Anda di halaman 1dari 41

GAMBARAN

RADIOLOGI
KELAIN AN
K O N G ENI TAL
UTERUS

E N G G A R Y U S R IN A H A S Y Y A T I
2 0 1 3 1 0 4 0 1 0 1 1 0 2 2
LATAR BELAKANG

Pada populasi umum, angka kejadian anomali uterine

i diperkirakan 2-3%. Sedangkan 25% wanita dengan


abnormalitas kongenital uterus mengalami berbag ai kesulitan
untuk hamil (Harry, K Gondo. 2012).


Beberapa gejala yang disebabkan oleh anomali uterus ialah :

ii dysmenorrhea, metrorhargia, aborsi berulang, dan infertil


( Kurjak,Asim. 2011)


Penegakan diagnosis kelainan kongenital uterus bisa dengan

iii menggunakan USG, histerosalpingografi (HSG) dan MRI


(Rasad, Sjahriar. 2016).
LATAR BELAKANG

Pada populasi umum, angka kejadian anomali uterine

i diperkirakan 2-3%. Sedangkan 25% wanita dengan


abnormalitas kongenital uterus mengalami berbag ai kesulitan
untuk hamil (Harry, K Gondo. 2012).


Beberapa gejala yang disebabkan oleh anomali uterus ialah :

ii dysmenorrhea, metrorhargia, aborsi berulang, dan infertil


( Kurjak,Asim. 2011)


Penegakan diagnosis kelainan kongenital uterus bisa dengan

iii menggunakan USG, histerosalpingografi (HSG) dan MRI


(Rasad, Sjahriar. 2016).
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI UTERUS
• Uterus berbentuk seperti buah pir yang sedikit
gepeng ke arah depan belakang.
• Ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai
rongga.
• Uterus fisiologisnya ialah anterversiofleksio.
• Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu: fundus uteri,
corpus uteri dan seviks uteri yang berbentuk
silinder.
• Dinding belakang, dinding depan dan bagian atas
tertutup peritoneum sedangkan bagian bawahnya
berhubungan dengan kandung kemih
• Uterus terbentuk oleh penyatuan dua duktus mulleri pada sekitar minggu
kesepuluh.
• Fusi dimulai di tengah dan kemudian meluas ke arah kaudal dan sefal.
• Uterus kemudian mengambil bentuknya yang khas, dengan proliferasi sel di bagian
atas dan disolusi secara bersamaan sel-sel di kutub bawah sehingga terbentuk
rongga uterus pertama.
• Rongga ini terbentuk di kutub bawah, sementara jaringan tebal berbentuk baji
terletak diatasnya, yaitu septum.
• Seiring dengan resorpsi septum secara perlahan, terbentuklah rongga uterus yang
biasanya selesai pada minggu ke-20.
• Kegagalan penyatuan kedua duktus mulleri menyebabkan kornu uterus yang
terpisah, sementara kegagalan kavitas antara keduanya menyebabkan
PEMBENTUKAN UTERUS DARI DUKTUS MULLERI
KLASIFIKASI KELAINAN KONGENITAL
UTERUS

Menurut AFS klasifikasi abnormalitas kongenital uterus terdapat 7 class,
antara lain :
o Class I : Hipoplasi uterus atau agenesis
o Class II : Unicornuate
o Class III : Didelphys Uterus
o Class IV : Bicornuate uterus
o Class V : Septate Uterus
o Class VI : Arcuate uterus
o Class VII : DES (Dietilstilbestrol)
CL ASS I : HIPOPL ASI UTERUS ATAU AGENESIS

Definisi : results from complete, or almost complete, arrest of development of both
mullerian ducts
Sindroma Mayer Rokitansky Kuster Hauser (Sindroma MRKH), MRKH
merupakan sindroma tidak terbentuknya vagina, uterus dan saluran telur (tuba)
yang berasal dari ductus Muller, genitalia eksterna, ciri kelamin sekunder dan
sitogenetik normal wanita.
Pada sindroma MRKH penderita biasanya mengeluh tidak menstruasi (amenore
primer), gangguan hubungan seksual dan infertilitas

Gejala klinik :
amenorrhea primer dengan level hormonal normal yang ditandai dengan fungsi
gonad masih baik
GAMBARAN USG
CLASS I : AGENESIS UTERUS

USG of agenesis utery.


Very reduced volume of uterus
GAMBARAN MRI
CLASS I : AGENESIS UTERUS

Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome.
(a) Sagittal T2-weighted M R image shows complete absence of the cervix and uterus
with an abnormally truncated vagina ending in a blind pouch (arrowhead) between the
rectum (r) and urinary bladder (b).
(b) Axial T2-weighted image shows the presence of normal ovaries (*)
GAMBARAN MRI UTERUS NORMAL

Potongan Sagittal
GAMBARAN MRI
AGENESIS /HIPOPL ASI UTERUS

Young teen presenting with amennorhea. Complete


absence of uterus and upper two thirds of vagina. Sagittal T2.
(Radiopaedia)
CL ASS II : UNICORNUATE UTERUS

Definisi : Unicornuate uterus (results from complete, or almost
complete, arrest of development of both mullerian ducts)

Epidemiologi : kelainan ini terjadi sekitar 20 % dari kelainan
kongenital duktus mulleri. ( Weerakody, Yuranga. 2015)
•Etiologi : kelainan ini disebabkan oleh perkembangan duktus
paramesonephric yang terhambat atau tidak terjadi
perkembangan dari duktus paramesonephric ( Weerakody,
Yuranga. 2015)

Manifestasi Klinik : (Cunningham, 2014)
1. Peningkatan insiden abortus spontan
2. Persalinan kurang bulan, presentasi bokong
3. Kematian janin intrauterus (IUFD)
GAMBARAN RADIOLOGI
CLASS II : UNICORNUATE UTERUS

(Bermejo, Carmina.2009)
GAMBARAN HSG
CLAS S II : UNICORNUATE UTERUS

Gambaran HSG uterus normal


Textbook of radiolo and imain (Sutton
Axial T2-weighted MR image shows a single Coronal T2-weighted M R image shows
uterine horn (*) and cervix (arrowhead) absence of soft tissue adjacent to the
right unicornuate cervix (arrowhead), a
finding indicating absence of a
rudimentary horn
CLA SS III : DIDELPHYS UTERUS

Definisi : Uterus didelfis merupakan anomali kongenital yang jarang, terdiri dari uterus normal yang terpisah
dengan ukuran normal uterus dan kanalis endoservikal yang normal, sedangkan serviknya menyatu pada segmen
bawah uterus
• Epidemiologi : ( Weerakody,Yuranga. 2015) : Uterus didelfis pada wanita infertil sebanyak 16%

Etiologi:(Weerakody,Yuranga.2015)
Kegagalan penyatuan yang terjadi pada kehamilan minggu ke 12 dan miggu ke16, yang dikarakteristikkan oleh 2
cabang uterus yang berbeda dan dua serviks. Proses saat segmen bawah sepasang duktus mullerian membentuk
uterus, serviks, dan vagina bagian atas disebut fusi lateral. Kegagalan penyatuan yang menyebabkan anomali seperti
uterus didelfis.

Manifestasi Klinik : (Cunningham, 2014)
1. Keguguran berulang yang diakibatkan volume uterus yang berkurang dan berhubungan dengan inkompten
serviks.
2. Aborsi spontan
3. Kelahiran prematur
4. Perdarahan post partum
5. IUGR
GAMBARAN USG
CLASS III : DIDELPHYS UTERUS

Didelphic Uterus.
A : Sagittal right. B : Sagittal left views of the uterus show that the two horns are
completely
GAMBARAN HSG DAN MRI
CLASS III : DIDELPHYS UTERUS
T2W coronal image of uterine showing two
separate cervices with longitudinal septum in
between the vagina

Coronal T2-weighted image of a uterus


didelphys, obtained in plane with the
uterus, shows two widely divergent uterine
horns (arrows) separated by a deep fundal
cleft. Two separate cervices are present
HEMATOMETROCOLPOS

Hubungan spesifik antara uterus didelfis, hematokolpos unilateral dan agenesis renal ipsilateral telah
digambarkan

Hematometrocolpos (Ahuja, T. 2007 : 9)

Sinonim dari hematomerocolpos ialah hematometra (HM) , Hematocolpos (HC), Mullerian Duct
Anomalies, cloacal malformation.

Definisi
-HM : distensi dari cavum uterus akibat produksi darah
- hematometrocolpos : distensi dari uterus dan vagina akibat terisi darah
-MDA : malformasi uterus akibat abnormalitas fusi Mullerian Duktus (unicornuate, bicornuate, didelphys
uterus ± cervical/vaginal malformasi)

Manifestasi klinik : (Cunningham, 2014)
1. Biasanya muncul pada usia pubertas berhubungan dengan MDA
2. Muncul terlambat bila berhubungan dengan kanker servix

Grayscale Ultrasound terdapat massa berasal dari cavum pelvis
1. Hematometra muncul seperti dinding tebal mengarah myometrium
2. Hematocolpos di bagian bawah pelvis dan dinding lebih tipis dibandingkan HM
CLA SS IV : BICORN UATE UTERUS

Definisi : Bicornuate uterus (Weerakody,Yuranga. 2015)
(results from partial nonfusion of both mullerian ducts, leading to paired uterine horns that fuse par t-way
down the uterine body above the cervix.The external contour of the uterine fundus is concave, unlike the
normal convex shape).

Epidemiologi : (Morgan, Matt. 2014)
Kelainan ini mencapai 10-39% dari seluruh kelainan abnormalitas duktus muleri

Etiologi : ( Weerakody, Yuranga. 2015)
Kelainan ini terjadi akibat perkembangan duktus paramesonefrik yang abnormal

Manifestasi Klinik : (Cunningham, 2014)
1. Angka keguguran besar akibat banyaknya jaringan otot di septum
2. Implantasi plasenta lateral
3. Persalinan kurang bulan
4. Kelainan letak janin
GAMBARAN USG
CLAS S IV : BICORNUATE UTERUS

Gambar 2.27 Bicornuate uterus. Transverse view of the


uterus demonstrates that there are not only two distinct
endometria (E), but that the right horn (arrowheads)and left
horn (rows) are completely separate from one another,
indicating that is either a bicornuate or a didelphic uterus
not a septate uteris. Subsequent hysteroscopy showed it to be
GAMBARAN HSG DAN MRI
CLAS S IV : BICORNUATE UTERUS

Axial C+ portal venous phase


Two uterine horns of a bicornuate uterus
CL ASS V : SE PTATE UTERU S

Definisi : Septate Uterus (results from failure of resorption of the septum betweem the two mullerian
ducts. The septum can be complete, septate uterus, subseptate uterus. (Carol b.benson .2012 )

Kondisi ini merupakan kondisi di mana bagian dalam rahim wanita dibagi oleh dinding otot atau
jaringan ikat fibrosa (septum). Septum bahkan dapat memanjang hingga ke dalam rahim (septum
parsial) atau serviks (septum lengkap).

Epidemiologi : ( Weerakody,Yuranga. 2015)
Kelainan ini merupakan kelainan uterus congenital terbanyak diantara kelainan kongenital uterus akibat
duktus muller, angka kejadiannya ialah 55% dari seluruh MDA.

Etiologi : ( Weerakody,Yuranga. 2015)
Diperkirakan penyebab kelainan ini ialah duplikasi dari uterus yang abnormal, merupakan hasil dari
resorpsion septum uterovaginal sebagian setelah fusi dari duktus paramesonefrik. Septum pada
kelainan ini biasanya berbentuk fibrous.

Manifestasi Klinik : (Cunningham, 2014)
1. Angka keguguran tinggi
2. Implantasi abnormal
3. Persalinan kurang bulan
4. Kelainan letak janin
GAMBARAN USG
CLAS S V : SEPTATE UTERUS

Gambar 2.32 Septate Uterus True coronal view of the uterus, obtained by reconstruction from 3D ultrasound,
shows that the two endometria are separated by a septum (S) that is continous with the myometrium,
indicating a septate uterus.The fundus had a normal convex external contour (arrowheads). ( atlas of
ultrasound in obstetrics and gynecology, second edition peter m.doubilet , carol b.benson .2012 )
GAMBARAN HSG DAN MRI
CLAS S V : SEPTATE UTERUS
CLA SS VI : ARCUATE UTERUS

Definisi :Arcuate uterus (uterus configuration in which the inner por tion of the fundus dips into the
uterine cavity .The uterine fundus has a normal convex shape externally) (Weerakody,Yuranga.
2015). Resorbsi hampir lengkap septum uterovaginal mungkin masih meninggalkan tonjolan di
kavum uteri. Kelainan ini merupakan kelainan yang hampir sama dengan uterus normal.
Perbedaan terletak pada penjorokan fundus cavum endometrium, kedalaman kurang dari 1cm.
Penegakan diagnosis menggunakan USG, HSG atau MRI (Prawirohardjo, Sarwono.2010 : 758)

Epidemiologi : ( Weerakody,Yuranga. 2015)
Kelainan ini ada pada 3,9% populasi umum

Etiologi : ( Weerakody,Yuranga. 2015)
Kelainan ini terjadi akibat dari kegagalan resorpsion dari septum uterovaginal.
GAMBARAN USG
CLAS S VI : ARCUATE UTERUS

2.39 1A: Sagittal 2D ultrasound image of an arcuate


uterus; B: Coronal 3D ultrasound image of an arcuate
uterus with a smooth external contour and internal
ind entatio n ≥ 1 c m b u t ≤ 1 .5 c m. 3 D : T h r e e - • Arcuate Uterus True coronal view of the uterus, obtained by
dimensional; 2D: Two-dimensional reconstruction from 3D ultrasound, demonstrate that the
myometrium (M) in the uterine fundus dips down with a
rounded configuration(arrow) into the endometrium,
indicating an arcuate uterus.The fundus had a normal convex
GAMBARAN HSG DAN MRI
CLAS S VI : ARCUATE UTERUS
CLASS VII : DES UTERUS

Definisi :

DES merupakan estrogen sintetik oral untuk mencegah kehamilan berulang, persalinan prematur dan
komplikasi lain pada kehamilan. Kelainan uterus sering pada janin dengan DES.. Perempuan dengan
DES yang didapat selama kandungan memiliki predisposisi terjadinya cervical incompetence.
Sedangkan menurut (Cunningham, 2014) , DES ialah suatu variasi rongga uterus yang lebih kecil,
segmen atas uterus lebih pendek, dan rongga berbentuk T dan ireguler.

Epidemiologi : Kelainan yang paling sering dijumpai ialah bentuk T kavum uteri (70%), uterus yang
kecil, ring konstriksi, dan tidak terbentuknya kavum uteri, 44% dengan perubahan pada struktur
serviks pseudopolips

Etiologi : ( Weerakody,Yuranga. 2015)
Estrogen non-steroid sintetik yang membentuk adenokarsinoma cell

Manifestasi Klinik : (Cunningham, 2014)
1. Keguguran
2. Kehamilan ektopik
3. Persalinan kurang bulan
4. Ruptur uterus spontan
GAMBARAN RADIOLOGI
CLASS VII : DES UTERUS

Hipoplastic T-shaped uterus


KESIMPULAN


Kelainan uterus kongenital terjadi pada 1-3% wanita dengan riwayat kehilangan kehamilan berulang
dan riwayat reproduksi jelek.

Kelainan kongenital uterus menurut AFS, klasifikasi abnormalitas kongenital uterus terdapat 7 class,
antara lain Class I : Hipoplasi uterus atau agenesis, Class II : Unicornuate, Class III: Didelphys Uterus,
Class IV : Bicornuate uterus, Class V: Septate Uterus, dan Class VI :Arcuate uterus dan Class VII : DES
(Dietilstilbestrol)

Kelainan kongenital uterus terbanyak ialah Uterus Septus (55%)

Gejala klinis yang biasanya terjadi pada kelainan kongenital uterus ialah kehilangan kehamilan
berulang, kelainan haid menetap, atau infertilitas

Penegakkan diagnosis kelainan kongenital uterus dapat dengan pemeriksaan ginekologi, USG, HSG
maupun MRI
GAMBARAN RADIOLOGI
CL ASS I : AGENESIS UTERUS
GAMBARAN RADIOLOGI
CLASS II : UNICORNUATE UTERUS
GAMBARAN RADIOLOGI
CLASS III : DIDELPHYS UTERUS
GAMBARAN RADIOLOGI
CL ASS IV : BICORNUATE UTERUS
GAMBARAN RADIOLOGI
CL ASS V : SEPTATE UTERUS
GAMBARAN RADIOLOGI
CLA SS VI : ARCUATE UTERUS
GAMBARAN RADIOLOGI
CLASS VII : DES UTERUS

Hipoplastic T-shaped uterus


D A F TA R P U S TA K A

Ahuja, T. 2007. Diagnostik Imaging Ultrasound, pp. 9-22 chapter 9. Canada : Elsevier.

Benson, Carol. 2012. Atlas of ultrasound in obstetrics and gynecology, pp 363-367. Second edition. Philadelphia : Wolters
Kluwer.

Bermejo, Carmina. 2009. Three-dimensional USG in the Diagnosis of Mullerian Duct Anomalies. Donald School Journal of
Ultrasound in Obstetrics and Gynecology, vol. 3, pp.21-30.

Caserta, Donatella. 2014. Pregnancy in a unicornuate uterus. Journal of Medical Case Report.
Creasy,K. 2014. Maternal-Fetal Medicine Principle and Practice. 7th edition. Philadelphia : Elsevier Inc.

Cunha, Adilson. 2007.Three-dimensional ultrasound in gynecology : uterine malformations. Radiol Bras vol.40 no.2 São Paulo Mar.

F. Paulsen et J.Waschke. 2012.Atlas Anatomi Manusia Sobotta Jilid 1 Edisi 23. Jakarta : EGC

Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Penerjemah: Irawati, Ramadani D, Indriyani F. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 2006

Harry, K Gondo. 2012. Ultrasonografi : Buku Ajar Obstetri Ginekologi, hal 409 -411. Jakarta : EGC

Kurjak, Asim. 1986 . Atlas of ultrasonography in obstetrics and gynecology pp.245-247. Yugoslavia : Mladost