Anda di halaman 1dari 20

Anestesia untuk

Bedah Darurat
Desy Januarrifianto
Pendahuluan
 Trauma  penyebab terbesar morbiditas
mortalitas, terutama pada usia muda
 Primary survey :
 Airway
 Tiga aspek penting :
 Butuh BHD ?
 Trauma servikal ?
 Kemungkinan sulit intubasi ?
 Lambung penuh
 Breathing
 Pneumothoraks  torakosintesis (nedle 14G,
sela iga 2, midkavikula)
 Circulation
 Denyut nadi dan tekanan darah
 Syok  resusitasi
 Trauma-induced coagulophaty
 Anti fibrinolitic  asam traneksamat ( 1 g dalam
10 menit dilanjutkan 1 g dalam 8 jam )
 Transfusi balans ( PRC:FFP:platelet = 1:1:1) 
damage control resuscitation
 Hangatkan ruang operasi
 Cairan hangat
 Pressure bag
 Lambung penuh  regurgitasi dan aspirasi
 Collar neck  mungkin sulit intubasi, siapkan alat
sulit intubasi (videolaringoskopi dan bronkoskopi)
 Iv line ukuran paling besar, > 1
 Induksi :
 hindari propofol  hipotensi, walaupun
dengan dosis kecil < 0,5 mg/KgBB
 Etomidate merupakan pilihan
 Ketamin bisa dipertimbangkan
Prinsip Dasar
 Asumsi“perut penuh” dan risiko
regurgitasi – aspirasi
Prinsip Dasar
 Curiga
trauma servikal pada pasien yang
mengeluh nyeri leher, trauma kepala,
penurunan kesadaran
Prinsip Dasar
 Curiga tension pneumothoraks pada
multiple injury
Prinsip Dasar
 Traumainduced coagulopathy -- > 25 %
pada trauma hebat. Koreksi
PRC:FFP:trombosit = 1:1:1
 Transfusion related acute lung injury (TRALI) 
penyebab utama kematian akibat transfusi
 Assessment of blood consumption (ABC) score 
prediksi perlunya protokol transfusi masif

 ABC score :
 (1) penetrating injury
 (2) systolic blood pressure less than 90 mmHg;
 (3) heart rate greater than 120 beats per minute
 (4) positive results of a focused assessment with
sonography for trauma evaluation.

 ABC score ≥ 2 membutuhkan transfusi yang masif


 Penurunan kesadaran  cedera kepala
(TBI) sampai dibuktikan bukan
 Penilaian GCS
 Subdural hematoma akut
 Bedah saraf emergency
 Angka kematian tertinggi
1. Hipotensi (sistolik < 90
mmHg)
2. Hipoksemia
(PaO2 <60 mm Hg)
3. Hiperkapnia
(PaCO2 >50 mm Hg)
4. Hipertermia(temperatu
re >38.0°C)

Morbiditas dan mortalitas


↑ karena berhubungan
dengan :
• ↑ edema otak
• ↑ Tekanan intrakranial
(ICP)
CPP 50 – 70 mmHg
ICP minimal 20 mmHg
 Pertahankan MAP diatas nilai normal
(supranormal)  Perfusi di spinal cord
terjaga pada daerah yang berkurang
aliran darahnya akibat penekanan atau
masalah pembuluh darah, jika dibanding
pemberian steroid
 Luka bakar luas (derajat 2-3, >20%) :
 Cardiac output ↓ 50% dalam 30 menit 
akibat vasokonstriksi hebat
 Syok luka bakar (burn shock)  hipoperfusi
normovolemik
 Koloid, albumin dan produk darah
 Keracunan CO :
 Luka bakar serius
 Penurunan kesadaran
 Suksinilkolin
dalam 48 jam luka bakar 
peningkatan kalium letal