Anda di halaman 1dari 16

“FAKTOR RESIKO DAN

PENCEGAHAN PENYAKIT
TIDAK MENULAR”
Dosen Pengampu :
Dr. dr. Fauziah Elytha, M.Sc.

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
2017
KELOMPOK 2:
• Walina (1511211011)
• Dwike Mesyitha (1511211015)
• Siska Clarita (1511211024)
• Indah Sari Pangestika (1511211026)
• Hudrul Hanifah (1511211041)
• Linda Khamelia N (1511211045)
• Dini Izzati (1511211048)
Faktor Resiko PTM
Faktor Resiko PTM
Faktor risiko PTM adalah suatu kondisi yang
secara potensial berbahaya dan dapat memicu
terjadinya PTM pada seseorang atau kelompok
tertentu.
Karakteristik atau kumpulan gejala pada penyakit yang
diderita induvidu dan ditemukan juga pada individu-
induvidu yang lain, bisa dirubah dan yang tidak dapat
bisa dirubah :
• Factor resiko yang tidak dapat dirubah misalnya
umur dan genetic
• Factor resiko yang dapat di rubah misalnya kebiasaan
merokok atau latihan olah raga.
Karakteristik, tanda atau kumpulan gejala pada
penyakit secara tidak stabil pada individu :
• Factor resiko yang dicurigai
• Factor resiko yang telah ditegakkan atau
factor resiko yang telah mantap mendapat
dukungan ilmiah/penelitian.
Kegunaannya daripada factor resiko ini, pada
dasarnya untuk mengetahui proses terjadinya
penyakit dalam hal ini penyakit tidak menular.
Misalnya :
• Untuk memprediksi, meramalkan kejadian
penyakit.
• Untuk memperjelas penyebab atau beratnya
factor resiko.
• Untuk mendiagnosa.
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah
faktor yang dapat diubah melalui keadaran
individu itu sendiri dan intervensi sosial. Faktor
dimodifikasi :
• Merokok
• Konsumsi alkohol
• Pola makan yang buruk
• Kurangnya aktivitas fisik
Pencegahan Penyakit Tidak Menular
1. Pencegahan Premordial (Pencegahan Tingkat Awal)
contoh pencegahan premordial ini:
• Menghindari obesitas
Menghindari rokok
Perilaku hidup bersih dan sehat
Mengindari bahan pengawet, pewarna
Makan bergizi seimbang
Istirahat cukup
Olah raga teratur
2. PencegahanTingkat Pertama, yang meliputi:
Promosi kesehatan masyarakat, misalnya:
Kampanye kesadaran masyarakat
Promosi kesehatan
Pendidikan kesehatan masyarakat
Pencegahan khusus, misalnya:
Pencegahan keterpaparan
Pemberian kemopreventif

3. Pencegahan Tingkat Kedua, yang meliputi:


Diagnosis dini, misalnya dengan melakukan screening.
Pengobatan, misalnya kemoterapi atau tindakan bedah.
4. Pencegahan Tingkat Ketiga
Meliputi rehabilitasi, misalnya perawatan rumah jompo. Selain
itu, pencegahan penyakit tidak menular dapat dilakukan dengan
cara menghilangkan atau mengurangi faktor resiko PTM.
Departemen kesehatan, melalui Pusat promosi kesehatan
memfokuskan pada :
• Meningkatkan upaya kesehatan melalui promotif dan preventif
baik Pusat maupun Propinsi dan Kabupaten.
• Melakukan intervensi secara terpadu pada 3 faktor resiko yang
utama yaitu : rokok, aktifitas fisik dan diet seimbang.
• Melakukan jejaring pencegahan dan penanggulangan PTM.
• Mencoba mempersiapkan strategi penanganan secara nasional
dan daerah terhadap diet(makanan seimbang), aktivitas fisik,
dan rokok.
Komponen program pengendalian dan pencegahan
penyakit tidak menular :
• Pencegahan dan pengendalian penyakit
kardiovaskuler.
• Pencegahan dan pengendalian kanker.
• Pencegahan dan pengendalian penyakit
pernapasan kronis.
• Kontrol diabetes mellitus
Kebijakan Nasional Penanggulangan
PTM
Promosi dan Pencegahan PTM tentunya mengacu pada landasan
hukum yang sudah ada secara Nasional yaitu :
• Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah.
• Undang-Undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem
Keolahragaan Nasional.
• Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional.
• Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan.
• Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai
Daerah Otonom.
Deteksi dini faktor risko penyakit tidak menular:
• Seluruh (100%) dinas kesehatan provinsi
melaksanakan kegiatan deteksi dini faktor risiko
penyakit tidak menular.
• Sebanyak 30% dinas kesehatan kabupaten/kota (di
masing-masing wilayah kerja provinsi pada butir a di
atas) melaksanakan kegiatan deteksi dini faktor risiko
penyakit tidak menular.
• Sebanyak 30% puskemas di kabupaten/kota tertentu
(di masing-masing wilayah kerja dinas kesehatan
kabupaten/kota pada butir b di atas) melaksanakan
kegiatan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak
menular.
Penanggulangan faktor risiko penyakit tidak menular :
• Seluruh (100%) dinas kesehatan provinsi
melaksanakan kegiatan Komunikasi, Informasi dan
Edukasi (KIE) faktor risiko penyakit tidak menular.
• Sebanyak 30% dinas kesehatan kabupaten/kota (di
masing-masing wilayah kerja provinsi pada butir a di
atas) melaksanakan kegiatan KIE faktor risiko
penyakit tidak menular.
• Sebanyak 30% puskemas di kabupaten/kota tertentu
(di masing-masing wilayah kerja dinas kesehatan
kabupaten/ kota pada butir b di atas) melaksanakan
kegiatan KIE faktor risiko penyakit tidak menular.
TERIMA KASIH