Anda di halaman 1dari 16

Mufti Fathonah Muvariz

Prodi Teknik Informatika


Konsentrasi Teknik Geomatika
 Sejarah lahirnya konsep hokum laut
 Konferensi-konferensi internasional tentang
Hukum Laut
 Konsepsi Hukum Laut Internasional pertama kali muncul di Eropa
tepatnya ketika Imperium Romawi menguasai seluruh tepian Laut
Tengah.

 Peraturan- peraturan hukum laut yang dikemukakan oleh


Rhodes pada abad II atau III sebelum masehi sangat berpengaruh
di laut tengah karena prinsip- prinsipnya diterima dengan baik
oleh orang Yunani dan Romawi.

 Pada abad XIV di kawasan laut tengah terhimpun sekumpulan


peraturan hukum laut yang dikenal dengan Consolato Del Mare
(Dagang)

 Pada bagian dunia lain dikenal kitab undang- undang Asilka


sekitar abad VII, kitab undang- undang Orelon di daerah Prancis
barat dan kitab undang- undang dari Wisby di wilayah Eropa
Utara.
 Memasuki abad pertengahan, munculah klaim- klaim yang
dilakukan oleh negara- negara yang sebelumnya
merupakan bagian dari kekuasaan Romawi, menuntut
penguasaan atas laut yang berbatasan dengan pantainya.

 Diawali oleh Venetia yang menuntut sebagian besar Laut


Adriatik untuk dijadikan daerah kekuasaannya. Tuntutan
dari Venetia ini diakui oleh Paus Alexander III pada 1177.

 Genoa melakukan klaim atas kekuasaan Laut Ligunia dan


Negara Pisa yang mengklaim dan memberlakukan aturan
hukumnya di Laut Thyrrenia.

 Masing- masing negara tersebut membuat aturan


pemungutan bea terhadap setiap kapal yang berlayar
disana.
 Hugo Grotius dalam bukunya yang berjudul Mare
Liberum (1609)

 Argumentasi ini didasarkan atas pembedaan


pengertian antara imperium (souvereignty) dan
dominium (ownership). Menurutnya kedua hal
tersebut berbeda, suatu negara dapat memiliki
kedualatan atas bagian-bagian tertentu dari laut
tetapi pada umumnya tidak dapat memiliki laut.

 Sedangkan berlayar dan menangkap ikan berkaitan


dengan pemilikan atas laut, oleh karena laut tidak
dapat dimiliki, maka berlayar dan menangkap ikan
tidak dapat dilarang
 Muncul tanggapan dari penulis Inggris yaitu
Welwood dan Selden. Selden berpendapat tidak
ada alasan untuk mengatakan bahwa laut tidak
dapat dimiliki, karena pada kenyataannya Inggris
telah secara nyata memiliki dan menguasai
daerah laut yang cukup luas.

 Perdebatan antara Grotius dan penulis Inggris


tersebut sering disebut sebagai Battle of The
Books, karena telah tejadi adu argumentasi
melalui buku-buku.
 Muncul Pontanus sebagai penengah perdebatan
tersebut. Menurutnya kedaulatan adalah
mencakup wewenang untuk melarang pihak
ketiga, sehingga wewenang untuk melarang
pelayaran dan penangkapan ikan tidak lagi
dikaitkan dengan pemilikan atas laut. Pontanus
membagi laut menjadi 2 bagian, yaitu:
 a) Bagian laut yang berdekatan dengan pantai
(adjecent sea); bagian ini dapat dimiliki/di bawah
kedaulatan negara pantai (coastal state).
 b) Bagian laut yang berada di luar itu, yang
meruapakan bagian yang bersifat bebas.
1. Perkembangan Hukum Pemberantasan
Penyelundupan di Inggris.

 Perkembangan terpenting adalah King’s Chamber yang


dituangkan dalam beberapa undang-undang yang
diundangkan dalam rentang waktu antara 1784 dan 1802.

 Secara singkat isi : memperluas yurisdiksi kerajaan Inggris


atas kapal-kapal penyelundup tertentu hingga 12 mil
tanpa membeda-bedakan pemilikan dari kapal, sedangkan
terhadap kapal-kapal lain, tindakan ini hanya dilakukan
apabila pemiliknya adalah kaula negara Inggris.
Menembaki kapal bea-cukai dalam batas 12 mil dari
pantai merupakan suatu kejahatan yang dapat dikenai
hukum mati.
2. Perkembangan Hukum Pemberantasan
Penyelundupan di Amerika Serikat

 Adalah negara yang pertama kali menyatakan


bahwa ukuran lebar pantai 3 mil adalah
terlepas dari ukuran jarak tembakan meriam.
 Ukuran lebar laut 3 mil adalah ukuran yang
bersifat sementara, yang sewaktu-waktu
dapat berubah.
 UU tahun 1790, UU 1791, UU 1799, UU 1807,
UU 1922
3. Perjanjian Inggris-Amerika
 Berlaku pada tanggal 24 Mei 1924.
 Pihak peserta mengakui bahwa lebaR laut 3
mil adalah batas lebar laut teritorial yang
paling tepat.
 Pihak Inggris setuju untuk tidak keberatan
diperiksanya kapal-kapal milik mereka di luar
batas laut teritorial.
 Kapal-kapal yang mengangkut minuman
keras tidak akan disita asalkan tidak
diperuntukkan untuk suatu pelabuhan di AS.
4. Konvensi Negara-negara Baltik.
 Diadakan tanggal 9 Agustus 1925
 Pesertanya adalah : Jerman, Denmark, Estonia,
Finlandia, Latvia, Lithuania, Norwegia, Polandia,
Swedia, Kota Bebas Danzig dan USSR.
 Bertujuan untuk memberantas perdagangan
gelap dalam minuman keras.
 Para peserta tidak akan keberatan dilakukannya
tindakan sesuai dengan UU negara pantai, dalam
batas 12 mil diukur dari pantai, jika kapal-kapal
mereka ternyata kedapatan melakukan
penyelundupan
5. KONFERENSI KODIFIKASI DEN HAAG 1930

 Konferensi ini membahas 3 masalah dalam


Hukum Internasional, yaitu:
 Kewarganegaraan
 Perairan teritorial, dan
 Tanggung jawab negara untuk kerugian yang
ditimbulkan dalam wilayahnya terhadap
pribadi atau kekayaan orang asing.
 Setelah PD II terjadi perkembangan HLI yang
disebabkan oleh :
 Munculnya negara-negara merdeka baru
yang berakibat berubahnya peta politik dunia;
 Terjadinya perkembangan iptek yang sangat
pesat;
 Semakin bergantungnya negara-negara pada
laut sebagai sumber kekayaan hayati
(misalkan perikanan) maupun non-hayati
(misalkan migas).
Terdapat beberapa peristiwa penting yang
sangat berpengaruh pada perkembangan HLI,
yaitu:
1. Proklamasi Presiden Truman 1945 tentang
Landas Kontinen dan Perikanan;
2. Sengketa Perikanan antara Inggris dan
Norwegia (Anglo Norwegian Fisheries Case)
tahun 1951;
3. Klaim-klaim yang diajukan oleh beberapa
negara Amerika Latin yang berkenaan dengan
suatu jalur laut 200 mil.
 KONFERENSI HUKUM LAUT JENEWA1958

Dasar hukumnya adalah Resolusi Majelis Umum PBB No. 1105 (XI)
21 Februari 1957. Berlangsung dari tanggal 24 Feberuari sampai
27 April 1958. Dihadiri 86 negara. Menghasilkan 4 Konvensi,
yaitu:

 1) Konvensi I tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan


(Convention on Territorial Sea and Contiguous Zone);
 2) Konvensi II tentang Laut Lepas (Convention on the High Sea);
 3) Konvensi III tentang Perikanan dan Perlindungan Kekayaan
Hayati Laut Lepas (Convention on Fishing and Conservation of
the Living Resources of the High Sea);
 4) Konvensi IV tentang Landas Kontinen (Convention on
Continental Shelf)