Anda di halaman 1dari 76

Bejo Danang Saputra 1

Kemampuan akhir yang diharapkan

1. Menjelaskan tingkat kesulitan butir


2. Menjelaskan daya pembeda butir
3. Menjelaskan validitas butir secara kuali dan kuanti
4. Menganalisis tingkat kesukaran butir
5. Menganalisis daya pembeda butir
6. Menentukan kelulusan dengan acuan penilaian PAN dan
PAP

Bejo Danang Saputra 2


EVALUASI / PENILAIAN

EVALUASI HASIL
BELAJAR
EVALUASI
EVALUASI PROSES
BELAJAR MENGAJAR

MENGAPA EVALUASI DIPERLUKAN?


Bejo Danang Saputra 3
RANAH CAPAIAN/TUJUAN PEMBELAJARAN

Kemampuan Nilai dan Sikap Keterampilan


Berpikir (Affective) (Psychomotor)
(Cognitive)
C6 Evaluasi A5 Menjadikan pola P5 Naturalisasi
(evaluation) hidup (naturalization)
(characterization) P4 Perangkaian
C5 Sintesis
(synthesis) (articulation)
A4 Mengatur diri
C4 Analisis (organization) P3 Ketepatan
(analysis) (precision)
A3 Menghargai P2 Penggunaan
C3 Penerapan
(valuing) (manipulation)
(application)
C2 Pemahaman A2 Menanggapi P1 Peniruan
(comprehension) (responding) (imitation)
C1 Ingatan
(knowledge) A1 Menerima
(receiving)

Bejo Danang Saputra 4


PENGUKURAN DAN PENILAIAN
HASIL HASIL
JENIS PROFESI ALAT UKUR
PENGUKURAN PENILAIAN
1. Dokter Termometer, Suhu badan, Pasien
umum tensimeter, tekanan darah, mengidap
timbangan, berat badan, darah tinggi
meteran, tinggi badan
dsb.

2. Guru Tes hasil belajar, Kebanyakan Murid A


Pedoman obser- pertanyaan termasuk 5
vasi, dapat dijawab besar dalam
Skala sikap, dengan benar. kelasnya
Angket, Murid tidak per-
dsb. nah terlambat

Bejo Danang Saputra 5


ISTILAH KONSEP SINONIM WUJUD

Tes Alat ukur THB, Pedoman


Observasi, Skala
Penilaian

Pengukuran Penampilan dalam Sifat, karakter


bentuk simbol (skor)

Penilaian Pertimbangan Nilai

Bejo Danang Saputra 6


DEFINISI
Penilaian (evaluasi) adalah suatu proses
untuk mengambil keputusan dengan
menggunakan informasi yang diperoleh
melalui pengukuran hasil belajar, baik
yang menggunakan instrumen tes
maupun non-tes.
Penilaian adalah memberi nilai terhadap
kualitas sesuatu.

Bejo Danang Saputra 7


FUNGSI PENILAIAN
1. Quality Control, (kualifikasi / standar
kompetensi minimal)
2. Motivator, (kondisi memaksa, penekanan)
3. Public Accountability, (informasi ke
publik, orangtua, stokeholder)
4. Selection, (penjurusan, penempatan,
perkembangan kompetensi)
5. Diagnostic, (kelemahan, perbaikan,
umpan balik)
6. Legitimation, (kelulusan, pengakuan,
sertifikasi, lisensi)
Bejo Danang Saputra 8
RUANG LINGKUP PENILAIAN

 Observasi  Tes Tulis


 Penilaian diri  Tes Lisan
 Penilaian antar  Penugasan
peserta didik
 Jurnal harian Sikap Pengetahuan

Keterampilan
•Tes Praktek
• Kerja Projek
• Portofolio
Bejo Danang Saputra 9
Instrumen Penilaian Pengetahuan

Pilihan Ganda, Isian,


Jawaban singkat, Daftar pertanyaan
Menjodohkan, Benar-
salah, Uraian
Tes Tes
Tertulis Lisan

Penugasan

Lembar penugasan
(PR, susun kliping)
Bejo Danang Saputra 10
TES

URAIAN OBJEKTIF

Terbuka Terbatas Benar-Salah Menjodohkan Pilihan Ganda

Pilihan Pilihan Pilihan Pilihan Pilihan


Ganda Ganda Ganda Ganda Ganda
Biasa Hub Analisis Kompleks Membaca
Antar Kasus Diagram/
Hal Grafik/
Gambar
Bejo Danang Saputra 11
LANGKAH ANALISIS SOAL
Menulis soal Telaah/revisi soal Merakit soal

Uji coba

analisis soal

soal jelek seleksi soal


(kuali & kuanti)

soal baik

kalibrasi

Bejo Danang Saputra bank soal 12


VALIDITAS

EFEKTIVITAS
RELIABILITAS
DISTRAKTOR

PERSYARATAN
TES

TINGKAT
DAYA BEDA
KESUKARAN
BUTIR SOAL
BUTIR

Bejo Danang Saputra 13


Validitas
Analisis
Perangkat
Soal Reliabelitas
Analisis
Soal Tes Tingkat
kesukaran
Analisis
Butir Soal Daya beda

Berfungsi
pengecoh
Bejo Danang Saputra 14
KONSEP VALIDITAS
• Validitas menunjuk kepada ketepatan dan
kecermatan tes dalam menjalankan fungsi
pengukurannya.
• Suatu butir tes dikatakan valid apabila butir tes
tersebut dapat mengukur dengan tepat apa
yang hendak diukur.
• Suatu butir tes dikatakan memilki validitas tinggi
apabila tes tersebut memberikan hasil ukur
sesuai dengan tujuan diadakannya tes tersebut.

Bejo Danang Saputra 15


Tipe Validitas (1)

• Validitas isi (konten), menjawab pertanyaan “sejauh


mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan ciri
perilaku yang ingin diukur oleh tes tersebut”.
• Face validity, validitas yang menyatakan
kesesuaian/relevansi butir-butir tes dalam mengukur
aspek yang dikehendaki.
• Logical validity, menunjuk kepada sejauh mana
keseluruhan butir tes telah mencakup atau meliputi
secara komprehensif semua kawasan/aspek yang
hendak diukur beserta ciri-ciri perilakunya.

Bejo Danang Saputra 16


Tipe Validitas (2)
• Validitas konstruk, Pengukuran validitas konstruk
merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan
perkembangan konsep mengenai sifat atau aspek
kepribadian yang diukur.
• Validitas konkuren, diuji dengan melakukan analisis
statistika melalui teknik komputasi korelasional.
• Validitas prediktif, dimaksudkan sbg ukuran fungsi
prediksi yang dimiliki oleh tes, dengan menghitung
korelasi antara prediktor dengan kriteria (ciri perilaku
yang ingin diprediksikan).

Bejo Danang Saputra 17


DIAGRAM VALIDITAS
VALIDITAS

TEORETIK EMPIRIK
KONTEN KONSTRUK KONKUREN PREDIKTIF

FACE LOGICAL
SKOR DIKOTOMI SKOR KONTINUM
(0,1) (1,2,3, …..)

judgment Para Ahli Korelasi Point


Biserial Korelasi Product Moment

Bejo Danang Saputra 18


ANALISIS BUTIR KUALITATIF
Telaah butir soal secara kualitatif dilakukan
terhadap aspek:
• Materi: berkaitan dengan substansi mata
pelajaran yang ditanyakan serta tingkat
berfikir di dalamnya.
• Konstruksi: berkaitan dengan teknik
penulisan soal, baik untuk soal objektif
maupun soal non objektif.
• Bahasa: berkaitan dengan penggunaan
bahasa yang baku dan mudah dipahami.
Bejo Danang Saputra 19
Kaidah Telaah Butir Soal secara Kualitatif
• Segi Materi (Substansi)
(1) Materi sudah dipelajari oleh siswa
(2) Butir soal sesuai dengan CP dan KAD
(3) Antar butir tidak saling tergantung
• Segi Konstruksi
(1) Pokok soal dirumuskan dengan singkat dan jelas
(2) Pokok soal bebas dari pernyataan yang dapat menimbulkan
penafsiran ganda
(3) Butir soal tidak tergantung kepada jawaban butir soal yang
lain
(4) Pengecohnya sudah disusun dengan baik
• Segi Bahasa
(1) Menggunakan bahasa Indonesia yangg baik dan benar
(2) Menggunakan bahasa yang komunikatif
(3) Tidak menggunakan bahasa yg berlaku setempat
Bejo Danang Saputra 20
KARTU TELAAH SOAL
BENTUK PILIHAN GANDA
Nomor Soal
Aspek yang ditelaah
1 2 3 4 5 6 7 dst
Materi
1. Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk
pilihan ganda)
2. Materi yang diukur sesuai dengan kompetensi relevansi,
kontinuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi)
3. Pilihan jawaban homogen dan logis
4. Hanya ada satu kunci jawaban

Konstruksi
1. Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas
2. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan
yang diperlukan saja
3. Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban
4. Pokok soal bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda
5. Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi

Bejo Danang Saputra 21


KARTU TELAAH SOAL
BENTUK PILIHAN GANDA
Lanjutan…
Nomor Soal
Aspek yang ditelaah
1 2 3 4 5 6 7 dst
6. Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan
berfungsi
7. Panjang pilihan jawaban relatif sama
8. Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan semua jawaban di
atas salah/benar" dan sejenisnya
9. Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun berdasarkan
urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya
10. Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

Bahasa/Budaya
1. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
2. Menggunakan bahasa yang komunikatif
3. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/ tabu
4. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama,
kecuali merupakan satu kesatuan pengertian.

Bejo Danang Saputra 22


INSTRUMEN TELAAH BUTIR SECARA KUALITATIF (Ringkas)
No Pedoman 1 2 3 4 5 dst
1. Kunci jawaban yang benar hanya satu
2. Soal sesuai dengan indikator
3. Semua pilihan jawaban logis
4. Rumusan soal jelas
5. Tidak ada petunjuk pada jawaban yang benar
6. Tidak menggunakan negatif ganda
7. Semua pilihan jawaban paralel
8. Panjang kalimat jawaban hampir sama
9. Tidak menggunakan pilihan “semua salah” atau
“semua benar”
10. Jawaban dalam bentuk angka diurutkan

11. Mengunakan tata bahasa yang baku


12. Menggunakan bahasa yang komunikatif
Bejo Danang Saputra 23
INSTRUMEN TELAAH BUTIR SECARA KUALITATIF (KHUSUS)
No Kemampuan Rumusan Kunci Hasil Validasi
Butir Akhir Soal Jawaban Materi Konstruksi Bahasa

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

10.
dst.
Bejo Danang Saputra 24
Validitas dgn Rumus Matematis dari Korelasi :
• Mencari hubungan antara Variabel X dan Y
• Rumus::
nxy  (x)(y)
rxy =
{nx  (x) }{ny  (y) }
2 2 2 2

Kekuatan hubungan (r) dua variabel (Harga Mutlak)

Tak ada Korelasi Korelasi


Korelasi Korelasi Korelasi
korelasi Sangat sangat
Rendah Sedang Tinggi
(acak) Rendah Tinggi

0.55 – 0.70 –
0 < 0.4 0.40 – <0.55 > 0.90
<0.70 <0.90
Bejo Danang Saputra 25
Contoh:
Diketahui X n X Y X2 Y2 XY
sebagai skor 1 2 10 4 100 20
butir ke-i dan Y
2 4 20 16 400 80
sebagai skor
butir total. 3 6 50 36 2500 300
Berapa besar 4 6 55 36 3025 330
koefisien
5 8 60 64 3600 480
korelasinya?
Dan apakah 6 8 65 64 4225 520
hubungan 7 9 75 81 5625 675
tersebut 8 8 70 64 4900 560
signifikan ?
9 9 81 81 6561 729
10 10 85 100 7225 850
Jmlah 70 571
Bejo Danang Saputra 546 38161 4544
26
1. Hipotesis :
Hipotesis yang diajukan dalam analisis korelasi:
Ho : rxy = 0 (tidak ada korelasi)
Ha : rxy ≠ 0 (ada korelasi)

2. Kriteria :
Terima Ho, Jika t hitung ≤ t tabel
Tolak Ho, Jika t hitung > t tabel

3. Data dari Tabel :


Xi = 70 ; Yi = 571
Xi2 = 546 ; Yi2 = 38161
XiYi = 4544
Bejo Danang Saputra 27
4. Menghitung r :

Simpulan bahwa Soal Tes : Validitas Tinggi


Bejo Danang Saputra 28
RELIABILITAS
1. Reliabilitas menunjuk pada pengertian
konsistensi hasil pengukuran.
2. Reliabilitas menunjukkan derajat seberapa jauh
suatu tes dapat memberikan hasil pengukuran
yang konsisten menurut keadaan subjek
ukurnya.
3. Reliabilitas adalah derajat yang menunjukkan
seberapa jauh suatu tes dapat memberikan
hasil pengukuran yang sama terhadap ciri
perilaku yang tidak berbeda.
Bejo Danang Saputra 29
LANJUTAN RELIABILITAS ....
4. Reliabilitas merupakan indikasi sejauh mana
pengukuran itu dapat memberikan hasil yang
relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran
berulang terhadap kelompok subjek yang
sama.
5. Instrumen disebut reliabel jika menghasilkan
skor yang konsisten.
6. Instrumen disebut reliabel jika menghasilkan
skor dengan kesalahan yang kecil.

Bejo Danang Saputra 30


LANJUTAN RELIABILITAS....
7. Ada berbagai macam cara untuk mengestimasi
koefisien reliabilitas, misalnya rumus Cronbach
Alpha atau rumus Kuder-Richardson (KR)
8. Jika koefisien reliabilitas disebut r11 maka tidak
dilakukan uji signifikansi untuk r11, tetapi
ditentukan nilai ambang batas tertentu untuk r11
9. Biasanya digunakan nilai 0.70 sebagai ambang
batas. Jadi, suatu instrumen dikatakan reliabel
jika r11 ≥ 0.70

Bejo Danang Saputra 31


MACAM2/DIAGRAM RELIABILITAS
RELIABILITAS

STABILITAS INTERNAL KONSISTENSI

PARALEL TEST-RETEST BELAH DUA SKOR GABUNGAN BUTIR

SPEARMAN-BROWN PRODUCT MOMENT KR-20 (SKOR DIKOTOMI)


FLANAGAN ALPHA-CRONBACH
(SKOR KONTINUM)

Bejo Danang Saputra 32


1. Reliabilitas Instrumen

Dengan rumus KR-20 (untuk tes pilihan


ganda)

Ket : r11 : reliabilitas secara keseluruhan


p : proporsi subjek menjawab item dg benar
q : proporsi subjek menjawab item dg salah (q = 1 – p)
n : banyaknya item
St : standar deviasi dr skor total tes (sd adalah akar varians)
Bejo Danang Saputra 33
Lanjutan Reliabilitas Instrumen

Dengan rumus Cronbach Alpha (untuk


angket, atau tes pilihan ganda, atau tes
uraian)

Bejo Danang Saputra 34


Mengestimasi koefisien reliabilitas dengan KR-20

Bejo Danang Saputra 35


Mencari koefisien reliabilitas dengan Cronbach Alpha
(untuk angket)

Bejo Danang Saputra


Ini berarti, angket tersebut reliabel 36
-
2. Pengukuran Konsistensi Internal
Pada pengukuran konsistensi eksternal
diperlukan dua kali pengadministrasian
instrumen atau soal, jadi hanya diperlukan satu
set soal.

Beberapa cara pengukuran konsistensi internal


ini sbb :
a. Metode Belah Dua (Split-half Method)
b. Pendekatan Kuder-Richardson (Kuder-
Richardson Approaches)

Bejo Danang Saputra 37


-
a. Metode Belah Dua (Split-half Method)
Cara melakukan reliabilitas belah dua dapat dilakukan
dengan urutan sbb (Sukardi, 2008):
1.Lakukan pengetesan item-item yang telah dibuat kepada
subjek sasaran.
2.Bagi tes yang ada menjadi dua atas dasar dua item, yang
paling umum dengan membagi item dengan nomor ganjil
dengan item dengan nomor genap pada kelompok tersebut.
3.Hitung skor subjek pada kedua belah kelompok penerima
item genap dan item ganjil.
4.Korelasikan kedua skor tersebut, menggunakan formula
korelasi yang relevan dengan teknik pengukuran.

Bejo Danang Saputra 38


b. Pendekatan Kuder-Richardson (Kuder-
Richardson Approaches)

Bejo Danang Saputra 39


Bejo Danang Saputra 40
Bejo Danang Saputra 41
Bejo Danang Saputra 42
Cara Mencari Besarnya Reliabilitas Tes
(dalam Soal Bentuk Uraian)

Bejo Danang Saputra 43


TO BE CONTINUED.....
• WASSALAM.....

Bejo Danang Saputra 44


ANALISIS BUTIR SOAL

1) Tingkat kesukaran

2) Daya beda

3) Berfungsi atau tidaknya Pengecoh atau


distraktor

Bejo Danang Saputra 45


1) TINGKAT KESUKARAN BUTIR SOAL
• Tingkat kesukaran butir soal atau proporsi adalah
proporsi banyaknya peserta yang menjawab benar
butir soal tersebut terhadap seluruh peserta tes

TK  B
P
• Makin besar nilai P, butir soal semakin mudah
• Makin kecil nilai P, butir soal semakin sukar
• Rentangan nilai P adalah:

0.0  P  1.0
Bejo Danang Saputra 46
INDEKS TINGKAT KESUKARAN
PEMBAGIAN TK KE DALAM 3 KELOMPOK

RENTANG TK KATEGORI
0,00 – 0,29 SUKAR
0,30 – 0,69 SEDANG
0,70 – 1,00 MUDAH

PEMBAGIAN TK KE DALAM 5 KELOMPOK

RENTANG TK KATEGORI
0,00 – 0,19 SANGAT SUKAR
0,20 – 0,39 SUKAR
0,40 – 0,59 SEDANG
0,60 – 0,79 MUDAH
0,80 – 1,00 SANGAT MUDAH
Bejo Danang Saputra 47
Kiriteria Tingkat Kesukaran Butir Soal
• Sebuah butir mempunyai tingkat kesukaran baik,
dalam arti dapat memberikan distribusi yang
menyebar, jika tidak terlalu sukar dan tidak
terlalu mudah.
• Tidak ada uji signifikansi untuk tingkat kesukaran.
• Pada instrumen untuk variabel terikat dituntut
mempunyai tingkat kesukaran yang memadai
dalam rangka untuk membuat variansi yang besar
pada variabel terikat.

Bejo Danang Saputra 48


Tingkat Kesukaran Butir Soal
• Untuk memperoleh skor yang
menyebar, nilai P harus makin
mendekati 0,5
• Biasanya kriterianya adalah sebagai
berikut:

0.3  P  0.7

Bejo Danang Saputra 49


Contoh Mencari TK

TK  B
P

• Butir 1: 8/8 = 1.0


• Butir 2: 0/0 = 0.0
• Butir 3: 4/8 = 0.5
• Butir 4: 4/8 = 0.5
• Butir 5: 4/8 = 0.5
• Butir 6: 5/8 = 0.625
• dst
Bejo Danang Saputra 50
2) Daya Beda Butir Soal
• Suatu butir soal mempunyai daya pembeda
baik jika kelompok mahasiswa pandai (kel.
Atas)menjawab benar butir soal lebih banyak
daripada kelompok siswa tidak pandai (kel.
Bawah)
• Daya beda suatu butir soal dapat dipakai
untuk membedakan mahasiswa yang pandai
dan tidak pandai
• Sebagai tolok ukur pandai atau tidak pandai
adalah skor total dari sekumpulan butir yang
dianalisis
Bejo Danang Saputra 51
Kriteria Daya Beda Butir Soal
• Tidak ada uji signifikansi untuk daya
pembeda
• Rentangan daya beda adalah
-1.00 ≤ hingga ≤ +1.00
• Butir soal mempunyai daya pembeda baik
jika DB ≥ 0.30.
• DB di usahakan harus positif

Bejo Danang Saputra 52


Daya Beda Butir Soal
Ba Bb
Cara Pertama : D 
Na Nb

Cara Kedua :

Cara Ketiga : D  rpbis  


Y1 Y
Y  px
1 p x
:
 
2

  n 
Y2
Y 
Y
dengan
n
 
Bejo Danang Saputra 53
Daya Beda Butir Soal
Cara keempat : dengan korelasi biserial
(biserial correlation)

D  rbis  
Y1  Y  p x 
  f (z) 
 Y  

z 2

f (z)  1 e 2
2

z dihitung dari px, dengan px merupakan luas


daerah pada kurva normal, dihitung dari kanan
Asumsi: X dan Y mempunyai distribusi normal bivariat.
Bejo Danang Saputra 54
Contoh Mencari Daya Beda dgn Rumus Pertama

Ba Bb
D 
Na Nb

• Butir 1: D = 0.0
• Butir 2: D = 0.0
• Butir 3: D = 1.0
• Butir 4: D = -1.0
• Butir 5: D = 0.5
• Butir 6: D = 0.75
Dalam hal ini: Aa, Bb, Cc, dan Dd
merupakan kelompok atas dan Ee, • Butir 7: D = 0.0
Ff, Gg, dan Hh merupakan
kelompok bawah
Bejo Danang Saputra 55
Contoh
Mencari Daya Beda dengan Rumus Kedua utk Butir Ketiga

Bejo Danang Saputra 56


Contoh
Mencari Daya Beda dengan Rumus Ketiga utk Butir Ketiga

 1.798  100.5.5  11..625798  0.903


D  7 5.375
Bejo Danang Saputra 57
Contoh
Mencari Daya Beda dengan Rumus Keempat utk Butir Ketiga


D  rbis  
Y1  Y  p x 
  f (z) 
 Y  

px = 0.5; z = 0; f(z) = 0.3989

 1.798 0.3989
D  7 5.375 0.5   1.13

Bejo Danang Saputra 58


3) BERFUNGSINYA PENGECOH BUTIR SOAL
• Pengecoh disebut berfungsi jika:
(1) dipilih oleh sebagian mahasiswa,
(2) mhs kelompok pandai memilih lebih sedikit
daripada mhs kelompok tidak pandai
• Suatu butir soal mempunyai pengecoh yang
baik, jika banyaknya mahasiswa yang memilih
pengecoh tersebut sekurang-kurangnya 2,5%
(atau 5%), dan mhs kelompok pandai memilih
lebih sedikit daripada mhs kelompok tidak
pandai.
Bejo Danang Saputra 59
Bejo Danang Saputra 60
PENILAIAN OTENTIK
Tes Pedoman Rubrik Penilaian
Perbuatan Obsevasi (Aspek yg dinilai
dan skore nilainya)
Tes Portofolio Rubrik Penilaian
Hasil Kerja (aspek yg diniai
dan skore nilainya)

Bejo Danang Saputra 61


PENDEKATAN PENILAIAN

PENILAIAN ACUAN PENILAIAN


PATOKAN ACUAN NORMA
(PAP) (PAN)

Berdasarkan kriteria Berdasarkan nilai


yang terukur/terskala kelompok

Bejo Danang Saputra 62


DUA MACAM
STANDAR/NORMA/KRITERIA/ACUAN)

1. PAP = Penilaian Acuan Patokan


= Criterian Based Evaluation
= Criterian Referenced Evaluation
= Standar Mutlak = Norma Ideal

2. PAN = Penilaian Acuan Norma


= Norm Based Evaluation
= Norm Referenced Evaluation
= Standar Relatif = Norma Empiris

Bejo Danang Saputra 63


A. PENILAIAN ACUAN PATOKAN (PAP)
• Patokan yang dimaksud adalah tujuan yang
dicita-citakan, yaitu menguasai seluruh materi
(100%), bila tidak mampu, diperhitungkan
berapa % dari 100% tersebut.

• Patokan 100% tersebut adalah:


* angka 100 (skala penilaian 1-100)
* angka 10 (skala penilaian 1-10)
* angka 4/A (skala penilaian 0-4 / E-A)

Bejo Danang Saputra 64


PENILAIAN ACUAN PATOKAN (PAP)

• Bagi yang tidak mampu menguasai materi


100%, skornya ditetapkan dengan rumus:

ΣD X = skor (nilai) mahasiswa


X= ΣD = jumlah jawaban benar
N (penguasaan materi)
N = jumlah soal/materi yang
harus dikuasai

Bejo Danang Saputra 65


PENILAIAN ACUAN PATOKAN (PAP)

Contoh:
Nilai tertinggi yang ditetapkan = 100.
Jumlah soal/materi yang harus dikuasai = 10.
Seorang mahasiswa hanya menguasai 4.
Nilai mahasiswa tersebut: (4:10) X 100 = 40.
Nilai 40 tetap 40, berapapun nilai teman-temannya,
karena tidak tergantung dengan perolehan teman.
Terkait tentang lulus/tidak lulus ada kriteria sendiri,
misalnya nilai 60, jadi mahasiswa tsb tidak lulus.

Bejo Danang Saputra 66


B. PENILAIAN ACUAN NORMA (PAN)

• Norma yang dimaksud adalah nilai tertinggi


yang diperoleh kelompok / kelasnya (norma
empiris), bersifat relatif, tergantung perolehan
teman satu kelas / kelompoknya.
• Untuk menentukan kedudukan setiap
mahasiswa di dalam kelompoknya digunakan
acuan kurve normal, maka disebut Penilaian
Acuan Norma.

Bejo Danang Saputra 67


STANDAR PENILAIAN
(MENGACU KURVE NORMAL)

• Ada beberapa standar:


(1) standar seratus, (2) Standar sepuluh, (3) standar
sembilan, dan (4) standar lima.
• Teknik penghitungan menggunakan kurve
normal dengan langkah:
(1) menyusun kategori, (2) menghitung angka batas
kategori, dan (3) memberi nilai (menyatakan skor
seorang siswa termasuk dalam kategori yang mana).

Bejo Danang Saputra 68


PENILAIAN DENGAN STANDAR LIMA

• Skor terbagi atas lima kategori: A, B, C, D, E


atau 1, 2, 3, 4, 5.
• Ada tiga cara menentukan angka-angka batas
kategori, yaitu:
1. Mx ±0,50 SD dan ±1,50 SD.
2. Mx ±1,00 SD dan ±2,00 SD.
3. Penghitungan persentil tertentu, yaitu:
P10, P30, P70, dan P90

Bejo Danang Saputra 69


1. PENGHITUNGAN PENILAIAN STANDAR LIMA DENGAN:
MEAN ±0,50 SD DAN ±1.50 SD

• 6.68% 24,17% 38,30% 24,17% 6,68%


• ( 7% ) ( 24% ) ( 38% ) ( 24% ) (7% )

- 1,5 SD - 0,50 SD + 0,50 SD + 1,5 SD

E D C B A

0 1 2 3 4

P7 P31 P69 P93

Bejo Danang Saputra 70


1. PENGHITUNGAN PENILAIAN STANDAR LIMA DNG:
MEAN ±0,50 SD DAN ±1.50 SD

• Diandaikan Mx = 60 dan SD = 10.


• Mx ± 0,50 SD = 60 ± 0,50 X 10 = 60 ± 5
Jadi, angka batas kategori 55 dan 65.
• Mx ± 1,50 SD = 60 ± 1,50 X 10 = 60 ± 15
Jadi, angka batas kategori 45 dan 75.
• Bila angka-angka batas kategori hasil
penghitungan di atas dimasukkan pada
gambar kurve normal, sebagai berikut:

Bejo Danang Saputra 71


1. PENGHITUNGAN PENILAIAN STANDAR LIMA DENGAN:
MEAN ±0,50 SD DAN ±1.50 SD

• 6.68% 24,17% 38,30% 24,17% 6,68%


• ( 7% ) ( 24% ) ( 38% ) ( 24% ) (7% )

- 1,5 SD - 0,50 SD + 0,50 SD + 1,5 SD

E D C B A

0 1 2 3 4

P7 P31 P69 P93

Bejo Danang Saputra 72


1. PENGHITUNGAN PENILAIAN STANDAR LIMA DENGAN:
MEAN ±0,50 SD DAN ±1.50 SD

• Berdasar perhitungan di atas, bila batas lulusnya


nilai 2 (C), maka:
1. Yang lulus minimal nilai 55.
2. Jumlah yang lulus = 69% (38%+24%+7%).
3. Yang tidak lulus nilai kurang dari 55.
4. Jumlah yang tidak lulus 31% (7%+24%).

* Dari gambar di atas dapat dibuat tabel sbb.:

Bejo Danang Saputra 73


1. PENGHITUNGAN PENILAIAN STANDAR LIMA DENGAN:
MEAN ±0,50 SD DAN ±1.50 SD

Batas Daerah Dalam Kurve Nilai Persentase

Mx + 1,50 SD atau lebih A=4 6,68% (7%)


Antara Mx + 0,50 SD dan + 1,50 SD B=3 24,17% (24%)
Antara Mx – 0,50 SD dan + 0,50 SD C=2 38,30% (38%)
Antara Mx – 1,50 SD dan – 0,50 SD D=1 24,17% (24%)
Kurang dari Mx - 1,50 SD E=0 6,68% (7%)

Bejo Danang Saputra 74


Contoh: Pengemb Interpretasi Skor Nilai
STIKES AIAIC
N0 SKOR NILAI MUTU BOBOT
1 80,00 - 100 A 4,00
2 75,00 - 78,99 A- 3,70
3 72,00 -74,99 B+ 3,30
4 68,00 - 71,99 B 3,00
5 65,00 - 67,99 B- 2,70
6 62,00 - 64,99 C+ 2,30
7 55,00 - 61,99 C 2,00
8 41,00 - 54,99 D 1,00
9
Bejo Danang Saputra
0- 40,99 E 0 75
TERIMA KASIH

Bejo Danang Saputra 76