terjadi ruptur abses maka
harus ditambahkan emetin parenteral pada 5 hari pertama.
TERAPI
Respons yang lambat atau tidak adanya respons sama sekali
dapat dijumpai pada keadaan:
• kavitas yang besar ( > 6 cm),
• keadaan umum pasien yang buruk,
• seleksi anti mikrobial yang salah,
• kesalahan diagnosis,
• adanya empiema,
• abses yang memerlukan drainase,
• komplikasi pada organ yang jauh seperti abses otak
TERAPI
BRONKOSKOPI
Bermanfaat untuk mengeluarkan benda asing dan untuk
melebarkan striktur.

Dapat dilakukan aspirasi dan pengosongan abses yang tidak


mengalami drainase yang adekuat serta dapat diberikannya
larutan antibiotik melewati bronkus langsung ke lokasi abses.

Drainase dengan tindakan operasi jarang diperlukan karena


lesi biasanya respons dengan antibiotik. Bila tidak respons,
apalagi bila kavitas besar, maka harus dilakukan drainase
perkutan untuk mencegah kontaminasi pada rongga pleura
TERAPI
PEMBEDAHAN
Pilihan tindakan operasi bervariasi, meliputi drainase eksternal
atau lobektomi untuk abses besar yang menghancurkan
sebagian besar lobus paru.

Indikasi operasi adalah sebagai berikut:


- Abses paru yang tidak mengalami perbaikan
- Komplikasi: empiema, hemoptisis masif, fistula bronkopleura
- Pengobatan penyakit yang mendasari: karsinoma obstruksi
primer/ metastasis, pengeluaran benda asing, bronkiektasis,
gangguan motilitas gastroesofageal, malformasi atau kelain
an kongenital.
PROGNOSIS
Lebih dari 90% kasus tanpa komplikasi dapat disembuhkan dengan terapi
medikamentosa.
Angka mortalitas pasien abses paru anaerob pada era antibiotik kurang dari 10
% dan kira kira 10-15% memerlukan operasi.
Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk:
- kavitas yang besar (> 6 cm) - lesi obstruktif,
- penyakit dasar yang berat, - nekrosis paru yang progresif,
- status imunocompromised, - empiema,
- umur yang sangat tua,
- abses yang disebabkan bakteri aerobik (termasuk Staphylococcus aureus
dan basil gram negatif),
- abses paru yang belum mendapat pengobatan dalam jangka waktu yang
lama.
KESIMPULAN
 Abses paru adalah infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang
terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru
pada satu lobus atau lebih.
 Insidensi abses paru tidak diketahui, meskipun terlihat pertumbuhannya tidak fluktuatif
dan insidensinya juga terlihat menurun sejak diperkenalkannya antibiotik (khususnya
penisilin).
 Abses paru dapat disebabkan oleh mikroorganisme kelompok bakteri anaerob, aerob,
jamur, parasit dan amuba.
 Penegakan diagnosis melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
 Terapi utama abses paru adalah medikamentosa, drainase yang adekuat, bronkoskopi
dan pembedahan.
 Antibiotik pilihan berdasarkan terapi empiris yang disarankan adalah β laktam/ β laktam
ase inhibitor atau sefalosporin generasi ke II atau ketiga dengan klindamisin atau
metronidazol.
 Prognosis abses paru pada era antibiotik secara umum baik dan lebih dari 90% kasus
tanpa komplikasi dapat disembuhkan dengan terapi medikamentosa.
.