Anda di halaman 1dari 42

PR ANATOMI

FISIOLOGI HIDUNG

YANASTA YUDO PRATAMA


“ Terminologi:
◂ Cavum Nasi : Rongga
Hidung
◂ Septum Nasi : Dinding
yang membagi rongga
hidung menjadi 2 bagian
1.
HIDUNG LUAR
NASUS EXTERNUS
Berbentuk Piramid

SUMBER PUSTAKA:
Terdiri dari:
Halaman 859 1. Pangkal
(Radix/Bridge)
Moore, Keith; Dalley, 2. Batang (Dorsum)
Arthur; Agur, Anne
(2018). Clinically oriented 3. Puncak (Apex)
anatomy (Eighth ed.).
Wolters Kluwer. pp. 963–
4. Ala Nasi
968. ISBN . 9781496347213 5. Lubang (Nares
Anterior) 4
Daftar pustaka :
Halaman 58
Tortora, G; Anagnostakos,
N (1987). Principles of
anatomy and
physiology (5th. Harper
international ed.). Harper
& Row. p. 556. ISBN 978-
0063507296.

5
KERANGKA
NASAL EXTERNUS
Daftar pustaka :
Halaman 58 Rangka hidung
Tortora, G; Anagnostakos,
N (1987). Principles of terdiri dari bagian
anatomy and
physiology (5th. Harper
tulang sejati dan
international ed.). Harper bagian tulang rawan
& Row. p. 556. ISBN 978-
0063507296
Kartilago Tulang Sejati
1. Kartilago nasalis lateralis Superior 1. Os Nasalis
2. Kartilago alaris mayor (Kartilago 2. Pros. Frontalis
nasalis lateralis inferior) : Kaki
os Maxillaris
lateral, Kaki medial
3. Kartilago alaris minor
6
1.
HIDUNG DALAM
NASUS INTERNUS
Daftar Pustaka

Richard SS. Anatomi


Klinik Untuk
Mahasiswa
Kedokteran. Edisi 6.
Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran
EGC; 2006.

Vestibulum Nasi
Dari nares anterior ke
belakang atas ke cavum
nasi

Cavum Nasi
Memiliki batas batas
dasar (lantai), atap,
dinding lateral & medial
8
CAVUM NASI

“ Bagian Atap ◂Proc.


◂ Proc. NasalisPalatinus Os

 Septum
Nasi
os Frontalis Maxilla (3/4 Bagian
(depan) depan) Tulang Sejati
◂ Lamina ◂ Proc. ◂ Bagian
Cribosa os Horizontalis Os Tulang Rawan
Ethmoidalis Palatinus (1/4
belakang)
Daftar Pustaka
◂ Os.
Richard SS. Anatomi Klinik Untuk
Sphenoidali
Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
s
EGC; 2006. 9

Dinding Lateral Rongga Hidung
◂ Berbatasan dg dinding medial Sinus Maxillaris
Os Maxilla
Terdapat 4 konka
◂ Konka nasi inferior
◂ Konka nasi medial
◂ Konka nasi superior
◂ Konka supreme
10
MUSKULO
NASALIS

M.Depressor septii nasi


◂ Persarafan Nervus facialis
(VII)
◂ Fungsi : Menggerakkan
cupping hidung
menurunkan tip hidung
dan membuka nostril
pada saat inspirasi
maksimal.
MUSKULO
Daftar pustaka :
Tortora, G; Anagnostakos, N
(1987). Principles of anatomy and
physiology (5th. Harper

NASALIS international ed.). Harper & Row.


p. 556. ISBN 978-0063507296

M.Dilator nares
◂ Persarafan : saraf fasialis
VII
◂ Fungsi : Melebarkan
hidung
MUSKULO
Daftar pustaka :
Tortora, G; Anagnostakos, N
(1987). Principles of anatomy and

NASALIS
physiology (5th. Harper
international ed.). Harper & Row.
p. 556. ISBN 978-0063507296

M. nasalis
◂ Persarafan : Nervus
facialis (VII)
◂ Fungsi : Menggerakkan
cupping hidung dan
hidungnya sendiri
◂ Pars alaris : membuka
lebar lebar cuping hidung
◂ Pars transversa :
Mengecilkan lubang
hidung •
SINUS
PARANASAL
SINUS PARANASAL

15
1.
INERVASI DAN
VASKULARISASI
Sumber pustaka

• Christy Krames Medical Ilustration, Available: https://www.kramestudios.com


Diakses 09 Januari 2019
• Tortora, G; Anagnostakos, N (1987). Principles of anatomy and
physiology (5th. Harper international ed.). Harper & Row. p. 556. ISBN 978-
0063507296.

Vaskularisasi untuk hidung


berasal dari 3 sumber
utama yaitu
VASKULARISASI

◂ Arteri etmoidalis
anterior
◂ Arteri etmoidalis
posterior (cabang dari
arteri oftalmika), dan
◂ Arteri sfenopalatina

17
PLEXUS
KIESSELBACH
Pada bagian depan septum terdapat
anastomosis dari cabang-cabang
arteri sfenopalatina, arteri etmoidalis anterior,
arteri labialis superior dan arteri palatina
mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach
( Little’s area ) yang letaknya superfisial dan
mudah cedera oleh trauma
Sumber Pustaka
Tortora, G; Anagnostakos, N
(1987). Principles of anatomy and
physiology (5th. Harper
international ed.). Harper & Row.
p. 556. ISBN 978-0063507296

18
PLEXUS
WOODRUFF'S
Perdarahan posterior berasal dari pleksus
Woodruff yang terletak di rongga hidung
bagian belakang atas atau konka media yang
merupakan anastomosis dari arteri
sphenopalatina dan arteri etmoidalis posterior

Sumber Pustaka
Santos, P.M. & Lepore, M.L., 2001.
In: Balley’s Head and Neck
Surgery – Otolaryngology. Volume
I. 3rd ed. Philadelphia: Lippincot
Williams & Willkins, 415-28.

19
VENA DI HIDUNG
◂ Nama nya sama dengan arteri
◂ Berjalan berdampingan dengan
arterinya
◂ Tidak memiliki katup  Faktor
predisposisi mudahnya penyebaran
infeksi ke intrakranial
Sumber Pustaka

Fakultas Kedokteran UI. 2012.


Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT.
Jakarta: Badan Penerbit FK UI 20
21
Nerve supply to the nose is from the
first two branches of the trigeminal
nerve (CN V), the Ophthalmic nerve (CN
V1) and the maxillary nerve(CN V2).

Daftar Pustaka

Walker, H. K., Hall, W. D., &


Hurst, J. W. "The History,
Physical, and Laboratory
Examinations" Clinical
Methods, 3rd
edition. (1990)
Inervasi Hidung
N. V. 2 ( n. Maksila ) N. V. 1 (n. Oftalmikus)
◂ Persarafan Sensoris ◂ Persarafan
dari n. Etmoidalis Vasomotor atau
anterior otonom untuk
mukosa hidung

Sumber Pustaka

Fakultas Kedokteran UI. 2012.


Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT.
Jakarta: Badan Penerbit FK UI 22
1.
EPITEL MUKOSA
HIDUNG
Epitel mukosa hidung terdiri dari beberapa
jenis, yaitu epitel skuamous kompleks pada
vestibulum, epitel transisional terletak tepat di
belakang vestibulum dan epitel
kolumnar berlapis semu bersilia pada sebagian
mukosa respiratorius. Epitel kolumnar sebagia
n besarmemiliki silia.

Daftar Pustaka

Ballenger JJ, Snow JB. Ballenger’s


Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. 6 th . BC Decker Inc.
Spain. 2003
MUKOSA HIDUNG

RESPIRATORIUS OLFAKTORIUS
◂ Epitel Pseudostatified Columnar ◂ Epitel Pseudostratified
Ciliated Columnas Non Ciliated
◂ Sel Goblet
◂ Bewarna merah muda dan selalu
Lokasi
basah karena diselimuti Mukous
Blanket (Palut Lendir) 1. Septum nasi 1/3
atas
Lokasi 2. Atap cavum
1. Septum Nasi 2/3 bawah nasi
2. Dasar Cavum Nasi
3. Konka Superior
3. Dinding lateral cavum nasi Terdapat 3 Sel
Daftar Pustaka
dibawah konka superior 1. Supporting Cell
Ballenger JJ, Snow JB. Ballenger’s
Otorhinolaryngology Head and
4. ½ atas nasofaring 2. Basal Cell
Neck Surgery. 6 th . BC Decker Inc. 5. Sinus Paranasal 3. Olfactory Cell
Spain. 2003 24
FISIOLOGI
HIDUNG

25
Daftar Pustaka
MUKOSA RESPIRATORI
Ballenger JJ, Snow JB. Ballenger’s
Otorhinolaryngology Head and
Mukosa Respiratori = Epitel Kolumnar berlapis Neck Surgery. 6 th . BC Decker
Inc. Spain. 2003
semu bersilia. Banyak pembuluh darah (jaringan
kavernosus) ➜ mudah vasodilatasi /vasokontriksi yg
diatur oleh saraf otonom) berfungsi pada
pengaturan volume, temperatur, kelembaban
udara dihirup (air conditioning).
FISIOLOGI SEL PADA MUKOSA
OLFAKTORIUS
◂ Sel-sel bersilia ini memiliki banyak mitokondria yang
sebagian besar berkelompok.
◂ Mitokondria ini merupakan sumber energi utama sel yang
diperlukan untuk kerja silia.
◂ Sel goblet merupakan kelenjar uniseluler yang
menghasilkan mucus
◂ Sel basal merupakan sel primitif yang merupakan sel bakal
dari epitel dan sel goblet

Daftar Pustaka

Ballenger JJ, Snow JB. Ballenger’s


Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. 6 th . BC Decker
Inc. Spain. 2003 27
FUNGSI PERNAFASAN

28
• Udara inspirasi masuk ke
hidung melalui nares anterior 
Naik keatas setinggi konka
media  Turun ke bawah ke
arah nasofaring
• Aliran hidung berbentuk
lengkungan atau arkus

Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Ed ke-11. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006; h. 663-670.

29
AIR CONDITIONING
1. Filtration: particles > 3 μm in inspired air are trapped by nasal vibrissae
2. Temperature control and Humidifikasi: Heat exchange b/w blood in
cavernous venous sinusoids of turbinates & inspired air, by radiation

Daftar Pustaka

Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Ed ke-11. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006; h. 663-670.

30
FUNGSI
PENGHIDU/OLFAKTORIUS

Daftar Pustaka

Guyton AC, Hall JE. Textbook of


Medical Physiology. Ed ke-11.
Philadelphia: Saunders Elsevier.
2006; h. 663-670.

31
Terdapat tiga syarat dari odoran tersebut supaya dapat merangsang


sel olfaktori, yaitu:3
◂ Bersifat larut dalam udara, sehingga odoran tersebut dapat
terhirup hidung
◂ Bersifat larut air/hidrofilik, sehingga odoran tersebut dapat
larut dalam mukus dan berinteraksi dengan silia sel olfaktorius
◂ Bersifat larut lemak/lipofilik, sehingga odoran tersebut dapat
berikatan dengan reseptor silia sel oflaktorius

Penghidu pada manusia dapat Terdapat sekitar 1000 dari


mendeteksi berbagai jenis odoran protein reseptor untuk odoran Terdapat sekitar 2
yang berbeda, namun sulit untuk yang berbeda, yang masing- juta sel olfaktori
dapat membedakan intensitas masing reseptor tersebut
odoran yang berbeda terdapat pada satu sel olfaktori.
Daftar Pustaka 32
Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Ed ke-11. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006; h. 663-670.
Rangsang (bau) masuk ke dalam lubang hidung melakui
udara kemudian disaring oleh bulu-bulu hidung. Udara yang Udara yang mengandung rangsangan bau ini masuk ke
mengandung kotoran akan dibersihkan dan kotoran yang dalam epitelium olfaktori
menempel di hidung akan mengendap menjadi kotoran
hidung.

Rangsangan bau menggetarkan mukosa olfaktori yang Rangsangan yang menggetarkan saraf olfaktori tadi
berbentuk seperti cairan atau mukus, dan kemudian disampaikan ke Talamus menuju Hipotalamus yang berada di
menggetarkan saraf olfaktori otak

Otak daerah olfaktori Hipotalamus


Daftar Pustaka Talamus (korteks serebrum) akan
menangkap bau lalu menerjemahkannya
Guyton AC, Hall JE. Textbook of berdasarkan memori atau menghadirkan
Medical Physiology. Ed ke-11. memori baru dalam otak untuk
Philadelphia: Saunders Elsevier. digunakan ketika suatu saat nanti
2006; h. 663-670. mencium bau yang sama.

33
Pada keadaan istirahat, resting
potential dari sel olfaktori yaitu
sebesar -55mV. Sedangkan,
pada keadaan terdepolarisasi,
membrane potential sel
olfaktori yaitu sebesar -30mV.

Graded potential dari sel


olfaktori menyebabkan
potensial aksi pada sel mitral
dan tufted yang terdapat pada
bulbus olfaktorius

34
Daftar Pustaka
Tortora GJ, Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology. Ed ke-12. USA: John Wiley & Sons. 2009; h. 599-604.

Sinyal pada sel mitral dan sel tufted pada bulbus


olfaktorius menjalar menuju traktus olfaktorius.
Traktus olfaktorius kemudian menuju area
olfaktorius primer pada korteks serebral, yaitu
pada lobus temporalis bagian inferior dan
medial.

Aktivasi pada area ini menyebabkan adanya


kesadaran terhadap odoran tertentu yang
dihirup. Selain itu, traktus tersebut menuju dua
area, yaitu area olfaktorius medial dan area
olfaktorius lateral.

35
Area olfaktorius medial Area olfaktorius lateral

Area ini terdiri atas sekumpulan Area ini terdiri atas korteks
nukleus yang terletak pada anterior prepiriformis, korteks piriformis, dan
dari hipotalamus. Nukleus pada nukleus amygdala bagian korteks.
area ini merupakan nukleus septal Dari area ini, sinyal diteruskan ke
yang kemudian berproyeksi ke sistem limbik dan hipokampus.
hipotalamus dan sistem limbik. Proyeksi tersebut berperan dalam
Area ini berperan dalam ekspresi pembelajaran terhadap respon dari
respons primitif terhadap odoran tertentu, seperti respon mual
penghidu, seperti salivasi. atau muntah terhadap odoran yang
tidak disukai.
Daftar Pustaka
Tortora GJ, Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology. Ed ke-12. USA: John Wiley & Sons. 2009; h. 599-604.

36
MEKANISME ADAPTASI
PENCIUMAN

37
Sel olfaktori mengalami adaptasi yang cepat
pada detik pertama, yaitu sekitar 50%
adaptasi terjadi. Sedangkan, 50% adaptasi
sisanya terjadi dalam waktu yang lambat.
• Pada glomerulus, terdapat sel periglomerular dan sel
granul. Kedua sel tersebut berperan dalam inhibisi
lateral yang dicetuskan oleh sinyal pada sel mitral dan
sel tufted.

• Sel mitral dan sel tufted yang teraktivasi kemudian


melepaskan neurotransmiter glutamat dan
menyebabkan eksitasi sel granul.

• Sel granul tersebut kemudian melepaskan GABA dan


menginhibisi sel mitral dan sel tufted. Sel
periglomerular dan sel granul tersebut juga berespon
terhadap feedback dari sel saraf pusat yang
menginhibisi sel olfaktorius, sehingga terjadi
penekanan pada transmisi sinyal yang menuju bulbus
olfaktorius

38
FUNGSI PROTEKSI SALURAN NAFAS
BAWAH
1. Muco-ciliary blanket: traps pathogens ininspired air > 0.5 μm & transports
them to nasopharynx for swallowing
2. Sneezing: protects against irritants
3. Lysozyme: kills bacteria & viruses
4. Immunoglobulins A & E: for bacteria
5. Interferon: for protection against virus
Daftar Pustaka
Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Ed ke-11. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006; h. 663-670.

39
Anterior sinuses drain in lateral pharyngeal gutter
Posterior sinuses drain over posterior pharyngeal wall

Daftar Pustaka
Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Ed ke-11.
Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006; h. 663-670.

40
Thanks!
Any questions?
😉
You can find me at
◂ Phone : 082223635566
◂ Instagram : @yanastayudo
◂ Email :
yanastayudo@gmail.com

41
😉
✋👆👉👍👤👦👧👨👩👪💃🏃💑❤😂
😉😋😒😭👶😸🐟🍒🍔💣📌📖🔨🎃🎈
🎨🏈🏰🌏🔌🔑 and many more...

42