Anda di halaman 1dari 30

Destia nahlah I 1102013

Eli susanti 1102013095


Freza farizan 1102013114
PENGERTIAN DAN HAKIKAT HIV / AIDS

• AIDS yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak


system kekebalan tubuh manusia. Virus tersebut dinamakan HIV (
human immunodefiency virus). Bila kekebalan tubuh dirusak oleh
virus AIDS, maka serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya
akan menyebabkan sakit dan meninggal.seorang yang terinfeksi
virus HIV untuk jangka waktu tertentu ( 5-10 tahun ) masih tampak
sehat, setelah itu penyakit tersebut menggerogotinya hingga
membuatnya meninggal. Pasien AIDS yang meninggal biasanya
disebkan oleh penyakit lain yang sebenarnya bias ditolak
seandainya daya tahan tubuhnya tidak disurak oleh virus AIDS.
Dalam pandangan islam, hakikat penimpaan HIV / AIDS
yang banyak diderita orang, dapat merupakan musibah atau
merupakaan cobaan atau ujian :
1. sebagai siksaan, azab dan kutukan allah atas manusia jika
penyakit tersebut menimpanya akibat dari perbuatan dosa yang
dikerjakannya.
2. sebagai cobaan atau ujian allah terhadap keimanan jika
menimpa orang yang baik.
AIDS dianggap sebagai kutukan dan azab allah jika diderita oleh pelaku kemaksiatan,
melampau batas, perzinahan, homoseksual, atau melanggar ketentuan allah, tercaku dalam
firman allah :

ََ‫َ ٱلَّذِى ََ ِمُُو۟ لَ ََُّْ ُه ْ يَ ْر ِِجُْو‬ ِ َّ‫ت أ َ ْيدِى ٱلن‬


َ ْْ َ‫اس ِليُذِيقَ ُه ب‬ َ ‫سا ُد فِى ْٱلبَ ِر َو ْٱلبَ ْح ِر بِ َما َك‬
ْ َ‫سب‬ َ َ‫ظ َه َر ْٱلف‬
َ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi,
supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar) r mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS: Ar-
Ruum Ayat: 41)
Dan dinyatakan dalam hadis nabi, jika perzinahan yang merupakan sebab utama
berjangkitnya HIV/AIDS, telah merajalela dimasyarakat maka allah akan menurunkan
azabnya.
ً ‫س ِب‬
‫يل‬ َ ‫سا ٰٓ َء‬ َ ‫ٱلزن َٰ َٰٓى ۖ ِإنَّهُۥ َكاََ َٰفَ ِح‬
َ ‫شةً َو‬ ِ ۟‫َو ََل ت َ ْق َربُو‬
• Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.
(QS: Al-Israa' Ayat: 32)
Pengertian zina menurut islam, seperti yang
disebarkan oleh ulama fiqih, sekurangnya ada 3
pendapat :
1. menurut ulama syafi’iyah, zina adalah perbuatan
lelaki memasukan penisnya ke dalam liang vagina
wanita lain (bukan istrinya atau budaknya) tanpa
syubhat
2. Menurut ulama Malikiyah, zina adalah perbuatan
lelaki menyenggami wanita lain pada vagina atau
duburnya tanpa syubhat.
3. Menurut ulama Hanafiyah, ialah persenggaman
antara lelaki dan wanita lain di vaginanya, bukan
budaknya dan tanpa syubhat.
islam juga mengutuk dan meelarang tindakan homoseksual yang salah
satu menjadi penyebab HIV/AIDS. Pelaku homoseksual merupakan orang bodoh,
di tegaskan dalam ayat al-quran :
• ََ‫سا ٰٓ ِء ۚ بَ ْل أَنت ُ ْ قَ ْو ٌ تَ ِْج َهُُو‬ ِ ‫ش ْه َوة ً ِمَ د‬
َ ِ‫ُوَ ٱلن‬ ِ ََ‫أَئِنَّ ُك ْ لَتَأْتُو‬
َ ‫ٱلر َِجا َل‬
• "Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan
(mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui
(akibat perbuatanmu)".
(QS: An-Naml Ayat: 55)
Al-qur’an menguraikan beberapa hukum dan larangan yang khusus berkaitan
dengan zina :
1. Larangan melakukannya
2. Larangan mendekatinya
3. Larangan menikahi wanita pezina kecuali bagi lelaki pezina atau musyrik
4. Diberlakukan hokum li’an
5. Mendapatkan murka allah
6. Mendapatkan laknat allah
7. Melakukan dosa besar
8. Dilipatgandakan azabnya
9. Dicambuk 100 kali
10. Diasingkan selama satu tahun
11. Dianggap fakhisyah ( perbuatan menjijikan)
HIV/AIDS dianggap sebagai cobaan jika diderita oleh orang-orang yang beriman
dan shaleh. Mereka harus bersabar atas musibah tersebut.

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Qs: Al-Anbiya
21:35)
Sebab – sebab Timbulnya AIDS
orang pertama yang diketahui menderita AIDS ditemukan
pada tahun 1979 di New York, seorang laki-laki homoseksual (liwath),
kemudian diikuti oleh pasien lainnya, yang kebanyakan adalah kaum
homoseksual.
adapun cara penularannya yaitu :
1. Hubungan seksual ( homo atau heteroseksual) dengan orang yang
tubuhnya mengidap HIV/AIDS
2. Transfusi darah yang mengandung HIV
3. Alat suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik) bekas
dipakai orang
4. Pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus HIV
kepada janin yang dikandungnya.
Pencegahan HIV/AIDS
ajaran islam sangat menekankan agar menghindari hal-hal yang membahayakan,
apalagi penyakit berbahaya yang berpotensi untuk menular. Tercantum dalam hadis nabi :
Dari Ubadah ibn as-Shamit ra. bahwa Rasulullah saw. menetapkan: Tidak boleh
membahayakan diri sendiri dan orang lain. (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan Malik).
menurut para pakar, HIV/AIDS tidak ditukarkan karna berbagai kondisi seperti :
a. Hidup serumah dengan pasien HIV/AIDS (asal tidak melakukan hubungan seksul)
b. Bersenggolan dengan pasien
c. Berjabat tangan
d. Pasien AIDS bersin atau batuk dengan orang lain
Pencegahan untuk diri sindiri :

a. Hubungan seksual hanya antara suami-istri, dan menjauhi hubungan seksual


diluar nikah
b. Menghindari hubungan seksual secara homo, atau anoni menggunakan alat-alat
yang tidak seteril
c. Menghindari hubungan seksual bila sedang mengalam luka pada alat kelamin dan
menghindari pula alat-alat tertentu saat berhubungan seksual yang memungkinkan
timbulnya luka
d. Menghindari penyalahgunaan narkoba, lebih-lebih bila menggunakan suntikan
e. Menghindari pisau cukur, gunting kuku atau sikat gigi milik orang lain, karena
kemungkinan alat-alat itu telah digunakan oleh penderita HIV/AIDS
Pencegahan dari serangan penyakit HIV/AIDS terhadap anggota kluarga:
a) Setiap orang tua harus menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang
memungkinkan terkena virus HIV
b) Ibu yang sedang hamil agar memeriksa kesehatannya dengan kontinu
c) Memelihara kesehatan anak dengan sebaik-baiknya
d) Mendidik dan membimbing anaknya agar tidak berperilaku yang
memungkinkan untuk tertular HIV
e) Tidak mengucilkan seseorang yang terkena virus HIV
f) Menjaga diri sebaik-baiknya agar penyakit tersebut tidak menular kepada
orang lain
g) Bagi seorang wanita yang positif HIV, diusahakan untuk tidak hamil lagi
h) Diusahakan kepada suami-istri untuk menciptakan rumah tangga yang
sakinah, mawaddah wa rahmah
Pengobatan HIV
Meskipun hingga kini dokter belum menemukan obat untuk HIV yang bias menyembuhkan
secara total, tetepi berobat tetep dianjurkan sebaga bentuk ikhtiar. Agam islam memberikan tuntutan
dalam pengobatan, dan disarankan melakukan upaya batiniyah dengan cara mendekatkan diri kepada
allah sebagai sumber sejati kesembuhan, karena allah yang menurunkan penyakit dan yang
menyembuhkannya. Printah berobat dan berikhtiarterdapat dalam hadis nabi :

“dari abi al-darda, ia berkata. Rasulullah saw bersabda: bahwa allah yang menurunkan penyakit dan
obatnya, menjadikan setiap penyakit ada obatnya, berobatlah tapi jangan yang haram (HR. Abu
Dawud)

Sahabat bertanya: ya rasulullah saw, apakah kami mesti berobat? Nabi menjawab :berobatlah sebab,
allah tidak menurunkan penyakit kecuali juga dengan obatnya, diketahui oleh orang yang
mengetahuinya dan tidak diketahui olehorang yang tidak mengetahuinya (HR. Ahmad)
Menularkan HIV/AIDS

menularkan HIV/AIDS dengan sengaja menularkannya kepada orang yang


sehat hukumnya haram, termasuk perbuatan zalim yang dimurka allah.
Hadis rasulullah saw:
‫۟ر‬ ِ َ‫ض َر َر َوَل‬
َ ‫ض َر‬ َ َ‫َل‬
Tidak Boleh Melakukan Sesuatu Yang Membahayakan Diri Sendiri Ataupun Orang
Lain(Q.s. Ibnu Majah)

Majlis Majma’ al-Fiqh al-Islami telah menetapkan dengan sengaja


menularkan kepada orang lain hukumnya haram, tergolong tindakan
hirabah dan melakukan kerusakan di bumi yang dikecam Al-Quran
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-
Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau
dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri
(tempat kediamannya).Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka
didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar” (Qs: Al-Maidah 5:33)
Tuntutan Islam bagi ODHA
Islam menekankan agar memperhatikan dan memperlakukan dengan baik
orang-orang sakit, meliputi segala jenisnya, termasuk sakit terkena virus HIV/AIDS.
Namun perilakuan yang baik itu tidak sampai harus mengorbankan dirinya atau
orang lain yang tidak terkena HIV menjadi terkena HIV.
bagi pasien HIV ajaran islam memberikan tuntutan umum sebagaimana
dianjurkan pada mereka yang sedang menunggu saat kematian. Kepada orang yang
ada disekitarnya, baik kluarga, dokter, perawat dituntut untuk membimbing pasien,
agar tetap optimis, bersabar, bersyukur, bertawakal, berobat, beramal,
memperbanyak zikir dan istigfar, membimbing beribadah dan sebagainya
1. Membangkitkan rasa optimism kepada pasien
penjenguk, keluarga atau yang merawat pasien penyakit terminal,
termasuk ODHA yang sudah ada tanda-tanda kematiannya sudah dekat,
hendaknya berusaha membangkitkan rasa optimisnya untuk sembuh,
jangan sampai berputus asa dari rahmad allah.
Syukur sering disamakan dengan kata al-hamdu(pujian). Secara
aplikatif syukur berarti menggunakan semua yang dianugerahkan allah swt
sesuai dengan tujuan penciptaan anugrah itu. Jika sakit disikapi dengan
sabar dan syukur, dibalik sakit ada rahmat, sebagaimana disebut dalam
hadis nabi :
2. Bersabar dan Bersyukur
Kiat-kiat islam agar dapat selalu bersabar, dengan mengetahui hakikat
kehidupan dunia, kesulitan, kesusahan yang ada, sebab manusia memang
diciptakan berada dalam susah payah. Beriman bahwa dunia seluruhnya adalah
milik allah, dia memberi dan menahannya dari orang yang disukai-nya.
Mengetahui besarnya pahala atas kesabaran tersebut.
Syukur sering disamakan dengan kata al-hamdu(pujian). Secara aplikatif syukur berarti
menggunakan semua yang dianugerahkan allah swt sesuai dengan tujuan penciptaan anugrah itu.
Jika sakit disikapi dengan sabar dan syukur, dibalik sakit ada rahmat, sebagaimana disebut dalam
hadis nabi :
1. Sakit sebagai penebus dosa dan kesalahan
2. Sakit sebagai balasan keburukan dari apa yang telah dilakukan, sehingga dosanya dihapus dari
catatan amalnya.
3. Sakit akan mengangkat derajat dan menambah kebaikan.
4. Tetapnya amal ibadah orang yang sakit bagi orang yang istiqamah, diganjar penuh sungguhpun
selama sakit tak mampu melakukannya.
5. Penyakit merupakan sebab untuk mencapai kedudukan yang tinggi
6. Sakit merupakan bukti bahwa allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya
7. Sakit merupakan penyebab masuk surga dan selamat dari neraka
3. Bertawakal
Ada 4 hal yang mesti dilakukan oleh orang yang bertawakal:
1. Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberi manfaat kepadanya
2. Berusaha memelihara manfaat sesuatu yang dimilikinya.
3. Berusaha menolak dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menimbulkan
mudarat
4. Berusaha menghilangkan mudarat yang menimpa dirinya
Q.s.al-baqarah (2):156-157). Tidak boleh berputus asa dari rahmat allah,
apalagi ingin melakukan euthanasia, hukumnya haram. Dalam keadaan apapun,
tindakan euthanasia tidak dapat dibenarkan dalam syariat Islam
4. Segera bertobat dan beramal shalih
Realisasi bentuk tobat mesti dibuktikan dengan :
1. Mengingat kesalahan dan dosa masa lalu
2. Menyesal atas kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan
3. Berjanji dalam hati untuk tidak akan mengulangi lagi kesalahan
dan dosa yang pernah dilakukan
4. Minta maaf kepada orang yang pernah disalahinya dan mohon
ampun kepada allah.
5. Memperbanyak ibadah dan amal kebajikan
5. Berdoa dan Taqarrub Ilallah
Pasien disarankan agar banyak berdoa, memohon kepada allah untuk
memperoleh rahmat dan segala sesuatu yang diridlai-nya, tercapai harapan yang
diinginkannya, serta mendapatkan perlindungan dari segala bala bencana. Allah
menganjurkan agar berdoa, dalam Q.s>Ghafir (40):60, al-baqarah (2):186). Berdoa
bagi dirinya sendiri dan bagi kaum muslimin, agar ia dimasukkan dalam
kelompok mereka, sehingga Allah swt. Menyayangi dan mengampuninya
semuanya.
Selain berdoa, disarankan banyak Taqarrub Ilallah yaitu mendekatkan diri
kepada Allah, dengan cara memperbanyak ibadah-ibadah sunah, shalat, zikir
Allah, membaca istighfar, tasbih,tahmid,membaca al-quran dan sebagainya.
6. Memperbanyak zikir dan Istighfar

Zikir meliputi 3 cara yaitu :

1. Dengan lisan yaitu melafalkan kalimat-kalimat thayyibah seperti istighfar, tasbih, tahmid, takbir dan
tahlil

2. Dengan kalbu (hati, akal) yaitu dengan senantiasa memperbanyak tafakkur (berfikir), muraqabah
(merenung), dan muhasabah(introspeksi diri)

3. Dengan perbuatan dengan cara menyelaraskan ucapan dan tindakan pada hokum-hokum allah swt
dan melakukan amal yang baik

istiqhfar yang ditrima allah harus memenuhi syarat-syarat dan etikanya :

1.Niat yang benar dan iklas semata ditunjukan kepada Allah swt

2. Hati dan lidah secara serempak ber-istighfar

3. Berada dalam keadaan suci, sehingga ia berada dalam keadaan yang paling sempurna, lahir dan batin

4.ber-istighfar dalam kondisi takut dan menghadap

5. Memilih waktu yang utama, seperti saat menjelang subuh, atau sepertiga terakhir dari waktu malam.

6. ber-istighfar dalam shalat, pada saat bersujud, sebelum salam atau setelah salam
7. Tetap Husnuzh Zhan dan Berusaha menjadi Husnul Khatimah
Pasien disarankan untuk selalu berperasangka baik kepada allah swt,
dalam arti, pengharapannya kepada rahmat allah melebihi perasaan takutnya
kepada azab.
Diupayakan kepada pasien ODHA bila ajal akan tiba tetap dalam keadaan iman
dan islam, penghujung kehidupan yang baik (husnul khatimah)

َ ‫ٱَّلل َح َّق تُقَاتِ ِه َو ََل ت َ ُموت ُ ََّ ِإ ََّل َوأَنت ُ ُّم ْس ُِ ُم‬
َ‫و‬ َ ‫َٰ ٰٓيَأَيُّ َها ٱلَّ ِذ‬
ََّ ۟‫يَ َء۟ َمنُو۟ ٱتَّقُو‬
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.
(QS: Ali Imran Ayat: 102)
Tindakan ODHA Mengalami sakaratul maut
apabila pasien ODHA mengalami sakaratul maut, pintu gerbang ihtidar (detik-detik tanda
kematian), pihak keluarga mengajarkan atau menuntunnya mengucapkan kalimat tauhid atau
mentalkinnya dengan kalimat : laa ilaaha illallah(tiada tuhan selain allah). Kalimat ini lah yang
seharusnya diucapkan oleh semua orang muslim pada saat sakaratul maut. Sesuai dengan pesan nabi
saw agar akhir ucapan ketika seorang meninggal dunia adalah kalimat tersebut, baginya dijanjikan
masuk surga.
Ada dua pendapat para ulama tentang teknis menghadapkan pasien kearah kiblat:
1. Ditelantangkan kedua telapak kakinya ke arah kiblat, dan kepalanya sedikit diangkat
diatas bantal agar mukanya menghadap ke arah kiblat, seperti posisi orang yang
sedang dimandikan. Pendapat ini dipilih oleh beberapa imam dari mazhab syafi’I
dan mazhab imam ahmad
2. Miring kekanan dengan menghadapkannya ke kiblat, seperti posisi dalam liang
lahad.
Tes HIV / pra-Nikah
sebelum menihah satu pihak atau dua orang calon suami istri
diperbolehkan menuntut dilakukan tes, tes kesehatan , termasuk tes
kepastian HIV atau tidak, demi kemaslahatan mereka, tuntutan sejenis ini
termasuk persyaratan yang diperkenankan dalam syariat islam

Rasulullah saw bersabda : perdamaian diantara kaum muslimin itu boleh,


kecuali dalam perdamaian mengharamkan yang halal atau menghalalkan
yang haram, dan kaum muslimin itu tergantung pada persyaratan diantara
mereka, kecuali yang mengharamkan yang halal dan menyalahkan yang
haram (HR.al-Turmudzi)
Tes HIV/AIDS pra-nikah sebagai bentuk upaya menjaga jiwa
(hifzh al-Nafs) dan menjaga keturunan (hifzh al-Nasl), serta
menjauhkan diri dari mudarat
Perkawinan pasien ODHA
ulama berbeda pendapat tentang hukum perkawinan bagi pasien HIV
dengan orang yang tidak menderita HIV. Sebagian ulama menentukan hukum
berdasarkan jenis dan kadar penyakitnya. Jika HIV dianggap penyakit yang
tidak dapat disembuhkan maka hukumnya makruh.
wahbah al-zuhaili dalam bukunya, al-fiqh al-islamiy wa ad’illatuh
menyatakan , menurut mazhab syafi’I, “orang yang sakit seperti lanjut usia,
sakit kronis, penderita impotensi yang tidak bias sembuh, lelaki yang hilang
batang zakar atau buah zakarnya sehingga tidak mempunyai nafsu birahi
seksual lagi, hukumnya makruh menikah.”
apabila seorang laki-laki yang akan menikah bahwa pernikahannya
akan mengzalimi dan menimpakan kemudaratan atas perempuan yang akan
dinikahinya, maka hukumnya haram.
Menurut fatwa MUI, perkawinan antara dua orang laki-laki dan perempuan
yang sama-sama menderita HIV hukumnya boleh. Hukum menikah bagi ODHA
dengan sesame penhidap maupun bukan, menurut Lajnah Bahsul Masail NU
hukumnya sah, namun makruh.
merujuk pada fatwa, maka pasangan ODHA boleh melanjutkan
pernikahannya mereka dan boleh bercerai. Seperti halnya batasan para fukaha,
melihat dampak dan jenis penyakitnya, hiv dapat dijadikan alasan untuk menuntut
bercerai.
bagi pasangan suami istri ODHA tetap melanjutkan tali pernikahan mereka,
tercakup dalam hadis nabi yang menyatakan bahwa “orang-orang islam terikat
dengan perjanjian mereka, keculi perjanjian yang menghalalkan yang haram atau
mengharamkan yang halal”. Agar tidak terjadi penularan, jika pasangan suami istri
atau salah satunya menderita HIV dalam melakukan hubungan seksual harus
memakai alat atau obat yang dapat mencegah penularannya.
Berbagai hukum islam terkait dengan ODHA
apabila seorang ibu hamil menderita HIV maka ia tidak boleh menggurkan kandungannya.
Firman Allah SWT

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan” (Qs: Al-Isra’ 17:31)
khitan bagi anak yang termasuk ODHA tetap wajib dikhitan, sepanjang hal itu tidak
membahayakan dirinya dan proses khitannya dilakukan oleh medis yang terlatih untuk menghindari
penularannya.
Jika pasien HIV meninggal dunia, maka tetap diurus sebagaimana layaknya jenazah, jika muslim maka
harus dimandikan, dikafani, dishalati dan dikuburkan. Menurut lembaga Lajnah Bahsul Masal NU
jenazah pengidap HIV tetap dimandikan, kecuali ada petunjuk dari dokter/ahlinya maka cukup
ditayamum atau sedapat mungkin dengan cara menyemprotkan air.
Bersikap, Bergaul dan merawat ODHA
sebagai agama rahmat bagi penghuni dunia ini (rahmatan lil-alamiin), syariat
islam memberikan tuntutan-tuntutan dalam semua bidang hidup dan kehidupan, termasuk
kepada penderita HIV. Dalam agama islam terdapat tuntutan khusus agar menjenguk dan
merawat serta memperlakukan orang yang sakit dengan baik. Orang yang sakit apa pun
sebabnya dan jenisnya, harus diperlakukan secara manusiawi.
dalam hadis Qudsi disebutkan : “wahai hamba-ku, aku ini sakit tapi engkau
tidak mau menjenguk dan merawatku. Hamba menjawab, “bagaimana aku dapat
menjenguk dan merawat-mu sedangkan engkau adalah Rabbul’Alamin” allah
menjawab: seorang hamba ku sakit, apabila kamu menjenguknya dan merawatnya tentu
kamu akan menjumpaiku disana”.
kedudukan orang-orang yang sakit dalam hadis ini seolah-olah allah saw sendiri
yang sakit. Maksudnya manusia dituntut agar selalu memperhatikan orang-orang yang
sakit dan memberikan bantuan, sehingga mereka tidak terkucil dan dikucilkan di
masyarakat.
Kesimpulan
1. Menjangkitnya virus HIV dan AIDS dapat dianggap sebagai azab bila
ia menimpa pada orang yang berbuat maksiat tetapi dapat pula
dianggap sebagai ujian untuk meningkatkan kadar keimanan bagi
orang shaleh
2. Pasien ODHA harus tetap diperlakukan dengan baik
3. Bagi pasien ODHA yang sudah tidak ada pilihan lain selain bertobat
dan beribadah semaksimal mungkin karena ajal telah dekat
4. Penderita ODHA tetap dikhitan dan menikah namun tetap
diperhatikan Mudharatnya
5. Jenazah penderita HIV/AIDS harus diurus sebagaimana mestinya, bila
dalam kondisi tidak memungkinkan berlaku rukhsah