Anda di halaman 1dari 30

DIFTERI

Wulan Firsta Angelina


Sofia Mutiara
Pembimbing :
Ranti Chorisativa
dr. IRWANDI, Sp.A
ANATOMI HIDUNG
2
ANATOMI FARING
3
ANATOMI LARING
4
DEFINISI DIFTERIA

Difteri adalah suatu penyakit infeksi akut


5
yang sangat menular, disebabkan oleh
Corynebacterium diphtheria dengan ditandai
pembentukan pseudo-membran
pada kulit dan mukosa.
EPIDEMIOLOGI
 TERSEBAR LUAS DISELURUH DUNIA.

 RSUD DR. SOETOMO (1982 - 1986) : 200 - 400 KASUS


6
S E T I A P TA H U N , A N G K A K E M AT I A N 4 - 7 % .

 TA H U N 1 9 8 9 : 1 3 0 K A S U S , A N G K A K E M AT I A N 3 , 0 8 % .

 8 0 % T E R J A D I PA D A U S I A < 1 5 TA H U N .

 FA K T O R S O S I A L E K O N O M I , P E M U K I M A N PA D AT,

N U T R I S I J E L E K , T E R B ATA S N YA FA S YA N K E S
M E R U PA K A N FA K T O R P E N T I N G T E J A D I N YA P E N YA K I T
INI.
ETIOLOGI
7

Disebabkan oleh Corynebacterium diphtheria :


 Bakteri gram positif.
 Bersifat polimorf.
 Tidak bergerak.
 Tidak membentuk spora.
 Tidak berkapsul.
 Mati pada pemanasan 60ºC.
 Tahan dalam keadaan beku dan kering.
Patogenesa
melekat serta
Kuman Mukosa memprodksi
berkembang-biak Toksin
CBD atau kulit
di sal.nafas atas
Terjadi Infeksi menyebar secara Menyebar ke
sekunder hematogen dan organ
limfogen
Terbentuk membran yang
melekat erat berwarna Jantung
Toksin
kelabu kehitaman menghambat
pemb. protein Saraf
Karena produksi
toksin >>, terbentuk mengganggu proses Ginjal
eksudat fibrin translokasi
Sel mati
(neksrosis)
Membentuk bercak Terjadi respon
eksudat yang semula inflamasi lokal +
mudah dilepas jar.nekrotik 8
KLASIFIKASI
1. Infeksi Ringan
Pseudomembran terbatas pada mucosa hidung atau fausial
dengan gejala hanya nyeri menelan.

2. Infeksi Sedang
Pseudomembran menyebar lebih luas sampai ke dinding
posterior faring : edema ringan  Pengobatan konservatif.

3. Infeksi Berat
Disertai gejala sumbatan jalan napas yang berat dapat diatasi
dengan  trekeostomi. Gejala komplikasi: miokarditis, paralisis,
nefritis

9
GEJALA KLINIS

1) Masa tunas 2 - 7 hari.


2) Gejala Umum :
- Demam yang tidak terlalu tinggi.
- Lesu.
- Pucat.
1) Nyeri kepala.
2) Anoreksia penderita sangat lemah sekali.
3) Gejala Lokal

4) Gejala Akibat Esotoksin


 Miokarditis.
 Paralisis jaringan saraf.
 Nefritis.
10
A. DIFTERI HIDUNG

 Paling ringan, jarang (2%).


 Mula tampak pilek ringan tanpa
atau disertai gejala sistemik
ringan.
 Pseudomembran sekret +
darah
 Pseudomembran faring &
laring

11
B. Difteri Faring Dan Tonsil (Difteri
Fausial)
 Paling sering (±75%).

 Gejalaringan : radang pada


selaput lendir, tidak membentuk
pseudomembran.

 Keadaan berat : seperti radang


akut tenggorok, suhu tidak terlalu
tinggi, pseudomembran
nasofaring dan laring, napas
berbau, bull neck.

12
Pseudomembran dan Bull Neck

13
C. Difteri Laring Dan Trakea

 Suara serak.

 Stridor inspirasi
 berat : sesak napas hebat , sianosis ,
retraksi suprasternal & epigastrium.

 Bull neck.

 Laring hiperemis, sembab, >>> sekret &


permukaan ditutupi pseudomembran.

14
D. Difteri Cutaneus, Vulvovaginal,
Conjunctiva, Telinga
 Sangat jarang sekali.

 Difteria kulit :tukak, tepi jelas,


membran pada dasarnya, cendrung
menahun.

 Difteria pada mata lesi


conjunctiva : berupa kemerahan,
edema dan membran pada
conjunctiva.

 Pada Telinga : otitis eksterna


dengan sekret purulen dan berbau.

15
DIAGNOSIS
Diagnosis  pemeriksaan klinis.

1. Sedian langsung / biakkan.

2. Fluorescent antibody technique (lebih akurat).

3. Diagnostik pasti dengan isolasi Corynebacterium


Dipththeriae dengan pembiakkan pada median
Loeffler.

16
PENATALAKSANAAN

1. Pengobatan Umum

 Perawatan yang baik.


 Istirahat
 Isolasi.
 Pengawasan yang ketatkomplikasi  EKG setiap
minggu.
 Cairan serta diet yang adekuat.
 Difteria laring  jalan napas  bebas,
kelembaban udara.

17
2. Pengobatan Khusus

a. Anti Diphtheriae Serum (ADS)

Diberikan sebanyak 20.000 U/hari 2 hari.

18
Dosis ADS Menurut Lokasi dan Membran Sakit
Tipe Difteria Dosis ADS (KI) Cara Pemberian

Difteria Hidung 20.000 IM


Difteria Tonsil 40.000 IM/ IV

Difteria Faring 40.000 IM/ IV

Difteria Laring 40.000 IM/ IV

Kombinasi Lokasi Diatas 80.000 IV

Difteria + Penyulit + 80.000-120.000 IV


Bullneck
Terlambat Berobat (>72 80.000-120.000 IV
jam), Lokasi Dimana Saja

Sumber Krugman, 2004 dengan modifikasi


19
b. Antibiotik
 Penisilin prokain 50.000-100.000 IU/kgBB/hari: (10
hari).
 Eritromisin 40 mg/kgBB/hari.
 Trakeostomi kloramfenikol 75 mg/kgBB/4/hari.

c. Kortikosteroid
 Prednison 2 mg/kgBB/hari (3 minggu yang kemudian
dihentikan secara bertahap).

20
3.Pengobatan Kontak

 Isolasi
: biakkan hidung & tenggorok ,follow
up gejala klinis masa tunas lewat.

 Pemeriksaan serologi & observasi harian.

 Pernah imunisasi dasar  booster toksoid


difteria.

21
Biakkan Uji Schick Tindakan

Negatif Negatif Bebas isolasi: anak yang telah mendapat imunisasi dasar
diberikan booster toksoid difteria

Positif Negatif Pengobatan karier: penisilin 100 mg/kgBB/hari (oral/iv) atau


eritromisin 40 mg/kgBB/hari selama 1 minggu

Positif Positif Penisilin 100 mg/kgBB/hari (oral/iv) atau eritromisin 40


mg/kgBB/hari + ADS 20.000 KI

Negatif Positif Toksoid difteria (imunisasi aktif), sesuai dengan status


imunisasi
22
4.Pengobatan Penyulit

 Umumnya reversibel.
 Untuk menjaga hemodinamika tetap baik.
 Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan
pernapasan yang progresif  indikasi trakeostomi

5.Pengobatan Karier

 Penisilin100 mg/kgbb/hari (oral/ injeksi intravena).


 Eritromisin 40 mg/kgbb/hari selama 1 minggu.
 Tonsilektomi atau adenoidektomi.

23
KOMPLIKASI
1. Saluran Pernapasan
 Obstruksi jalan napas.
 Bronkopneumonia.
 Atelektasis

2. Cardiovascular
 Miokarditis

3. Urogenital
 Nefritis
4. Susunan Saraf
 10% sistem saraf  sistem saraf motorik

Paralisis/ Paresis dapat berupa :


a) Paralisis/ paresis palatum molle : rinolalia, kesukaran
menelan. Sifatnya reversible, pada minggu 1 dan 2.
b) Paralisis/ paresis otot mata :strabismus, gangguan
akomodasi, dilatasi pupil atau ptosis , setelah minggu
3.
c) Paralisis umum,setelah minggu 4 : otot muka, leher,
anggota gerak, otot pernapasan (bahaya)

25
PENCEGAHAN

1. Pencegahan umum dengan menjaga kebersihan.


2. Pengetahuan : bahaya difteria bagi anak.
3. Isolasi penderita.
4. Imunisasi DPT.
5. Pencarian dan kemudian mengobati karier difteria.

26
PROGNOSIS
Nelson  kematian 3 - 5% dan sangat bergantung
kepada :

1. Umur, makin muda  makin buruk


2. Perjalanan penyakit, makin lanjut buruk
3. Letak lesi difteria
4. Keadaan umum penderita , gizi kurang kurang baik
5. Pengobatan, makin lambat pemberian antitoksin 
buruk

27
KESIMPULAN

Corynebacterium difteri bisa menimbulkan infeksi pada laring,


faring, dan hidung. Infeksi ini menyebabkan gejala - gejala lokal
dan sistemik, efek sistemik terutama karena eksotoksin yang
dikeluarkan oleh mikroorganisme pada tempat infeksi. Difteri
dapat melalui kontak dengan karier atau seseorang yang sedang
menderita difteri. Bakteri dapat disebarkan melalui tetesan air
liur akibat batuk, bersin atau berbicara.

28
Menurut berat ringannya infeksi difteri dibagi tiga yaitu : ringan bila
pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan
gejala hanya nyeri menelan, sedang bila pseudomembran telah
menyerang sampai faring dan menimbulkan bengkak pada laring,
dan berat bila terjadi obstruksi nafas berat yang disertai gejala
komplikasi seperti miokarditis, neuritis dan nefritis. Terapi infeksi
difteri terbagi menjadi pengobatan umum, khusus yang dijelaskan
dengan cara pemberian ADS, antibiotika dan kortikosteroid serta
pengobatan penyulit.

29
30