Anda di halaman 1dari 32

SAHAM DAN PENILAIAN

SAHAM

I Putu Yoga Susmitha, SE.,


M.Si
PENGERTIAN SAHAM
 Saham: surat berharga yang diterbitkan emiten yang
menyatakan bahwa pemilik saham mempunyai hak
kepemilikan atas aset-aset perusahaan.

 Imbalan yang bisa diterima investor saham:


1. Hak kepemilikan (control of the firm)
2. Dividen
3. Capital gain
JENIS-JENIS SAHAM
 Saham biasa (common Stock)
 Saham Preferen (preferred stock): saham yang mempunyai
sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa
 Treasury Stock/ saham tresuri: saham yang telah beredar kemudian
dibeli kembali oleh perusahaan
SAHAM BIASA
 Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saj,
saham ini biasanya dalam bentuk saham biasa (common
Stock)
 Pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan ayng
mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasi
perusahaan
Hak –Hak Pemegang Saham Biasa
 Hak (istimewa) yang dimiliki investor saham:
1. Hak kepemilikan (control of the firm)
Hak ini tercemin dalam voting right yang dimiliki investor. Makin
besar kepemilikan, makin besar hak pemegang saham untuk
mengontrol perusahaan.
2. Preemptive right
Hak investor saham untuk didahulukan dalam pembelian ‘saham
baru’ yang diterbitkan oleh perusahaan. Tujuannya: (1) untuk
melindungi hak kontrol investor, (2) mengindari dillution of value
(nilai saham yang merosot)
3. hak Menerima pembagian keuntungan melalui dividend
JENIS-JENIS SAHAM PREFEREN

 Convertible preferred Stock


 Callable Preferred Stock
 Floating atau Adjustable-rate preferred Stock (ARP)
PREFERRED STOCK
 Convertible preferred Stock: merupakan saham preferen
yang memungkinkan pemegangnya untuk menukarkan saham
ini dengan saham biasa dengan rasio penukaran yang sudah
ditentukan.
 Pertukaran saham preferen ke saham biasa tidak
menimbulkan keuntungan (gain) atau kerugian (loss) di
perusahaan emiten.
CALLABLE PREFERRED STOCK
 Merupakan saham preferen yang memberikan hak kepada
perusahaan yang mengeluarkan untuk membeli kembali saham
ini dari pemegang saham pada tanggal tertentu di masa
mendatang dengan nilai yang tertentu.
 Harga tebusan ini biasanya lebih tinggi dari nilai nominal
sahamnya
Floating atau Adjustable-rate preferred Stock (ARP)

 Merupakan saham preferen yang tidak membayar dividen


secara tetap, tetapi tingkat dividen yang dibayar tergantung
dari tingkat return dari sekuritas t-bill (treasury bill).
 Saham preferen tipe ini cocok untuk investasi jangka pendek
bagi investor yang mempunyai kelebihan kas.
 Saham preferen ini merupakan inovasi baru di Amerika ang
dikenalkan tahun 1982
SAHAM TREASURI
 Saham treasuri (treasury stock) adalah saham milik
perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang
kemudian di beli kembali oleh perusahaan untuk tidak
dipensiunkan tetapi disimpans ebagi treasuri.
 Perusahaan emiten membeli kembali saham beredar sebagai
tresuri dengan alasan:
1. Akan digunakan dan diberikan kepada maanjer-manajer
atau karyawan-karyawan di dalam perusahaan sebagai bonus
atau kompensasi dalam bentuk saham
SAHAM TREASURI (lanjutan)
2. Meningkatkan volume perdagangan di pasar modal dengan
harapan
3. Menambahkan jumlah lembar saham yang tersedia untuk
digunakan menguasai perusahaan lain
4. Mengurangi jumlah lembar saham yang beredar untuk
menaikkan laba per lembar saham
5. Mengurangi jumlah lembar saham yang beredar sehingga
dapat mengurangi kemungkinan perusahaan lain untuk
menguasai jumlah saham secara mayoritas dalam rangka
pengambil alihan tidak bersahabat (hostile takeover)
PASAR UNTUK SAHAM
 Jenis perusahaan berdasar kepemilikan saham:

1. Closely held firm

2. Publicly owned firm

 Pasar (bursa) untuk saham:

1. Pasar reguler (regular market)

2. Pasar pararel (Over the counter market - OTC)


PASAR UNTUK SAHAM
 Jenis pasar untuk saham berdasar transaksi:

1. Initial Public Offering (IPO)

2. Pasar primer (Primary Market)


Saham
Emiten Investors
Rp

3. Pasar sekunder (secondary market)


Saham
Investor A Investor B
Rp
PENILAIAN SAHAM
• Tiga konsep nilai saham:

1. Nilai buku (book value)


Nilai yang tercantum pada pembukuan perusahaan
(nilai saham berdasarkan pembukuan emiten
(penerbit saham).). Bisa diketahui dari neraca, yaitu:
total modal sendiri dibagi jumlah lembar saham
beredar

2. Nilai pasar (Market price)


Nilai saham di pasar saham (bursa efek).

3. Nilai intrinsik (intrinsic value)


Disebut juga nilai teoritis, merupakan present
value dari semua aliran kas yang diterima investor
di masa depan (nilai sebenarnya dari saham)
Nilai-nilai yang berhubungan dengan Nilai
buku
 Nilai nominal (par value) adalah nilai kewajiban yang
ditetapkan untuk tiap-tiap lembar saham
 Agio saham merupakan selisih yang dibayarkan oleh pemegang
saham kepada perusahaan dengan nilia nominal sahamnya.
 Nilai modal disetor merupakan total yang dibayar oleh
pemegang saham kepada perusahaan emiten untuk ditukarkan
dengan saham biasa/ preferen. (penjumlahan total nilai nominal +
agio saham)
 Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan pada
pemegang saham
 Nilai Buku perlembar saham = Total Ekuitas
Jumlah Saham beredar
Nilai Intrinsik Saham
 Analisis Fundamental
- pendekatan nilai sekarang (Present value)
- Pendekatan rasio harga terhadap pendapatan (price earning ratio
(per))

• Analisis teknikal
Pendekatan Present value (PV)
Dilakukan dengan menghitung seluruh aliran kas yang akan diterima
pemegang saham dari suatu saham dimasa yang aka datang
kemudian didiskontokan dengan tingkat bunga diskonto.
Arus kas = pendapatan dividen saham tidak konstan, bertumbuh dan
dibayarkan tidak teratur. Ket:
P0= harga saham sesungguhnya
Dt
P0  
(1  k ) t k= bunga diskonto/ return
yang disyaratkan oleh investor

D g= pertumbuhan
dividen konstan ti dak bertumbu h : P0   t
k Dt= dividen tahun ke t

Dt
dividen bertumbu h konstan : P0  
(k  g)
Contoh 1
Perusahaan ABC membayar dividen selama 5 periode sebagai
berikut. Diasumsikan bahwa tingkat bunga yang diisyaratkan
investor konstan sebesar 20% tiap periode. Maka hitunglah
nilai intrinsik saham per lembarnya.
Periode Dividen
1 Rp 1.000
2 Rp. 1.500
3 Rp 0
4 Rp. 750
5 Rp.2.100

Dt
P0  
(1  k ) t
Contoh #2
 Tahun ini perusahaan emiten membayar dividen
sebesar Rp 1000,-. Investor menginginkan tingkat
pengembalian sebesar 20% per tahunnya dan
mengharapkan dividen dibayar dengan
pertumbuhan sebesar 5% per tahun. Maka nilai
intrinsik saham tersebut ?
Contoh #3
 Kebijaksanaan dividen suatu perusahaan adalah
membayar dividen konstan sebesar rp1000,- tiap
tahunnya. Jika suku bunga diskonto pertahun
adalah 20%, maka nilai intrinsik saham
perlembar adalah?
Contoh #4
 Seorang investor lebih menyukai capital gain
(keuntungan dari penjualan saham) dibandingkan
dengan dividen dan tidak ingin memegang saham
tersebut untuk selamanya. Dari data Contoh 1,
diperkirakan pada akhir tahun ke 5, investor dapat
menjual saham ini sebesar Rp 5000,-. Nilai
intrinsik perlembarnya adalah?
Strategi Pengelolaan Saham
 Jika harga pasar saham di bawah nilai intrinsik
saham maka investor sebaiknya membeli saham
tersebut, atau tidak menjual saham tersebut
(undervalued).
 Nilai intrinsik saham< harga pasar, maka saham
tersebut Overvalued (sebaiknya tidak dibeli atau
dijual saja)
Pendekatan PER
 PER menggmabarkan rasio atau perbandingan antara harga saham
terhadap earning perusahaan
 PER = Harga Perlembar Saham
Earning perlembar saham
Earning Perlembar saham = Earning atau laba perusahaan
Jumlah saham beredar
D1
P0 E1
PER  
E kg
Maka jika nilai PER= X, berarti harga saham tersebut sama dengan x kali nilai
earning perusahaan tersebut. PER juga memberikan informasi berupa rupiah
harga yang harus dibayar oleh investor untuk memperoleh setiap Rp1,00
earning perusahan
Pendekatan PER VS Present value (PV)
PV secara teoritis lebih baik, sedangkan PER lebih populer dan mudah
Contoh #5
 Harga pasar dari suatu saham adalah sebesar
Rp 20.000,-. Laba bersih yang diperoleh
perusahaan diperkirakan Rp. 500.000.000,-
dengan jumlah saham beredar 100.000
lembar. Berapakh nilai PER?
Contoh #6
 Hitunglah nilai Intrinsik saham jika diketahui PER
adalah 10, harga pasar saham adalah Rp 20.000
dan laba bersih per lembar saham (E1)
diperkirakan Rp.2500,-
PO*=P0 .E1
E1

P0*=10.2500 = Rp25.000
Karena harga saham ini adalah sebesar Rp. 20.000,
sedangkan nilai intrinsiknya adalah sebesar Rp25.000,
maka saham ini dijual dengan harga yang murah
(undervalued)
Faktor-Faktor yang menentukan besarnya
nilai PER
1. PER berhubungan positif dengan rasio pembayarn dividen
terhadap earning (D1/E1)
2. PER berhubungan Negatif dengan tingkat pengembalian yang
diinginkan (k)
3. PER berhubungan positif dengan tingkat pertumbuhan
diuviden (g)
Pendekatan Penilaian Saham lainnya
 Rasio harga terhadap nilai buku
Saham-saham memiliki rasio harga atau nilai buku yang rendah akan
menghasilkan return yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan
dengan saham-saham yang memiliki nilai buku yang tinggi.
Rekomendasi: beli saham-saham yang memiliki rasio harga/nilai buku
rendah
 Economic value Added (EVA)
Keberhasilan manajemen dalam memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
EVA = laba bersih operasi setelah dikurangi pajak- besarnya biaya modal
operasi dalam rupiah setelah dikurangi pajak
Pendekatan Penilaian Saham lainnya
lanjutan
 Rasio harga terhadap aliran kas
Informasi aliran kas merupakan informasi penting untuk
menilai kinerja perusahaan dan memprediksi perusahaan
dimasa yang akan datang

FCF(1  g)
V
WACC  g
Keterangan:
FCF =Free Cash Flow (aliran kas bebas) yang tersedia untuk Investor(
pemegang saham, pemegang obligasi)
WACC=biaya modal rata-rata tertimbang (weight average cost of capital
Contoh
Diketahui PT wayan jeblog Tbk yang go publik memiliki aliran
kas bebas sebesar Rp. 250.000, dengan biaya modal rata-rata
tertimbang sebesar 9,2%. Tingkat pertumbuhan yang terjadi
adalah 5,4%. Berapa nilai saham PT Wayan Jeblog Tbk
berdasarkan pendekatan aliran kas?
PENILAIAN SAHAM PREFEREN
 Jika Dividen yang diterima oleh pemegang saham preferen
adalah tetap, maka nilai saham preferen (Vps ) bisa dihitung
dengan rumus berikut:
D ps Dps= dividen saham preferen
Vps  rps = return yang disyaratkan
rps
Kps=discount rate

D ps
Vps 
k ps
JENIS-JENIS SAHAM
 Income stock: These stocks pay unusually large
dividends that can be used as a means of generating
income without selling the stock. Most utility stocks
are considered income stocks

 Blue-chip stocks: Stocks of solid and reliable


companies with long histories of consistent growth
and stability are considered as blue-chip stocks. They
usually pay small but regular dividends and maintain
a fairly; steady price throughout market ups and
downs.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
harga saham

 Supply & demand


 The company’s performance
 Industry condition
 Macro economic indicator
 World & Domestic events