Anda di halaman 1dari 62

1

Referat

KONJUNGTIVITI
S
Oleh
Mareta Anggun M.S, S.Ked (712017032)

Pembimbing
dr.H.Ibrahim Sani,Sp.M
PENDAHULUAN
Konjungtivitis adalah radang
konjungtiva atau radangan
selaput bening yang
menutupi belakang Konjungtivitis dapat disebabkan
kelopak dan bola mata, oleh virus, bakteri, alergi,
dalam bentuk karena adanya trauma pada
akut maupun kronik. penggunaan lensa kontak,
misalnya, atau karena sebab lain

penyakit mata yang


dapat dijumpai di seluruh dunia,
pada berbagai ras, usia, jenis
kelamin, dan strata sosial.

2
ANATOMI
ANATOMI
PERDARAHAN DAN PERSARAFAN
PERDARAHAN DAN PERSARAFAN
7

KONJUNGTIVITIS
DEFINISI
Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau
radang selaput lendir yang menutupi belakang
kelopak mata dan bola mata bentuk akut maupun
kronis disebabkan oleh bakteri, virus, jamur,
klamidia, alergi, toksik, maupun iritasi.
EPIDEMIOLOGI
Insidensi konjungtivitis di Indonesia berkisar antara 2-
75%. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata
di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan umur
penduduk pertahun dan pernah menderita
konjungtivitis.
Manifestasi Klinik
Manifestasi Klinik
Klasifikasi Konjungtivitis
1. konjungtivitis berdasarkan sifat perjalanan
dapat dibagi menjadi hiperakut, akut,
subakut dan kronis.
2. klasifikasi Berdasarkan sifat eksudat
dapat dibagi menjadi mukus, serosa,
hemoragis dan purulen.
3. Konjungtivitis berdasarkan penyebabnya
dapat dibagi menjadi infeksi (bakteri,virus,
jamur, parasit), noninfeksi(alergi, kimiawi,
iritan tetap-mata kering).
KONJUNGTIVITIS
BAKTERIALIS
• Inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri.
• Pada konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan
keluhan mata merah, sekret pada mata dan iritasi mata.
ETIOLOGI
Hiperakut (purulen)
Neisseria gonorrhoeae
Neisseria meningitidis
Akut (mukopurulen)
Pneumococcus (Streptococcus pneumoniae) (iklim sedang)
Haemophilus aegyptius (Koch-Weeks bacillus) (iklim tropik)
Subakut
Haemophilus influenzae (iklim sedang)
ETIOLOGI
Menahun, termasuk blefarokonjungtivitis
Staphylococcus aureus
Moraxella lacunata (diplobacillus dari Morax-Axenfeld)
Streptococcus
Moraxella catarrhalis
Proteus
Corynebacterium diptheriae
Mycobacterium tuberculosis
PATOFISIOLOGI
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal
seperti streptococci, staphylococci dan jenis Corynebacterium.
Perubahan pada mekanisme pertahanan tubuh ataupun pada
jumlah koloni flora normal tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan
epitel yang meliputi konjungtiva ,mekanisme pertahanan sekundernya
adalah sistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim
dan imunoglobulin yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme
pembersihan oleh lakrimasi dan berkedip
GEJALA KLINIS
Iritasi mata,
- Mata merah,
- Sekret mata,
- Palpebra terasa lengket saat bangun tidur
- Kadang-kadang edema palpebra
Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke mata sebelahnya
melalui tangan. Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang
dapat menyebarkan kuman seperti seprei, kain, dll.
KONJUNGTIVITIS BAKTERIAL
HIPERAKUT
• Onset yang sangat cepat dari perbanyakan discharge
• Hiperemis konjungtiva yang berat
• Kemosis dan edema kelopak.
• Konjuntivitis mungkin unilateral atau bilateral
• Diperberat dengan nyeri, nyeri pada bola mata dan limfadenopati
preaurikular
Diunduh dari: http://www.aafp.org/afp/2010/0115/p137.html
KONJUNGTIVITIS BAKTERIAL
AKUT
• Onset akut dari discharge unilateral
• Hiperemia konjungtiva
• Mukopurulen/purulent
• Limfadenopati preaurikuler biasanya tidak ditemukan
• Pada anak-anak 6 bulan- 3 tahun disertai warna kebiruan curigai
Haemophilus influenza
KONJUNGTIVITIS BAKTERIAL
KRONIK
• Variasi dari gejala yang non spesifik dan temuan klinis
• Pasien mengalamis iritasi kronik yaitu lebih dari 4 minguu
• sensai benda asing dan hiperemis yang tidak begitu jelas
• Reaksi folikel dan papiler dapat terjadi dan mukoid discharge dapat
terjadi
• Konjungtivitis kronik sering disertasi hiperemis kelopak dan krusta
pada kelopak yang terdapat pada pagi hari.
TATALAKSANA
Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai disebabkan oleh
diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi topical dan sistemik .
Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus
dibilas dengan larutan saline untuk menghilangkan sekret konjungtiva.
PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
Pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas
dengan pewarnaan gram atau giemsa
Biakan disarankan jika sekretnya purulen, memiliki membran atau
pseudomembran.
PROGNOSIS
Konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak diobati dapat berakibat perforasi
kornea dan endoftalmitisKonjungtiva dapat menjadi gerbang masuk bagi
meningokokus ke dalam darah dan meningen, hasil akhir konjungtivitis
meningokokus adalah septikemia dan meningitis.
KONJUNGTIVITIS
GONORE
Konjungtivitis gonore merupakan radang konjungtiva akut dan hebat yang
disertai dengan sekret purulen. Penyebabnya Neisseria gonorrhoeae,
bakteri ini lebih sering ditemukan di mukosa genital
EPIDEMIOLOGI
• Di klinik konjunktivitis gonokokus dapat ditemukan dalam bentuk
oftalmia neonatorum (bayi berusia 1-3 hari), konjunktivitis gonore
infantum (usia lebih dari 10 hari) dan konjunktivitis gonore adultorum.
• Pada neonatus infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan
lahir.
• Terjadinya 1-3 hari setelah neonatus dilahirkan, biasanya ibu tertular
pada trimester terakhir dari suamiya yang menderita gonore.
Manifestasi Klinik
 Pada orang dewasa terdapat 3 stadium penyakit infiltratif, supuratif dan penyembuhan.
Pada stadium infiltratif ditemukan kelopak dan konjungtiva yang kaku. Disertai rasa sakit
pada perabaan. Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar dibuka. Terdapat
pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior sedang konjungtiva bulbi merah, kemotik
dan menebal.

Pada orang dewasa selaput konjungtiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran
spesifik gonore dewasa.

Pada orang dewasa terdapat perasaan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda-tanda
infeksi umum. Pada umumnya menyerang satu mata terlebih dahulu dan biasa¬ kelainan ini
pada laki-laki didahului pada mata kanannya. Pada stadium supuratif terdapat sekret yang
kental.

Pada bayi biasanya mengenai kedua mata dengan sekret kuning kental. Kadang¬ kadang bila
sangat dini sekret dapat sereus yang kemudian menjadi kental den purulen. Berbeda dengan
oftalmia neonatorum, pada orang dewasa sekret tidak kental sekali.2
Tatalaksana
■ Pengobatan segera dimulai bila terlihat pada pewarnaan Gram positif
diplokokus batang intraselular dan sangat dieurigai konjungtivitis gonore.
■ Pasien dirawat dan diberi pengobatan dengan penisilin salep dan suntikan,
pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB selama 7 hari.
■ Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau
dengan garam fisiologik setiap 1,4 jam. Kemudian diberi salep penisilin
setiap 1/4 jam.
■ Untuk antibiotiknya dapat diberikan ceftriaxone 1 gr IM dosis tunggal.
■ Pada penderita alergi pada penisilin dapat diberikan ciprofloxacin 2 x 500
mg peroral atau Ofloxacin 2 x 400 mg Peroral(Fluoroquinolone
kontraindikasi pada kehamilan dan anak2). Kemudian salep diberikan
setiap 5 menit sampai 30 menit. Disusul pemberian salep penisilin setiap 1
jam selama 3 hari.
KONJUNGTIVITIS
VIRAL
• Virus merupakan agen infeksi yang umum ditemukan selain
konjungtivitis bakterial, alergi, dan laIn-lain
• Adenoviral merupakan etiologi tersering dari konjungtivitis virus
• Mudah menular
• Transmisi biasanya melalui sekret yang dihasilkan mata yang
terinfeksi
KONJUNGTIVITIS DEMAM
FARINGOKONJUNGTIVA

Konjungtivitis yang disebabkan oleh Adenovirus


tipe 3, 4, dan 7
GAMBARAN KLINIS
• Demam 38,3 -400C, sakit tenggorokan, dan konjungtivitis pada satu
atau dua mata.
• Folikel sering mencolok pada kedua konjungtiva, dan pada mukosa
faring.
• Penyakit ini dapat terjadi bilateral atau unilateral.
• Mata merah dan berair mata sering terjadi, dapat disertai keratitis
superficial
TATALAKSANA
Pengobatan untuk demam faringokonjungtiva hanya bersifat suportif
karena dapat sembuh sendiri diberi kompres
KERATOKONJUNGTIVITIS
EPIDEMI
Konjungtivitis yang disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37
GAMBARAN KLINIS
• Konjungtivitis folikular
• Sekret cair
• Hiperemis
• Kemosis
• Pembesaran kelenjar getah bening preaurikel
• Terbentuk membran atau pseudomembran
Diunduh dari https://de.wikipedia.org/wiki/Keratoconjunctivitis_epidemica
TATALAKSANA
Belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin
akan mengurangi beberapa gejala
KONJUNGTIVITIS HEMORAGIKA
AKUT
Konjungtivitis yang disebabkan oleh Enterovirus tipe 70 dan
kadang-kadang oleh virus coxsakie tpe A24 dengan masa
inkubasi yang pendek (sekitar 8-48 jam) dan berlangsung
singkat (5-7 hari)
GAMBARAN KLINIS

• Gejala dan tandanya :


• Rasa sakit
• Fotofobia
• Sensasi benda asing
• Banyak mengeluarkan air mata,
• Edema palpebra, dan
• Perdarahan subkonjungtiva
GAMBARAN KLINIS
• Pada sebagian besar kasus, didapatkan
• Limfadenopati preaurikular
• Folikel konjungtiva
• Keratitis epithelia
• Pada beberapa kasus dapat terjadi uveitis anterior dengan
gejala demam, malaise
TATALAKSANA
Dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simtomatik.
Pengobatan antibiotika spekturm luas, sulfacetamide dapat
digunkan untuk mencegah infeksi sekunder
TATALAKSANA
SECARA UMUM
• Konjungtivitis viral biasanya bersifat suportif dan merupakan terapi
simptomatis
• Kompres dingin pada mata 3 – 4 x / hari juga dikatakan dapat
membantu kesembuhan pasien
• Sebagai pencegahan terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri dapat
diberikan Kloramfenikol tetes mata. Kloramfenikol merupakan obat
antimikroba yang memiliki spektrum luas, meliputi bakteri gram negatif
dan gram positif
KOMPLIKASI
Komplikasi dari konjungtivitis viral, antara lain:
Infeksi pada kornea (keratitis) dan apabila tidak ditangani bisa
menjadi ulkus kornea
KONJUNGTIVITIS INKLUSI
Konjungtivitis inklusi merupakan penyakit
okulogenital disebabkan oleh infeksi klamidia,
yang merupakan penyakit kelamin (uretra,
protat, serviks dan epitel rektum), dengan masa
inkubasi 5-10 hari.
MANIFESTASI KLINIS
• Secara klinis kondisi ini terjadi unilateral, kronis, sekretnya
mukopurulen dan terdapat folikel pada fornix (pada kasus yang
berat folikel banyak pada palpebra superior, limbus, dan
konjugtiva palpebra).
• Dapat terjadi kemosis, limfadenopati preaurikular, keratitis
epitelial marginal, infiltrat dan mikropannus superior.
• Kondisi ini dikelola dengan pemberin salep tetrasiklin topikal dan
pemberian sistemik doksisiklin, tetrasiklin dan eritromisin.
Konjungtivitis vernalis
■ Kondisi ini bersifat rekuren, bilateral, mengenai anak-
anak serta dewasa muda dan lebih sering pada laki-
laki.
■ Individu dengan keadaan ini memiliki riwayat atopi
positif.
■ Gambaran klinisnya berupa gatal, lakrimasi, fotofobia,
sensasi benda asing, rasa terbakar, sekret mukus yang
tebal, dan ptosis. Palpebral terasa berat bila diangkat
dan dibagian konjungtiva palpebral superior ada reaksi
papilar raksasa. Oleh karena itu lebih tepat disebut
psuedoptosis karena bukan masalah otot.
■ Bisa ada gambaran arus senilis diberikan steroid
topical. Steroid topical ini tidak boleh untuk pemakaian
jangka panjang, karena walaupun efek obatnya cepat,
tapi bisa menimbulkan efek samping berupa glaukoma
dan katarak. Selain steroid, bisa dipakai topical mast
cell stabilizer.
Konjungtivitis flikten
■ Merupakan konjungtivitis nodular yang disebabkan
alergi terhadap bakteri dan antigen tertentu.
■ Konjungtivitis flikten disebabkan oleh karena alergi
(hipersensitivitas tipe IV) terhadap
tuberkuloprotein, stafilokokus, limfagranuloma
venerea, leismaniasis, infeksi parasite dan infeksi
di tempat lain dalam tubuh.
■ kelainan ini lebih sering ditemukan pada anak-
anak didareah padat yang biasanya dengan gizi
kurang atau sering mendapat radang saluran
nafas. Biasanya terlihat unilateral dan kadang-
kadang mengenai kedua mata.
■ Pada konjungtiva terlihat sebagai bintik-bintik putih yang dikelilingi
daerah hiperemi. Gejalanya berupa mata berair, iritasi dengan rasa
sakit, fotofobia dapat ringan hingga berat. Bila kornea ikut terkena
selain rasa sakit, pasien juga akan merasa silau disertai
blefarospasme.
■ Pengobatan adalah dengan diberikan steroid topical, midriatika bila
penyulit pada kornea, diberi kaca mata hitam karena adanya rasa
silau yang sakit. Diperhatikan hygiene mata dan diberi antibiotik salep
mata waktu tidur dan air mata buatan. Pada anak dengan gizi kurang
diberikan vitamin dan makanan tambahan.
KONJUNGTIVITIS
IATROGENIC
Konjungtivits akibat pengobatan ysng diberikan dokter.
Berbagai obat dapat memberikan efek samping pada tubuh,
demikian pula pada mata yang dapat terjadi dalam bentuk
konjungtivitis.
Sindrom Steven Johnson
■ Sindrom Steven Johnson adalah suatu penyakit eritema multiform yang berat(mayor).
■ Penyakit ini sering ditemukan pada usia muda, jarang pada usia setelah 35 tahun.
■ Penyebabnya didudga suatu reaksi alergi pada orang yang mempunyai redisosisi alergi
terhadap obat-obt sulfonamid, barbiturate, salisilat, karbamazepin, Dilantin.
■ Gambaran klinis terdapat lesi kulit eritematosa, urtikaria, erupsi bula yang terjadi secara
mendadak, terdistribusi sistemik. Konjungtivitis terjadi bilateral dan timbul membrane.
Jaringan parut bisa mengurangi visus.
■ Pengobatan bersifat simtomatik dengan pengobatan umum berupa kortikosteroid sistemik
dan infus cairan antibiotik. Pengobatan lokal pada mata berupa pembersihan sekret yang
timbul, midriatika, steroid topical dan mencegah simblefaron. Pemberian kortikostaroid
harus hati-hati terhadap adanya infeksi herpes simpleks.
Konjungtivitis atopic

Reaksi alergi selaput lendir mata atau konjungtiva terhadap


polen, disertai dengan demam. Memberikan tanda mata
berair, bengkak dan belek berisi eosinophil.
Patofisiologi
PENATALAKSANAAN
Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien untuk
memperbaiki hygiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2
sampai 3 kali sehari dengan artificial tears dan salep dapat
menyegarkan dan mengurangi gejala pada kasus ringan.
Penatalaksanaan
■ Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab.

■ Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15


%) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %).

■ Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus


pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

■ Konjungtivitis karena alergi dapat di obati dengan antihistamin ( Antazidine 0,5 %,


Rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametasone 0,1 %).
Pencegahan
■ Konjungtivitis akibat agen infeksi seringkali menular dengan mudah,
untuk melakukan pencegahan oleh karena itu sebelum dan sesudah
membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci
tangannya bersih-bersih.
■ Selain itu diusahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat
sesudah menangani mata yang sakit, dan jangan menggunakan
handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.
■ Pencegahan untuk konjungtivitis alergi dan kimia, dilakukan dengan
menghindari pajanan allergen maupun agen kimia yang dapat
mengiritasi konjungtiva, konjungtivitis jenis ini tidak menular.
KESIMPULAN
■ Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak mata dan bola mata dalam bentuk akut maupun
kronis yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, klamidia, alergi, toksik,
maupun iritasi.
■ Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat
merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak.
Beberapa jenis konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang
memerlukan pengobatan
■ Berdasarkan penyebab terjadinya, konjungtivitis dapat dibagi menjadi: (1)
konjungtivitis bakteri, (2) konjungtivitis virus(3) konjungtivitis Menahun
■ Penting artinya untuk mengetahui setiap ciri khas kelainan konjungtivitis
karena pengobatan dengan tiap etiologi yang berbeda memerlukan terapi
yang berbeda pula. Pengobatan yang tidak adekuat dari konjungtivitis tipe
tertentu seperti trakoma akan dapat memberikan prognosa yang buruk
(mengakibatkan kebutaan).
Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai