Anda di halaman 1dari 22

KEWAJIBAN PERPAJAKAN

BAWASLU PROVINSI DAN


PANWAS KAB/KOTA

Oleh: Bagian Keuangan


Batam, Oktober 2017
KEWAJIBAN PERPAJAKAN

• BPP Panwas Kab/Kota dapat mendaftarkan Nomor Pokok


Wajib Pajak (NPWP) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama
(KPP Pratama) setempat.
• Dalam hal Panwas Kab/Kota membuka NPWP, maka wajib
melaksanakan kewajiban perpajakan yaitu melakukan
penyetoran dan pelaporan SPT Masa PPh.
• Apabila masa tugas Panwas Kab/Kota (adhoc) berakhir,
maka BPP harus menyelesaikan seluruh kewajiban
perpajakan dan melakukan penghapusan NPWP.
PPh Pasal 21
 Pengertian
Pajak yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, honorarium,
upah, tunjangan, uang makan, uang lembur, dan pembayaran lain
dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri sehubungan
dengan pekerjaan atau jasa dan kegiatan.

 Subjek PPh Ps 21
a. Pegawai Tetap : Ketua dan Anggota Bawaslu, DKPP, Bawaslu
Provinsi, Panwas Kab/Kota, Panwascam, PPL, Tenaga Ahli, Tim
Assistensi, seluruh pegawai baik PNS maupun non PNS yang
mendapatkan penghasilan teratur dan tetap di Bawaslu.
b. Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas : Pengawas TPS
c. Penerima penghasilan bukan pegawai: Narasumber, moderator,
fasilitator yang berasal dari luar Bawaslu.
d. Peserta kegiatan: orang yang mengikuti kegiatan di Bawaslu.
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK
 PTKP merupakan besarnya penghasilan yang menjadi
batasan tidak kena pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi (WP
Orang Pribadi). Besaran PTKP ditentukan oleh keadaan Wajib
Pajak pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak
dengan besaran sesuai yang ditetapkan Menteri Keuangan.
Jumlah PTKP Jumlah PTKP
Peruntukan per tahun per bulan
(Rp) (Rp)
WP Orang Pribadi 54.000.000 4.500.000
Tambahan untuk WP Kawin 4.500.000 375.000
Tambahan untuk istri yang penghasilannya digabung dengan
54.000.000 4.500.000
suami
Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang
4.500.000 375.000
menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang
untuk setiap keluarga
Tarif PPh Pasal 21
1. PNS dan Pejabat Negara
Penghasilan yang sifatnya tidak teratur dikenakan PPh Pasal 21 final
berdasarkan tarif:
a. PNS Gol II dan I = 0% x penghasilan bruto
b. PNS Gol III = 5% x penghasilan bruto
c. PNS Gol IV = 15% x penghasilan bruto
d. Pejabat Negara = 15% x penghasilan bruto

2. Non PNS
Tarif Non PNS menggunakan tarif progresif Pasal 17:
MEKANISME SESUAI UNDANG-UNDANG NO.36 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK
PENGHASILAN serta
PEMOTONG Surat Direktur Jenderal Pajak tentang Penegasan Terhutang Pajak
AN PAJAK PPh Pasal 21 atas honorarium PTPS dengan ketentuan sebagai
berikut:
(PPh 21)
 Honorarium Ketua dan Anggota Panwas Kab/Kota, Panwas
Kecamatan dipotong PPh 21 berdasarkan Penghasilan
Tidak Kena Pajak (PTKP) ;
 Honorarium PTPS dan PPL dipotong pajak penghasilan
dalam hal honor yang diterima dalam 1 (satu) bulan
kalender telah melebihi batas PTKP bulanan yaitu sebesar
Rp4.500.000;
 Dalam hal honor yang diterima tidak melebihi batas PTKP,
tidak dipotong PPh Pasal 21;
 Honorarium Kepala Sekretariat/PPK, BPP, Pelaksana Teknis
Kab/Kota serta Kasek Kecamatan (PNS) dipotong pajak
penghasilan sesuai dengan golongan;
 Apabila tidak memiliki NPWP, PPh 21 dipotong 20% (dua
puluh persen) lebih tinggi dari tarif pajak yang dikenakan.
Contoh perhitungan PPh Pasal 21
 Pada tanggal 1 Januari 2017, Bapak Hanafi (Non PNS) diangkat
sebagai Komisioner Panwas Kota Bandung dan mendapatkan uang
kehormatan Rp6.800.000,00/bulan dengan status menikah dengan 2
anak (K/2). Berapakah besaran PPh Pasal 21 yang harus dipotong
setiap bulan atas pembayaran uang kehormatan tersebut?
Jawab: Penghasilan sebulan Rp6.800.000
Penghasilan setahun 12 x Rp 6.800.000 Rp81.600.000
Pengurangan:
- Biaya Jabatan 5% x Rp 81.600.000 Rp4.080.000
Penghasilan netto Rp77.520.000

PTKP (K/2)
- WP OP 54.000.000
- Status Kawin 4.500.000
- Anak 2 9.000.000
Rp67.500.000
PKP Setahun Rp10.020.000

PPh Ps.21 setahun 5% x Rp 10.020.000 Rp501.000


PPh Ps.21 sebulan Rp 501.000 /12 Rp41.750
Lanjutan Contoh Perhitungan PPh Pasal 21
 Bapak Hanafi seperti contoh soal sebelumnya, juga menerima honor
narasumber sebesar 2 OJ yaitu sebesar Rp1.800.000,- pada acara Sosialisasi
Pengawasan Partisipatif yang diselenggarakan oleh Panwas Kota
Bandung. Berapakah jumlah PPh Psl 21 yang dipotong?
 Jawab: Penghasilan sebulan Rp6.800.000
Penghasilan setahun 12 x Rp 6.800.000 Rp81.600.000
Honor Narasumber Rp1.800.000
Penghasilan bruto setahun Rp83.400.000

Pengurangan:
- Biaya Jabatan 5% x Rp 83.400.000 Rp4.170.000
Penghasilan netto Rp79.230.000

PTKP (K/2)
- WP OP 54.000.000 Jadi, besaran honor
- Status Kawin 4.500.000
- Anak 2 9.000.000 narasumber yang
Rp67.500.000 diterima Bpk.Hanafi
PKP Setahun Rp11.730.000 adalah:
PPh Ps.21 setahun 5% x Rp 11.730.000 Rp586.500 Rp 1.800.000
Pajak yang dipotong atas honor narasumber:
(Rp 85.500)
Pajak setahun setelah ditambah honor Rp586.500 Rp 1.714.500
Pajak setahun sebelum ditambah honor Rp501.000
Rp85.500
Lanjutan
 PKP Bpk Hanafi setahun = 11.730.000
Masih dalam lapisan PKP pertama (0 s.d. 50.000.000)
dengan tarif 5%, sehingga PPh Pasal 21 atas honorarium
narasumber Bapak Hanafi dapat disederhanakan
menjadi=
5% x Rp1.800.000 = Rp 90.000,-

Honor narasumber = 1.800.000


PPh Pasal 21 = (90.000)
Honor bersih yg diterima = 1.710.000
BUKTI POTONG PPh Pasal 21
Sesuai Surat Edaran Sekjen Bawaslu Nomor
0208 / Bawaslu / SJ / KU.01.03 /Tahun 2017,
dalam rangka tertib administrasi pajak,
seluruh BP dan BPP wajib membuat bukti
potong PPh Pasal 21 dan memberikan bukti
potong tersebut kepada penerima
penghasilan yang dipotong pajak.
Contoh bukti potong PPh Pasal 21
BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM
REPUBLIK INDONESIA
Jalan M.H. Thamrin Nomor 14, Jakarta Pusat 10350
Telepon : (021) 3905889, Faksimili : (021) 3907911
Website: www.bawaslu.go.id

BUKTI PEMOTONGAN PPh PASAL 21


(FINAL)

NOMOR :………………………………

NPWP : 8 7 - 9 1 6 - 9 0 3 - 5 - 1 2 1 - 0 0 0

Nama Wajib Pajak : I N T A N G A Y A T R I S .

Alamat :

No. Jenis Penghasilan Jumlah Penghasilan Bruto Tarif PPh yang dipotong

(1) (2) (3) (4) (5)

Uang Saku Rapat Penyelesaian


Permasalahan Hibah Tahun 2016 Badan
1 Rp350.000 5% Rp17.500
Pengawas Pemilihan Umum Republik
Indonesia tanggal 10 Januari 2017

JUMLAH Rp17.500

Terbilang : Tujuh Belas Ribu Lima Ratus Rupiah

Jakarta, Januari 2017


Pemotong Pajak

NPWP : 2 0 0 1 0 8 7 9 3 0 7 6 0 0 0

Nama : S E L V Y S U L I S T Y O W .

Perhatian :
1.Jumlah Pajak Penghasilan Pasal 21
yang dipotong di atas bukan merupakan
kredit pajak dalam Surat Pemberitahuan
(SPT) Tahunan PPh Orang Pribadi
2.Bukti Pemotongan ini dianggap sah
apabila diisi dengan lengkap dan benar
PPh Pasal 22
 Objek PPh Pasal 22
Pemungutan PPh Pasal 22 dilakukan sehubungan dengan
pembayaran atas pembelian barang seperti komputer,
meubelair, mobil dinas, ATK dan barang lainnya oleh
Pemerintah kepada kepada Wajib Pajak penyedia barang.

 Objek Tidak Kena PPh Pasal 22


- Pembelian barang dengan nilai maksimal pembelian
Rp2.000.000 dengan tidak dipecah-pecah dalam beberapa
faktur
- Pembelian BBM, Gas, Pelumas dan benda pos
- Pembayaran Listrik, air minum/PDAM, dan telepon
Tarif PPh Pasal 22

 1,5 % x harga sepanjang belum termasuk PPN


Untuk harga yang sudah termasuk PPN, dihitung
dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)

Note:
Bagi rekanan yang tidak memiliki NPWP, dikenakan
pajak dua kali lipat (2x) lebih tinggi dari tarif PPh 22
/ PPh 23 yang dikenakan.
Pengenaan PPh Pasal 22 dikenakan atas
pembelian diatas Rp2.000.000
Contoh Perhitungan PPh Ps 22
 Panwas Kota Tegal membeli ATK sebesar Rp 3.100.000
(sudah termasuk PPN). Berapa besaran PPh Psl 22?
Jawab: Langkah I menghitung DPP:
DPP = Harga Kuitansi x 100/110
= 3.100.000 x 100/110
= 2.818.182

Langkah II menghitung besar PPh Pasal 22:


= DPP x Tarif PPh Pasal 22
= 2.818.182 x 1,5%
= 42.273

Bawaslu membeli ATK dengan harga:


DPP = 2.818.182
PPh Psl 22 = 42.273
2.775.909
a) Pengertian
Pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari:
Royalti, hadiah, penghargaan, sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan penggunaan harta, imbalan sehubungan
dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konsultan dan jasa
lain.

b) Objek Pemotongan PPh Pasal 23 misal:


- Pemeliharaan AC, Listrik, air, telepon, komputer, printer
- Sewa kendaraan
- Jasa kebersihan dll
 Tarif PPh Psl 23 = 2 % x nilai bruto
(tidak ada batasan nilai nominal pembelian/perolehan)

 Contoh perhitungan:
Panwas Kab.Blora menyewa kendaraan dengan harga Rp
5.000.000. Berapakah besar PPh Psl 23?
Jawab:
Biaya sewa = 5.000.000
Pajak = 2% * 5.000.000 = 100.000
Biaya yang dibayarkan 4.900.000
 Untuk kasus jasa catering apabila sampai
dengan proses menyajikan masakan jadi,
maka diklasifikasikan pada pemotongan PPh
Pasal 23.
 Namun apabila membeli makanan jadi, maka
diklasifikasikan pada pemotongan PPh Pasal
22.
 Jika menggunakan jasa juru masak
perorangan/pribadi, diklasifikasikan
pemotongan PPh Pasal 21.
PPh Pasal 4 ayat (2)

1. Pengertian
Pajak yang dikenakan atas penghasilan terkait
pengalihan hak ataupun persewaan tanah dan/atau
bangunan.
2. Objek PPh Pasal 4 ayat (2)
- Sewa rumah dinas kantor
- Sewa gedung kantor
- Sewa ruang untuk kegiatan
Tarif dan Perhitungan PPh Ps 4 ayat (2)

 Tarif = 10% dari jumlah bruto nilai persewaan (tidak termasuk PPN)
 Contoh perhitungan:
Bawaslu Provinsi DIY menyewa gedung untuk kantor di Yogyakarta
dengan nilai Rp 220.000.000 (termasuk PPN). Berapa besaran PPh Ps 4
ayat (2) yang harus dibayarkan?
Jawab:
Langkah I menghitung DPP:
DPP = Nilai sewa x 100/110
= 220.000.000 x 100/110
= 200.000.000

Langkah II menghitung besar PPh Pasal 4 ayat (2):


= DPP x Tarif PPh Pasal 4 ayat (2)
= 200.000.000 x 10%
= 20.000.000
 Pengertian PPN
Pelunasan pajak yang dikenakan atas setiap transaksi
pembelian barang atau perolehan jasa dari pihak ketiga,
misal pembelian ATK, komputer, perolehan jasa
konstruksi, jasa atas tenaga keamanan dll.
 Tarif PPN = 10%
 Contoh :
Bawaslu Prov.Jateng membeli mesin scanner dengan
harga Rp12.000.000 (belum termasuk PPN). Berapa
besaran PPN terutang?
Jawab:
PPN terutang = harga barang x tarif PPN
= Rp12.000.000 x 10%
= Rp1.200.000