Anda di halaman 1dari 37

REFERAT

DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER (DHF)


LATAR BELAKANG
DHF ~ DBD
1994 : incidence rate 9,7 per
100.000 penduduk
infeksi tropik
endemik di 2004 : kejadian luar biasa
Indonesia incidence rate 29,7 per 100.000
 jumlah kematian sebanyak
724 org.

2 penyebab kematian utama :


- Pemeriksaan penyaring yang kurang ketat
- Keterlambatan pasien datang ke sarana yankes
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

VIRUS DENGUE  Flavivirus 4 serotipe


DEN-1, DEN-2,DEN-3,DEN-4
EPIDEMIOLOGI

 >> daerah tropik & Subtropik


 >> pada anak 2-15 tahun
 Musim panas & musim penghujan
 >> Asia Tenggara, Pasifik barat & Karibia
Beberapa faktor berkaitan dengan peningkatan transmisi
virus dengue yaitu:
 Vektor : perkembang biakan vektor, kebiasaan menggigit,
kepadatan vektor di lingkungan, transportasi vektor
dilingkungan, transportasi vektor dai satu tempat ke
tempat lain
 Pejamu : terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga,
mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis
kelamin
 Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan
penduduk
PATOGENESIS DHF
MANIFESTASI KLINIK
Fase – Fase Infeksi Dengue

 Infeksi Dengue merupakan penyakit sistemik dan


dinamik. Dimana memiliki memiliki spektrum klinis
yang luas yang meliputi manifestasi klinis baik berat dan
non-berat

 Setelah masa inkubasi, penyakit dimulai secara tiba-tiba


dan diikuti oleh tiga fase : demam, kritis dan
pemulihan
DIAGNOSIS
DHF
DEMAM DENGUE Demam/riw. Demam akut antara 2-7 hari
 biasanya Bifasik.

Demam akut 2-7 hari diikuti 2 Diikuti min. 1 dari manifestasi perdarahan :
manifestasi lain : - Uji Tourniqet (+)
- Petekhie, ekimosis/purpura
- Nyeri kepala
- Perdarahan mukosa/perdarahan tempat
- Nyeri retroorbital lain
- Hematemesis/melena
- Mialgia/artralgia
- Ruam kulit Trombositopeni (<100.000)
- Manifestasi perdarahan Terdapat min. 1 tanda plasma leakage :
- Peningkatan Ht > 20% dibandingkan
(petekhie/uji Tourniqet (+)) standar sesuai umur & jenis kelamin
- Leukopenia - Peningkatan Ht > 20% setelah
mendapatkan terapi cairan dibandingkan
Ht sebelumnya
- Tanda kebocoran plasma : efusi pleura,
ascites, hipoproteinemia
PEMERIKSAAN PENUNJANG DHF

Pemeriksaan Pemeriksaan
Laboratorium Radiologi
Pemeriksaan Laboratorium DHF

 Leukosit  dapat normal atau menurun


Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis relatif (>45%
dari total leukosit), disertai adanya limfosit plasma biru
(LPB) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok
akan meningkat.
 Trombosit  umumnya trombositopenia pada hari ke 3-
8.
 Hematokrit  Kebocoran plasma dibuktikan dengan
ditemukannya peningkatan hematokrit ≥ 20% dari
hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3
demam.
 Hemostasis  Dilakukan pemeriksaan PT, APTT,
Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada keadaan yang
dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan
darah.

 Protein/albumin: Dapat terjadi hipoproteinemia akibat


kebocoran plasma.

 SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase): dapat


meningkat
 Ureum, Kreatinin  bila didapatkan gangguan fungsi
ginjal.

 Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian


cairan.

 Golongan darah: dan cross macth (uji cocok serasi): bila


akan diberikan transfusi darah atau komponen darah.
 Imuno serologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG
terhadap dengue
- pada hari 4-5  timbul IgM yg kemudian diikuti
timbulnya IgG
- ada kalanya hasil uji IgM masih negatif  ulang 
sampai hari ke-6 masih negatif, dilaporkan sbg negatif
- IgM dapat bertahan dlm darah sampai 2-3 bulan setelah
infeksi  utk memperjelas hasil IgM, dapat dilakukan uji
IgG juga.
 Uji HI
- Gold standard pemeriksaan serologis
- sensitif tapi tidak spesifik  tidak dapat menunjukkan
tipe virus yang menginfeksi
- untuk diagnosis  kenaikan titer konvalesens 4x lipat
dari titer serum akut atau tinggi (>1280) baik pada serum
akut atau konvalesen dianggap sebagai persumptif (+)
atau diduga positig infeksi dengue yg baru terjadi
(recentdengue infection)
 NS1 
- Antigen NS 1 dapat dideteksi pada awal demam hari
pertama sampai hari ke delapan
- Sensitivitas antigen NS1 berkisar 63% - 93,4% dengan
spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifisitas gold
standard kultur virus.
Pemerikaan Radiologis

 Pada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada


hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan
plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua
hemitoraks.
 Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi
lateral dekubitus kanan (pasien tidur pada sisi badan
sebelah kanan)
 Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan
pemeriksaan USG.
KRITERIA DIAGNOSIS DHF
Kriteria Klinis :

- Demam tinggi mendadak tanpa


Kriteria Laboratoris :
sebab yg jelas & berlangsung terus-
menerus 2-7 hari - Trombositopenia (<100.000/mm3)
- Manifestasi perdarahan (petekhie, - Hemokonsentrasi (Ht >20%)
RL (+), epistaksis, gusi berdarah)
- Hepatomegali
- Syok

Dinyatakan DHF, minimal 2 gejala klinis yang (+) dan 1 hasil lab (+)  bila gejala dan
tanda tersebut kurang dari ketentuan di atas, maka dinyatakan Demam Dengue
DIAGNOSIS BANDING

 Demam tifoid
 Campak
 Influenza
 Chikungunya
 Idiophatic Trombocytopenia Purpura (ITP)
 leptospirosis
PENATALAKSANAAN

Tidak ada terapi spesifik  PRINSIP UTAMA :


TERAPI SUPORTIF
(Pemeliharaan Volume Cairan Sirkulasi)
Demam Dengue dapat berobat jalan, tidak perlu dirawat.
Pada fase demam, pasien dianjurkan :
 Tirah baring, selama masih demam.
 Obat antipiretik atau kompres hangat apabila diperlukan.
 Obat analgetik atau sedative ringan.
 Pemberian cairan dan elektrolit per oral.
 Monitor suhu, trombosit dan hematokrit
 Kontrol setiap hari sampai demam turun
 Demam Berdarah Dengue ( DBD ) :
 Tidak berbeda dengan Demam Dengue, bersifat simtomatik
dan suportif serta penggantian volume plasma.
 Bila pasien mengalami kesulitan dalam makan masukan nutrisi
dengan NGT atau cairan intravena untuk mencegah dehidrasi
dan hemokonsentrasi berat.
 Transfusi trombosit bila terjadi penurunan trombosit yang
significant.
 Pemantauan tanda-tanda vital setiap 2 jam dan trombosit dan
hematokrit tiap 6 jam.
PROTOKOL 1
Penanganan tersangka (probable) DBD dewasa TANPA SYOK
PROTOKOL 2
Pemberian Cairan Pada Tersangka DBD Dewasa di Ruang Rawat
PROTOKOL 3
penatalaksanaan DBD dgn
peningkatan
Ht > 20%
PROTOKOL 4
Penatalaksanaan
Perdarahan Spontan
PROTOKOL 5
Tatalaksana Sindrom Syok
Dengue pada Dewasa
PROGNOSIS

Pada DBD dan terutama DSS dengan penatalaksanaan


yang tidak tepat memiliki angka mortalitas yang tinggi
PENCEGAHAN

 Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)


 Melakukan metode 3 M (menguras, Menutup dan Menyingkirkan tempat
perindukan nyamuk) minimal 1 x seminggu bagi tiap keluarga
 100% tempat penampungan air sukar dikuras diberi abate tiap 3 bulan

 ABJ (angka bebas jentik) diharapkan mencapai 95%

 Foging Focus dan Foging Masal


 Foging fokus dilakukan 2 siklus dengan radius 200 m dengan selang waktu 1
minggu
 Foging masal dilakukan 2 siklus diseluruh wilayah suspek KLB dalam jangka
waktu 1 bulan
 Obat yang dipakai : Malation 96EC atau Fendona 30EC dengan
menggunakan Swing Fog
KESIMPULAN

 Infeksi virus dengue merupakan salah satu penyakit dengan vektor nyamuk
(”mosquito borne disease”) yang paling penting di seluruh dunia terutama di
daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini mempunyai spektrum klinis dari
asimptomatis, undifferentiated febrile illness, demam dengue (DD) dan
demam berdarah dengue (DBD), mencakup manifestasi paling berat yaitu
sindrom syok dengue (dengue shock syndrome/DSS).
 Dalam menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan yang tepat,
pemahaman mengenai perjalanan infeksi virus dengue harus dikuasai dengan
baik. Pemantauan klinis dan laboratoris berkala merupakan kunci
tatalaksanan DBD. Akhirnya dalam menegakkan diagnosis dan memberikan
pengobatan pada kasus DBD perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Penanganan yang cepat tepat dan akurat akan dapat memberikan prognosis
yang lebih baik.