Anda di halaman 1dari 47

HAIRUL ANWAR

14710143
Ikterus Neonatorum
Keadaan klinis pada bayi yang ditandai
oleh pewarnaan kuning pada kulit dan
sklera akibat akumulasi bilirubin tak
terkonjugasi yang berlebih. Ikterus
secara klinis akan mulai tampak pada
bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah
5-7 mg/dl.
Hiperbilirubinemia

 Suatu keadaan dimana kadar bilirubin serum


total > 10mg/dL.
Klasifikasi

Terdapat 2 jenis ikterus:


 Ikterus fisiologis
 Ikterus patologis
(Mansjoer, 2002).
Ikterus fisiologis

 Timbul pada hari kedua-ketiga.


 Kadar bilirubin indirek (larut dalam lemak)
tidak melewati 12 mg/dL pada neonatus cukup
bulan dan 10mg/dL pada kurang bulan.
 Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak
melebihi 5 mg/dL per hari.
Ikterus fisiologis

 Kadar bilirubin direk (larut dalam air) kurang


dari 1mg/dL.
 Gejala ikterus akan hilang pada sepuluh hari
pertama kehidupan.
 Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan
keadaan patologis tertentu.
Ikterus patologis

 Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama


kehidupan.
 Ikterus dengan kadar bilirubin melebihi
12mg/dL pada neonatus cukup bulan dan
10mg/dL pada neonatus lahir kurang
bulan/premature.
 Ikterus dengan peningkatan bilirubun lebih dari
5 mg/dL per hari.
Ikterus patologis

 Ikterus yang menetap sesudah 2 minggu


pertama.
 Ikterus yang mempunyai hubungan dengan
proses hemolitik, infeksi atau keadaan
patologis lain yang telah diketahui.
 Kadar bilirubin direk melebihi 1mg/dL.
Etiologi

 Ikterus Prahepatik
 Ikterus Pascahepatik
 Ikterus Hepatoseluler
Ikterus Prahepatik

Produksi bilirubin yang meningkat yang terjadi


pada hemolisis sel darah merah.
Ikterus Prahepatik

 Peningkatan pembentukan bilirubin dapat


disebabkan oleh:
1. Kelainan sel darah merah
2. Infeksi seperti malaria, sepsis.
3. Toksin yang berasal dari luar tubuh seperti:
obat – obatan, maupun yang berasal dari
dalam tubuh seperti yang terjadi pada
reaksi transfuse dan eritroblastosis fetalis.
Ikterus Pascahepatik
Bendungan pada saluran empedu akan menyebabkan
peninggian bilirubin konjugasi yang larut dalam air.
Akibatnya bilirubin akan mengalami regurgitasi kembali
kedalam sel hati dan terus memasuki peredaran darah,
masuk ke ginjal dan di eksresikan oleh ginjal sehingga
ditemukan bilirubin dalam urin. Sebaliknya karena ada
bendungan pengeluaran bilirubin kedalam saluran
pencernaan berkurang sehingga tinja akan berwarna
dempul karena tidak mengandung sterkobilin.
Ikterus Hepatoseluler

Kerusakan sel hati menyebabkan konjugasi


bilirubin terganggu sehingga bilirubin direk akan
meningkat dan juga menyebabkan bendungan di
dalam hati sehingga bilirubin darah akan
mengadakan regurgitasi ke dalam sel hati yang
kemudian menyebabkan peninggian kadar
bilirubin konjugasi di dalam aliran darah.
Kerusakan sel hati terjadi pada keadaan:
hepatitis, sirosis hepatic, tumor, bahan kimia
Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada
beberapa keadaan . Kejadian yang sering ditemukan
adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin
pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan
bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit,
polisitemia. Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga
dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh.
Patofisiologi

Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan


kadar bilirubin adalah apabila ditemukan
gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang
mengalami gangguan ekskresi misalnya
sumbatan saluran empedu.
Patofisiologi

Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat


toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas
terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang
bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut
dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya
efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi
dapat menembus sawar darah otak.
Patofisiologi

Kelainan yang terjadi pada otak disebut


Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa
kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan
timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari
20 mg/dl. Bilirubin indirek akan mudah melalui
sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan
berat badan lahir rendah , hipoksia, dan
hipoglikemia.
Gejala Klinis

1) Gejala akut
2) Gejala kronik
Gejala Klinis

1) Gejala akut
a) Lethargi (lemas)
b) Tidak ingin mengisap
c) Feses berwarna seperti dempul
d) Urin berwarna gelap
Gejala Klinis

2) Gejala kronik
a) Tangisan yang melengking (high pitch cry)
b) Kejang
c) Perut membuncit dan pembesaran hati
d) Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi
mental
e) Tampak matanya seperti berputar-putar
Diagnosis

1. Pendekatan menentukan kemungkinan


penyebab
2. Ikterus baru dapat dikatakan fisiologis
sesudah observasi dan pemeriksaan
selanjutnya tidak menunjukkan dasar
patologis dan tidak mempunyai potensi
berkembang menjadi kern icterus.
3. Pemeriksaan bilirubin serum
Pendekatan Menentukan Kemungkinan
Penyebab
Menetapkan penyebab ikterus tidak selamanya
mudah dan membutuhkan pemeriksaan yang
banyak dan mahal, sehingga dibutuhkan suatu
pendekatan khusus untuk dapat memperkirakan
penyebabnya
Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama.

Penyebab ikterus yang terjadi pada 24 jam


pertama menurut besarnya kemungkinan dapat
sebagai berikut :
1. Inkompatibilitas darah Rh, AB0 atau golongan
lain.
2. Infeksi intrauterin (oleh virus, toxoplasma,
dan kadang-kadang bakteri).
3. Kadang-kadang oleh defisiensi G6PD
Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir
1. Biasanya ikterus fisiologis.
2. Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah
ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini dapat
diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat,
misalnya melebihi 5 mg% per 24 jam.
3. Defisiensi enzim G6PD juga mungkin.
Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir
1. Polisitemia
2. Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan
subaponeurosis, perdarahan hepar subkapsuler
dan lain-lain).
3. Hipoksia
4. Sferositosis, elipsitosis, dan lain-lain.
5. Dehidrasi asidosis
6. Defisiensi enzim eritrosit lainnya.
Ikterus Yang Timbul Sesudah 72 Jam Pertama
Sampai Akhir Minggu Pertama

 Biasanya karena infeksi (sepsis)


 Dehidrasi asidosis
 Defisiensi enzim G6PD
 Pengaruh obat
 Sindrom Crigler-Najjar
 Sindrom Gilbert
Ikterus Yang Timbul Pada Akhir Minggu
Pertama Dan Selanjutnya
 Biasanya karena obstruksi
 Hipotiroidisme
 “Breast milk jaundice”
 Infeksi
 Neonatal hepatitis
Pemeriksaan Yang Perlu Dilakukan

• Pemeriksaan bilirubin (direk dan indirek)


berkala
• Pemeriksaan darah tepi
• Pemeriksaan penyaring G6PD
• Pemeriksaan lainnya yang berkaitan dengan
kemungkinan penyebab
Ikterus Baru Dapat Dikatakan Fisiologis

sesudah observasi dan pemeriksaan selanjutnya


tidak menunjukkan dasar patologis dan tidak
mempunyai potensi berkembang menjadi kern
icterus.
Cara Menentukan Ikterus Menurut
WHO Melalui Inspeksi
 Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang
cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karena
ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan
pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada
pencahayaan yang kurang.
 Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk
mengetahui warna di bawah kulit dan jaringan
subkutan.
 Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi
dan bagian tubuh yang tampak kuning.
Pemeriksaan Bilirubin Serum
1. Baku emas penegakan diagnosis ikterus neonatorum
serta untuk menentukan perlunya intervensi lebih
lanjut.
2. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan karena
merupakan tindakan invasif yang dianggap dapat
meningkatkan morbiditas neonatus.
3. Umumnya yang diperiksa bilirubin total. Beberapa
senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk,
bila kadar bilirubin total > 20 mg/dl atau usia bayi > 2
minggu.
Hubungan Kadar Bilirubin (mg/dL) dengan
Daerah Ikterus Menurut Kramer
Ikterus fisiologis

 Minum ASI dini dan sering


 Terapi sinar, sesuai dengan panduan WHO
 Pada bayi yang pulang sebelum 48 jam,
diperlukan pemeriksaan ulang dan kontrol
lebih cepat (terutama bila tampak kuning).
Tata Laksana Awal Ikterus
Neonatorum (WHO)
 Mulai terapi sinar bila ikterus diklasifikasikan
sebagai ikterus berat
 Tentukan apakah bayi memiliki faktor risiko
berikut: berat lahir <2,5 kg, lahir sebelum usia
kehamilan 37 minggu, hemolisis atau sepsis
 Ambil contoh darah dan periksa kadar bilirubin
serum dan hemoglobin, tentukan golongan
darah bayi dan lakukan tes Coombs
Tes Coombs
1. Bila kadar bilirubin serum di bawah nilai
dibutuhkannya terapi sinar, hentikan terapi
sinar.
2. Bila kadar bilirubin serum berada pada atau di
atas nilai dibutuhkannya terapi sinar, lakukan
terapi sinar
3. Bila faktor Rhesus dan golongan darah ABO
bukan merupakan penyebab hemolisis atau
bila ada riwayat defisiensi G6PD di keluarga,
lakukan uji saring G6PD bila memungkinkan.
Hiperbilirubinemia

 Mempercepat proses konjugasi.


 Memberikan substrat yang kurang toksik untuk
transportasi atau konjugasi.
 Melakukan dekomposisi bilirubin dengan
fototerapi.
 Transfusi tukar pada umumnya dilakukan
dengan indikasi.
Penatalaksanaan Ikterus Menurut Waktu
Timbulnya dan Kadar Bilirubin
Monitoring
1. Bilirubin dapat menghilang dengan cepat dengan
terapi sinar. Warna kulit tidak dapat digunakan
sebagai petunjuk untuk menentukan kadar bilirubin
serum selama bayi mendapat terapi sinar dan
selama 24 jam setelah dihentikan.
2. Pulangkan bayi bila terapi sinar sudah tidak
diperlukan, bayi minum dengan baik, atau bila sudah
tidak ditemukan masalah yang membutuhkan
perawatan di RS.
Komplikasi

Bahaya hiperbilirubinemia adalah kern icterus.


Kern icterus atau ensefalopati bilirubin adalah
sindrom neurologis yang disebabkan oleh
deposisi bilirubin tidak terkonjugasi (bilirubin
tidak langsung atau bilirubin indirek) di basal
ganglia dan nuclei batang otak.
Komplikasi

Patogenesis kern icterus bersifat multifaktorial


dan melibatkan interaksi antara kadar bilirubin
indirek, pengikatan oleh albumin, kadar bilirubin
yang tidak terikat, kemungkinan melewati sawar
darah otak, dan suseptibilitas saraf terhadap
cedera. Kerusakan sawar darah otak, asfiksia,
dan perubahan permeabilitas sawar darah otak
mempengaruhi risiko terjadinya kern icterus
(Richard E. et al, 2003).
Komplikasi

Pada bayi sehat yang menyusu kern icterus


terjadi saat kadar bilirubin >30 mg/dL dengan
rentang antara 21-50 mg/dL. Onset umumnya
pada minggu pertama kelahiran tapi dapat
tertunda hingga umur 2-3 minggu.
Gambaran Klinis Kern Icterus

Bentuk akut:
• Fase 1(hari 1-2): menetek tidak kuat, stupor,
hipotonia, kejang.
• Fase 2 (pertengahan minggu I): hipertoni
otot ekstensor, opistotonus, retrocollis,
demam.
• Fase 3 (setelah minggu I): hipertoni
Gambaran Klinis Kern Icterus

Bentuk kronis :
 Tahun pertama : hipotoni, active deep tendon
reflexes, obligatory tonic neck reflexes,
keterampilan motorik yang terlambat.
 Setelah tahun pertama : gangguan gerakan
(choreoathetosis, ballismus, tremor), gangguan
pendengaran.
Pencegahan

Pencegahan Primer :
 Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya
paling sedikit 8 – 12 kali/ hari untuk beberapa
hari pertama.
 Tidak memberikan cairan tambahan rutin
seperti dekstrose atau air pada bayi yang
mendapat ASI dan tidak mengalami dehidrasi.
Pencegahan
Pencegahan Sekunder:
 Wanita hamil harus diperiksa golongan darah ABO
dan rhesus serta penyaringan serum untuk antibody
isoimun yang tidak biasa.
 Memastikan bahwa semua bayi secara rutin di
monitor terhadap timbulnya ikterus dan menetapkan
protokol terhadap penilaian ikterus yang harus dinilai
saat memeriksa tanda – tanda vital bayi, tetapi tidak
kurang dari setiap 8 – 12 jam.