Anda di halaman 1dari 77

Mini Clinical Examination

Preeklampsia Berat
Partial HELLP syndrome

Disusun oleh :
Alvina Elsa Bidari, S.Ked

Pembimbing :
dr. Vidia Sari, Sp.OG

Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri Ginekologi


RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadri
Fakultas Kedokteran Untan
Pontianak
2017
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny. YS
• Umur : 28 tahun
• Jenis kelamin : Perempuan
• Agama : Katholik
• Alamat : Jl. Komyos Sudarso, Gg. Tengkawang No. 23
• Pekerjaan : Guru
• Masuk RS : 29 Mei 2017
• No RM : 015652
ANAMNESIS
Diperoleh dari penderita. Pasien dari poli kandungan RSUD Sultan Syarif Muhammad
Alkadrie Pontianak

KELUHAN UTAMA :
Pasien dengan tekanan darah tinggi
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Disangkal adanya :
x Riwayat tekanan darah tinggi sebelum
hamil
Pasien G1P0A0 hamil 29-30 minggu x Nyeri kepala
datang dari poli kebidanan pukul 12.00 x Nyeri ulu hati
WIB dengan hipertensi. Tungkai x Penglihatan kedua mata kabur
bengkak sejak 2 minggu yang lalu. x Mual
x Muntah
x Keluar darah lendir
x Keluar air-air
RIWAYAT HAID
Haid pertama usia 11 tahun, siklus teratur
RIWAYAT PERKAWINAN
Menikah 1 kali, selama 9 bulan
RIWAYAT KEHAMILAN SEKARANG
• Total periksa hamil 5x, dokter 2x, bidan 3x.
• HPHT 08-09-2016.
• Taksiran persalinan tanggal 15-06-2017.
• USG ukuran kehamilan 29+2 minggu

RIWAYAT PERSALINAN SEKARANG


His (-), Darah lendir (-), Rasa mengejan (-), Ketuban (-)
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Disangkal :
x Riwayat darah tinggi sebelum hamil
x Riwayat kencing manis
x Asma
x Jantung
x Alergi
x Operasi

RIWAYAT KELUARGA
x Ayah riwayat darah tinggi
x Riwayat kehamilan dengan darah tinggi
disangkal
x Riwayat kencing manis disangkal
x Asma disangkal
x Penyakit jantung disangkal
PEMERIKSAAN FISIK

• Berat badan : 76 kg
• Tinggi badan : 153 cm
• Keadan umum : baik
• Kesadaran : kompos mentis
• Tanda vital :
– Tekanan darah: 170/80 mmHg
– Nadi : 92 x/m
– Pernapasan : 18 x/m
– Suhu : 36 0C
STATUS GENERALIS

Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak


ikterik, pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya +/+
THT : tidak ditemukan kelainan
Leher : tidak ditemukan kelainan
Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
Ekstremitas : edema (pitting edema pada kedua
tungkai bawah
STATUS OBSTETRIK

Pemeriksaan luar
Abdomen
• Inspeksi :Linea mediana hiperpigmentasi, striae gravidarum (+), Sikatrik (-
)
• Palpasi :
— Leopold 1 : TFU 22 cm, bagian teratas teraba massa bulat, keras, kesan kepala.
Taksiran berat badan janin: 1.550 gr.
— Leopold 2 : Tahanan terbesar di kiri. Bagian-bagian kecil di kanan (punggung
kiri).
— Leopold 3 : Teraba lunak, kesan bokong
— Leopold 4 : Bagian terbawah janin belum masuk PAP
Auskultasi DJJ : 142 x/menit (reguler)

Pemeriksaan dalam : Tidak dilakukan


USG

Tampak janin tunggal, presentasi bokong, biometri sesuai usia kehamilan 29 minggu 2
hari jenis kelamin laki-laki EFW 1280 gram, plasenta di fundus grade 2, EDD 12/8/17
DIAGNOSIS SEMENTARA
G1P0A0M0 – Usia kehamilan 29+2 minggu dengan
hipertensi dalam kehamilan

TINDAKAN/TERAPI

IVFD RL 20 tpm
Po Amlodipin 1 x 5 mg
CTG
Cek darah rutin, kimia darah, dan protein urine
Obs TTV dan DJJ / 4 jam
CTG

Baseline: 110-130 dpm


Variabel: 6-25 dpm (moderate)
Ada deselerasi tidak ada
Akselerasi 10-15 dpm
NST: Reaktif
CST : negatif
PEMERIKSAAN PENUNJANG

DARAH RUTIN tanggal 29-05-17 jam 13.45


• WBC : 13,97 x 103/uL
• RBC : 4,27 x 106/uL
• Hb : 12,0 gr/dl
• Trombosit : 201.000/uL
• HCT : 35,4 %

URINE
Protein : (++++)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

KIMIA DARAH
• GDS : 85 mg/dl
• Urea : 21,8 mg/dl
• Creatinine : 0,94 mg/dl
• Asam urat : 6,60 mg/dl (2,60-6,00 mg/dl)
• SGOT : 20,6 U/L
• SGPT : 14,2 U/L
• Albumin : 3,10 g/dl (3,40-4,80 g/dl)
• BT : 2’30”
• CT : 14’00”
PEMERIKSAAN FISIK

Tanda vital :
Tekanan darah : 190/90 mmHg
Nadi : 92 x/m
Pernapasan : 18 x/m
Suhu : 36,5 0C
DJJ : 130 x/m

ASESSMENT
G1P0A0M0 – Usia kehamilan 29+2 minggu dengan
PEB
TINDAKAN/TERAPI

• IVFD RL 20 tpm
• Inj. MgSO4 4 gr iv pelan (10 menit), lanjut MgSO4
1 gr/jam menggunakan syring pump selama 48
jam (15.00 WIB)
• Inj. Dexamethasone 2 x 1 mg (4x)
• Po Amlodipin 2 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
• Balance cairan / 4 jam
• Obs TTV dan DJJ / 4 jam
• Pasang foley cateter
• 30/5/2017 cek ulang darah rutin dan urin
30/5/2017
Keluhan: Pusing (+), nyeri ulu harti (-), pandangan kabur (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 150/90 mmHg
Nadi : 84 x/m
Pernapasan : 19 x/m
Suhu : 36,6 0C
DJJ : 142 x/m
BC: -14,3; UO: 100 cc/jam

DARAH RUTIN tanggal 30-05-17 jam 07.12


• WBC : 17,8 x 103/uL
• RBC : 4,85 x 106/uL
• Hb : 13,8 gr/dl
• Trombosit : 205.000/uL
• HCT : 40,6 %
Urinalisis
Makroskopis Kimia
• Warna: Kuning kecoklatan • Blood (+++) positif 3
• Kekeruhan: Keruh
• Urobilinogen (-)
Mikroskopis • Bilirubin (-)
• Lekosit: 2-4 / LPB
• Protein (+++)
• Eritrosit: Penuh
• Silinder:
• Nitrit (-)
– Erytrosit (+) • Keton (-)
– Granuler (+) • Glukosa (-)
• Epitel • pH 6
– Gepeng 5-8/LPK
• B.J 1020
– Bulat 1-2/LPK
• Kristal: (-)
• Lekosit (-)
ASESSMENT
G1P0A0M0 – H29+3 minggu dengan PEB
H.preterm + BDP
TINDAKAN/TERAPI
• IVFD RL 20 tpm
• Inj. MgSO4 1 gr/jam menggunakan syring pump
selama 48 jam (habis jam 15.00 → lanjut)
• Inj. Cefotaxime 3 x 1gr iv (10.30)
• Inj. Dexamethasone 2 x 1 mg (4x)
• Po Amlodipin 2 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
• Balance cairan / 4 jam
• Obs TTV dan DJJ / 4 jam
• 31/5/2017 cek ulang protein urin
31/5/2017
Keluhan: (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 150/100 mmHg
Nadi : 84 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 36,5 0C

URINE: Protein : (++)

ASESSMENT
G1P0A0M0 – H29+4 minggu dengan PEB
H.preterm + BDP
TINDAKAN/TERAPI

• IVFD RL 20 tpm
• Inj. MgSO4 1 gr/jam menggunakan syring pump
selama 48 jam (jam 13.00 dilepas)
• Inj. Cefotaxime 3 x 1gr iv
• Po Amlodipin 2 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
• Balance cairan / 4 jam
• Obs TTV dan DJJ / 4 jam
1/6/2017
Keluhan: (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 82 x/m
Pernapasan : 18 x/m
Suhu : 36,6 0C

URINE: Protein : (+)

ASESSMENT
PEB G1P0A0M0 – H29+5 minggu + BDP
TINDAKAN/TERAPI

• Vemplon
• Po Amlodipin 2 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
• Balance cairan / 4 jam
• Obs TTV dan DJJ / 8 jam
• Aff foley catheher
2/6/2017
Keluhan: (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 140/80 mmHg
Nadi : 84 x/m
Pernapasan : 19 x/m
Suhu : 36,4 0C

DARAH RUTIN 2/6/17 jam 07.49 KIMIA DARAH


• WBC : 12,6 x 103/uL • Urea : 36,0 mg/dl
• RBC : 4,53 x 106/uL • Creatinine : 0,83 mg/dl
• Hb : 12,8 gr/dl • Asam urat : 5,84 mg/dl
• Trombosit : 120.000/uL • SGOT : 24,6 U/L
• HCT : 37,9 % • SGPT : 5,6 U/L
• Albumin : 2,59 g/dl (3,40-4,80 g/dl)
URINE
Protein : (++)
ASESSMENT
PEB G1P0A0M0 – H29+6 minggu, Hipoalbumin,
BDP

TINDAKAN/TERAPI
• Po Albuforce 3 x 2 tab
• Po Amlodipin 2 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
• CTG
• Obs TTV dan DJJ / 4 jam
• Diit ekstra putih telur
• Pasien BLPL, kontrol poli Senin, 5/6/2017
CTG

Baseline: 110-130 dpm


Variabel: 6-25 dpm (moderate)
Ada deselerasi tidak ada
Akselerasi 10-15 dpm
NST: Reaktif
CST : negatif
ANAMNESIS

Diperoleh dari penderita (7/6/2017)

KELUHAN UTAMA :
Nyeri ulu hati
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien G1P0A0 hamil 30 minggu datang Disangkal adanya :


pukul 21.30 WIB keluhan nyeri ulu hati x Penglihatan kedua mata kabur
sejak 9 jam SMRS. Nyeri ulu hati x Mulas
memberat 30 menit SMRS. Muntah 2x, x Keluar darah lendir
mual (+), pusing (+) kaki bengkak (+) x Keluar air-air
STATUS GENERALIS

Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak


ikterik, pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya +/+
THT : tidak ditemukan kelainan
Leher : tidak ditemukan kelainan
Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
Ekstremitas : edema (pitting edema pada kedua
tungkai bawah
STATUS OBSTETRIK

Pemeriksaan luar
Abdomen
• Inspeksi : Linea mediana hiperpigmentasi, striae gravidarum (+), Sikatrik
(-)
• Palpasi :
— Leopold 1 : TFU 22 cm, bagian teratas teraba massa bulat, keras, kesan kepala.
Taksiran berat badan janin: 1.550 gr.
— Leopold 2 : Tahanan terbesar di kiri. Bagian-bagian kecil di kanan (punggung
kiri).
— Leopold 3 : Teraba lunak, kesan bokong
— Leopold 4 : Bagian terbawah janin belum masuk PAP
Auskultasi DJJ : 142 x/menit (reguler)

Pemeriksaan dalam : Tidak dilakukan


7/6/2017
Keluhan: (-)

Tanda vital :
Tekanan darah : 160/100 mmHg
Nadi : 90 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 36,5 0C

DARAH RUTIN KIMIA DARAH jam


• WBC : 12,2 x 103/uL • GDS : 71 mg/dl
• RBC : 4,41 x 106/uL • Urea : 26,4 mg/dl
• Hb : 12,3 gr/dl • Creatinine : 0,72 mg/dl
• Trombosit : 78.000/uL • Asam urat : 8,08 mg/dl
• HCT : 36,7 % • SGOT : 34 U/L
• BT : 4’30’’
• SGPT : 30 U/L
• CT : 13’00”
• Albumin : 2,64 g/dl (3,40-4,80 g/dl)
ASESSMENT
G1P0A0M0 – H30+5 minggu dengan presbo,
partial HELLP syndrome PEB, BDP

TINDAKAN/TERAPI

• IVFD RL 20 tpm
• Pasang foley cateter
• Albuforce 3 x 2 tab
• Po Amlodipin 1 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
8/6/2017
Keluhan: nyeri ulu hati (+), pandangan agak kabur

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 140/100 mmHg
Nadi : 92 x/m
Pernapasan : 22 x/m
Suhu : 36,5 0C

ASESSMENT
G1P0A0M0 – H30+6 minggu dengan presbo,
partial HELLP syndrome, PEB, BDP
TINDAKAN/TERAPI

• IVFD RL 20 tpm
• SC cito →10.30
• PRC 1 kolf
• WBC 1 kolf
• Inj. Cefotaxime 1 gr
• Inj. Ondansetron
• Inj. Ranitidin
DATA BAYI

Identitas Bayi
• Nama : By. Ny. YS
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Tgl Lahir : 08 Juni 2017 jam 11.33
• BBL : 1270 gr
• PB / LK / LD / LL / LP : 36 / 29 / 24,5 / 8 / 21
• APGAR Score : 3/7
POST SC
Keluhan: nyeri luka post op (+), pusing (-), nyeri ulu hati (-)

Tanda vital (15.00) :


Tekanan darah : 170/110 mmHg
Nadi : 90 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 36,6 0C
TFU : 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus keras, perdarahan normal

ASESSMENT
Post SC Cito + insersi IUD a/I PEB, partial HELLP
syndrome, IUGR H.preterm P1A0M0
DARAH RUTIN 6 jam post SC jam 19.18
• WBC : 22,80 x 103/uL
• RBC : 4,23 x 106/uL
• Hb : 11,8 gr/dl
• Trombosit : 81.000/uL
• HCT : 34,8 %
TINDAKAN/TERAPI

• IVFD RL:D5%:NaCl 1:2:1 30 tpm


• Inj. Cefotaxime 3 x 1 gr
• Inj. Asam tranexamat 3 x 500 gr (4x)
• Drip oxytosin 10 IU/500 cc RL 30 tpm
• Drip tramadol 100 mg/500 cc (4x)
• Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (4x)
• Inj. Dexamethason 3x1 amp (6x)
• MgSO4 mulai jam 10.00 → 24 jam post SC
• Po Amlodipin 2 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
9/6/2017
Keluhan: nyeri luka post op (+), pusing (-), nyeri ulu hati (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 90 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 36,5 0C
TFU : 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus keras, perdarahan normal

ASESSMENT
Post SC Cito + insersi IUD a/i PEB, partial HELLP
syndrome, IUGR H.preterm P1A0M0 HI
TINDAKAN/TERAPI

• IVFD RL:D5%:NaCl 1:2:1 30 tpm


• Inj. Cefotaxime 3 x 1 gr
• Inj. Asam tranexamat 3 x 500 gr (4x)
• Drip oxytosin 10 IU/500 cc RL 30 tpm
• Drip tramadol 100 mg/500 cc (4x)
• Inj. Ranitidin 2 x 1 amp (4x)
• Inj. Dexamethason 3x1 amp (6x)
• MgSO4 → selesai (15.30)
• Po Amlodipin 2 x 5 mg
• Po Dopamet 3 x 250 mg
• Po Asam mefenamat 3x500 mg
• Transfusi trombosit 6 kantong → 3 kantong (17.00)
10/6/2017
Keluhan: nyeri luka post op (+), pusing (-), nyeri ulu hati (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 88 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 36 0C
TFU : 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus keras, perdarahan normal

ASESSMENT
Post SC Cito + insersi IUD a/i PEB, partial HELLP
syndrome, IUGR H.preterm (34-35 mgg) P1A0M0 HII
DARAH RUTIN
• WBC : 26,8 x 103/uL
• RBC : 3,59 x 106/uL
• Hb : 9,1 gr/dl
• Trombosit : 248.000/uL
• HCT : 26,5 %
TINDAKAN/TERAPI

• IVFD RL:D5%:NaCl 1:2:1 30 tpm


• Inj. Cefotaxime 3 x 1 gr → Po cefixime 2x100 mg
• Inj. Dexamethason 3x1 amp (6x) → selesai
• Po Amlodipin 2 x 5 mg → stop
• Po Dopamet 3 x 250 mg → stop
• Po Asam mefenamat 3x500 mg
11/6/2017
Keluhan: nyeri luka post op (+), pusing (-), nyeri ulu hati (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 80 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 36,4 0C
TFU : 3 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus keras, perdarahan sedikit

ASESSMENT
Post SC Cito + insersi IUD a/i PEB, partial HELLP
syndrome, IUGR H.preterm (34-35 mgg)P1A0M0 HIII
TINDAKAN/TERAPI
• IVFD RL:D5%:NaCl 1:2:1 30 tpm
• Po Cefixime 2 x 100 mg
• Po Asam mefenamat 3x500 mg
12/6/2017
Keluhan: (-)

Tanda vital (07.00) :


Tekanan darah : 130/90 mmHg
Nadi : 82 x/m
Pernapasan : 20 x/m
Suhu : 36,6 0C
TFU : 3 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus keras, perdarahan normal

ASESSMENT
Post SC Cito + insersi IUD a/i PEB, partial HELLP
syndrome, IUGR H.preterm P1A0M0 HIV
TINDAKAN/TERAPI
• Po Obivit 1x1
• Po Cefixime 2 x 100 mg
• Po Asam mefenamat 3x500 mg
• BLPL
STUDI KASUS
Permasalahan
1. Bagaimana penegakan diagnosis pada pasien?
2. Apa saja faktor risiko preeklampsia pada pasien?
3. Bagaimana tatalaksana pada pasien ini?
4. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada
pasien?
5. Bagaimana dampak jangka panjang terhadap
bayi yang dilahirkan dari ibu dengan
preeklampsia ?
6. Bagaimana prognosis pasien ini?
Bagaimana penegakan diagnosis pada pasien?
HT dalam kehamilan Hipertensi gestasional
HT yang timbul pada kehamilan tanpa disertai
proteinuria dan menghilang setelah 3 bulan pasca
persalinan
Superimposed preeklampsia
HT kronik disertai tanda2 preeklampsia atau
HT kronik disertai proteinuria
Timbul sebelum kehamilan dan menetap setelah
Hipertensi kronik persalinan, tanpa disertai proteinuria

Eklampsia Preeklampsia
Preeclampsia yang disertai dengan TDs ≥ 140 mmHg atau TDd 90mmHg + proteinuria > + 1
kejang2 dan atau koma Usia kehamilan > 20 minggu
Preeklampsia berat
TDs ≥160 mmHg atau TDd 110 mmHg + proteinuria > + 1
Sindrom HELLP
• Wanita dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemeriksaan
berikut:
– Darah lengkap, ALT, AST, serum kreatinin, asam urat, urin 24 jam
• Jika curiga HELLP syndrome:
– Apusan darah tepi, LDH, bilirubin indirect
• CT scan→ deteksi perdarahan intrakranial
– Nyeri kepala berat mendadak
– Defisit neurologis fokal
– Kejang dengan keadaan post ictal berkepanjangan
– Presentasi atipikal untuk eklampsia
• USG
• CTG

Lim Kee-Hak. Preeclampsia. Medscape, 2016


• Preeklampsia → kondisi spesifik pada kehamilan
ditandai disfungsi plasenta dan respon maternal
terhadap adanya inflamasi sistemik dengan aktivasi
endotel dan koagulasi.1
• Prevalensi di dunia → 5-8% → penyebab morbiditas
dan mortalitas maternal dan perinatal → 50.000-
60.000 kematian/tahun2
• Prevalensi preeklampsia di Negara berkembang adalah
4% - 18%. PEB → 25% dari semua kasus preeklampsia3
• Insiden preeklampsia di Indonesia→ 128.273/tahun
atau sekitar 5,3%.1
1. PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016
2. Gathiram. Pre-eclampsia: its pathogenesis and pathophysiology. Cardiovasc J Afr 2016; 27: 71-78
3. Lim Kee-Hak. Preeclampsia. Medscape, 2016
• Patofisiologi
Early onset preeklampsia → < 33 minggu kehamilan

Late onset preeklampsia → > 34 minggu kehamilan

Gathiram. Pre-eclampsia: its pathogenesis and pathophysiology. Cardiovasc J Afr 2016; 27: 71-78
• Pada kasus ini kriteria yang mendukung
kearah PEB adalah:
– TDs ≥160 atau TDd 110 mmHg 2x pemeriksaan
berjarak 15 menit menggunakan lengan yang
sama → TD 170/90 mmHg
– Proteinuria: protein di urin melebihi 300 mg
dalam 24 jam atau tes urin dipstik > positif 1 →
Protein urin +4
– Trombositopenia : trombosit < 100.000 / mikroliter
29/5/17 trombosit 201.000 → 2/6/17 120.000 → 7/6/17 65.000
– Gangguan liver : peningkatan konsentrasi transaminase 2 kali
normal dan atau adanya nyeri di daerah epigastrik / regio kanan
atas abdomen
– Gangguan ginjal : kreatinin serum >1,1 mg/dL
– Edema Paru
– Didapatkan gejala neurologis : stroke, nyeri kepala, gangguan
visus
– Gangguan pertumbuhan janin menjadi tanda gangguan sirkulasi
uteroplasenta
– Oligohidramnion, Fetal Growth Restriction (FGR) atau
didapatkan absent or reversed end diastolic velocity (ARDV)

PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016


Apa saja faktor risiko preeklampsia pada pasien?

Anamnesis:
■ Umur > 40 tahun → usia pasien 28 tahun
■ Nulipara
risiko ↑ pada wanita yang memiliki paparan rendah
terhadap sperma.
■ Multipara dengan riwayat preeklampsia sebelumnya
■ Multipara dengan kehamilan oleh pasangan baru
■ Multipara yang jarak kehamilan sebelumnya 10 tahun
atau lebih
■ Riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan
■ Kehamilan multipel

PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016


■ IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus)
■ Hipertensi kronik
■ Penyakit Ginjal
■ Sindrom antifosfolipid (APS)
■ Kehamilan dengan inseminasi donor sperma, oosit atau embrio
■ Obesitas sebelum hamil
→ IMT 26,68 → Obesitas tipe 1 kriteria Asia Pasifik
Obesitas merupakan faktor risiko preeklampsia dan risiko semakin besar
dengan semakin besarnya IMT. Obesitas meningkatkan risiko preeklampsia
sebanyak 2, 47 kali lipat

Pemeriksaan fisik:
■ Indeks masa tubuh > 35
■ Tekanan darah diastolik > 80 mmHg
■ Proteinuria (dipstick >+l pada 2 kali pemeriksaan berjarak 6 jam atau
secara kuantitatif 300 mg/24 jam) → +4
PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016
Bagaimana tatalaksana pada pasien ini?
• Manajemen ekspektatif → PEB dengan usia
kehamilan < 34 minggu dengan syarat kondisi ibu
dan janin yang stabil1
• Pasien dengan PEB → rawat inap → monitor
perburukan dan komplikasi

PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016


MgSO4
• PEB → monitoring input dan output cairan →
mencegah komplikasi (oliguria, edema paru)→
memasang foley cateter dan MgSO4
• MgSO4 direkomendasikan sebagai profilaksis
terhadap eklampsia pada pasien PEB
• Syarat pemberian MgSO4
– Tersedia antidotum → calcium gluconas 10%, 1 gr diberikan IV selama
3 menit
– Refleks patella +
– RR > 16 x/m
– Produksi urin >100cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5cc/kgBB/jam)
PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016
Duley L, Gulmezoglu AM, Henderson-Smart DJ, Chou D. Magnesium sulphate and other anticonvulsants for
women with pre-eclampsia. Cochrane Database Syst Rev. 2010; 10(11):CD000025
MgSO4
• MgSO4 → ↓ kadar astilkolin pada rangsangan serat
saraf dengan menghambat transmisi neuromuskular.
Transmisi neuromuskular membutuhkan kalsium
pada sinaps dan pada pemberian MgSO4, Mg akan
menggeser Ca sehingga aliran rangsangan tidak
terjadi.
• MgSO4 → vasodilatasi melalui relaksasi dari otot
polos, termasuk pembuluh darah perifer dan uterus

Cunningham G, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap LC, Wenstrom KD. Obstetri Williams.
Edisi ke-22. New York: McGraw-Hill;2005
PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016
Cara pemberian MgSO4
• MgSO4 diberikan di loading 4 gr (10 cc MgSO4 + 10 cc
aquades) IV secara perlahan selama 5-10 menit,
• MgSO4 dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 1-2
g/jam selama 24 jam post partum atau setelah
kejang terakhir

PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016


• Antihipertensi direkomendasikan pada preeklampsia
dengan hipertensi berat, TD sistolik ≥ 160 mmHg atau
diastolik ≥ 110 mmHg → 190/90 mmHg
• Target penurunan TD sistolik < 160 mmHg dan diastolik <
110 mmHg
• Pemberian antihipertensi pilihan pertama adalah
nifedipin oral short acting, hidralazine dan labetalol
parenteral
• Alternatif pemberian antihipertensi yang lain adalah
nitogliserin, metildopa, labetalol
• → pemberian kortikosteroid direkomendasikan untuk
membantu pematangan paru janin1→mengurangi
40% kematian neonatal2 → Inj. Dexamethasone 2 x 1
mg (4 kali)

• Rekomendasi kortikosteroid →usia kehamilan 24-33


minggu
• Betametason 12 mg/24 jam IM 2 hari atau
Dexametason 6 mg/12 jam IM 2 hari3
1. PNPK. Diagnosis dan tatalaksana preeklampsia, 2016
2. Lawn JE,et al. Neonatal survival 1.4 million neonatal death:when?where?why? The Lancet.2005: 365(9462):891-900
3. American College of Obstetricians and Gynecologist
Sindrom HELLP
• Hemolysis, Elevated Liver enzimes, Low Platelet count
→ 0,2-0,6% dari seluruh kehamilan1
→ 10% dari kasus preeklampsia atau 50% kasus eklampsia2
• Rata-rata mortalitas perinatal → 6-17%

• Terjadi 28-36 minggu kehamilan

1. Maulydia, Eddy Raharjo. Sindrom HELLP, eklampsia, dan perdarahan intrakranial. Maj ked ter intensif:2012;2(1):44-48
2. SMFM. Severe preeclampsia. Am J Obstet Gynecol 2011
Klasifikasi pada sindroma HELLP, yaitu :
1. Berdasarkan jumlah keabnormalan yang didapati.
• Sindrom HELLP Murni: bila didapati ketiga parameter
• Sindrom HELLP Parsial: bila dijumpainya satu atau lebih tetapi
tidak ketiga parameter sindroma HELLP, dibagi beberapa sub
grup lagi yaitu Hemolysis (H), Low Trombosit counts (LP),
Hemolysis + low trombosit counts (H+LP), hemolysis +
elevated liver enzymes (H+EL).
2. Berdasarkan jumlah dari trombosit
• Kelas I jumlah trombosit ≤ 50.000/mm3
• Kelas II jumlah trombosit > 50.000-100.000/mm3
• Kelas III jumlah trombosit > 100.000-150.000/mm3

Perveen S, Altaf W, Vohra N, et al. effect of gestasional age on cord blood plasma copper, zinc,
magnesium, and albumin. Ear hum dev. 2012;69(1):15-23
Manifestasi klinis
• Nyeri kepala (30%)
• Pandangan kabur
• Malaise (90%)
• Mual/muntah (30%)
• Nyeri disekitar perut atas (65%)
• Parastesia

Maulydia, Eddy Raharjo. Sindrom HELLP, eklampsia, dan perdarahan intrakranial. Maj ked ter intensif:2012;2(1):44-48
• Tatalaksana → bersifat aktif → kehamilan harus diterminasi
setiap saat bila keadaan hemodinamika stabil
Persalinan dengan Sindrom HELLP
• Jika UK ≥34 minggu dan tidak stabil → lahirkan
segera
• Jika UK ≥34 minggu dan stabil, pertimbangkan
steroid → evaluasi 24-48 jam dan lahirkan
• Jika UK 24-34 minggu dan stabil, pertimbangkan
steroid, tunggu 24-48 jam dan evaluasi persalinan
tergantung kondisi maternal-fetal
• Jika UK ≤34 minggu dengan fetal distress →
lahirkan segera
• Pemberian transfusi trombosit → mengurangi
risiko perdarahan saat dilakukan persalinan
dengan SC atau pervaginam dengan dosis 4-10
unit trombosit ditransfusikan sebelum
dilakukan intubasi
• Bila kadar trombosit < 40.000/ml → SC
• Bila trombosit > 40.000/ml → pervaginam
Manajemen postpartum
• Profilaksis MgSO4 → 24 jam post partum1
• Tes fungsi hati dan trombosit
• Jika TD masih tinggi → nifedipin/labetolol. Pada
kehamilan normal TD turun segera, puncaknya 3-6
hari postpartum2

1. Lim Kee-Hak. Preeclampsia. Medscape, 2016


2. Townsend et al. Current practice for management of hypertension disorders in pregnancy. 2016
• Dexamethason 2 x 10 mg iv diikuti 5 mg iv → restore
platelet ke nilai normal pada pasien dgn
trombositopenia
• PANTAU preeklampsia rekuren hingga 4 mgg post
partum, eklampsia 6 mgg post partum. 32-44%
terjadi eklampsia post partum1
Komplikasi PEB
• Infark miokard
• Stroke
• Acute respiratory distress syndrome
• Koagulopati
• Severe renal failure
• Retinal injury

SMFM. Severe preeclampsia. Am J Obstet Gynecol 2011


Komplikasi sindrom HELLP
• Terlepasnya plasenta (abruption)
• Edema paru
• Acute respiratory distress syndrome (ARDS)
• Hematom pada hati dan pecah (0,9-2%)
• Gagal ginjal akut
• Disseminated intravascular coagulation (DIC)
• Eklampsia
• Perdarahan intraserebral
• Kematian maternal
Maulydia, Eddy Raharjo. Sindrom HELLP, eklampsia, dan perdarahan intrakranial. Maj ked ter
intensif:2012;2(1):44-48
Dampak jangka panjang terhadap bayi yang dilahirkan dari ibu
dengan preeklampsia

• BBLR akibat persalinan prematur atau


mengalami pertumbuhan janin terhambat1
• Autism2
Bagaimana prognosis pasien ini?
• Rekuren preeklampsia → 10%, jika < 30
minggu rekuren 40%
• PEB → 20%
• Rekuren HELLP syndrome → 5%
Kesimpulan
• HELLP syndrome terjadi 10% dari kasus preeklampsia
atau 50% kasus eklampsia
• Terjadi 28-36 minggu kehamilan
• Jika UK 24-34 minggu dan stabil, pertimbangkan steroid,
tunggu 24-48 jam dan evaluasi persalinan tergantung kondisi
maternal-fetal
• Rekuren HELLP syndrome → 5%
TERIMA KASIH