Anda di halaman 1dari 20

VI.

IGNITION CONTROL
SYSTEM
 Ignition control system berfungsi untuk mengontrol
waktu pengapian secara elektronik, kapan arus
listrik harus dialirkan ke primary coil untuk ignition
timing.
 ECM menentukan kondisi mesin dengan
menggunakan sinyal dari sensor dan kapan
mengirimkannya ke igniter. Untuk menentukan
kondisi mesin agar sesuai dengan ignition timing.
 Sistem ini mengontrol ke 3 sistem yang berbeda,
antara lain :
1. Mengontrol ignition timing saat menstarter mesin.
2. Mengontrol ignition timing saat setelah
menstarter mesin.
3. Mengontrol waktu kapan arus listrik harus
dialirkan ke ignition coil
1. Mengontrol ignition timing saat
menstarter mesin (posisi ignition timing)
 Pada saat menstarter mesin IC system menentukan
posisi igition timing pada posisi 5o BTDC.
 Posisi ignition timing pada 5o BTDC tersebut terjadi
pada waktu :
◦ Diagnosa switch terminal tidak dihubungkan ke
ground.
◦ Test switch terminal dihubungkan ke ground.
◦ Idle switch ON.
◦ Putaran mesin di bawah 2000 rpm.
2. Mengontrol ignition timing saat setelah
menstarter mesin.

 Setelah mesin hidup(sesudah distarter) ignition timing


akan menyesuaikan dengan kondisi mesin.

Initial Ba sic Va rious


Ignition ig nitio n
= + ig nitio n + co m pe nsating
tim ing tim ing a dva nce a dva nce

 Ketika idle switch ON, posisi ignition timing ditentukan


oleh basic ignition advance berdasarkan putaran mesin,
compensation advance temperatur mesin dan
compensation advance untuk menstabilkan putaran
idle.
 Ketika idle switch off, posisi ignition timing ditentukan
oleh basic ignition advance temperatur mesin.
◦ Compensation advance untuk temperatur mesin
penambahan signal berdasarkan sensor dari
temperatur mesin, compensation akan bertambah
besar jika temperatur mesin masih dingin.
◦ Compensation advance untuk menstabilkan
putaran idle compensation ini berfungsi untuk
mempertahankan putaran idle seperti yang
diprogram oleh ECM dengan terus menerus
mengoreksi waktu pengapian.
3. Mengontrol waktu aliran listrik
 System ini berfungsi untuk menstabilkan voltage
secondary yang dibangkitkan oleh ignition coil.
A. JENIS-JENIS IGNITION CONTROL SYSTEM

 FTI (Full Transistor Ignition)


 ESA (Electronic Spark Advance)
 DLI (Distributor Less Ignition)
B. KOMPONEN UTAMA SISTEM PENGAPIAN

1. CKP
2. CMP
3. Knock Sensor
4. Ignition Timing Adjusting Resistor
5. ECM
6. Ignition Coil
7. Busi
1. Camshaft Position Sensor
Tipe Hall Element
 Berfungsi untuk mengidentifikasi posisi
piston setiap silinder, melalui posisi
camshaft.
 Bersama dengan CKP sensor, ECM
dapat mengetahui silinder mana yang
sedang melakukan langkah kompresi.
 CMP ditempatkan dibagian belakang
cylinder head dan diputar langsung oleh
camshaft, di dalamnya terdapat signal
rotor dan hall element.
 Melalui kedua komponen ini dihasilkan
output berupa signal digital seperti pada
grafik, yang dikirimkan ke ECM dan
diartikan posisi piston berada pada 5o
BTDC
Tipe Photo Transistor
 Cara kerja photo transistor adalah dengan
mengubah signal cahaya menjadi signal
listrik. Photo transistor menerima cahaya
dari bagian bawah transistor dan
mengubahnya menjadi signal-signal listrik
sesuai dengan banyaknya cahaya yang
diterima.
 Cahaya keluar dari Light Emiting Dioda
(LED) dan diputus oleh perputaran slit
plate yang berada diantara transistor dan
LED. Photo transistor menjadi ON saat
menerima cahaya dan menjadi OFF saat
tidak menerima cahaya (cahaya terputus
oleh slit plate). Dengan demikian voltage
pulse dihasilkan oleh output terminal dan
jumlah pulse tergantung dari banyaknya
putaran.
 Signal digital CMP oleh ECM digunakan
untuk memproses kerja sistem EPI
bersama dengan signal lainnya.
2. Crankshaft Position Sensor
 CKP terdiri dari signal rotor,
magnit dan coil, signal rotor
diputarkan langsung oleh
crankshaft.
 CKP menghasilkan output
berupa signal seperti pada grafik.
 Signal ini bersama-sama dengan
signal dari CMP sensor, oleh
ECM digunakan untuk :
a. Mengkalkulasi putaran
mesin
b. Mengidentifikasikan posisi
silinder
c. Menghindari terjadinya
misfire (knocking)
3. Knock Sensor
 Knock sensor ditempatkan
di block silinder, berfungsi
untuk mencegah supaya
tidak terjadi knocking
(detonasi).
 Knock sensor terdiri dari
piezo electric, reed plate
dan weight yang dapat
mendeteksi vibrasi knocking
engine dan dirubah dalam
bentuk signal tegangan
kemudian diberikan ke ECM
untuk mengontrol ignition
system.
4. Ignition Timing Adjusting Resistor

 Apabila kita mendapati kondisi ignition timing tidak sesuai


dengan spesifikasinya, maka ada beberapa cara untuk
mengembalikan kondisi sesuai dengan spesifikasinya.
1. Dengan mengecek semua sensor-sensor yang
berhubungan dengan ignition timing (CKP, CMP, Rotor
signal, Knock sensor) dan wiring harnessnya untuk tipe
fixed CKP/CMP dan tidak dilengkapi dengan ignition
timing adjusting resistor.
2. Dengan merubah ignition timing dengan cara memutar
distributor sampai didapati ignition timing yang sesuai
spesifikasi untuk tipe non fixed CKP/CMP dan tidak
dilengkapi dengan ignition timing adjusting resistor.
3. Dengan mengganti ignition timing adjusting resistor
dengan nomor yang sesui hingga kita dapati ignition
timing sesuai spesifikasi untuk tipe yang dilengkapi
dengan ignition timing adjusting resistor.
Ignition Timing Adjusting Resistor

 Jika ignition timing diluar spesifikasi


periksa tahanan ignition timing
adjusting resistor
◦ No. 1 : -5o
◦ No. 2 : -4o
◦ No. 3 : -3o
◦ No. 4 : -2o
◦ No. 5 : -1o
◦ No. N : 0o
◦ No. 6 : 1o
◦ No. 7 : 2o
◦ No. 8 : 3o
◦ No. 9 : 4o
◦ No. 10 : 5o
◦ No. 11 : 6o
 Jika dilakukan penggantian resistor,
pastikan juga untuk mengganti label
pada timing belt cover dengan simbol
resistor yang baru.
Wiring Ignition SUZUKI APV
Engine Control Module (ECM)
 Berfungsi mendeteksi kondisi mesin sesuai dengan
signal dari beberapa sensor, untuk menentukan
ignition timing dan aliran listrik ke primary coil melalui
igniter.
Ignition Coil
 Ignition coil termasuk juga di dalamnya igniter, berfungsi
untuk membangkitkan tegangan tinggi sehingga dapat
memercikkan bunga api di busi.
 Pada saat primary coil memperoleh ground, primary coil
menjadi magnit dan sebaliknya jika ground diputus maka
kemagnitan ignition coil tersebut hilang sehingga secondary
coil terinduksi tegangan tinggi dan terpercik di busi,
pemutusan/penghubungan listrik primary coil dilakukan oleh
igniter yang terpasang di dalam coil itu sendiri, dan
bekerjanya dikontrol oleh ECM berdasarkan informasi dari
berbagai sensor.
Busi
 Untuk menghindari terjadinya Storing, maka
sebaiknya menggunakan busi sesuai dengan
spesifikasi yang dianjurkan. Untuk kendaraan yang
masih menggunakan sebuah coil, maka busi tidak
perlu yang menggunakan resistor. Sedangkan untuk
kendaraan yang menggunakan lebih dari satu buah
coil, maka kita harus menggunakan busi yang
menggunakan resistor.