Anda di halaman 1dari 32

Kurnia Ken Kirana

14.0102.0047
Akuntansi A
Pancasil Era Pra Pancasil Era
Kemerdekaan Kemerdekaan

Pancasila dalam
Era Orde Lama

Pancasila dalam Pancasila dalam


Orde Baru Era Reformasi
Pancasila Era Pra Kemerdekaan

1. Asal mula 3. Asal mula


Pancasila secara pancasila secara
budaya formal

2. Teori
nilai budaya

4. Masa 6. Masa Sidang


Pengusulan Kedua BPUPKI

5. Masa Sidang
Pertama
BPUPKI
Asal mula Pancasila secara
budaya
Sunoto (1984) melalui kajian filsafat Pancasila, menyatakan bahwa
unsur-unsur Pancasila berasal dari bangsa Indonesia sendiri.

Dengan rinci Sunoto menunjukkan fakta historis, di antaranya adalah


:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa : bahwa di Indonesia tidak pernah ada


putus-putusnya orang percaya kepada Tuhan.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab : bahwa bangsa Indonesia


terkenal ramah tamah, sopan santun, lemah lembut dengan
sesama manusia.
3. Persatuan Indonesia : bahwa bangsa Indonesia dengan ciri-

cirinya guyub rukun, bersatu, dan kekeluargaan.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/perwakilan : bahwa unsur-unsur demokrasi

sudah ada dalam masyarakat kita.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia : bahwa bangsa

Indonesia dalam menunaikan tugas hidupnya terkenal lebih

bersifat sosial dan berlaku adil terhadap sesama.


Teori nilai budaya
Bangsa Indonesia mengakui bahwa Pancasila telah ada dan
dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sejak bangsa Indonesia
itu ada. Pancasila pada masa tersebut identik dengan nilai-nilai
luhur yang dianut bangsa Indonesia sebagai nilai budaya yang
mana merupakan pedoman hidup bersama yang tidak tertulis dan
menjadi kesepakatan bersama yang diikuti secara suka rela. Nilai
budaya dengan masing-masing orientasinya akan mempengaruhi
pandangan hidup. Pandangan hidup adalah sesuatu yang dipakai
oleh masyarakat dalam menentukan nilai kehidupan.
Asal mula pancasila secara
formal
Dardji Darmodihardjo (1978: 40) menyimpulkan bahwa nilai-nilai
Pancasila telah menjiwai tonggak-tonggak sejarah nasional
Indonesia yaitu :

 Cita- cita luhur bangsa Indonesia yang diperjuangkan untuk


menjadi kenyataan;

 Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan titik


kulminasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dijiwai oleh
Pancasila;

 Pembukaan UUD 1945 merupakan uraian terperinci dari


Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945;
 Empat pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945; paham
negara persatuan, negara bertujuan mewujudkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia, negara berdasarkan kedaulatan
rakyat, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut
dasar kemanusiaan yang adil dan beradab;

 Pasal-pasal UUD 1945 merupakan uraian terperinci dari pokok-


pokok yang terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 yang
berjiwakan Pancasila;

 Maka penafsiran sila-sila pancasila harus bersumber,


berpedoman dan berdasar kepada Pembukaan dan Batang Tubuh
UUD 1945.
Secara historis rumusan- rumusan Pancasila dapat dibedakan dalam
tiga kelompok (Bakry, 1998: 20) :

• Rumusan Pancasila yang terdapat dalam sidang-sidang BPUPKI yang


merupakan tahap pengusulan sebagai dasar negara Republik Indonesia,
termasuk Piagam Jakarta.

• Rumusan Pancasila yang ditetapkan oleh PPK sebagai dasar filsafat Negara
Indonesia yang sangat erat hubungannya dengan Proklamasi Kemerdekaan.

• Beberapa rumusan dalam perubahan ketatanegaraan Indonesia selama belum


berlaku kembali rumusan Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan
UUD 1945.
Masa Pengusulan

Pada tanggal 1 Maret 1945 Jepang mengumumkan akan


dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan ini baru terbentuk pada
tanggal 29 April 1945 dengan Ketua Dr. KRT. Radjiman
Wedyodiningrat

BPUPKI mengadakan sidang dua kali. Sidang pertama pada


tanggal 29 Mei-1 Juni 1945, sedangkan sidang kedua pada tanggal
10 Juli-17 Juli 1945.
Masa Sidang Pertama BPUPKI

Sidang pertama tanggal 29 Mei 1945 M. Yamin mengemukakan


usul yang disampaikan dalam pidatonya yang berjudul Asas dan
Dasar Negara Kebangsaan Indonesia. Beliau mengusulkan dasar
negara bagi Indonesia Merdeka meliputi :

 Peri Kebangsaan

 Peri Kemanusiaan

 Peri Ketuhanan

 Peri Kerakyatan

 Kesejahteraan Rakyat
Tanggal 31 Mei 1945 Soepomo mengusulkan perihal yang pada
dasarnya bukan dasar negara merdeka, akan tetapi tentang paham
negaranya yaitu negara yang berpaham integralistik. Pemikiran
integralistik tersebut yang sesuai dengan struktur sosial Indonesia
sebagai ciptaan budaya bangsa Indonesia yaitu:

 Struktur kerohanian dengan cita-cita untuk persatuan hidup

 Persatuan kawulo gusti, persatuan dunia luar dan dunia batin,


antara mikrokosmos dan makrokosmos, antara rakyat dan
pemimpin-pemimpinnya.
Tanggal 1 juni 1945 Ir. Soekarno juga mengusulkan lima dasar
bagi negara Indonesia yang disampaikan melalui pidatonya
mengenai Dasar Indonesia merdeka, antara lain :

 Kebangsaan Indonesia

 Internasionalisme atau perikemanusiaa

 Mufakat atau demokrasi

 Kesejahteraan sosial

 Ketuhanan yang berkebudayaan


Tri-Sila

1.Dasar pertama, Kebangsaan dan perikemanusiaan (nasionalisme


dan internasionalisme) => sosio-nasionalisme.

2.Dasar kedua, demokrasi dan kesejahteraan =>osio-demokrasi.

3.Dasar yang ketiga, ketuhanan yang berkebudayaan yang


menghormati satu sama lain => ketuhanan.
Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan berhasil merumuskan
Rancangan pembukaan Hukum Dasar, yang oleh Mr. M. Yamin
dinamakan Jakarta Charter atau Piagam Jakarta. Di dalam rancangan
pembukaan alinea keempat terdapat rumusan Pancasila yang tata
urutannya tersusun secara sistematis:
• Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi
pemeluk-pemeluknya
• Kemanusiaan yang adil dan beradab
• Persatuan Indonesia
• Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
• Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Masa Sidang Kedua BPUPKI

Sidang lengkap BPUPKI pada tanggal 10 Juli 1945 menerima


hasil panitia kecil atau panitia Sembilan yang disebut dengan
piagam Jakarta. Sampai akhir sidang BPUPKI ini rumusan
Pancasila dalam sejarah perumusannya ada empat macam:

1. Rumusan pertama Pancasila adalah usul dari Muh. Yamin pada


tanggal 29 Mei 1945, yaitu usul pribadi dalam bentuk pidato.

2. Rumusan kedua Pancasila adalah usul Muh. Yamin tanggal 29


Mei 1945, yakni usul pribadi dalam bentuk tertulis,
3. Rumusan ketiga Pancasila usul bung Karno tanggal 1
Juni 1945, usul pribadi dengan nama Pancasila,
4. Rumusan keempat Pancasila dalam piagam Jakarta
tanggal 22 Juni 1945, hasil kesepakatan bersama
pertama kali.
Dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia pasca
kemerdekaan, Pancasila mengalami banyak perkembangan. Sesaat
setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, Pancasila melewati
masa-masa percobaan demokrasi. Pada waktu itu, Indonesia
masuk ke dalam era percobaan demokrasi multi-partai dengan
sistem kabinet parlementer. Pancasila pada masa ini mengalami
masa kejayaannya. Selanjutnya, pada akhir tahun 1959, Pancasila
melewati masa kelamnya dimana Presiden Soekarno menerapkan
sistem demokrasi terpimpin.
Pada masa itu, presiden dalam rangka tetap memegang kendali
politik terhadap berbagai kekuatan mencoba untuk memerankan
politik integrasi paternalistik

Kemudian, pada 1965 terjadi sebuah peristiwa bersejarah di


Indonesia dimana partai komunis berusaha melakukan
pemberontakan. Pancasila pada masa itu menjadi kaku dan
mutlak pemaknaannya. Pancasila pada masa pemerintahan
presiden Soeharto kemudia menjadi core-values (Somantri,
2006), yang pada akhirnya kembali menodai nilai-nilai dasar
yang sesungguhnya terkandung dalam Pancasila itu sendiri.
Kedudukan Pancasila sebagai idiologi Negara dan falsafah bangsa yang
pernah dikeramatkan dengan sebutan azimat revolusi bangsa, pudar untuk
pertama kalinya pada akhir dua dasa warsa setelah proklamasi
kemerdekaan.
Orde lama berlangsung dari tahun 1959-1966. Pada masa itu berlaku
demokrasi terpimpin. Setelah menetapkan berlakunya kembali UUD 1945,
Presiden Soekarno meletakkan dasar kepemimpinannya. Yang dinamakan
demokrasi terimpin yaitu demokrasi khas Indonesia yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Demokrasi
terpimpin dalam prakteknya tidak sesuai dengan makna yang terkandung
didalamnya dan bahkan terkenal menyimpang.
Di era Orde Baru, yakni stabilitas dan pembangunan, serta
merta tidak lepas dari keberadaan Pancasila. Pancasila menjadi
alat bagi pemerintah untuk semakin menancapkan kekuasaan di
Indonesia. Pancasila begitu diagung-agungkan; Pancasila begitu
gencar ditanamkan nilai dan hakikatnya kepada rakyat; dan
rakyat tidak memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang
mengganjal.
Di era Orde Baru, terdapat kebijakan Pemerintah terkait
penanaman nilai-nilai Pancasila, yaitu Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (P4).
Visi Orde Baru pada saat itu adalah untuk mewujudkan tatanan
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen

Sejalan dengan semakin dominannya kekuatan negara, nasib


Pancasila dan UUD 1945 menjadi semacam senjata bagi
pemerintahan Orde Baru dalam hal mengontrol perilaku
masyarakat.
Pada era Orde Baru sebagai era “dimanis-maniskannya”
Pancasila.

Di dalam P4, melalui Ketetapan MPR (TAP MPR) No.


II/MPR/1978 (sudah dicabut), adalah 36 butir Pancasila sebagai
ciri-ciri manusia Pancasilais.
Orde Baru mengharapkan melalui 36 butir Pancasila, yang
serta merta “wajib hukumnya” untuk dihafal

Cita-cita yang terkembang melalui P4 hanya keluar dari mulut


saja, tanpa ada pengamalan yang berarti untuk setiap butir yang
terkandung di dalamnya, meskipun tidak terjadi secara general.

Sejalan dengan semakin dominannya kekuatan negara, nasib


Pancasila dan UUD 1945 menjadi semacam senjata bagi
pemerintahan Orde Baru dalam hal mengontrol perilaku
masyarakat.
Memahami peran Pancasila di era reformasi, khususnya dalam
konteks sebagai dasar negara dan ideologi nasional, merupakan
tuntutan hakiki agar setiap warga negara Indonesia memiliki
pemahaman yang sama dan akhirnya memiliki persepsi dan sikap
yang sama terhadap kedudukan, peranan dan fungsi Pancasila
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pancasila sebagai Paradigma Ketatanegaraan

Artinya Pancasila menjadi kerangka berpikir atau pola berpikir


bangsa Indonesia, khususnya sebagai dasar negara ia sebagai
landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena
Indonesia adalah negara hukum maka kaitannya dalam
pengembangan hukum, hukum yang akan dibentuk tidak dapat
dan tidak boleh bertentangan dengan sila-sila Pancasila.
Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Bidang Sosial
Politik.

Nilai-nilai Pancasila sebagai wujud cita-cita Indonesia merdeka


diimplementasikan sebagai berikut:

• Penerapan dan pelaksanaan keadilaan sosial mencakup keadilan


politik, agama, dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

• Mementingkan kepentingan rakyat / demokrasi dalam


pengambilan keputusan.
Melaksanakan keadilaan sosial dan penentuan prioritas
kerakyatan berdasarkan konsep mempertahankan kesatuan.

Dalam pelaksanaan pencapaian tujuan keadilan menggunakan


pendekatan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan toleransi bersumber pada nilai


ke Tuhanan Yang Maha Esa.
Pancasila sebagai Paradigma Nasional Bidang Ekonomi

Mengandung pengertian bagaimana suatu falsafah itu


diimplementasikan secara riil dan sistematis dalam kehidupan
nyata.

Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Nasional


Bidang Kebudayaan

Mengandung pengertian bahwa Pancasila adalah etos budaya


persatuan, dimana pembangunan kebudayaan sebagai sarana
pengikat persatuan dalam masyarakat majemuk.
Pancasila sebagai Paradigma
Pembangunan Nasional Bidang Hankam

Paradigma baru TNI terus diaktualisasikan untuk menegaskan,


bahwa TNI telah meninggalkan peran sosial politiknya atau
mengakhiri dwifungsinya dan menempatkan dirinya sebagai
bagian dari sistem nasional.
Pancasila sebagai Paradigma Ilmu
Pengetahuan
Dengan memasuki kawasan filsafat ilmu (philosophy of
science) ilmu pengetahuan yang diletakkan diatas pancasila
sebagai paradigmanya perlu difahami dasar dan arah
penerapannya, yaitu pada aspek ontologis, epistomologis, dan
aksiologis.

Ontologis, yaitu bahwa hakikat ilmu pengetahuan aktivitas


manusia yang tidak mengenal titik henti dalam upayanya untuk
mencari dan menemukan kebenaran dan kenyataan.
Epistimologi, Pancasila mengandung nilai-nilai yang dijadikan

metode berpikir, dalam arti dijadikan dasar dan arah di dalam

pengembangan ilmu pengetahuan yang parameter kebenaran serta

kemanfaatan hasil-hasil yang dicapainya adalah nilai-nilai yang

terkandung dalam pancasila itu sendiri.

Aksilogis, yaitu bahwa dengan menggunakan epistemologi

tersebut diatas, pemanfaatan dan efek pengembangan ilmu

pengetahuan secara negatif tidak bertentangan dengan Pancasila dan

secara positif mendukung atau mewujudkan nilai-nilai ideal

Pancasila.