Anda di halaman 1dari 26

Budidaya Ganyong

(Canna edulis Ker.)


Nini Rahmawati
nini@usu.ac.id
Klasifikasi Ganyong

 Divisi : Spermatophyta
 Subdivisi : Angiospermae
 Kelas : Monocotyledoneae
 Ordo : Zingiberales
 Famili : Cannaceae
 Genus : Canna
 Spesies : Canna edulis Ker.
C. edulis umum
dikenal dengan nama
ganyong. Selain
disebut ganyong,
tanaman ini memiliki
beberapa nama
daerah yaitu ubi pikul
(Sumatra Utara),
ganyong (Sunda),
senitra (Jawa), banyur
(Madura)
 Ganyong (Canna edulis Ker.) merupakan
tanaman herba yang berasal dari Amerika
Selatan.
 Rimpang ganyong bila sudah dewasa dapat
dimakan dengan mengolahnya terlebih
dahulu, atau untuk diambil patinya sebagai
bahan baku tepung sebagai alternatif
pengganti terigu
 Ganyong cukup berpotensi sebagai sumber
hidrat arang. Persatuan Ahli Gizi Indonesia
(2009) menyebutkan bahwa kandungan gizi
ganyong tiap 100 gram secara lengkap terdiri
dari air 79,9 g; energi 77 kkal; protein 0,6 g;
lemak 0,2 g; karbohidrat 18,4 g; serat 0,8 g;
abu 0,9 g; kalsium 15 mg; fosfor 67 mg; besi
1,0 mg; vitamin C 9 mg; dan tiamin 0,10 mg.
 Kandungan pati dan gula
yang cukup tinggi pada
rimpang ganyong
memiliki potensi sebagai
bahan bioetanol
 Selain itu, tanaman ini
mudah tumbuh, toleran
pada naungan, dan
punya potensi yang
cukup tinggi untuk
dibudidayakan
Kegunaan Ganyong
• Pati ganyong ini dapat digunakan
dalam pembuatan berbagai jenis
makanan, soun, lem, dll.
• Kegunaan lainnya adalah : (a)
tanaman muda dimakan sebagai
sayuran hijau; (b) daunnya
digunakan pembungkus atau alas
makan; (c) daun dan umbinya bisa
digunakan sebagai pakan ternak
(sapi); (d) tanaman dan bunganya
dapat dijadikan sebagai tanaman
hias; (e) bijinya yang hitam dan
berkulit keras digunakan sebagai
kalung atau tasbeh; dan (f)
sebagai tanaman obat.
Deskripsi Ganyong


 Ganyong merupakan terna berimpang, tegak,
berbatang yang rapuh dan tidak tahan
terhadap serangan angin.
 Pada daerah berangin kuat, tanaman ini
sangat memerlukan lajurlajur pelindung
untuk mempertahankan hidupnya.
 Rimpang bercabang horizontal, panjangnya
dapat mencapai 60 cm, dengan buku-buku
yang berdaging menyerupai umbi, tertutup
dengan sisik daun, dan serabut akar yang
tebal (Flach dan Rumawas, 1996).
 Batang berdaging, muncul dari
rimpang, seringkali berwarna ungu.
 Tanaman ganyong berdaun lebar
dengan bentuk elips memanjang dan
bagian pangkal dan ujung runcing.
Panjang daun 40 - 70 cm, sedangkan
lebarnya 20 - 40 cm. Warna daun
beragam dari hijau muda sampai hijau
tua. Kadang-kadang bergaris ungu
atau keseluruhannya ungu. Demikian
juga dengan pelepahnya ada yang
berwarna ungu dan hijau
 Perbungaan di ujung ranting,
tandan, biasanya sederhana
tetapi kadang-kadang bercabang,
muncul tunggal atau
berpasangan, tidak teratur,
bunga biseksual.
 Kelopak bulat telur, mahkota
berbentuk pita, berwarna merah
pucat sampai kuning, bibir bunga
lonjong - bulat telur sempit,
berbintik kuning dengan merah
 Buah kotak kerapkali tidak
tumbuh sempurna, bulat
memanjang lebar, panjang
kurang lebih 3 cm, tertutup
papila. Biji 5 atau kurang per
ruangnya
Kultivar Ganyong
 Di Indonesia dikenal dua macam
ganyong, yaitu ganyong merah
dan ganyong putih.
 Ganyong merah ditandai dengan
warna batang, daun dan pelepah
yang berwarna merah atau ungu.
 Ganyong merah memiliki batang
lebih besar, agak tahan terkena
sinar matahari dan tahan
kekeringan.
 Biji yang dihasilkan biasanya sulit
berkecambah, hasil umbi basah
lebih besar tapi kadar patinya
rendah.
 Rimpang biasanya dimakan segar
atau direbus.
• Sedang yang warna batang,
daun dan pelepahnya hijau dan
sisik umbinya kecoklatan adalah
ganyong putih
• Ganyong putih lebih kecil dan
pendek, kurang tahan kena
sinar tetapi tahan kekeringan.
• Menghasilkan biji yang bisa
diperbanyak menjadi anakan
tanaman.
• Hasil rimpang basah lebih kecil,
tapi kadar patinya tinggi, umum
diambil patinya
SENTRA PRODUKSI

• Tanaman ini dibudidayakan di berbagai daerah di


Indonesia yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I.
Yogyakarta, Jambi, Lampung dan Jawa Barat.
• Sedangkan di Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Selatan,
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah
dan Maluku, tanaman ini belum dibudidayakan dan masih
merupakan tumbuhan liar di pekarangan dan di pinggir-
pinggir hutan.
Syarat Tumbuh

 Pertumbuhan ganyong di daerah tropis sangat baik sekali.


 Di daerah yang sangat dingin tanaman ini juga dapat hidup, tetapi
proses pembentukan umbi untuk menuju dewasa cukup lama
 Pertumbuhan normal terjadi pada suhu di atas 10°C, tetapi juga
dapat hidup pada suhu tinggi (30-32°C) dan bertoleransi pada
kondisi sedikit beku
 Tanaman ganyong memerlukan curah hujan yang sedang sedang
saja, curah hujan tahunannya hanya 112 cm, tanaman mampu
tumbuh dengan baik dan hasilnya sangat memuaskan
 Embun yang terlalu banyak sering mengakibatkan kelainan pada
pertumbuhan daun dan merusak perkembangan umbinya
O Ganyong tumbuh mulai dari pantai sampai
pada ketinggian 1000-2900 m dpl.
O Tumbuh dengan subur pada banyak tipe
tanah, termasuk daerah-daerah marginal
(misalnya tanah latosol asam); tetapi lebih
menyukai tanah liat berpasir dalam, kaya
akan humus serta bertoleransi pada
kisaran pH 4.5-8.0
Budidaya Ganyong
Persiapan Lahan
 Lahan dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma

 Tanah dicangkul dan diratakan. penggemburan tanah bisa

membuat umbi ganyong leluasa berkembang, sehingga


akan diperoleh umbi yang berukuran lebih besar.
 Pada tanah liat berat sebaiknya dibuat guludan agar

drainasenya bisa sempurna. Sedang pada jenis tanah


yang lain, tanah cukup dibuat bedengan.
 Lebar bedengan 120 cm dan panjangnya tidak dibatasi.

 Tinggi bedengan 25-30 cm dan jarak antar bedengan 30-

50 cm
• Pada saat meratakan tanah dapat diberikan pupuk dasar
berupa kandang atau kompos sebanyak 25 sampai 30 ton
tiap hektar
• Penanaman ganyong biasanya dilakukan saat awal musim
hujan, yaitu antara bulan Oktober sampai Desember.
• Jarak tanam 75 x 75 cm, 100 x 75 cm, 90 x 90 cm, 100 x
135 cm tergantung kesuburan tanah.
• Pada tanah liat dianjurkan menggunakan jarak tanam 90 x
90 cm
Persiapan Bibit
 Tanaman ganyong dapat
diperbanyak secara generatif
dan vegetatif.
 Secara generatif yaitu dengan
menggunakan bijinya, namun
sangat jarang dilakukan petani
kecuali oleh peneliti, dimana
jumlah bijinya relatif sedikit dan
umur lebih lama.
 Perbanyakan yang dilakukan
petani adalah dengan vegetatif
yang menggunakan umbi
berukuran sedang dengan
tunas 1-2 buah.
• Umbi yang masih muda digunakan untuk perbanyakan
vegetatif, bukan yang bagian coklat tua.
• Umbi mempunyai paling sedikit dua mata yang sehat
• Bibit diambil dari rumpun induk yang cukup tua 10-15 bulan;
tumbuh
• sehat, subur, normal dan telah membentuk akar tongkat
(bongkol).
• Kebutuhan bibit per hektarnya + 2 ton. Untuk mencegah
kerusakan bibit akibat penyakit busuk umbi sebelum ditanam
dapat dilakukan pencelupan bibit pada larutan CuSO4 10 %.
PENANAMAN

 Tanamkan bibit satu persatu


kedalam lubang tanam
dengan arah tunas
menghadap ke atas.
 Tutup (timbun) bibit dengan
tanah setebal 12,5 cm
sambil merapikan guludan.
 Ganyong juga dapat ditanam
di pot
PEMELIHARAAN
• Penyiangan : Dilakukan sebulan sekali tergantung keadaan
gulma.
• Penggemburan tanah dan pengguludan : bertujuan untuk
memudahkan pembentukan tunas-tunas baru dan umbi
secara produktif.
• Penggemburan dan pembumbunan dilaksanakan bersama
penyiangan. Pembumbunan dapat dimulai pada saat ganyong
berumur 2- 2,5 bulan.
• Pemupukan : dilakukan hanya 1 kali pada umur 1-3 bulan
setelah tanam.
• Jenis pupuk yang diberikan Urea 100 kg/ha, SP 36 100 kg/ha
dan KCl 50 kg/ha.
• Cara pemupukan menabur pupuk dalam larikan sedalam 10-
15 cm kemudian ditutup dengan tanah.
Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama
 Ulat Daun dan Belalang : Serangan ulat
daun dan belalang menyebabkan daun
rusak, bolong-bolong tidak teratur.
 Kutu Daun : Menyerang dengan mengisap
cairan tanaman, terutama pucuk daun atau
daun-daun muda. Serangan kutu daun
menyebabkan daun atau pucuk kerdil
 Cara pengendalian untuk serangan hama
dengan cara mekanis yaitu memangkas
bagian tanaman yang terserang berat
 Karat Daun : Gejala serangan permukaan daun
sebelah atas berbintik-bintik merah atau kecoklatan
seperti karat, terjadi pada daun-daun tua. Pengendalian
untuk serangan ringan dengan cara mekanis
memangkas bagian tanaman, serangan berat dengan
memusnahkan tanaman.
 Layu Sclerotium : Gejala pangkal batang dekat
permukaan tanah layu dan busuk kadang-kadang
akhirnya tanaman mati. Pengendalian dengan sanitasi
kebun, perbaikan drainase dan pemangkasan tanaman
yang terserang berat atau pencabutan
 Bercak Daun : Menyerang daun-daun tua, daun
bercak-bercak kuning atau coklat sampai kehitam-
hitaman tidak teratur dan pada serangan berat daun
menjadi kering. Pengendalian dengan cara sanitasi
kebun, penjarangan anakan dan memangkas tanaman
yang terserang berat.
PANEN DAN PASCAPANEN

 Tanaman ganyong dapat dipanen sesuai


dengan tujuan penggunaan hasil.
 Sebagai camilan misalnya ubi rebus atau ubi
kukus, panen pada umur 6-10 bulan setelah
tanam.
 Sebagai bahan baku pembuatan pati atau
tepung dipanen pada umur 15-18 bulan.
 Hasil umbi bervariasi dari 23 ton per hektar
pada 4 bulan menjadi 45-50 ton per hektar
pada 8 bulan, atau 85 ton per hektar setelah
setahun.
 Tepung yang dihasilkan adalah 4-10 ton per
hektar.
 Umbi segar yang baru dipanen harus ditangani
secara hati-hati.
 Bila akan dikonsumsi, harus dilakukan segera
setelah panen.
 Bila dibiarkan lebih dari 10 bulan umbi ganyong
akan menjadi keras, kurang dapat dikonsumsi ,
dan tepung yang dihasilkannya sangat rendah.
 Umbi yang sudah bersih dapat disimpan
beberapa minggu pada kondisi sejuk dan kering.
 Untuk produksi tepung komersial, umbi
diproses segera setelah panen.
 Untuk memperoleh patinya, umbi diparut,
ditambahkan air, dan bubur patinya disaring,
dipisahkan melalui pengendapan dan
selanjutnya dikeringkan.