Anda di halaman 1dari 66

SPEKTROFLUOROMETRI

RANI PRABANDARI, Apt.


TINJAUAN UMUM
Penyerapan energi oleh molekul
memungkinkan terjadinya : ( Eksitasi,
Fluorescensi, dan Fosforescensi)

Banyak senyawa kimia memiliki sifat


fotoluminensi (dapat dieksitasikan oleh
cahaya dan memancarkan kembali sinar
dengan panjang gelombang sma atau
berbeda dengan semula).

Ada dua peristiwa fotoluminensi :


(Fluorosensi dan Fosforesensi)
 Fluorosensi dan fosforesensi merupakan

Peristiwa yg mana suatu senyawa obat atau


senyawa kimia dapat dieksitasikan oleh
radiasi elektromagnetik dan kemudian
memancarkan kembali sinar yg λ nya sama
atau berbeda dg panjang gelombang semula (λ
eksitasi).
 Pada peristiwa fluorosensi, pemancaran
kembali sinar oleh molekul obat yang telah
menyerap energi sinar terjadi dalam waktu yg
sangat singkat setelah penyerapan (10-8
detik).

 Pada fosforesensi, akan terjadi pemancaran


kembali sinar oleh molekul yg telah menyerap
energi sinar dalam waktu yg relatif lama (10-4
detik).
MOLEKUL YANG MAMPU BERFLUORESENSI

 Secara umum, fluoresensi dikaitkan dg sistem


kromofor/ausokrom dan struktrur kaku (rigid)
 Sistem ikatan rangkap terkonjugasi memiliki struktur yang
planar dan kaku sehingga akan mampu menyerap secara
kuat di daerah 200-800 nm pd radiasi elektromagnetik.
 Senyawa yg mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi
merupakan kandidat senyawa yg mampu berfluoresensi.
 Modifikasi struktur terhadap senyawa-senyawa dapat
menurunkan atau meningkatkan intensitas fluoresensi
tergantung pd sifat dan letak gugus substituen.
LUMINESCEN
Sebagian molekul dalam keadaan
ground state berada dalam keadaan
singlet.

Molekul dalam keadaan :


singlet : spin elektron triplet : spin elektron
berpasangan tidak berpasangan

Energi keadaan triplet sedikit lebih


rendah dibanding energi keadaan
singlet
DIAGRAM FOTOLUMINISENSI
DEAKTIVASI MOLEKUL TEREKSITASI
 Merupakan suatu proses kembalinya
molekul yang tereksitasi ke keadaan
asas (dari S1 atau T ke S0) :

 Pengendoran vibrasi (Vibrational velaxation = VR)


 Konversi didalam (Internal Conversion = IC)
 Pradisosiasi
 Disosiasi
 Konversi keluar
 Lintasan antar system (Inter system Crossing = IX)
 Pemadaman sendiri (selfquenching = SQ)
 Fluoresensi (F)
 Fosforisensi (P)
PENGENDORAN VIBRASI
(VIBRATIONAL VELAXATION = VR)
 Perpindahan energi vibrasi
dari molekul yang tereksitasi
 Molekul yang tereksitasi
kehilangan energi eksitasi
vibrasionalnya (lewat
tumbukan) menjadi keadaan
vibrasional S2
 Terjadi sangat cepat (10-3)
detik
 Dapat terjadi pada tingkat
energi elektronik tereksitasi
atau azas
KONVERSI DIDALAM
(INTERNAL CONVERSION = IC)
 Perpindahan energi dalam 1
molekul
 Elektron pindah dari tingkat
energi elektronik yang lebih
tinggi ke tingkat energi elektron
yang lebih rendah tanpa
memancarkan sinar (S2 
S1 atau T2  T1)
 Dapat terjadi jika kedua tingkat
energi elektronik tersebut
berdekatan, sehingga terjadi
tumpang tindih diantara
tingkat energi vibrasi
PRADISOSIASI
 Kelanjutan IC
 Perpindahan electron dari
suatu tingkat energi
elektronik tereksitasi (mis
S2) ke tingkat energi
vibrasi yang lebih tinggi
dari tingkat energi
elektronik tereksitasi yang
lebih rendah
DISOSIASI
 Putusnya suatu ikatan dalam molekul
karena menyerap energi sinar tanpa
didahului peristiwa konversi kedalam
 Elektron ikatan terlepas
KONVERSI KELUAR
 Perpindahan energi
elektronik akibat
antaraksi molekul
yang tereksitasi
dengan molekul lain
 Tidak ada pemancaran
sinar
 Energi yang
dipindahkan adalah
energi elektronik
LINTASAN ANTAR SYSTEM
(INTER SYSTEM CROSSING = IX)
 Pembalikan arah spin elektron
yang tereksitasi dari tereksitasi
SINGLET (S) menjadi TRIPLET
(T)
 dapat mudah terjadi jika tingkat
energi vibrasi dari S overlapping
dengan tingkat energi vibrasi
dari T
 Terjadi pada molekul dengan
berat molekul tinggi
PEMADAMAN SENDIRI
(SELFQUENCHING = SQ)
 Intensitas fluoresensi berkurang
 Terjadi akibat tabrakan-tabrakan antar
molekul sendiri
 Adanya pemadam akan menginduksi
deeksitasi dari suatu molekul analit yang
tereksitasi sehingga tidak ada sinar yang
diemisikan
 Contoh : Oksigen bagi senyawa poliaromatis
hidrokarbon
FLUORESENSI (F)
 Pemancaran sinar dari S1 
S0
 Waktunya amat singkat (10-8)
detik
 Jika eksitasi
dihentikan,fluoresensi
terhenti
 Emisi foton sama nilainya
dengan energi ang diserap
oleh suatu molekul.
FOSFORESENSI (P)
 Peroses sutu molekul
melangsungkan suatu transisi
(emisi) dari tingkat triplet ke
tingkat dasar.
 Pemancaran sinar dari T1 
S0
 Waktunya lebih lama (10-4
detik)
 Jika eksitasi
dihentikan,fosforisensi masih
dapat berlangsung
 Biasanya didahului oleh L.A.S.
METODE SPEKTROFLUOROMETRI

 adalah suatu metode pengukuran berdasarkan


sinar yang berfluoresensi. Fluoresensi adalah
gejala dari suatu molekul setelah radiasi
cahaya, melepas kembali radiasi tadi dengan
panjang gelombang yang lebih panjang.
Fluroresensi akan nampak jelas apabila
penyerapan sinar pada daerah ultraviolet dan
melepaskannya dalam daerah gelombang
nampak
PRINSIP FLUORESENSI

 Fluoresensi adalah proses pemancaran radiasi cahaya


oleh suatu materi setelah tereksitasi oleh berkas cahaya
berenergi tinggi. Emisi cahaya terjadi karena proses
absorbsi cahaya oleh atom yang mengakibatkan
keadaan atom tereksitasi. Keadaan atom yang
tereksitasi akan kembali keadaan semula dengan
melepaskan energi yang berupa cahaya (de-eksitasi).
Fluoresensi merupakan proses perpindahan tingkat
energi dari keadaan atom tereksitasi (S1 atau S2)
menuju ke keadaan stabil (ground states). Proses
fluoresensi berlangsung kurang lebih 1 nano detik
sedangkan proses fosforesensi berlangung lebih lama,
sekitar 1 sampai dengan 1000 mili detik
Prinsip dasar spektrofluorometri adalah sinar
monokromatis penyebab promosi elektron
pada senyawa organik atau atom, yang
kemudian elektron mengalami kehilangan
sebagian energi kinetiknya, dan selanjutnya
elektron kembali ke tingkat dasar dengan
mengemisikan sinar dengan panjang
gelombang yang lebih besar. Sinar
monokromatis penyebab promosi elektron
dinamakan sinar eksitasi. Sinar yang
diemisikan oleh elektron dari senyawa disebut
sinar emisi (Rohman dan Gandjar, 2007)
SPEKTROFOTOMETER
KOMPONEN-KOMPONEN
SPEKTROFLUOROMETER
Dari gambar dapat dilihat bahwa
komponen spektrofluorometer hampir
sama dengan komponen
spektrofotometer. Ada perbedaan
antara keduanya yakni
Spektrofluorometer memiliki dua
monokromator dimana salah satu
digunakan untuk panjang gelombang
eksitasi dan yang lainnya digunakan
untuk panjang gelombang emisi.
PERBEDAAN FLUORESENSI DENGAN
SPEKTROFOTOMETRI

Kepekaan analisis pada


1.
spektrofluorimetri dapat dipertinggi
dengan menaikkan intensitas sumber
cahaya

2. Analisis spektrofluorimetri lebih


selektif dan lebih sensitif
(3)keuntungan analisis fluorometri dan
fosforimetri dibandingkan dengan
spektrofotometri absorbsi, yaitu :
fluorometri lebih peka, fluorometri lebih
selektif, dan pada fluorometri gangguan
spektral dapat dikurangi dengan cara
merubah panjang gelombang eksitasi atau
emisi
KEUNTUNGAN DARI ANALISIS
FLUORESENSI

Kepekaan yang baik karena :


1. Intensitas dapat diperbesar dengan
menggunakan sumber eksitasi yang tepat
2. Detektor yang digunakan seperti tabung
pergandaan foto sangat peka
3. Pengukuran energi emisi lebih tepat
daripada energi terabsorbsi
4. Dapat mengukur sampai kadar 10-4 -10-9
M
 Gugus-gugus yg memberikan elektron (elektron donating group),
contohnya : gugus hidroksil, amino, metoksi yg terikat secara
langsung pada sistem ikatan Π dapat memfasilitasi terjadinya
proses fluoresensi.

 Gugus penarik elektro (electron withdrawing group), contoh :


nitro, bromo, iodo, siano, karboksil cenderung mengurangi
intensitas fluoresensi.
 Penambahan banyaknya ikatan rangkap terkonjugasi dalam sistem
meyebabkan peningkatan fluoresensi utamanya jika dalam struktur
aromatis heterosiklik, yakni suatu struktur aromatis yang
mengandung gugus N,S dan O.

 Intensitas senyawa heterosiklik yang mengandung gugus –NH


seringkali meningkat pd pH asam yang mana gugus nitrogen
mengalami protonisasi.
SENYAWA YG BERFLUORESENSI DIBEDAKAN MENJADI
DUA :

1. Senyawa yg secara alami mampu berfluoresensi


(intrinsik/natif)
2. Senyawa2 yg dapat berfluoresensi setelah diperlakukan
direaksikan dg reagen ttt.
1. SENYAWA-SENYAWA BERFLUORESENSI
INTRINSIK
 Beberapa obat dapat diukur secara langsung dalam berbagai pelarut
 Jenis pengukuran tergantung pada karakteristik fluoresensi suatu
struktur molekul senyawa
 Fluoresensi tergantung juga pada lingkungan pengukuran, pengaruh
pelarut dan suhu
CONTOH SENYAWA2 OBAT YG BERFLUORESENSI SECARA INTRINSIK
(GANDJAR DAN ROHMAN, 2007)
Senyawa Pelarut pH λeksitasi λemisi
Asam folat air 6 317 440
Asam salisilat air 10 310 400

Estrogen air 13 490 546


Fenobarbital air 13 278 325
Griseofulvin air 7 295,335 450
Insulin air 6 490 520
Kinidin air 1 350 450
Sulfanilamid air 13 315 530
Vitamin E etanol - 295 340
Warfarin metanol - 290,342 395
Propanolol Amil asetat - 293 344
2. PENGUBAHAN SENYAWA MENJADI FLUORESEN
 Jika suatu senyawa tdk berfluoresensi secara intrinsik, maka
senyawa tsb harus diubah menjadi senyawa yg berfluoresen untuk
dpt dianalsis.
 Cara yg dapat dilakukan :

1. Radiasi dg UV
2. Hidrolisis
3. Dehidrasi dg asam kuat
4. Pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat dg
reagen fluorometrik untuk membentuk spesies berfluoresensi yg
disebut dg fluorofor
BEBERAPA SENYAWA OBAT YG DAPAT DIANALISIS DG METODE
FLUORESENSI SETELAH MENGUBAHNYA MENJADI FLUOROFOR
Senyawa Metode Λ eksitasi Λ emisi
Sulfadiazin Reaksi dg fluoresamin 405 485
Sulfametoks Reaksi dg fluoresamin 405 485
asol

Teofilin Oksidasi dg serium (IV) 325 400


Tetrasiklin Pengkomplekan dg kalsium dan asam 355 414
barbiturat

Gentamisin Reaksi dg dansil klorida 405 485


Glukosa Reaksi dgf 2-sianoasetamid 331 383
Penisilin Pengkoplingan dg 2-metoksi-6-kloro- 420 500
9-β-aminoetilakridin

Progesteron Reaksi dg asam format 419 472


SISTEM INSTRUMENTASI
 Peralatan pada fluoresensi dan fosforesensi dapat
digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : fluorometer
penyaring dan spektrofluorometer.
 Sumber sinar harus sangat intens dan sangat stabil
karena intensitas fluoresensi berbanding langsung
dengan Io. Lampu merkuri dan xenon merupakan
sumber radiasi yang paling sering digunakan.
Emisi lampu xenon terdistribusi pada kisaran
penjang gelombang yang luas, sedangkan emisi
lampu merkuri memberikan intensitas yang sangat
tinggi pada daerah panjang gelombang tertentu,
yaitu diantara 254-366 nm, sehingga sangat sesuai
untuk radiasi eksitasi
 Untuk memperoleh spesifik eksitasi dan
mengurangi sesatan sinar, maka dipilih pita
radiasi yang sempit dari radiasi yang diemisikan
oleh sumber sinar. Pemilihan ini dilakukan oleh
oleh penyaring eksitasi (excitation filter).

 Sinareksitasi selanjutnya melewati tempat


sampel. Beberapa pelarut juga ada yang
berfluoresensi sehingga harus dilakukan
pemilihan secara cermat. Wadah sampel yang
berasal dari gelas sudah cukup untuk analisis.
Wadah sampel dari kuarsa harus digunakan pada
panjang gelombang di bawah 320 nm.
LANJUTAN.,……………

 Sinar fluoresen diemisikan ke segala arah


oleh sampel. Beberapa sinar yang
ditransmisikan akan dihamburkan
(scattered) dalam arah ini dan sinar yang
tidak diharapkan ini akan dihilangkan
dengan penyaring fluoresensi kedua yang
dipilih sedemikian rupa sehingga penyaring
kedua ini akan mentransmisikan secara
maksimal
PREPARASI SEDIAAN OBAT MULTIKOMPONEN
UNTUK ANALISIS KUANTITATIF DENGAN
SPEKTROFLUOROMETRI

1. Sampel tablet yang akan dianalisis harus


representatif untuk menghindari resiko
adanya hasil analisis yang keluar dari
spesifikasi yang ditentukan. Contoh :
Menurut Farmakope, untuk analisis tablet
parasetamol dibutuhkan sampel sebanyak
20 tablet parasetamol 500 mg
LANJUTAN…………….

2.Sediaan cair : dapat dilakukan


pengukuran secara langsung, atau
diencerkan atau dipekatkan terlebih
dahulu dengan pelarut organik
3.Sediaan steril (injeksi) : dapat
dilakukan pengukuran secara
langsung
LANJUTAN……………

4. Sediaan semi padat Isolasi obat dalam salep


harus ditunjukkan pada dasar salepnya :
a. Salep lemak bulu domba alkohol, biasanya
dilarutkan dalamkloroform atau eter
b. Salep hidrofil, dilarutkan dalam kloroform
atau eter
c. Salep lanolin, dilarutkan dalam kloroform
atau eter
d. Salep Polietilen glikol, dilarutkan dalam
etanol atau air
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
PADA FLUORESENSI

1. Hasil kuantum (efisiensi kuantum, quantum yield)


Merupakan bilangan yang menyatakan perbandingan antara
jumlah molekul yang berfluoresensi terhadap jumlah total
molekul yang tereksitasi. Besarnya quantum (ɸ) adalah : 0 ≤
ɸ ≤ 1. Nilai ɸ diharapkan adlah mendekati 1, yang berarti
efisiensi fluoresensi sangat tinggi
2. Temperatur (Suhu)
a. efisiensi fluoresensi (EF) berkurang pada
suhu yang dinaikkan
b. Kenaikan suhu menyebabkan tabrakan antar
molekul atau dengan molekul pelarut
c. Energi akan dipancarkan sebagai sinar
fluoresensi diubah menjadi bentuk lain misal
: EC
3. Pelarut
a. Jika pelarut makin polar maka intensitas
fluoresensi makin besar
b. Jika pelarut mengandung logam berat (Br, I
atau senyawa lain), maka interaksi antara
gerakan spin dengan gerakan orbital elektron-
elektron ikatan lebih banyak terjadi dan hal
tersebut dapat memperbesar laju lintasan
antara sistem atau mempermudah
pembentukan triplet sehinga kebolehjadian
fluorosensi lebih kecil, sedangkan
kebolehjadian fosforesensi menjadi lebih besar
OH
4. pH
pH mempengaruhi λ eks = 285 λ eks = 310
keseimbangan bentuk λ em = 365 λ em = 410
molekul dan Int = 18 Int = 10
ionic
Phenol Phenolat

pH berpengaruh pada letak keseimbangan antar bentuk


terionisasi dan bentuk tak terionisasi. Sifat fluorosensi dari
kedua bentuk itu berbeda. Sebagai contoh, fenol dalam
suasana asam akan berada dalam bentuk molekul utuh
dengan panjang gelombang antara 285-365 nm dan nilai
ε = 18 M-1 cm-1 , sementara jika dalam suasana basa
maka fenol akan terionisasi membentuk ion fenolat yang
mempunyai panjang gelombang antara 310-400 nm dan ε
= 10 M-1 cm-1
5. Oksigen terlarut
Adanya oksigen terlarut dalam larutan cuplikan
menyebabkan intensitas fluoresensi berkurang sebab :
a. Oksigen terlarut oleh pengaruh cahaya dapat
mengoksidasi senyawa yang diperiksa
b. Oksigen mempermudah LAS

Adanya oksigen akan memperkecil intensitas fluoresensi.


Hal ini disebabkan oleh terjadinya oksidasi senyawa
karena pengaruh cahaya (fotochemically induced
oxidation). Pengurangan intensitas fluorosensi disebut
pemadaman sendiri atau quenching. Molekul oksigen
bersifat paramagnetik, dan molekul yang bersifat seperti
ini dapat mempengaruhi dan mempermudah lintasan
antara sistem sehingga memperkecil kemungkinan
fluorosensi, sebaliknya memperbesar kebolehjadian
fosforesensi
6. Kekakuan struktur (structural rigidity) Struktur
yang rigid (kaku) mempunyai intensitas yang
tinggi

Bifenil
Fluoren
EF = 0,20

Adanya -CH2- pada fluoren menyebabkan strukturnya lebih


kaku.

Fluoresensi dapat terjadi dengan baik jika molekul-molekul


memiliki struktur yang kaku (rigid). Contoh fluoren yang
memiliki efisiensi kuantum (ɸ) yang besar (mendekati 1)
karena adanya gugus metilen, dibandingkan dengan binefil
yang memiliki efisiensi kuantum yang lebih kecil (sekitar
0,2)
7. Pemadaman sendiri dan penyerapan sendiri
 Pemadaman sendiri di sebabakan oleh
tabrakan-tabrakan antar molekul zat itu
sendiri. Tabrakan-tabrakan itu menyebabkan
energi yang tadinya akan dilepaskan sebagai
sinar fluorosensi ditransfer ke molekul lain,
akibatnya intensitas berkurang. Salah satu
proses pemadaman sendiri dapat ditulis
sebagai berikut:
 Molekul analit tereksitas + pemadaman
menjadi molekul analit berkeadaan dasar +
pemadam+ energi
HUBUNGAN STRUKTUR MOLEKUL
DAN FLUORESENSI
 Struktur molekul yang mempunyai ikatan
rangkap mempunyai sifat fluoresensi
karena strukturnya kaku dan planar
 EDG (OH-, -NH2, OCH3) yang terikat pada
sistem  dapatmenaikkan intensitas
fluoresensi
 EWG (NO2, Br, I, CN, COOH) dapat
menurunkan bahkan menghilangkan sifat
fluoresensi
 Penambahan ikatan rangkap (aromatik
polisiklik) dapat menaikkan fluoresensi
Pengaturan pH dapat merubah intensitas fluoresensi,
Contoh :
Phenol menjadi phenolat  menaikkan fluoresensi
Amina aromatik menjadi ammonium aromatik 
menurunkan fluoresensi
Heterosiklis dengan atom N, S dan O
mempunyai sifat fluoresensi
Heterosiklis dengan gugus NH, jika medianya
asam akan menaikkan intensitas fluoresensi
BEBERAPA OBAT YANG BERSIFAT
FOSFORISENSI
Senyawa  eks  fos Waktu Kondisi
Aspirin 240 380 2,1 EPA
Bennocaine 310 430 3,4 Epharm
Cocaine 240 400 2,7 Ethanol
Diazepam 290,325 400,470,510 0,07 EW
Iproniazid 300,370 440 - EW
Papaverine 260 480 1,5 Ethanol
Phenacetin 410 499 - EPA
Strychnin PO4 290 440 1,2 Ethanol
Thioridazine 335 500 0,07 EW
EW : Ethanol – water = 1 : 1
EPA : campuran Diethyleter-isopentane-ethanol (5:5:2)
 Gugus-gugus yang memberikan elektron (elektron
donating groups) seperti gugus hidroksil, amino atau
metoksi yang terikat secara langsung pada sistem
ikatan п dapat memfasilitasi terjadinya proses
fluoresensi. Gugus-gugus yang menarik elektron
(elektron withdrawing groups) seperti nitro, bromo,
iodo, siano, atau karboksil cenderung mengurangi
intensitas fluoresensi. Untuk obat-obat yang
mempunyai gugus fungsional yang dapat terionisasi
yang terikat pada siste konjugasi, pemilihan ph dapat
mempengaruhi sensitifitas dan selektifitas pengujian.
Dalam kasus senyawa fenol, ionisasi menjadi anion
fenolat biasanya mendorong fluoresensi; sementara itu
perubahan amin aromatis menjadi kation amonium
aromatis menghambat proses fluoresensi
ANALISIS IBUPROFEN SIRUP SECARA
SPEKTROFLUOROMETRI

 A. Alat-alat
Timbangan analitik, Spektrofluorometer, Alat
sonikator, Alat sentrifuge, Glassware

 B. Bahan
Ibuprofen standar
Sampel ibuprofen sirup
NH3 0,2 M
Aquadest
CARA KERJA
UJI KESERAGAMAN BOBOT:
1. Menimbang 3 botol sampel satu persatu.

2. Tandai batas volume isi pada botol.

3. Keluarkan sirup, tuangkan ke dalam gelas beker 250


ml.
4. Masukkan aquadest ke dalam botol sirup sampai
tanda.
5. Tuangkan aquadest ke dalam gelas ukur 100 ml,
catat volume.
6. Lakukan sesuai prosedur di atas sampai tiga botol
sampel.
7. Hitung volume rata-rata, nilai standar deviasi, dan
CV
LANJUTAN……………

PEMBUATAN LARUTAN NH4OH 0,2 M


Ambil ammonia pekat (25% b/b atau 13,4 M)
sebanyak 3,70 ml. Masukkan ke dalam labu takar
250,0 ml, tambahkan aquadest hingga tanda

PENENTUAN PANJANG GELOMBANG EKSITASI &


PANJANG GELOMBANG EMISI
penentuan panjang gelombang menggunakan
konsentrasi tengah pada kurva baku
LANJUTAN…………………

PEMBUATAN KURVA BAKU IBUPROFEN


1. Menimbang serbuk ibuprofen standar
sebanyak 20 mg.
2. Masukkan ke dalam labu takar 50,0 ml.
Tambahkan NH4OH 0,2 M hingga tanda.
3. Buat lima larutan seri kadar kurva baku
dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80, dan 100
mikrogram/ml.
4. Intensitas dibaca dengan alat
spektrofluorometer pada panjang gelombang
eksitasi dan emisi yang telah ditetapkan.
LANJUTAN…………….

Penetapan Kadar Sampel (Damiani, et.al, 2000)


 Tiga botol sirup isinya dicampur hingga
homogen.
 Ambil 1,0 ml sirup ad 50,0 ml NH4OH 0,2 M.

 Lakukan sonifikasi selama 10 menit, lanjutkan


dengan sentrifuge, lalu saring larutan.
 Ambil 1,0 ml larutan ad 10 ml NH4OH 0,2 M.

 Larutan dibaca pada panjang gelombang eksitasi


dan emisi.
 Lakukan pengenceran hingga intensitas berada
pada range 20-80.
 Lakukan replikasi sebanyak tiga kali
Konsentrasi Larutan Standar Ibuprofen
C = 20 mg/ 50 ml = 0,4 mg/ml = 400 mikrogram/ml

Pembuatan Larutan Seri Kadar Kurva Baku


M1. V1 = M2. V2
V1 = (M2. V2) / M1

Rumus Perhitungan Kadar Ibuprofen


HASIL
 Penentuan Panjang Gelombang Eksitasi
dan Emisi
Pembuatan Kurva Baku
Uji Keseragaman Bobot dan
Penetapan Kadar Sampel
 Pada percobaan tersebut dilakukan uji kuantitatif
terhadap ibuprofen dalam sediaan sirup dengan
menggunakan metode spektrofluorometri. Metode
ini dipilih karena lebih peka dan spesifik. Ibuprofen
dapat diuji dengan spektrofluorometri karena
memiliki gugus kromofor.
 Pelarut yang digunakan dalam analisis ibuprofen ini
adalah ammonium hidroksida 0,2 M. NH4OH dapat
melarutkan ibuprofen, serta mempengaruhi pH
larutan menjadi basa
 Tiga botol sampel diuji keseragaman bobotnya
dengan hasil volume rata-rata sirup 60,667 ml. Nilai
CV sebesar 0,951% atau lebih kecil daripada nilai
batas 5,0% yang artinya bobot ketiga botol sirup
seragam
 Analisis kuantitatif didahului dengan
pengukuran panjang gelombang eksitasi yang
hasilnya 263 nm, sedangkan panjang
gelombang emisi 294 nm. Hasil ini tidak jauh
berbeda dengan panjang gelombang secara
teoritis.
 Pengukuran kurva baku terhadap lima seri
kadar memperoleh nilai R sebesar 0,9812 dan
persamaan regresi linear y = 39,3765 x +
12,4805. Nilai R praktikum ini lebih besar dari
R tabel (0,8783); artinya secara statistik metode
spektrofluorometri ini valid untuk digunakan
menguji ibuprofen
 Perlakuan sampel menggunakan sonikasi dengan
tujuan melarutkan partikel-partikel sirup secara
sempurna. Proses sentrifugasi dilakukan untuk
mengendapkan partikel tidak larut dari zat eksipien
dalam sirup ibuprofen, dilanjutkan dengan
penyaringan agar tidak ada residu partikel yang
dapat mengganggu dalam pembacaan larutan pada
spektrofluorometer
 Berdasarkan perhitungan, kadar sampel replikasi ke
II harus ditolak karena tidak masuk rentang kadar
penerimaan yaitu (1066,282 < x < 2177,886) mg.
Batas kesalahan sangat besar yaitu 555,802 mg
dengan taraf kepercayaan 95%. Faktor pengenceran
sebesar 25.000 kali. Sehingga kadar rata-rata
ibuprofen dalam sampel adalah 1622,084 mg/botol
atau sebanyak 135,0 mg/5 ml
 Rohman, A., dan Gandjar, I.G. 2007. Kimia
Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
 Depkes RI. 1994. Farmakope Indonesia Edisi
Ke-Empat. Jakarta : Kemenkes RI.
 Damiani, P.C., Bearzotti, M., Cabezon, M.A.
2000. Spectrofluorometric determination of
Ibuprofen in Pharmaceutical formulations. J.
Pharm. Biomed.Anal 25 : 679-683.