Anda di halaman 1dari 13

ANEMIA ZAT BESI

PADA REMA JA
O L E H : V I O N I T R I A N DA P U T R I
A. PENGERTIAN ANEMIA

APA ITU ANEMIA ZAT BESI ?


Secara definisi, anemia defisiensi besi adalah anemia yang
disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga kebutuhan
besi untuk eritropoesis tidak cukup yang ditandai dengan gambaran
sel darah merah yang hipokrom mikrositik, kadar besi serum dan
saturasi (jenuh) transferin menurun, mampu ikat besi total (TIBC)
meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang dan tempat lain
sangat kurang atau tidak ada sama sekali (Gultom, 2003).
Di Negara berkembang termasuk di Indonesia penyebab anemia paling banyak
(63%) adalah kekurangan atau defisiensi besi, yang merupakan akibat dari:

• Pola makan rendah zat besi.


• Mengandung cukup banyak zat besi tetapi yg diserap sangat sedikit
• Malaria di daerah endemis, yang menyebabkan destruksi sel darah merah
• Cacingan, yang menyebabkan kehilangan darah jangka lama
• Faktor keturunan / penyakit-penyakit tertentu

Kelompok paling rentan adalah anak-anak dan perempuan


FAKTOR PENYEBAB ANEMIA
• Kehilangan darah yang bersifat kronis dan patologis,
• Kebutuhan yang meningkat pada prematuritas, pada masa pertumbuhan [remaja],
kehamilan, wanita menyusui, wanita menstruasi. Pertumbuhan yang sangat cepat
disertai dengan penambahan volume darah yang banyak, tentu akan meningkatkan
kebutuhan besi,
• Diet yang buruk/ diet rendah besi Merupakan faktor yang banyak terjadi di negara
yang sedang berkembang dimana faktor ekonomi yang kurang dan latar be lakang
pendidikan yang rendah sehingga pengetahuan mereka sangat terbatas mengenai diet/
asupan yang banyak mengandung zat besi,
• Mengkonsumsi makanan nabati yang kandungan zat besinya sedikit, dibandingkan
dengan makanan hewani, sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi,
• Remaja putri biasanya ingin tampil langsing, sehingga membatasi asupan makanan, dan
• Setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang diekskresi, khusunya melalui feses
(tinja)
Kadar Hb Batas normal Anemia Anemia Anemia

Anemia ringan sedang berat

Balita 11 g/dL 10.0-10.9 7.0-9.9 < 7.0

Anak 5-11 th 11.5 g/dL 11.0-11.4 8.0-10.9 < 8.0

Anak 12-14 th 12 g/dL 11.0-11.9 8.0-10.9 < 8.0

Perempuan >= 15 12 g/dL 11.0-11.9 8.0-10.9 < 8.0

th

Ibu Hamil 11 g/d L 10.0-10.9 7.0-9.9 < 7.0

Laki-laki >=15 th 13 g/dL 11.0-12.9 8.0-10.9 < 8.0


GEJALA ANEMIA
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KADAR HB
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kadar Hb turun pada
remaja yaitu :
• Kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan menstruasi
• Kurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi
• Penyakit yang kronis, misalnya TBC, Hepatitis, dsb.
• Pola hidup remaja putri berubah dari yang semula serba teratur
menjadi kurang teratur, misalnya sering terlambat makan atau
kurang tidur.
• Ketidakseimbangan antara asupan gizi dan aktifitas yang dilakukan
(Wijanarka, 2007)
CARA MENGATASI ANEMIA
Mencegah penyakit sejak dini dapat menurunkan risiko
komplikasi di masa akan datang. Begitu pun dengan anemia, bila
dicegah sejak dini akan mudah disembuhkan. Berikut ini sejumlah
pencegahan penyakit anemia.
• Perbanyak makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, vitamin
C, dan asam folat. Zat tersebut banyak terdapat pada daging, kacang,
sayuran berwarna hijau, jeruk, pisang, sereal, susu, melon dan buah
beri.
• Hindari minum kopi, teh, atau susu sehabis makan karena dapat
mengganggu proses penyerapan zat besi dalam tubuh.
• Transfusi darah. Tambahan darah sesuai kebutuhan akan cepat
mengembalikan jumlah sel darah merah dalam kondisi normal.
Namun, setelah normal, pasien hendaknya menjaga agar terus stabil.
• Konsumsi suplemen. Pilih suplemen yang mengandung zat besi dan
vitamin lengkap lainnya sebagai penunjang pembentukan sel darah
merah. Namun jangan bergantung pada suplemen. Kandungan zat
dalam suplemen biasanya lebih besar dari yang dibutuhkan tubuh
sehingga menyebabkan kerja ginjal bertambah berat. Maka jika gejala
anemia sudah hilang, lakukan pola hidup yang baik agar kesehatan
tetap terjaga dan anemia tidak kambuh lagi.
KESIMPULAN
Proses belajar mengajar di kampus pada dasarnya berlangsung demi
meningkatkan makna kehidupan manusia. Bukti penelitian menyokong
bahwa zat besi memegang peranan penting dalam perkembangan
sistem saraf pusat. Bila terjadi defesiensi zat besi selama proses
perkembangan susunan saraf terutama akan mengakibatkan gangguan
kognitif yaitu kontrol motorik, memori, dan perhatian, rendahnya
prestasi sekolah, meningkatnya problem tingkah laku dan disiplin, dan
menurunnya produktifitas.
SEKIAN
TERIMA KASIH