Anda di halaman 1dari 18

MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN Elya dan Puspa

PROFESIONAL
PENGERTIAN
Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) adalah
suatu sistem (Struktur, Proses dan nilai-nilai profesional) yang
memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan
keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang
pemberian asuhan tersebut (Murwani & Herlambang, 2012).
Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah
suatu sistem (struktur, proses, dan nilai-nilai profesional), yang
memfasilitasi perawat profesional, mengatur pemberian asuhan
keperawatan, termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut
diberikan (Sitorus, 2006).
METODE MPKP (SITORUS,2006)
METODE KASUS
Metode kasus merupakan metode pemberian asuhan yang pertama kali
digunakan. Sampai perang dunia II metode tersebut merupakan metode
pemberian asuhan keperawatan yang paling banyak digunakan. Pada metode
ini satu perawat akan memberikan asuhan keperawatan kepada seorang klien
secara total dalam satu periode dinas. Jumlah klien yang dirawat oleh satu
perawat bergantung pada kemampuan perawat tersebut dan kompleksnya
kebutuhan klien. (Sitorus, 2006).
Setelah perang dunia II, jumlah pendidikan keperawatan dari berbagai jenis
program meningkat dan banyak lulusan bekerja di rumah sakit. Agar
pemanfaatan tenaga yang bervariasi tersebut dapat maksimal dan juga
tuntutan peran yang diharapkan dari perawat sesuai dengan perkembangan
ilmu kedokteran, kemudian dikembangkan metode fungsional. (Sitorus, 2006).
METODE FUNGSIONAL
Pada metode fungsional, pemberian asuhan keperawatan
ditekankan pada penyelesaian tugas atau prosedur. Setiap perawat
diberi satu atau beberapa tugas untuk dilaksanakan kepada semua
klien di satu ruangan. (Sitorus, 2006).
Pada metode ini, kepala ruang menentukan tugas setiap perawat
dalam satu ruangan. Perawat akan melaporkan tugas yang
dikerjakannya kepada kepala ruangan dan kepala ruangan tersebut
bertanggung jawab dalam pembuatan laporan klien. Metode fungsional
mungkin efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas apabila jumlah
perawat sedikit, tetapi klien tidak mendapatkan kepuasan asuhan yang
diterimanya.
METODE FUNGSIONAL
Metode ini kurang efektif karena (Sitorus, 2006) :
a. Proritas utama yang dikerjakan adalah kebutuhan fisik dan kurang menekankan pada
pemenuhan kebutuhan holistic
b. Mutu asuhan keperawatan sering terabaikan karena pemberian asuhan keperawatan
terfragmentasi
c. Komunikasi antar perawat sangat terbatas sehingga tidak ada satu perawat yang
mengetahui tentang satu klien secara komprehensif, kecuali mungkin kepala ruangan.
d. Keterbatasan itu sering menyebabkan klien merasa kurang puas terhadap pelayanan atau
asuhan yang diberikan karena seringkali klien tidak mendapat jawaban yang tepat
tentang hal-hal yang ditanyakan.
e. Klien kurang merasakan adanya hubungan saling percaya dengan perawat.
METODE TIM
Metode tim merupakan metode pemberian asuhan
keperawatan, yaitu seorang perawat profesional memimpin
sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada sekelompok klien melalui upaya kooperatif
dan kolaboratif (Douglas, 1992). Metode tim didasarkan pada
keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai
kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan
keperawatan sehingga menimbulkan rasa tanggung jawab yang
tinggi.
METODE TIM
Pelaksanaan metode tim berlandaskan konsep berikut (Sitorus, 2006) :
a. Ketua tim, sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai
teknik kepemimpinan. Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang prioritas
perencanaan, supervisi, dan evaluasi asuhan keperawatan. Tanggung jawab ketua
tim adalah :
1. Mengkaji setiap klien dan menetapkan renpra
2. Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis
3. Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok dan
memberikan bimbingan melalui konferensi
4. Mengevaluasi pemberian askep dan hasil yang dicapai serta
mendokumentasikannya
METODE TIM
b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas renpra
terjamin. Komunikasi yang terbuka dapat dilakukan melalui
berbagai cara, terutama melalui renpra tertulis yang
merupakan pedoman pelaksanaan asuhan, supervisi, dan
evaluasi.
c. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
d. Peran kepala ruangan penting dalam metode tim
METODE PERAWATAN PRIMER
Pada metode keperawatan primer perawat yang bertanggung jawab terhadap
pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer (primary nurse) disingkat dengan
PP. (Sitorus, 2006).
Metode keperawatan primer dikenal dengan ciri yaitu akuntabilitas, otonomi,
otoritas, advokasi,ketegasan, dan 5K yaitu kontinuitas, komunikasi, kolaborasi, koordinasi,
dan komitmen. (Sitorus, 2006).
Setiap PP biasanya merawat 4 sampai 6 klien dan bertanggungjawab selama 24
jam selama klien tersebut dirawat dirumah sakit atau di suatu unit. Perawat akan
melakukan wawancara mengkaji secara komprehensif, dan merencanakan asuhan
keperawatan. Perawat yang peling mengetahui keadaaan klien. Jika PP tidak sedang
bertugas, kelanjutan asuhan akan di delegasikan kepada perawat lain (associated nurse).
PP bertanggungjawab terhadap asuhan keperawatan klien dan menginformasikan
keadaan klien kepada kepala ruangan, dokter, dan staff keperawatan. (Sitorus, 2006).
Seorang PP bukan hanya mempunyai kewenangan untuk
memberikan asuhan keperawatan, tetapi juga mempunyai
kewengangan untuk melakukan rujukan kepada pekerja sosial,
kontrak dengan lembaga sosial di masyarakat, membuat jadwal
perjanjian klinik, mengadakan kunjungan rumah dan lain lain.
Dengan diberikannya kewenangan, dituntut akuntabilitas perawat
yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan
DIFFERENTIATED PRACTICE
National League for Nursing (NLN) dalam kozier et al (1995)
menjelaskan baha differentiated practice adalah suatu pendekatan
yang bertujuan menjamin mutu asuhan melalui pemanfaatan sumber-
sumber keperawatan yang tepat. Terdapat dua model yaitu model
kompetensi dan model pendidikan. Pada model kompetensi, perawat
terdaftar (registered nurse) diberi tugas berdasarkan tanggung jawab
dan struktur peran yang sesuai dengan kemampuannya. Pada model
pendidikan, penetapan tugas keperawatan didasarkan pada tingkat
pendidikan. Bedasarkan pendidikan, perawat akan ditetapkan apa
yang menjadi tnggung jawab setiap perawat dan bagaimana hubungan
antar tenaga tersebut diatur (Sitorus, 2006)
MANAJEMEN KASUS
Manajemen kasus merupakan system pemberian asuhan kesehatan secara
multi disiplin yang bertujuan meningkatkan pemanfaatan fungsi berbagai anggota
tim kesehatan dan sumber-sumber yang ada sehingga dapat dicapai hasil akhir
asuhan kesehatan yang optimal. ANA dalam Marquis dan Hutson (2000)
mengatakan bahwa manajemen kasus merupakan proses pemberian asuhan
kesehatan yang bertujuan mengurangi fragmentasi, meningkatkan kualitas hidup,
dan efisiensi pembiayaan. Focus pertama manajemen kasus adalah integrasi,
koordinasi dan advokasi klien, keluarga serta masyarakat yang memerlukan
pelayanan yang ektensif. Metode manajemen kasus meliputi beberapa elemen
utama yaitu, pendekatan berfokus pada klien, koordinasi asuhan dan pelayanan
antar institusi, berorientasi pada hasil, efisiensi sumber dan kolaborasi (Sitorus,
2006).
TINGKATAN MPKP
MPKP Pemula
Pada tingkat ini kategori kategori pendidikannya PP masih DIII dan
diharapkan nantinya PP mempunyai kemampuan sebagai Skep/Ners
melalui kesempatan peningkatan pendidikan. Praktik keperawatann
pada tingkat ini diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan
profesional tingkat pemula dengan metode asuhan pemberian asuhan
keperawatan modifikasi keperawatan primer. Ketenagaan pada tingkat
ini jumlah harus sesuai kebutuhan, Skep/Ners (1:25-30klien), DIII
Keperawatan sebagai perawat primer pemula. SPK/DIII Keperawatan
sebagai PA. Dokumentasi keperawatan mengacu standar rencana
perawatan masalah aktual.
TINGKATAN MPKP
MPKP tingkat I
MPKP tingkat I, PP adalah Skep/Ners, agar PP dapat memberikan
asuhan keperawatan berdasarkan ilmu dan teknologi diperlukan
kemampuan seorang ners spesialis yang akan berperan sebagai clinical
care manager. Praktik keperawatan pada tingkat ini diharapkan mampu
memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat I dengan metode
asuhan pemberi asuhan keperawatan modifikasi keperawatan primer.
Ketenagaan pada tingkat ini jumlah harus sesuai kebutuhan. Ners
spesialis sebagai CCM, Skep/Ners sebagai PP, DIII Keperawatan sebagai
PA. Dokumentasi keperawatan mengacu standar rencana perawatan
masalah aktual dan masalah risiko.
TINGKATAN MPKP
MPKP tingkat II
Praktik keperawatan pada tingkat ini diharapkan mampu memberikan
modifikasi keperawatan primer/asuhan keperawatan profesional tingkat
II. Metode pemberi asuhan keperawatan adalah manajemen kasus dan
keperawatan. Jumlah ketenagaan sesuai kebutuhan, Ners:PP (1:1). Ners
spesialis sebagai CCM, Skep/Ners sebagai PP, DIII Keperawatan sebagai
PA. Dokumentasi menggunakan clinical pathway dan standar rencana
keperawatan. Pada MPKP tingkat II dibutuhkan minimal 1 orang CCM
dengan kemampuan ners spesialis.
TINGKATAN MPKP
MPKP tingkat III
Praktik keperawatan pada tingkat ini diharapkan mampu memberikan
modifikasi keperawatan primer/asuhan keperawatan profesional tingkat III.
Metode pemberi asuhan keperawatan adalah manajemen kasus. Jumlah
tenaga sesuai kebutuhan, doktor keperawatan klinik sebagai konsultan, Ners:PP
(1:1). Ners spesialis sebagai CCM, Skep/Ners sebagai PP, DIII Keperawatan
sebagai PA. Dokumentasi menggunakan clinical pathway dan standar rencana
keperawatan. Pada MPKP tingkat III, perawat dengan kemampuan sebagai
ners spesialis ditingkatkan menjadi doktor keperawatan, sehingga diharapkan
perawat lebih banyak melakukan penelitian keperawatan yang dapat
meningkatkan mutu asuhan keperawatan sekaligus mengembangkan ilmu
keperawatan.