Anda di halaman 1dari 14

Pancasila dalam Kajian Bangsa Indonesia

Sebelum Kemerdekaan, Masa Kemerdekaan,


Orde Baru, dan Reformasi

Eka Ferranika Islamiyah


(14.0102.0053)
14 Akuntansi A
Pancasila

Sebelum Masa
Orde lama Orde Baru Reformasi
Kemerdekaan kemerdekaan
Pancasila Dalam Kajian Bangsa Indonesia
Pancasila berarti lima dasar negara yang telah
dikenal sejak zaman majapahit abad XIV didalam buku
Nagarakartagama karangan Prapanca dan buku
Sutasoma karangan tantular.
Pancasila sebagai dasar negara dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang telah diterima secara
luas dan telah bersifat final. Arus sejarah
memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa
memerlukan konsepsi dan cita-cita.
Sebelum Kemerdekaan
Jepang menjanjikan Kemerdekaan untuk
Bangsa Indonesia maka dibentuklah Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI) dilantik pada tanggal 28 Mei 1945 oleh
Gunseikan (Kepala Pemerintahan bala tentara Jepang
di Jawa).
Susunan sebagai berikut:
Ketua :Dr. KRT.Radjiman Wedyodiningrat
Ketua muda :Ichibangase Yosio (anggota luar
biasa bangsa Jepang)
Ketua Muda :R. Panji Soeroso (merangkap Tata
Usaha)
Jumlah anggotanya berjumlah 60 orang tidak
termasuk ketua dan ketua muda.
Sidang Pertama BPUPKI
Sidang pertama BPUPKI yang dilaksanakan dari tanggal
29 Mei–1 juni 1945. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr.Muhammad
Yamin mengusulkan calon rumusan dasar Negara Indonesia
sebagai berikut:
1. Peri kebangsaan.
2. Peri kemanusiaan.
3. Peri ketuhanan.
4. Peri kerakyatan
5. Peri kesejahteraan rakyat
Pada tanggal 30 Mei 1945 prof. Dr. Soepomo
mengemukakan teori-teori Negara yaitu:
1. Paham Negara Kesatuan .
2. Perhubungan Negara dengan Agama
3. Sistem Badan Permusyawaratan .
4. Sosialisasi Negara .
5. Hubungan antar Bangsa.
Kemudian disusul oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 juni 1945
yang mengusulkan lima dasar Negara yaitu:
1. Nasionalisme (kebangsaan Indonesia)
2. Internasionalism(Perikemanusiaan)
3. Mufakat (Demokrasi)
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa ( Berkebudayaan)
Sidang Kedua BPUPKI
Sidang kedua BPUPKI yaitu pada tanggal 10 Juli sampai
dengan 17 Juli 1945. Pada tanggal 22 juni 1945 sembilan tokoh
nasional yang juga BPUPKI mengadakan pertemuan untuk membahas
usulan-usulan tersebut kemudian menghasilkan piagam jakarta yang
didalamnya terdapat perumusan dan sistematika pancasila sebagai
berikut:
1.Ketuhanan dengan keawajiban menjalankan syariat islam bagi
pemeluk pemeluknya
2.Kemanusiaan yang adil dan beradap.
3.Persatuan Indonesia.
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
Masa Kemerdekaan
Sehari setelah bom atom dijatuhkan oleh Amerika
Serikat di kota Hirosima, BPUPKI berganti nama menjadi
PPKI. Bom atom yang kedua di jatuhkan di Nagazaki yang
membuat jepang menyerah. Peristiwa inipun dimanfaatkan
oleh indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 melalui perundingan antar
golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks
proklamasi. Isi Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17
Agustus 1945 sesuai dengan semangat yang tertuang dalam
Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagam ini berisi
garis-garis pemberontakan melawan imperialisme-
kapitalisme dan fasisme serta memuat dasar pembentukan
Negara Republik Indonesia.
Piagam Jakarta ini kemudian disahkan oleh sidang PPKI
pada tanggal 18 Agustus 1945 menjadi pembentukan UUD 1945,
setelah dihapus 7 (tujuh) kata dari kalimat “Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”,
diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Awal dekade 1950-an
muncul inisiatif dari sejumlah tokoh yang hendak melakukan
interpretasi ulang terhadap Pancasila. Saat itu muncul perbedaan
perspektif yang dikelompokkan dalam dua kubu. Pertama, beberapa
tokoh berusaha menempatkan Pancasila lebih dari sekedar
kompromi politik atau kontrak sosial. Mereka memandang Pancasila
tidak hanya kompromi politik melainkan sebuah filsafat sosial
Kedua, mereka yang menempatkan Pancasila sebagai sebuah
kompromi politik. Dasar argumentasinya adalah fakta yang muncul
dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI.
Era Orde Lama
Pada masa Orde lama, Pancasila dipahami berdasarkan
paradigma yang berkembang pada situasi dunia yang diliputi oleh
tajamnya konflik ideologi. Masa orde lama adalah masa pencarian
bentuk implementasi Pancasila terutama dalam sistem kenegaraan.
Terdapat dua pandangan besar terhadap Dasar Negara yang
berpengaruh terhadap munculnya Dekrit Presiden. Namun, kedua
usulan tersebut tidak mencapai kuorum keputusan sidang
konstituante. Kejadian ini menyebabkan Presiden Soekarno turun
tangan dengan sebuah Dekrit Presiden yang disetujui oleh kabinet
tanggal 3 Juli 1959, yang kemudian dirumuskan di Istana Bogor
pada tanggal 4 Juli 1959 dan diumumkan secara resmi oleh presiden
pada tanggal 5 Juli 1959 pukul 17.00 di depan Istana Merdeka
Dekrit Presiden tersebut berisi:
1. Pembubaran konstituante.
2. Undang-Undang Dasar 1945 kembali berlaku
3. Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
Era Orde Baru
Orde baru berkehendak ingin melaksanakan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen sebagai kritik
terhadap orde lama yang telah menyimpang dari Pancasila.
Pada Orde baru negara diambil kendali oleh soeharto. Visi
Orde Baru pada saat itu adalah untuk mewujudkan tatanan
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Tahun 1968 Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi
Presiden Nomor 12 tahun 1968 yang menjadi panduan dalam
mengucapkan Pancasila sebagai dasar negara, yaitu:
1. Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa 2. Kemanusiaan yang adil
dan beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Masa Reformasi

Reformasi Pancasila sebagai Ideologi yang dinamis dan


terbuka. Sebagai suatu paradigma reformasi, Pancasila
merupakan model atau pola berpikir yang mencoba memberikan
penjelasan atas kompleksitas realitas sebagai manusia personal
dan komunal dalam bentuk bangsa selain kesepakatan.
Pancasila sebagai dasar negara dan pancasilapun menjadi
sumber hukum yang ditetapkan dalam Ketetapan MPR Nomor
III/MPR/2000 Pasal 1 Ayat (3) yang menyebutkan, “Sumber
hukum dasar nasional adalah Pancasila sebagaimana yang tertulis
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,