Anda di halaman 1dari 15

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

POLTEKKES DEPKES BANDUNG


2009/2010
 Faktor I (Fibrinogen): suatu glikoprotein 340
kilodalton (kd) dan terdiri dari tiga pasang
rantai polipeptida. Zat ini, yang disintesis di
hati, memiliki waktu paruh sekitar 3,5 sampai 4
hari. Kadar fibrinogen meningkat pada stress
hemostatik dan juga stres non spesifik seperti
peradangan, kehamilan, dan penyakit otoimun.
Konsentrasi normal dalam plasma: 150- 400
mg/dL.
 Fibrinogen bersifat unik untuk plasma. Setelah
terjadi pembekuan, serum seharusnya tidak lagi
mengandung sisa fibrinogen. Untuk mengukur
fibrinogen plasma, perlu dibuat satu dari beberapa
asumsi.
 Prosedur klasik bergantung pada asumsi bahwa
penambahan trombin dalam jumlah standar akan
mengubah semua fibrinogen yang ada menjadi
fibrin. Yang sebenarnya diukur adalah jumlah
protein pada bekuan yang terbentuk atau waktu
yang diperlukan untuk menghasilkan suatu
bekuan. Jumlah fibrinogen diekstrapolasi dari nilai
ini.
 Pada teknik imunologik, asumsinya adalah
bahwa konstituen plasma yang bereaksi
dengan antibodi antifibrinogen adalah benar
fibrinogen. Kadar plasma ditentukan dengan
membandingkan reaktivitas plasma terhadap
kurva yang berasal dari konsentrasi fibrinogen
yang sudah diketahui.
 Uji presipitasi panas dilakukan berdasarkan
asumsi bahwa semua bahan yang responsif
terhadap teknik presipitasi adalah memang
fibrinogen.
 Teknik imunologik yang antibodi
antifibrinogennya diadsorpsikan ke partikel
indikator inert menggunakan aglutinasi atau
imunopresipitasi yang dapat dilihat sebagai
titik akhir, dan kuantifikasi bergantung pada
hasil yang diperoleh dengan pengenceran
sampel berturut-turut. Kehandalan tergantung
dari kemurnian antibodi dan keakuratan
standardisasi yang dilakukan oleh pembuat
kit/ vendor. Uji ini cepat, mudah tetapi
pemakai bergantung sepenuhnya pada kualitas
kit.
 Deplesi fibrinogen dapat terjadi pada situasi-
situasi yang disertai dengan terjadinya
penurunan sintesis yang mungkin dijumpai
pada penyakit hati, namun hal ini jarang
terjadi. Penyebab utama lain deplesi antara lain
konsumsi fibrinogen, yang dapat terjadi pada
koagulasi intravaskular atau pada pengaktifan
fibrinolisis.
 Metode : Clauss
 Tujuan: Untuk menentukan kadar fibrinogen
dalam darah (Plasma)
 Prinsip: Fibrinogen dengan adanya trombin
akan diubah menjadi fibrin.
 Nilai normal: 123 – 370 mg/ dL.
 Bahan : Darah vena
 Antikoagulan natrium Sitrat 3,8%
 Aquades
 Kit Fibrinogen: 3 vial Reference plasma
5 vial thrombin
 3 vial QFA Buffer
 Alat: Tabung reaksi, rak tabung reaksi
 Dissposibble syringe, sentrifuse
 Water Bath 37oC
 Mikropipet 200 uL, tip biru
 Mikropipet 100 uL, tip kuning
 Ose, tabung reaksi.
 Cara Kerja:
 1. Pembuatan Grafik/ Kurva Standar
 1. Tiap vial refference plasma dilarutkan
dengan I mL aquades
 2. Masing-masing diencerkan 1 : 5 dengan
buffer (0,1 mL + 0,4 mL)
 3. Ambil 200 uL sampel, dimasukkan pada
tabung yang sudah dikondisikan 37oC pada
Water bath.
 4. Biarkan 5 menit pada 37oC dalam Water
bath.
 5. Tambahkan 100 uL trombin yang sudah
dilarutkan dengan 1 mL akuades.
 6. Pada saat penambahan trombin, tekan stop
watch.
 Periksa/ dicek dengan ose sampai terbentuk
benang-benang fibrin.
 Dicatat waktunya, buat grafik pada kertas
grafik yang tersedia.
 Pemeriksaan sampel
 1. Darah diambil sebanyak 0,9 mL ditambah 0,1
mL Na. sitrat 3,8%, kemudian diputar dengan
kecepatan 2000 rpm selama 10 menit.
 2. Plasma dipisahkan dan diencerkan 1 : 10
dengan buffer (0,1 mL plasma + 0,9 mL buffer).
 3. Ambil 200 mL plasma encer, dimasukkan ke
dalam tabung yang sudah dikondisikan 37oC.
 4. Biarkan selama 5 menit pada 37oC dalam
water bath.
 5. Tambahkan 100 uL trombin.
 6. Pada saat penambahan trombin, tekan stop
watch.
 7. Periksa dengan ose sampai terbentuk
benang-benang fibrin.
 8. Catat waktunya.
 9. Baca hasilnya pada grafik yang sudah
dibuat.
 Daftar Pustaka: Penuntun Praktikum
Hematologi