Anda di halaman 1dari 30

ASKEP KELUARGA DENGAN

ANAK USIA SEKOLAH

KELOMPOK 1
DESY ISTIAFONNA
MUHAMMAR
REYNALD MAULANA SAPUTRA
ROSYANI SUAILO
YUSMANIDAR
Apa itu Anak Usia Sekolah ???
• Usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun, yang
artinya sekolah menjadi pengalaman inti anak. Periode
ketika anak-anak dianggap mulai bertanggung jawab
atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orang
tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya

• Usia sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-


dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri
pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan
tertentu
Ciri – ciri Anak Usia Sekolah
1. Label yang digunakan 3. Label yang
oleh orang tua digunakan oleh ahli
• Usia yang psikologi
menyulitkan • Usia berkelompok
• Usia tidak rapi • Usia penyesuaian
• Usia bertengkar diri
• Usia kreatif
• Usia bermain

2. Label yang digunakan


oleh para pendidik
• Usia sekolah dasar
• Periode kritis dalam
berprestasi
Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah
Pertumbuhan Fisik Perkembangan
Kognitif
Perkembangan
Perkembangan Psikososial
Spriritual
Perkembangan
Bahasa
Perkembangan
Perkembangan Seksual
Konsep Diri
Perkembangan
Moral
Pertumbuhan
Emosional
Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah
• Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-
permainan yang umum
• Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang
sedang tumbuh
• Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
• Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
• Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca,
menulis dan berhitung
• Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk
kehidupan sehari-hari
• Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, tata dan tingkatan nilai
• Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan
lembaga-lembaga
• Mencapai kebebasan pribadi
Masalah Perkembangan Anak Usia Sekolah

2. Bahaya Psikologis
1. Bahaya Fisik • Bahaya dalam
• Penyakit berbicara
• Kegemukan • Bahaya emosi
• Kecelakaan • Bahaya bermain
• Kecanggungan • Bahaya dalam
konsep diri
• Kesederhanaan
• Bahaya moral
• Bahaya yang
menyangkut minat
• Bahaya hubungan
keluarga
Konsep dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
• Pengkajian yang berhubungan dengan keluarga (sesuai
dengan materi askep keluarga)
• Pengkajian yang berhubungan dengan anak usia sekolah
 Identitas anak
 Riwayat kehamilan dan persalinan
 Riwayat kesehatan bayi sampai saat ini
 Kebiasaan saat ini (pola perilaku dan kegiatan sehari-
hari)
 Pertumbuhan dan perkembangannya saat ini
(termasuk kemampuan yang telah dicapai)
 Pemeriksaan fisik
• Lengkapi dengan pengkajian fokus
 Bagaimana karakteristik teman bermain
 Bagaimana lingkungan bermain
 Berapa lama anak menghabiskan waktunya disekolah
 Bagaimana stimulasi terhadap tumbuh kembang anak
dan adakah sarana yang dimilikinya
 Bagaimana temperamen anak saat ini
 Bagaimana pola anak jika menginginkan sesuatu barang
 Bagaimana pola orang tua menghadapi permintaan
anak
Next
 Bagaimana prestasi yang dicapai anak saat ini
 Kegiatan apa yang diikuti anak selain di sekolah
 Sudahkah memperoleh imiunisasi ulangan selama disekolah
 Pernahkah mendapat kecelakaan selama disekolah atau
dirumah saat bermain
 Adakah penyakit yang muncul dan dialami anak selama masa
ini
 Adakah sumber bacaan lain selain buku sekolah dan apa
jenisnya
 Bagaimana pola anak memanfaatkan waktu luangnya
 Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul terdapat 2
sifat, yaitu :
• Berhubungan dengan anak
• Berhubungan dengan keluarga

Masalah yang dapat digunakan dalam merumuskan diagnosa


keperawatan pada keluarga dengan anak usia sekolah yaitu :
• Masalah aktual/resiko
• Potensial / sejakhtera
Intervensi
 Aktual
Perubahan hubungan keluarga yang berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anak yang sakit
 Tujuan :
Hubungan keluarga meningkat menjadi harmonis dengan
dukungan yang adekuat
 Intervensi :
• Diskusikan tentang tugas keluarga
• Kaji sumber dukungan keluarga yang ada disekitar keluarga
• Ajarkan cara merawat anak dirumah
• Rujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai kemampuan keluarga
 Risiko/risiko tinggi
Risiko tinggi hubungan keluarga tidak harmonis berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah yang terjadi
pada anaknya
 Tujuan :
Ketidakharmonisan keluarga menurun
 Intervensi :
• Diskusikan faktor penyebab ketidakharmonisan keluarga
• Diskusikan tentang tugas perkembangan anak yang harus
dijalani
• Diskusikan tentang alternatif mengurangi atau menyelesaikan
masalah
• Ajarkan cara mengurangi atau menyelesaikan masalah
• Beri pujian bila keluarga dapat mengenali penyebab atau
mampu membaut alternatif
 Potensial atau sejahtera
Meningkatnya hubungan yang harmonis antar anggota keluarga
 Tujuan :
Hubungan yang harmonis.dapat dipertahankan
 Intervensi :
• Anjurkan untuk mempertahankan pola komunikasi terbuka pada
keluarga
• Diskusikan cara-cara penyelesaian masalah dan beri pujian atas
kemampuannya
• Bantu keluarga mengenali kebutuhan anggota keluarga (anak usia
sekolah)
• Diskusikan cara memenuhi kebutuhan anggota keluarga tanpa
menimbulkan masalah
Evaluasi
Evaluasi didasarakan pada tujuan yang hendak
dicapai mengacu pada kriteria hasil yang telah
ditetapkan.
Contoh Kasus
Keluarga bapak D (37 tahun) mempunyai 2 orang anak sekolah. Anak
pertama laki-laki (anak F) berusia 11 tahun duduk di kelas 6 sekolah
negeri, sedangkan adiknya perempuan (anak S) berusia 8 tahun, duduk di
kelas 3 sekolah swasta. Kedua anak Bapak D, giginya sudah permanen
walaupun belum lengkap. Kedua anak Bapak D seringkali lupa gosok
gigi terutama saat menjelang tidur. Anak perempuan Bapak D (anak S)
sering mengeluh sakit gigi, istrinya (Ibu A 30 tahun) Bapak D hanya
menganjurkan kumur-kumur air garam jika rasa nyeri gigi itu datang.
Menurut kedua anak Bapak D rata-rata teman-temannya disekolah
mengeluh sering sakit gigi juga. Petugas UKS dari Puskesmas sesekali
datang untuk memeriksa kesehatan di sekolah. PT. Unilever juga pernah
datang untuk mengajarkan cara sikat gigi dan membagi produk berupa
pasta gigi pada siswa. Berat badan Anak kedua dari Bapak D adalah 18
kg, kurang nafsu makan, sering mengalami kurang tidur, sering terbangun
pada malam hari dan sulit berkonsentrasi pada saat belajar sehingga
prestasi belajar menurun.
Pengkajian
1. Data Umum
• Nama Kepala Keluarga (KK) : Bapak D
• Komposisi Keluarga

No. Nama Jenis Kelamin Hubungan dengan KK Umur


1. Bp. D Laki-laki Suami/Kepala Keluarga 37 th
2. Ibu A Perempuan Istri/Ibu rumah tangga 30 th
3. An. F Laki-laki Anak 11 th
4. An. S Perempuan Anak 8 th

• Tipe keluarga : Keluarga inti


• Suku : Betawi
• Agama : Islam
• Genogram
• Status social
Kurang mampu, kecukupan
penghasilan hanya untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari

• Aktivitas Rekreasi Sehari-hari


Keluarga Bp. D jarang pergi
belibur ke tempat wisata
bersama-sama

2. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


Tahap perkembangan keluarga saat ini :
keluarga Bp. D adalah keluarga dengan anak
usia sekolah
Lingkungan
Terdiri dari :
• Karakteristik rumah
• Karakteristik tetangga dan
komunitas RW Struktur Keluarga
• Mobilitas geografis
keluarga Terdiri dari :
• Perkumpulan keluarga dan • Pola komunikasi keluarga
interaksi dengan masyarakat
• Struktur kekuatan keluarga
• Sistem pendukung keluarga
• Struktur peran
• Nilai dan norma keluarga
Fungsi Keluarga
Terdiri dari :
• Fungsi afektif
• Fungsi sosialisasi
• Fungsi perawatan keluarga
Analisa Data
No. Data Subyektif Data Obyektif Etiologi Masalah
1 Ibu A mengatakan : Anak S mengalami gusi Ketidakmampuan Perubahan
 Keduanya anaknya seringkali lupa gosok gigi bengkak keluarga mengenali pemeliharaan
terutama saat menjelang tidur masalah kesehatan pada kesehatan
 Anak perempuannya sering mengeluh sakit gigi Anak S
 Dia hanya menganjurkan kumur-kumur
menggunakan air garam jika nyeri gigi timbul

2.  Ibu D mengatakan berat badan Anak S menurun,  BB 18 kg Anoreksia, Perubahan


mungkin karena sakit gigi sehingga malas makan  Mata cekung ketidakmampuan kebutuhan nutrisi:
 Anak S mengatakan sakit giginya akan terasa lebih keluarga dalam kurang dari
bila dia makan, makanya dia tidak ingin makan memenuhi asupan gizi kebutuhan
yang memadai

3. Anak S mengatakan sering sakit gigi, terutama saat Gigi Anak S terlihat Peradangan gigi Nyeri
makan bengkak
4.  Ibu A mengatakan bahwa Anak S sering terbangun  Mata Anak S tampak Sering terbangun pada Perubahan pola
pada malam hari cekung malam hari istirahat tidur
 Anak S mengatakan sering terbangun karena  Badan tampak lemah
merasa lapar, karena tidak mau makan akibat sakit
giginya
Diagnosa Keperawatan
• Perubahan pemeliharaan kesehatan keluarga Bp. D
b/d ketidakmampuan keluarga mengenali masalah
kesehatan pada Anak S
• Perubahan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan
pada Anak S b/d ketidakmampuan keluarga dalam
memenuhi asupan gizi yang memadai
• Nyeri b/d peradangan gigi
• Perubahan pola istirahat tidur pada Anak S b/d
sering terbangun pada malam hari sekunder terhadap
sakit gigi dan lapar
Intervensi
• Dx : Nyeri berhubungan dengan peradangan gigi
• Tujuan : Selama 1 kali kunjungan ke rumah, keluarga Bp. D dapat
merawat Anak S yang sedang sakit gigi
• Kriteria hasil :
 Keluarga mampu menyebutkan apa itu sakit gigi
 Keluarga mampu menyebutkan penyebab sakit gigi
 Keluarga mampu menyebutkan tanda-tanda sakit gigi
 Keluarga mampu menyebutkan cara mencegah terjadinya sakit gigi
 Keluarga mampu menyebutkan akibat tidak merawat gigi
 Ungkapan keinginan keluarga untuk merawat anggota keluarga
dengan sakit gigi
 Keluarga mampu menjelaskan cara perawatan sakit gigi
 Keluarga mampu mendemonstrasikan cara perawatan sakit gigi
 Keluarga mampu melakukan perawatan sakit gigi
• Keluarga mampu
menyebutkan apa itu sakit
• Keluarga mampu
gigi
menyebutkan penyebab sakit
Intervensi :
gigi
 Diskusikan bersama
Intervensi :
keluarga pengertian sakit
 Diskusikan dengan
gigi dengan lembar balik
keluarga tentang
 Tanyakan kembali pada
penyebab sakit gigi dengan
keluarga tentang
menggunakan lembar balik
pengertian sakit gigi
 Motivasi keluarga untuk
 Berikan reinforcement
menyebutkan kembali
positif atas jawaban yang
penyebab sakit gigi
tepat
 Beri reinforcement positif
atas usaha yang dilakukan
keluarga
• Keluarga mampu • Keluarga mampu
menyebutkan tanda-tanda menyebutkan cara mencegah
sakit gigi terjadinya sakit gigi
Intervensi : Intervensi :
 Diskusikan bersama  Dorong keluarga untuk
keluarga tentang tanda- menyebutkan cara
tanda sakit gigi mencegah terjadinya sakit
 Motivasi kembali keluarga gigi
untuk menyebutkan  Beri reinforcement positif
kembali tanda-tanda sakit atas usaha yang dilakukan
gigi keluarga
 Beri reinforcement positif
atas usaha yang dilakukan
keluarga
• Ungkapan keinginan keluarga
untuk merawat anggota keluarga
dengan sakit gigi
• Keluarga mampu
menyebutkan akibat tidak Intervensi :
merawat gigi  Tanyakan kepada keluarga
Intervensi : keinginan untuk merawat
anggota keluarga dengan sakit
 Diskusikan dengan gigi
keluarga akibat sakit gigi
 Fasilitasi keluarga dalam
 Tanyakan kembali pada membuat keputusan terkait
keluarga tentang akibat perawatan sakit gigi
dari sakit gigi
 Motivasi keluarga untuk
 Beri reinforcement posif merawat anggota keluarga
atas jawaban keluarga yang sakit gigi
 Beri penguatan atas
pencapaian keluarga
• Keluarga mampu
mendemonstrasikan cara
perawatan sakit gigi
• Keluarga mampu menjelaskan
cara perawatan sakit gigi Intervensi :
Intervensi :  Latih keluarga dalam
merawat anak dengan sakit
 Jelaskan pada keluarga gigi
tentang perawatan sakit gigi
 Anjurkan keluarga untuk
 Anjurkan keluarga untuk meredemonstrasikan cara-
menyebut cara perawatan cara perawatan sakit gigi
gigi
 Beri pujian atas usaha
 Jelaskan kembali cara keluarga
perawatan gigi jika
diperlukan
 Beri pujian atas
pencapaian keluarga
• Keluarga mampu melakukan perawatan sakit gigi
Intervensi ;
 Kaji kemampuan keluarga melakukan perawatan gigi
yang telah diajarka
 Beri pujian atas usaha yang telah dilakukan keluarga