Anda di halaman 1dari 85

PERENCANAAN BANGUNAN

PENGOLAHAN AIR
BUANGAN
KOTA SOLOK
KELOMPOK I A

DOSEN : DR. PUTI SRI KOMALA


ASISTEN : FILDZA ZATIL HIDAYAH
Anggota Kelompok

1. AULIA SAFITRI (1410942003)


2. MERIENZA VAROLIA (1510941018)
3. HAFID SUHENO (1510941021)
4. YOGI FEBRIADI (1510941039)
5. ARIENDA MEIDIANA P. (1510942012)
Outline
Latar Belakang

Gambaran Umum Wilayah

Skenario Pengolahan Air Buangan

Detail Desain
Perbaikan
• Perbaiki fluktuasi debit
• Alternatif pengolahan
• Perletakan Ipal dan Iplt dekat ke sungai
• Td sama perhari
• Q lumpur pertahap
• Volume lumpur pertahap
• Grit Chamber tipe? Volume pertahap
• Fluktuasi Aliran, Konsentrasi BOD dan TSS
Alternatif Ipal I (Oxidation Ditch)

Keterangan:
1. Saluran Pembawa 8. Oxidation Ditch
2. Saluran Pengumpul 9. Secondary Clarifier
3. Pompa 10. Densifeksi
4. Bar Screen R. Return Sludge
5. Grit Chamber S1 Sludge dari Bak Pengendapan I
6. TAR S2 Sludge dari Secondary Clarifier
7. Bak Pengendapan I F Resirkulasi Filtrat

Keuntungan:
Mempunyai efisiensi removal BOD dan COD Kerugian :
yang tinggi antara 80-85 %. Memerlukan area yang luas.
Penanganan dan pengolahan lumpur dapat Tidak fleksibel untuk beban organik dan
diabaikan (dikurangi) karena buangan beban hidrolik yang tidak stabil
lumpur relatif sedikit dan stabil, sehingga (bervariasi).
dapat langsung dikeringkan dengan Sludge Perlu tenaga terlatih untuk operasi
Drying Bed (SDB).
pengolahannya.
Tidak terdapat gangguan serangga.
Alternatif II (Trickling Filter)

Keterangan:
1. Saluran Pembawa 10. Disinfeksi
2. Sumur Pengumpul 11. Thickener
3. Pompa 12. Digester
4. Bar Screen 13. Sludge Dryng Bed/ Fiter Press
5. Grit Chamber F Resirkulasi Filtrat
6. TAR In line S1 Sludge dari Bak Pengendap I
7. Bak Pengendap I S2 Sludge dari Secondary Clarifier
8. Trickling Filter R Return Sludge
9. Secondary Clarifier
Kerugian :
Keuntungan: Kemungkinan timbulnya lalat
Tidak terganggu adanya beban hidrolik (serangga).
dan organik. Efluen berbau.
Mempunyai efisiensi pengolahan 60-80 Perlu tenaga terlatih untuk operasi
%. pengolahannya.
Tidak memerlukan lahan yang luas. Memerlukan pengolahan lumpur yang
Kebutuhan oksigen tidak terlalu besar
lengkap.
Kehilangan tekanan cukup besar antara
1,8-3,6 atm.
Alternatif III (Aeration Tank)

Keterangan :
1. Saluran Pembawa 10. Disinfeksi
2. Sumur Pengumpul 11. Thickener
3. Pompa 12. Digester
4. Bar Screen 13. Sludge Dryng Bed/ Fiter Press
5. Grit Chamber F Resirkulasi Filtrat
6. Bak Ekualisasi S1 Slugde dari Bak Pengendap I
7. Bak Pengendap I S2 Sludge dari Secondary Clarifier
8. Aeration Tank R Return Sludge
9. Secondary Clarifier

Keuntungan:
Mempunyai efisiensi removal BOD tinggi Kerugian :
antar 80-85 %. Memerlukan area yang luas.
Dapat dimodifikasi sesuai karakteristik air Memerlukan proses stabilisasi lumpur.
buangan. Memerlukan tenaga profesional yang
Efluen tidak berbau. banyak dan terlatih.
Terhindar dari gangguan lalat (serangga). Tidak fleksibel terhadap variasi beban
hidrolik.
Pemilihan Pengolahan Ipal
Alternatif 1 karena
• Mempunyai efisiensi removal BOD dan COD yang tinggi antara 80-85 %.
Mempunyai efisiensi removal BOD dan COD yang tinggi antara 80-85 %.
• Removal N tinggi (aerobic-anoxic).
• Dapat dimodifikasi sesuai karakteristik air buangan.
• Efluen yang dihasilkan lebih konstan / stabil (F/M ratio kecil sehingga
terjadi endogeneous respiration dan sludge yang dihasilkan lebih
sedikit) dan tidak tidak berbau.
• Penanganan dan pengolahan lumpur dapat diabaikan (dikurangi) karena
buangan lumpur relatif sedikit dan stabil, sehingga dapat langsung
dikeringkan dengan Sludge Drying Bed (SDB).
• Tidak terdapat gangguan serangga.
• dari segi teknis, operasional, dan biaya sangat memenuhi kriteria yang
diperlukan dalam pengolahan
Tabel 4.13 Unit Pengolahan Primary Treatment
Unit Kegunaan Kelebihan Kekurangan
Biaya yang dikeluarkan untuk konstruksi
Mengurangi atau menurunkan konsentrasi BOD dan COD
besar
Tidak diperlukan biaya tambahan untuk
Bak Sedimentasi I Perawatan dan pemeliharaan dilakukan
mengendapkan partikel
Menyisihkan partikel dengan sistem gravitasi secara manual
Memerlukan reaktor yang memakan tempat
Equalization Tank Memerlukan konstruksi yang kuat untuk
Mengoptimumkan debit aliran dan konsentrasi air Tidak diperlukan biaya tambahan untuk
(Tangki Aliran Rata- mengantisipasi fluktuasi air buangan yang
buangan sebelum diolah pada proses selanjutnya mengoptimumkan debit
Rata) datang

Tabel 4.14 Unit Pengolahan Secondary Treatment


Unit Kegunaan Kelebihan Kekurangan
Efektif dalam mendegradasi senyawa
Mengurangi atau menurunkan konsentrasi BOD dan COD Biaya yang dikeluarkan untuk energi besar
organik
Tidak diperlukan biaya untuk penambahan Perawatan dan pemeliharaan dilakukan
Aerated Lagoon
senyawa pengolah secara manual
Menyisihkan senyawa organik dengan proses aerobic
Air buangan yang diolah tidak berbau
Memerlukan blower atau aerator mekanis
karena disuplai oksigen
Effluentclarifier dapat langsung dibuang ke
Memerlukan lahan yang luas
badan air tanpa perlu desinfektan
Rotating Biological Digunakan untuk menyisihkan zat organik dengan bantuan Memerlukan media sebagai tempat tumbuh
Tahan terhadap beban kejut (shock loading)
Contactor (RBC) mikroba yang tumbuh di atas media bakteri
Peluruhan biomassa lebih efektif dan tidak Biaya yang dikeluarkan berbanding lurus
berbau dengan debit yang akan diolah
Digunakan untuk pemisahan senyawa karbon (oksidasi Daya larut oksigen dalam air limbah lebih Areal instalasi luas dan dana investasi yang
carbon) besar dibutuhkan cukup besar
Proses operasiona yang rumit mengingat
bahwa proses ini memerlukan pengawasan
Digunakan untuk pemisahan nitrogen Efisiensi proses tinggi
yang ketat terhadap suhu, pH, dan bulking
Activated Sludge control.
Cocok untuk pengolahan limbah dengan Membutuhkan operator terlatih yang dapat
Digunakan untuk pemisahan fosfor
debit kecil memonitor sistem dan proses
Memiliki felsibilitas dan modifikasi yang
Digunakan untuk stabilisasi lumpur secara aerobik simultan dapat disesuaikan untuk memenuhi Membutuhkan energi yang besar
kebutuhan spesifik
Tidak dapat mengolah limbah dengan debit
Tidak memerlukan lahan yang terlalu luas
yang tinggi
Berpotensi terjadinya penyumbatan pada
Pengoperasian murah
Trickling Filter Digunakan untuk menyisihkan senyawa organik terlarut media
Tidak memerlukan pengawasan yang ketat Harus memiliki sistem penyaringan kasar
Suplai oksigen didapatkan secara ilmiah dari Berpotensi timbulnya kondisi anaerobik pada
kontak udara bagian yang tidak terkena oksigen sehingga
Tabel 4.15 Unit Pengolahan Lumpur
No Bangunan Pengolahan Kelebihan Kekurangan
1. Gravity thickening a. Dapat meningkatkan kandungan material padat pada lumpur dengan
menghilangkan persentase air dalam lumpur, mengurangi volume tangki digester,
mengurangi pemakaian bahan kimia
2. Sludge Drying Bed a. Tidak dibutuhkan operator yang banyak. a. Dibutuhkan lahan yang luas
b. Energi yang digunakan sedikit b. Disain harus memperhatikan pengaruh cuaca
c. Dapat menyesuaikan dengan beragam lumpur
d. Kandungan solid lebih tinggi dari metode mekanik.
3. Land Treatment a. Memanfaatkan aktifitas biologi mikroorganisme (genera Agrobacterium, a. Tidak cocok bagi limbah mengandung
Arthrobacterium, Bacillus, Flavobacterium, Pseudomonas, Actinomycetes, dan senyawa anorganik toksik, garam, logam berat
bermacam jamur atau fungi) yang terdapat di lingkungan serta senyawa organik dengan kelarutan
tinggi, volatil, dan mudah terbakar.
Alternatif IPLT I PE ≤ 50.000 jiwa
Alternatif II; 50. 000 jiwa ≤PE ≤ 100.000 jiwa

• Alternatif ini digunakan dengan pertimbangan:


• Melayani maksimal 100.000 jiwa penduduk
• Kondisi tanah cukup kedap
• Jarak IPLT ke permukiman terdekat minimal 500 m
Alternatif III; PE ≥ 100.000 jiwa
Sistem Pengolahan Air Buangan Terpilih
IPLT
Sistem Pengolahan Air Buangan Terpilih
IPAL
Skema Mass Balance Polutan
IPAL
Skema Mass Balance Polutan IPLT
PERLETAKAN IPAL DAN IPLT
PELAYANAN IPAL & IPLT
TINGKAT PELAYANAN
• Tingkat pelayanan penduduk tahap I 75%, tahap II 80%, dan tahap III 85%.
• Tingkat pelayanan IPAL tahap I 70%, tahap II 75%, tahap III 80%.
• Tingkat pelayanan IPLT tahap I 30%, tahap II 25%, tahap 3 20%.

DEBIT AIR BUANGAN


GRIT CHAMBER 
PELAYANAN IPAL & IPLT
TINGKAT PELAYANAN
• Tingkat pelayanan penduduk tahap I 75%, tahap II 80%, dan tahap III 85%.
• Tingkat pelayanan IPAL tahap I 70%, tahap II 75%, tahap III 80%.
• Tingkat pelayanan IPLT tahap I 30%, tahap II 25%, tahap 3 20%.

DEBIT AIR BUANGAN


Unit Pengolahan IPAL
Unit Pengolahan Kedua
(Secondary Treatment)
1. ACTIVATED SLUDGE
2. BAK SEDIMENTASI II
Unit Pengolahan IPAL
Unit Pengolahan Ketiga
(Tersier Treatment)
1. Tangki Injeksi Larutan Chlor
2. Kontak klorin
Gambar Bak Kontak Desinfeksi
Profil hidrolis
1. Desinfeksi
2. Bak sedimentasi II
3. Activated sludge
4. Bak sedimentasi I
5. TAR
6. Grit Chamber
7. Bar Screen
8. Saluran pembawa
Profil IPAL
Unit Pengolahan IPLT
Unit Pengolahan IPLT
2. Tangki Imhoff
Fungsi:
1. menurunkan kebutuhan oksigen
biokimia dan suspended solid
dan pembusukan lumpur yang
terendapkan dari effluent lumpur
tinja kolam pengumpul
2. Debit yang masuk ke tangki
imhoff adalah debit yang dibawa
dari mobil pembawa lumpur tinja
yang telah diencerkan sebesar
90% dari debit yang
masukmenampung lumpur tinja
sementara sebelum diolah di unit
pengolahan pertama.
3. Air yang digunakan untuk
pengenceran adalah air yang
berasal dari hasil pengolahan di
kolam maturasi
1. DEBIT LUMPUR 3. ZONA NETRALISASI
Debit lumpur tinja yang akan diolah : Ketebalan zona netralisai akan lebih besar dari 0,54 m dan
Tahap I = 26,514 m3/hari tingginya adalah setinggi perpanjangan kemiringan lantai
Tahap II = 23,475 m3/hari zona sedimentasi.
Tahap III = 21,009 m3/hari Lebar slot (Ls) = 20 cm = 0,2 m
Debit lumpur tinja diolah yang telah diencerkan: Overhang (Lo) = 20 cm = 0,2 m
1) Tahap I = 26,514 m3/hari + 90% (26,514 m3/hari) = Lebar perpanjangan kemiringan lantai zona sedimentasi
50,377 m3/hari adalah
2) Tahap II = 23,475 m3/hari + 90% (23,475 m3/hari) = Ls + Lo = 0,2 m + 0,2 m = 0,4 m
44,603 m3/hari Vertikal (tinggi) : Horizontal (lebar) = 1,5 : 1
3) Tahap III = 21,009 m3/hari + 90% (21,009 m3/hari) = Vertikal (tinggi ) = 1,5 x horizontal (lebar)
39,917 m3/hari = 1,5 x 0,4 m = 0,6 m
Nitrogen influent tangki imhoff = 7 mg/L.
Fosfor influent tangki imhoff = 5 mg/L.
BOD influent tangki imhoff = 4.850 mg/L.
TSS influent tangki imhoff = 13.500 mg/L.
COD influent tangki imhoff = 6.200 mg/L.

2. ZONA PENGENDAPAN
Lebar lantai miring sona pengendapan
= L – Ls – (2 . Lv)– (2 . Ld)
= (5,3 - 0,2 - (2 x 0,6) - (2 x 0,1)) m
= 3,7 m
Perbandingan kemiringan lantai zona sedimentasi = 1,5(v) : 1 (h)
V (tinggi) : H (lebar) = 1,5 : 1
Vertikal (tinggi) = 1,5 x horizontal (lebar)
= 1,5 x 1,85 m = 2,775 m
Tinggi zona sedimentasi = Vertikal + Freeboard
= 2,775 m + 0,3 m = 3,075 m
4. ZONA LUMPUR 5 . DIMENSI TANGKI IMHOFF
Panjang =7m
Lebar = 5,3 m
Tinggi = tinggi zona sedimentasi +
zona netralisasi + zona lumpur = 3,075 m +
0,6 m + 4,7 m = 8,375 m  8,4 m OK!
(7-9m)

Berdasarkan Petunjuk teknis tata cara perencanaan IPLT sistem


kolam, jika IPLT yang melayani <100.000 orang maka kapasitas
zona lumpur adalah 180 m3 dengan tinggi zona lumpur 5 m,
panjang 7 m dan lebar 5,3 m. Kimiringan dasar zona
pengendapan adalah 1:1,7

• Lebar dasar zona yang datar (Ld) = 0,6 m


• Lebar zona lumpur (L) = 5,3 m
• Lebar lantai miring sona pengendapan = L - Ld = 5,3 m - 0,6 m = 4,7 m
• Lantai miring di zona pengendapan terletak di sisi kiri dan kanan slot sehingga lebar
disalah satu sisi menjadi setengahnya yaitu 2,35 m
• Perbandingan kemiringan lantai zona sedimentasi = 1(v) : 1,7(h)
• Vertikal (tinggi) : Horizontal (lebar = 1 : 1,7
• Vertikal (tinggi) = 1/1,7 x horizontal (lebar)
• = 1/1,7 x 2,35 m = 1,38 m
• Jadi tinggi lantai zona lumpur yang miring adalah 4,7 m dan tinggi dari lantai yang
miring ke zona netral adalah 2,35 m.
GAMBAR TANGKI IMHOFF
POTONGAN TANGKI IMHOFF
Unit Pengolahan IPLT
3. Kolam Anaerobik I
• Debit lumpur tinja yang akan diolah
adalah debit yang berasal dari tangki
imhoff
Tahap I = 26,514m3/hari
Tahap II = 23,475 m3/hari
Tahap III = 21,009 m3/hari
• BOD kolam anaerobik I= 2.910 mg/L
• TSS influent kolam anaerobik =8.100mg/L
• COD influent kolam anaerobik I 2. Volume kolam anaerobik
=6.200mg/L berdasarkan BOD volumetrik
1. Volume kolam anaerobik berdasarkan debit • Tahap I
• Operasional Beban BOD masuk = debit lumpur
Tahap I , V = Q x td = 26,514 m3/hari x 40 hari = 1.060,56 m3 tinja x konsentrasi BOD influent
Beroperasi 2 bak, maka Volume 1 bak = 1.060,56 m3 / 2 bak = 530,28 • = 26,514 m3/hari x 2.910 g/m3
m3/bak
• = 77.155,74 g/hari
• Maintenance, 1 bak beroperasi, sehingga waktu detensinya didesain
menjadi 20 hari sehingga mampu menampung debit •  V = 128,593 m3
Tahap I , V = Q x td = 26,514 m3/hari x 20 hari = 530,28 m3
Tahap II , V = Q x td = 23,475 m3/hari x 23hari = 469,5 m3 Beban BOD yang masuk
 128,593 m
Td = V/Q = 530,28 m3/ 23,475 m3/hari = 23 hari (20-50 hari) OK! Beban BOD volumetrik
Tahap III , V = Q x td = 21,009 m3/hari x 26 hari = 420,18 m3
Td = V/Q = 530,28 m3/ 21,009 m3/hari = 26 hari (20-50 hari) OK!
3. LUAS PERMUKAAN  4. PENYISIHAN BOD, TSS , COD
V 530,28 m 3 BOD effluentt = BOD influent k.anaerobik I – (% pinyisihan x BOD
A   212,112 m 2 influent)
H 2,5 m
= 2.910 mg/L – (60% x 2.910 mg/L) = 1.164 mg/L
P : L = 2 : 1, sehingga: COD effluentt = COD influent k.anaerobik I – (% pinyisihan x
A = P X L = 2L X L = 2L2 CODinfluent)
212,112 m2 = 2L2 = 6.200 mg/L – (60% x 6.200 mg/L)= 1.488 mg/L
L = 10,30 m TSS effluentt = TSS influent k.anaerobik I – (% pinyisihan x TSS influent)
= 8.100 mg/L – (60% x 8.100 mg/L) = 4.380 mg/L
P = 20,60 m
TSS pada efluen= 8.100 mg/L x 10-6 kg/mg x 1000 L/m3
Cek tinggi lumpur tinja
= 8,1 kg/m3
Tahap I Beban TSS = 8,1 kg/m3 x 26,541 m3/hari = 214,982 kg/hari
Volume =PxLxT TSS disisihkan = 214,982 kg/hari x 0,6 = 105,341 kg/hari
530,28 m3= 20,60 m x 10,30 m x T Berat spesifik lumpur = 0,4
T = 2,50 m ................ OK Konsentrasi solid = 4,4% = 0,044 kg/kg
Qlumpur = () : Konsentrasi Solid
= () : 0,044 kg/kg = 5,985 m3/hari
5. DIMENSI PENGUMPUL LUMPUR V lumpur = 5,985 m3/hari x 20 hari = 119,71 m3
asumsikan t = 1 dan P : L, 2 : 1
V =Axt
119,71 m3 = A x 1 m
A = 91,335 m3
A =PxL
A = 2L x L
119,71 m3 = 2L2
L = 7,74 m
P = 2L = 2 x 7,74 m = 15,47 m
GAMBAR ANAEROBIK I
POTONGAN KOLAM ANAEROBIK I
Unit Pengolahan IPLT
3. Kolam Anaerobik II
Fungsi:
menguraikan kandungan zat organik
(BOD) dan padatan tersuspensi (TSS)
dengan cara anaerobik atau tanpa
oksigen

1Volume kolam anaerobik berdasarkan debit 2. Volume kolam anaerobik berdasarkan


•Operasional BOD volumetrik
Tahap I , V = Q x td = 26,514m3/hari x 40 hari = 1060,56 m3
• Tahap I
Beroperasi 2 bak, maka Volume 1 bak = 1060,56 m 3 / 2 bak = 530,28
m3/bak Beban BOD masuk = debit lumpur tinja x
Cek waktu detensi Operasional Tahap II dan III konsentrasi BOD influent
Td = V/Q = 1060,56 m3/ 23,375 m3/hari = 45 hari (20-50 hari) OK! • 26,514 m3/hari x 1.164g/m3
Td = V/Q = 1060,56 m3/ 21,009 m3/hari = 50 hari (20-50 hari) OK!
•Maintenance, • =30.862,30 g/hari
Tahap I, V = Q x td = 26,514 m3/hari x 20 hari = 530,28 m3 •  V = 44,09m3
Cek waktu detensi Maintenance Tahap II dan III
Tahap II Beban BOD yang masuk
 44,09 m
Td = V/Q = 530,28 m3/ 23,375 m3/hari = 23 hari (20-50 hari) OK! Beban BOD volumetrik
Tahap III
Td = V/Q = 530,28 m3/ 21,009m3/hari = 26 hari (20-50 hari) OK!
!
3. LUAS PERMUKAAN  4. PENYISIHAN BOD, TSS , COD
V 530,28 m 3 Penyisihan BOD di kolam anaerobik II adalah 60 %
A   212,112 m 2
H 2,5 m BOD efluen= BOD influent k.anaerobik II – (% pinyisihan x BOD
influent)
P : L = 2 : 1, sehingga:
= 1.164 mg/L – (60% x 1.164 5 mg/L)
A = P X L = 2L X L = 2L2 = 465,6 mg/L
212,112 m2 = 2L2 Penyisihan TSS di kolam anaerobik II adalah 60 %
L = 10,30 m TSS efluen = TSS influent k.anaerobik II – (% pinyisihan x TSSinfluent)
P = 20,60 m = 3240 mg/L – (60% x 3240mg/L)
Cek tinggi lumpur tinja = 1296 mg/L
Tahap I Penyisihan COD di kolam anaerobik II adalah 60 %
Volume =PxLxT COD efluen= COD influent k.anaerobik II – (% pinyisihan x
530,28 m3= 20,60 m x 10,30 m x T CODinfluent)
= 1488 mg/L – (60% x 1488mg/L)
T = 2,50 m ................ OK
= 595,2 mg/L .
Beban TSS = 3,24 kg/m3 x 26,514 m3/hari= 85,905 kg/hari
TSS disisihkan = 85,905 kg/hari x 0,60 = 51,54 kg/hari
5. DIMENSI PENGUMPUL LUMPUR
asumsikan t = 1 dan P : L, 2 : 1 Berat spesifik lumpur = 0,4
V =Axt Konsentrasi solid = 4,4% = 0,044 kg/kg
58,57 m3 =Ax1m Qlumpur = () : Konsentrasi Solid
A = 58,57 m3 = () : 0,044 kg/kg = 2,94 m3/hari
A =PxL V lumpur = 2,94 m3/hari x 20 hari = 58,57 m3
A = 2L x L
58,57 m3 = 2L2
L = 5,41 m
P = 2L = 2 x 5,41 m = 10,82 m
GAMBAR ANAEROBIK II
POTONGAN ANAEROBIK II
POTONGAN A-A

POTONGAN B-B
Unit Pengolahan IPLT
3. Kolam Fakultatif
Fungsi:
menguraikan dan menurunkan konsentrasi
bahan organik yang ada di dalam limbah setelah
diolah di kolam anaerob. Proses yang terjadi
adalah campuran antara proses anaerob dan
aerob.

•Timbulan lumpur tinja = 25 L/orang/tahun (UNDP dalam jurnal   Timbulan lumpur rata-rata 25 L/orang/tahun.
Perencanaan sistem setempat)
• Volume Lumpur Tahap I = 25
•Jumlah penduduk terlayani
•Tahap I yakni 77.984 orang
L/orang/tahun x 77.984 jiwa = 5,341
•Tahap II yakni 69.555 orang m3/hari
•Tahap III yakni 59.526 orang • Luas permukaan kolam fakultatif
•Suhu terendah permukaan laut untuk daerah tropis adalah 28oC
•Penurunan suhu permukaan bumi adalah 0,6oC/100 m kenaikan
ketinggian daerah dari permukaan laut.
• Luas 1 bak = luas total/ 2 bak = 1.340m2/ 2 bak
•IPLT direncanakan terletak pada ketinggian 75 m dari permukaan laut, = 670 m2/ bak
sehingga suhu terendahnya adalah: • Cek V =PxLxT
•T terendah = T muka laut – (penurunan suhu x ketinggian daerah
IPLT) = 28oC – (0,6oC/100 m x 75 m) = 27,55oC.
= 37 m x 18,3 m x 1,1 m = 677,1 m3

!
  4. Hitung volume kolam fakultatif  5. pipa inlet dan outlet kolam fakultatif IPLT
• Operasional
Tahap I, V = Q x td = 26,514 m3/hari x 40 hari = 1060,56 m3 Q tahap I untuk 40 hari = 26,514 m3/hari x 40 =
Beroperasi 2 bak, maka volume 1 bak = 1060,56 m3 /2 bak 1060,56 m3/hari = 0,012 m3/det
= 530,28 m3/bak Q tahap II untuk 40 hari = 23,475 m3/hari x 40 =
Tahap II, V = Q x td = 23,475 m3/hari x 40 hari = 939 m3 939 m3/hari = 0,010 m3/det
Beroperasi 2 bak, maka volume 1 bak = 939m3 /2 bak = Q tahap III untuk 40 hari= 21,009 m3/hari x 40 =
469,5 m3/bak 840,36 m3/hari = 0,009m3/det
Tahap III, V = Q x td = 21,009 m3/hari x 40 hari = 840,36 m3 Q=VA
Beroperasi 2 bak, maka volume 1 bak = 840,36 m3 /2 bak = A = Q/V
420,18 m3/bak D=
• Maintanence, 1 bak beroperasi, sehingga di cek waktu =
detensi masih memenuhi kriteria atau tidak = 0,015 m
Tahap I, td = V/Q = 530,28 m3 / 26,514 m3/hari = 20 hari • Tahap I
…..ok!
V = Q/A
Tahap II, td = V/Q = 469,5 m3 / 23,475 m3/hari = 20 hari
= 0,012 m3/det / (1/4 x 3,14 x (0,015 m)2
…..ok!
= 1,00 m/det .....ok!
Tahap III, td = V/Q = 420,18 m3 /21,009 m3/hari = 20 hari
…..ok! 6. Dimensi Kolam Fakultatif
• Cek waktu detensi di dalam kolam fakultatif Tinggi kolam = 1,1 m + 0,5 m = 1,6 m
Tahap I Panjang kolam di permukaan = 37 m
Lebar kolam dipermukaan = 18,3 m
• Tinggi Lumpur
Panjang kolam di dasar = 33,7 m
Tahap I
Lebar kolam di dasar = 15 m
Tinggi Lumpur = Volume lumpur / Alas
= 530,28 m3/ 1.340 m2 = 0,39 m
  Debit Lumput yang disisihkan
7. 8. dimensi pengumpul lumpur
Beban TSS= 1,296 kg/m3 x 26,514 m3/hari diasumsikan t = 1 dan P : L, 2 : 1
= 34,362 kg/hari V =Axt
TSS disisihkan = 34,362 kg/hari x 0,90= 30,93 kg/hari 35,14 m3 = A x 1 m
Berat spesifik lumpur = 0,4 A = 35,14 m3
Konsentrasi solid = 4,4% = 0,044 kg/kg A =PxL
Qlumpur = () : Konsentrasi Solid A = 2L x L
= () : 0,044 kg/kg 35,14 m3 = 2L2
= 1,757 m3/hari L = 4,192 m
V lumpur = 1,757m3/hari x 20 hari = 35,14 m3 P = 2L = 2 x 4,192 m = 8,38 m

Desain Tahap I Tahap II Tahap III


Dimensi Bak
Panjang atas (m) 37 37 37
Panjang bawah (m) 33,7 33,7 33,7
Lebar atas (m) 18,3 18,3 18,3
Lebar bawah (m) 15 15 15
Kedalaman air (m) 1,5 1,5 1,5
Unit lumpur
Panjang 8,38 8,38 8,38
Lebar (m) 4,192 4,192 4,192
Tinggi air (m) 1,0 1,0 1,0
Diameter pipa inlet dan outlet (mm) 200 200 200
Waktu detensi (hari) 20 23 26
GAMBAR KOLAM FAKULTATIF
POTONGAN KOLAM FAKULTATIF
POTONGAN A-A

POTONGAN B-B
•MATURASI DAN LUMPUR
Unit Pengolahan IPLT
5. Kolam Maturasi
Fungsi:
mengolah air limbah yang berasal dari kolam
fakultatif. Kolam ini merupakan rangkaian akhir
dari proses pengolahan aerobik air limbah
sehingga dapat menurunkan padatan tersuspensi
dan BOD yang masih tersisa di dalamnya.

•Debit lumpur tinja yang akan diolah: • Hitung nilai konstanta Kb


•Tahap I yakni 26,514 m3/hari
•Tahap II yakni 23,475 m3/hari Kb = 2,6 x (1,19T-20)/hari , dimana T adalah
•Tahap III yakni 21,009 m3/hari suhu terendah di daerah peletakan IPLT
•BOD influent Kolam maturasi = 46,5 mg/L = 46,5 g/m3 = 2,6 x (1,1927,55-20)/hari
•COD influent Kolam maturasi = 59,52 mg/L = 59,52 g/m3
•TSS influent Kolam maturasi = 129,6 mg/L = 129,6 g/m3 = 9,668 /hari
•Suhu terendah permukaan laut untuk daerah tropis adalah 28 oC • Hitung volume kolam maturasi
•Penurunan suhu permukaan bumi adalah 0,6oC/100 m kenaikan ketinggian
daerah dari permukaan laut. Tahap I
•IPLT direncanakan terletak pada ketinggian75 m dpl sehingga suhu V = Q x td
terendahnya adalah:
•T terendah = T muka laut – (penurunan suhu x ketinggian daerah IPLT) = 26,514 m3/hari x 15 hari = 397,71 m3
• = 28oC – (0,6oC/100 m x 75 m) = 27,55oC. V =7,563 m3/hari x 20 hari = 151,253 m3
V = 6,768 m3/hari x 20 hari = 135,364m3
!
• Volume kolam maturasi
 • Volume kolam maturasi
Direncanakan kolam maturasi terdiri dari 2 kolam, sehingga Volume Tahap III= 30 m x 15 m x 1 m = 450 m3
volume untuk masing-masing kolam adalah : • Dinding kolam maturasi di buat dengan kemiringan
Tahap I tertentu sehingga luas permukaan bawah kolam lebih
Vol untuk 1 kolam = Voltotal / jumlah kolam kecil dari pada luas permukaan atas kolam maturasi.
(Petunjuk teknis tata cara perencanaan IPLT sistem
= 397,71 m3 / 2 kolam
kolam). Kriteria desain kemiringannya adalah 1(v) : 3(h).
= 198,855 m3/ kolam
Perhitungan dimensi kolam maturasi (trapesium)
Tahap II • Kedalaman kolam (D) = kedalaman kolam : 2 = 1 m
Vol untuk 1 kolam = Voltotal / jumlah kolam : 2 = 0,5 m
= 352,125 m3 / 2 kolam • Freeboard = 0,5 m
= 176,062 m3/ kolam • X =1m
Tahap III • Perhitungan nilai panjang dan lebar bagian bawah
Vol untuk 1 kolam = Voltotal / jumlah kolam Untuk panjang bagian bawah
= 315,135 m3 / 2 kolam n=3
= 157,567 m3/ kolam =
• Luas permukaan maturasi jika kedalaman air 1 m =
A= Volume/ tinggi air = 198,855 m3/ 1 m = 198,855 m2 x = 1,5 m
• Lebar dan panjang kolam maturasi Pbawah= Pkolam – (2 x X)
Luas permukaan kolam maturasi adalah 445,432 m 2maka luas Pb = 30 m – (2 x 1,5 m)
kolam maturasi: = 27 m
P : L = 2 :1 sehingga P = 2L Untuk lebar bagian bawah
A =PxL = 2L x L = 2L2 N=3
198,855 m2 = 2 L2 =
L = 14,10 m = 15 m =
x = 1,5
P = 2L = 2 x 15 m = 30 m
Lbawah = Lkolam – (2 x X)
Cek Luas berdasarkan juknis, perbandingan = P : L = 2 : 1 (30 m :
15 m) Lb = 15 m – (2 x 1,5 m)
Luas A = P x L = 30 m x 15 m = 450 m2 =12 m
  Perhitungan nilai panjang dan lebar bagian atas Penyisihan COD
Untuk panjang bagian atas Penyisihan COD di kolam maturasi adalah 80%
n=3 COD efluen = COD influent –(% penyisihan x COD
= influent)
= = 93 mg/L – (90% x 93 mg/L)
X=3m = 9,3 mg/L
Patas= Pbawah + (2 x X) Penyisihan TSS
Pa = 27 m + (2 x 3 m) Penyisihan TSS di kolam maturasi adalah 80%
= 33 m TSS efluen = TSS influent –(% penyisihan x TSS influent)
Untuk lebar bagian atas = 81 mg/L – (80% x 81 mg/L)
n =3 = 8,1 mg/L
x=3m • Debit Lumpur yang disisihkan
Latas = Lbawah + (2 x X) Qlumpur = 0,246 m3/hari
La = 12 m + (2 x 3 m) V lumpur= 0,246 m3/hari x 20 hari = 4,92 m3
= 18 m Maka, dimensi pengumpul lumpur diasumsikan t = 0,5
Panjang pipa inlet = 1/3 xpanjang kolam = 1/3 x 30 m = 10 m m dan P:L 2:1
• Efluen Kolam Maturasi V=axt
Penyisihan BOD 4,92 m3= a x 0,5 m
Penyisihan BOD di kolam maturasi adalah 80% a = 9,84 m2
BOD efluen = BOD influent –(% penyisihan x BOD influent) a =PxL
= 50,925 mg/L – (80% x 50,925 mg/L) a = 2L x L
= 5,093 mg/L 9,84 m3/hari = 2L2
L = 2,218 m = 2,5 m
P = 2L = 5 m
Gambar kolam maturasi
POTONGAN KOLAM MATURASI
POTONGAN A-A

POTONGAN B-B
Unit Pengolahan IPLT
5. Kolam pengering lumpur
Fungsi:
menampung endapan lumpur dari
pengolahan biologis. Lumpur selanjutnya
dikeringkan secara alami dengan bantuan
sinar matahari dan angin. Lumpur yang sudah
kering dapat digunakan sebagai pupuk.

• Ukuran pasir : 0,3 – 1,22 mm • Perhitungan


• Ukuran kerikil : 0,3 – 2,5 cm Volume lumpur selama 10 hari
Tahap I
• Konsentrasi solid influent : 40%
V= Q x td
• Waktu pengolahan (1 periode) : 14 hari + 1 hari = 59,391 m3/hari x 10 hari = 593,91 m3
untuk pembersihan = 15 hari
Tahap II
• Berat spesifik : 1,02 V = Q x td
= 53,723 m3/hari x 10 hari = 537,23 m3
Tahap III
V = Q x td
= 50,100 m3/hari x 10 hari = 501,00 m3
• Luas permukaan lumpur yang dibutuhkan
As =

• Jumlah unit= 3 unit(2 unit operasi dan 1 unit stand by) dengan ketinggian masing-masing unit 1 m.
Dimensi tiap unit adalah:
A = 593,91 m2/unit
Asumsi p : l = 3 : 1
P = 3l
Luas per unit = p x l = 3l2
593,91 m2 = 3l2
l = 14,070 m = 14 m
p = 3 x 14 m = 42 m
• Volume kolam pengering lumpur
Volume 1 kolam Tahap I = 42 m x 14 m x 1 m = 588 m3
Volume air yang hilang setelah 10 hari (kadar air berkurang dari 70% menjadi 40%)
Vair = (70 – 40) % x V
= 30 % x 593,91m3
= 178,173 m3
• Debit efluen (evaporasi diabaikan)
Qeff = 178,173 m3/10 hari
= 17,817 m3/hari
= 2,06 x 10-4 m3/dtk
Gambar kolam pengering lumpur
POTONGAN KOLAM PENGERING
LUMPUR
POTONGAN A-A

POTONGAN B-B
GAMBAR LAYOUT IPLT
GAMBAR PROFIL IPLT
KAMSAHAMNIDA