Anda di halaman 1dari 44

PSIKOMOTOR

Tinea Capitis

Dokter Pembimbing :
dr. Dedi Herlianto

Disusun Oleh :
Pasca Rindi Nurdiyanti Putri
2013730083

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS 2


PUSKESMAS PONDOK BENDA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
JAKARTA
2018
Identitas Pasien

Nama : An. A
No.CM : xxx334
Usia : 6 tahun
Tanggal lahir : 11 Agustus 2012
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kampung Buaran, Pondok Benda
Keluhan Utama

Kebotakan pada kulit kepala


Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poli Puskesmas Pondok Benda dengan keluhan kebotakan


pada kulit kepala yang dirasakan sejak 5 hari sebelum masuk Puskesmas,
disertai bercak putih dan terasa gatal yang awalnya keluhan bercak pada
kulit kepala berwarna merah di kanan atas kepala, namun semakin lama
bercak menjadi putih disertai dengan adanya sisik halus, dan semakin
meluas, pasien merasakan gatal dan sering digaruk, orangtua pasien
mengatakan rambut mudah patah dan rapuh.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti


ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak ada yang memiliki


keluhan seperti ini.
Riwayat Pengobatan

Pasien sebelumnya belum pernah berobat atas


keluhannya saat ini, dan saat ini pasien tidak
sedang mengkonsumsi obat-obatan apapun.
Riwayat Alergi

Pasien tidak memiliki alergi terhadap


makanan, obat-obatan, debu maupun cuaca.
Riwayat Psikososial

Ibu pasien mengaku pasien memelihara kucing di


rumahnya dan pasien sering bermain dengan
kucingnya di rumah. Pasien dalam sehari-hari tidak
menggunakan tutup kepala , tidak berkerudung,
dan menurut orangtua pasien rutin mencuci rambut
dengan shampo sekali sehari.
Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan


Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : tidak dilakukan
Nadi : 80 x / menit
Suhu : 36,7º C
Pernafasan : 20 x / menit
Berat Badan : 19 kg
Tinggi Badan : 115 cm
Status Generalis

Kepala
Rambut : Berwarna hitam, distribusi tidak merata, mudah
tercabut
Mata : Konjungtiva Anemis (-/-) Sklera Ikterik (-/-)
Hidung : Deviasi Septum Nasi (-), Sekret (-)
Telinga : Tidak ada kelainan bentuk, Serumen (-)
Mulut : Bibir kering (-), Mukosa Faring Hiperemis (-)
Tonsil T1/T1, Karies Dentis (-)
Kulit Kepala :Terdapat bercak putih dengan skuama halus
(status dermatologis)
Kulit Wajah :Tidak terdapat lesi
Status Generalis

Leher
Pembesaran KGB : Tidak ada pembesaran KGB
Pembesaran Tiroid : Tidak ada pembesaran
Kelenjar Tiroid
Kulit Leher : Tidak terdapat lesi
Status Generalis

Thoraks
 Paru
Inspeksi : Bentuk & Gerakan Dada Simetris
Palpasi : Vokal Fremitus (+/+), Nyeri Tekan (-/-)
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), Ronki (-/-), Wheezing (-/-)
 Jantung
Inspeksi : Ictus Cordis Tidak Nampak
Palpasi : Ictus Cordis Teraba
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : BJ I&II, Regular, Murmur (-), Gallop (-)
Kulit : Tidak terdapat lesi
Status Generalis

Abdomen
Inspeksi : Datar. Skar (-), Lesi Kulit (-).
Auskultasi : Bising usus (+). Dalam batas normal
Perkusi : Timpani seluruh kuadran abdomen
Palpasi : Nyeri tekan (-), Hepatosplenomegali (-)
Kulit : Tidak terdapat lesi

Ekstremitas
Atas : Akral Hangat (+/+), Sianosis (-/-) Deformitas (-/-)
Bawah : Akral Hangat (+/+), Sianosis (-/-) Deformitas (-/-)
Kulit : Tak tampak lesi
Status Dermatologis
Distribusi Regional
Regio Cavitis
Lesi Multiple, sebagian konfluens, difus, ukuran numular
, lesi timbul.

Efloresensi Skuama putih, ekskoriasi


Saran Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pengambilan sampel kerokan kulit


lalu dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan
larutan KOH 10%.
RESUME
Seorang anak perempuan berusia 6 tahun datang ke poli Puskesmas Pondok Benda dengan
keluhan kebotakan pada kulit kepala yang dirasakan sejak 5 hari sebelum masuk Puskesmas,
disertai bercak putih dan terasa gatal yang awalnya keluhan bercak pada kulit kepala
berwarna merah di kanan atas kepala, namun semakin lama bercak menjadi putih disertai
dengan adanya sisik halus, dan semakin meluas, pasien merasakan gatal dan sering digaruk,
orangtua pasien mengatakan rambut mudah patah dan rapuh. Pasien sehari-hari senang
bermain dengan kucingnya dan memelihara kucing dirumahnya. Pasien dalam sehari-hari tidak
menggunakan tutup kepala , tidak berkerudung, dan menurut orangtua pasien rutin mencuci
rambut dengan shampo dalam sekali sehari.

Dermatologikus :
Distribusi : Regional
Regio : Scalp
Lesi : Multiple, sebagian konfluens, difus, ukuran numular,
lesi timbul, susunan anular
Efloresensi : Skuama, ekskoriasi
Diagnosa
Diagnosis Kerja:

Tinea Capitis

Diagnosis Banding:

Dermatitis Seboroik
Tatalaksana
 Non Medikamentosa
Edukasi
 Bila gatal, jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan
infeksi.
 Menjaga kebersihan rambut.
 Memberitahu pasien dan keluarga bahwa pasien dapat menularkan
penyakitnya pada anggota keluarga, sehingga tidak bertukar topi,
sisir, kerudung, atau penutup kepala dengan penderita, untuk
pencegahan menggunakan shampo anti fungal.
 Memberitahu ibunya cara penularan penyakit bisa dari manusia ke
manusia kontak secara langsung maupun tidak langsung, dari
hewan ke manusia, dan dari tanah ke manusia.
Tatalaksana

 Medikamentosa
◦ Miconazole cream 2%, 2 x sehari (diberikan
dalam 2 minggu)
◦ Ketoconazole tab 200 mg, 1x ½ (selama 2
minggu)
◦ Chlorpheniramin Maleat tab 4 mg, 3 x ½
Prognosis
 Quo ad Vitam : Bonam
 Quo ad Sanationam : Bonam
 Quo ad Functionam : Bonam
ANALISA KASUS
Temuan Kasus Tinjauan Teori
Pada pasien ditemukan adanya Tinea kapitis adalah kelainan
kebotakan, lesi bersisik, pada kulit dan rambut kepala
awalnya berwanra kemerahan, yang disebbabkan oleh spesies
namun saat ini bercak dermatofita. kelainan ini dapat
berwana putih. ditandai dengan lesi bersisik,
kemerah-merahan, alopesia.
Anak A usia 6 tahun, Gray Patch
awalnya lesi berwarna • Disebabkan oleh M.Audouinii dan M. Ferrigineum
kemerahan kemudian • sering ditemukan pada anak-anak.
menjadi bercak • Lesi bermula dari papul eritematosa yang kecil disekitar
berwarna putih(pucat) rambut, kemudian papul akan melebar dan membentuk
dan bersisik, rambut bercak yang menjadi pucat dan bersisik mengelilingi batang
pasien mudah patah, rambut dan akhirnya menyebar secara sentrifugal yang
dan terdapat alopesia melibatkan folikel rambut disekitarnya.
setempat. • Keluhan penderita adalah rasa gatal, warna rambut menjadi
abu-abu dan tidak berkilau. Rambut mudah patah dan
terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut dengan
pinset tanpa rasa nyeri yag menyebabkan alopesia setempat.
Riwayat penyakit Penularan ;

sosial didapatkan Ada tiga cara penularan dermatofita yaitu :

pasien memelihara  Infeksi antropofilik yang menyebar dari satu


anak ke anak yang lain.
kucing di rumahnya
dan sehari-harinya  Infeksi menyebar dari hewan ke anak (
infeksi zoofilik )
senang bermain
 Infeksi menyebar dari tanah ke manusia (
dengan kucing
infeksi geofilik ) namun jarang terjadi.
Saranpemeriksaan penunjang Pemeriksaan KOH 10%
KOH 10% Pemeriksaan langsung sediaan
basah dilakukan dengan mikroskop,
mula-mula dengan pembesaran
10x10, kemudian pembesaran 10x45.
Sediaan diambil dari kulit kepala
dengan cara kerokan pada lesi yang
diambil menggunakan blunt solid
scalpel atau dengan menggunakan
sikat.
Ditemukan adanya hifa panjang
DIAGNOSIS BANDING: Dermatitis seboroik merupakan kelainan
 Dermatitis seboroik kulit yang berhubungan erat dengan
keaktifan glandula sebasea, dengan
manifestasi klinis yaitu mengenai kulit
kepala berupa skuama halus dan kasar,
berminyak dan kekuningan pada area
seboroik yang menjadi ciri khasnya, serta
batasnya tidak tegas. Rambut pada
penderita dermatitis seboroik cenderung
rontok, mulai di bagian vertex dan
frontal. Lesi pada dermatitis seboroik
distribusinya simetris.
Non-Medikamentosa Non-Medikamentosa
- Bila gatal, jangan digaruk karena Tinea kapitis dapat menularkan
garukan dapat menyebabkan melalui manusia ke manusia, hewan
infeksi. ke manusia dan tanah ke manusia,
- Menjaga kebersihan rambut. dan meningkat pada pasien dengan
- Memberitahu pasien dan keluarga hiegenitas yang buruk. Sehingga perlu
bahwa pasien dapat menularkan diberikan edukasi pada pasien dan
penyakitnya pada anggota keluarga mengenai hal ini.
keluarga, sehingga tidak bertukar
topi, sisir, kerudung, atau penutup kepala
dengan penderita, untuk pencegahan
menggunakan shampo anti fungal.
- Tinea kapitis dapat menularkan
melalui manusia ke manusia,
hewan ke manusia dan tanah ke
manusia.
Medikamentosa Tatalaksana Medikamentosa Topikal :
Topikal
Miconazole cream 2%, 2 x • Terapi topikal digunakan untuk
sehari (diberikan dalam 2 mengurangi transmisi spora, shampo
minggu) povidone-iodine, zinc pyrithione,
ketokonazole 2% dan selenium sulfida 1%.
Shampo diaplikasikan pada kulit kepala
dan rambut selama 5 menit, seminggu 2 x,
kurang lebih dalam 2-4 minggu atau dapat
seminggu 3 x hingga pasien secara klinis
dan mikologi dinyatakan sembuh.
Medikamentosa Tatalaksana Medikamentosa Sistemik:
Sistemik
• Ketoconazole tab 200 • Griseofulvin Merupakan obat fungistatik
mg, 1x ½ (selama 2
minggu) merupakan pilihan terapi baik untuk
• Chlorpheniramin dermatofita yang sedang aktif tumbuh. Dosis
Maleat tab 4 mg, 3 x
½ yang dapat diberikan untuk anak-anak 10-25
mg / kgBB selama 6-12 minggu rata-rata 8
minggu.

• Antihistamin Pada pasien dengan keluhan


gatal, antihistamin dapat mengurangi
keluhan dan dapat mencegah distribusi spora
melalui garukan (finger scratching).
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
 Tinea kapitis adalah suatu infeksi pada kulit kepala dan rambut

yang disebabkan oleh spesies dermatofita. Dermatofita

merupakan golongan jamur yang menyebabkan dermatifitosis

yang mempunyai sifat mencerna keratin


Namun pada orang dewasa
jarang terjadi, hal ini terjadi
akibat perubahan pada pH
kulit kepala dan peningkatan
asam lemak yang berguna
sebagai proteksi atau
sebagai jamurstatik

Epidemiologi
Sering muncul pada
anak- anak usia antara 3
sampai 14 tahun.

Kejadian pada orang dewasa biasanya lebih


sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-
laki

Tinea kapitis sering terjadi di daerah pedesaan dan


tranmisi meningkat dengan higienitas yang buruk,
kepadatan penduduk dan status sosial ekonomi yang
rendah
Ada tiga cara penularan dermatofita
yaitu :

Infeksi antropofilik Infeksi zoofilik


Terjadi penyebaran melalui
kontak langsung atau melalui ( infeksi zoofilik ) melalui
penyebaran udara dari spora kontak langsung maupun
dan penyebaran tidak langsung dengan lingkungan disekitar
yaitu terkontaminasi dari hewan yang terinfeksi seperti
benda-benda seperti sisir , sikat karpet, pakaian, furnitur dan lain
, topi dan lain sebagainya sebagainya.

Infeksi Geofilik

Infeksi menyebar dari tanah ke


manusia ( infeksi geofilik )
namun jarang terjadi.
Patogenesis

Perlekatan pada keratinosit. Penetrasi melewati dan di antara

Jamur superfisial harus melewati sel


Setelah terjadi perlekatan, spora
berbagai rintangan untuk bisa
berkembang dan menembus stratum
melekat pada jaringan keratin
korneum

Pembentukan respon penjamu


Derajat inflamasi dipengaruhi oleh
status imun pasien dan organisme
yang terlibat.
Manifestasi Klinis

Grey Patch
Lesi bermula dari papul eritematosa yang kecil disekitar rambut, kemudian papul akan melebar dan
membentuk bercak yang menjadi pucat dan bersisik mengelilingi batang rambut dan akhirnya menyebar
secara sentrifugal yang melibatkan folikel rambut disekitarnya. Keluhan penderita adalah rasa gatal, warna
rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilau. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya sehingga mudah
dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri yag menyebabkan alopesia setempat.
Manifestasi Klinis

Black dots
Pada permulaan penyakit, gambaran klinis menyerupai kelainan yang disebabkan oleh genus
Microsporum. Rambut yang terinfeksi akan patah tepat pada muara folikel dan yang tertinggal
adalah ujung rambut yang penuh dengan spora. Ujung rambut didalam folikel akan muncul
gambaran “black dot” pada pemeriksaan klinis. Pada infeksi black dot sering terjadi inflamasi
dimana peradangan terjadi dari folikulitis ke kerion.
Manifestasi Klinis

Kerion
Kerion merupakan jenis tinea kapitis yang bersifat inflamasi dan merupakan tinea kapitis dengan peradangan
yang berat Reaksi peradangan berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan serbukan sel
radang yang padat disekitarnya sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang berkelompok dan
kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut (sikatriks) dan
berakibat alopesia yang menetap.
Manifestasi Klinis

Favus
Favus merupakan gejala tinea yang jarang, gejala di sebabkan T. schoenleinii. Organisme
dapat mempengaruhi kulit dan kuku juga hal ini di tandai dengan warna krusta
kekuningan yang dikenal sebagai skutula disekitar rambut. Skutula memiliki berbau yang
khas yaitu berbau tikus “moussy odor” dan rambut secara ekstensif akan hilang menjadi
alopesia dan atrofi
Diagnosis
Lampu Woods
Filter sinar ultraviolet (Wood) memunculkan fluoresensi hijau dari beberapa jamur dermatofita , terutama
spesies Microsporum. Pada grey patch ringworm dapat dilihat fluoresensi hijau kekuning-kuningan pada
rambut yang sakit melampaui batas-batas grey patch

KOH
Sediaan diambil dari kulit kepala dengan cara kerokan pada lesi yang diambil menggunakan blunt solid scalpel
atau dengan menggunakan sikat.
Pengambilan sampel terdiri rambut sampai akar rambut serta skuama.
Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut adalah 10% dan untuk kulit 20%. Setelah sediaan
dicampurkan dengan KOH, ditunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan. Untuk mempercepat pelarutan
makan dapat dilakukan pemanasan sediaan basah di atas api kecil
Diagnosis
Kultur
Medium kultur yang digunakan untuk jamur dermatofit adalah
sabouraud dextrose agar.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis
pada media buatan yaitu sabouraud dextros agar. Antibiotik
seperti kloramfenikol dan cycloheximide ditambahkan ke media
untuk mencegah pertumbuhan dari bakteri atau jamur
kontaminan. Kerokan yang diambil pada lesi di kulit kepala
dengan menggunakan sikat kemudian di ratakan di permukaan
media kultur. Kebanyakan dermatofit tumbuh pada suhu 26oC
dan diperlukan waktu tumbuh setelah 2 minggu untuk dilakukan
pemeriksaan.
Tatalaksana
TERIMA KASIH