Anda di halaman 1dari 117

DASAR-DASAR

PARASITOLOGI

Andarias Mangali

Bagian Parasitologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin
PENDAHULUAN
Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari
organisme yang hidup untuk sementara atau
tetap di dalam atau pada permukaan tubuh
organisme lain dan mengambil makanan
dari organisme lain tersebut.

Organisme yg mengambil makanan  PARASIT


Organisme tempat hidup parasit  HOSPES

2
Parasit terdiri atas :
I. Zooparasit  Parasit berupa hewan :
Protozoa
Helminthes
Arthropoda
II. Phytoparasit  Parasit berupa tumbuh2an :
Bakteri
Fungus ( Jamur )
III. Virus

3
Parasitologi kedokteran mempelajari
zooparasit (protozoa, helminthes dan
arthropoda) yang menghinggapi dan
menyebabkan penyakit pada manusia

4
JENIS-JENIS PARASIT
A. Berdasarkan tempat hidup pada hospes :
Endoparasit  parasit yang hidup di dalam
tubuh hospes

Ektoparasit  parasit yang hidup pada


permukaan tubuh hospes

5
B. Berdasarkan keperluan akan hospes :
Parasit obligat  parasit yang hidupnya
tergantung pada hospes

Parasit fakultatif  parasit yang hidupnya


tidak tergantung pada hospes

6
C. Berdasarkan lamanya hidup pada hospes :
Parasit permanen  parasit yang selama
hidupnya menetap pada hospes

Parasit temporer  parasit yang dapat


hidup bebas dan sewaktu-waktu
menghinggapi hospes untuk
mengambil makanan

7
D. Berdasarkan jumlah hospes :
Parasit monoksen  parasit yang hanya
menghinggapi satu spesies hospes

Parasit poliksen  parasit yang meng-


hinggapi berbagai spesies hospes

8
E. Berdasarkan patogenitas :
Parasit patogen  parasit yg menyebabkan
kerusakan/kelainan pada hospes

Parasit apatogen  parasit yg tdk menyebab


kan kerusakan/kelainan pada hospes

9
F. Lain-lain
Parasit insidentil  parasit yang secara
kebetulan menyerang suatu hospes
yang bukan hospes sebenarnya
Parasit koprozoik  parasit asing yang
melalui saluran pencernaan hospes
tanpa menyebabkan kelainan
Parasit aberant  parasit yang secara
kebetulan menempati suatu tempat
dimana ia tidak dapat hidup seterusnya
Pseudoparasit  suatu artefak yang mirip
parasit (bukan parasit) 10
JENIS-JENIS HOSPES
Hospes definitif  hospes dimana parasit
tumbuh menjadi dewasa dan / atau
berkembangbiak secara seksual

Hospes perantara  hospes dimana parasit


tumbuh menjadi stadium larva dan / atau
berkembangbiak secara aseksual

11
Hospes reservoar  hewan yang mengandung
parasit yang sama pada manusia

Hospes paratenik  hospes yang mengandung


stadium infektif parasit dimana stadium
infektif tsb. tidak berkembangbiak di dalam
tubuhnya ttp dapat ditularkan dan menjadi
dewasa pada hospes definitif

12
BEBERAPA TERMINOLOGI LAIN
Habitat  tempat hidup alami suatu parasit
Vektor  organisme (biasanya serangga)
yang menularkan penyakit kepada manusia
atau hewan
Carrier (pembawa parasit)  seseorang
yang mengandung parasit dalam tubuhnya
tanpa menunjukkan gejala-gejala penyakit

13
Infeksi  adanya parasit didalam tubuh hospes

Infestasi  adanya parasit pada permukaan


tubuh hospes atau pada tanah

Zoonosis penyakit hewan yg dapat ditularkan


kepada manusia atau sebaliknya

14
Masa inkubasi biologis  waktu antara
masuknya stadium infektif parasit ke
dalam tubuh sampai ditemukannya
parasit tersebut di dalam tubuh
Masa inkubasi klinis waktu antara
masuknya stadium infektif parasit ke
dalam tubuh sampai timbulnya gejala
penyakit yang pertama

15
SCIENTIFIC NOMENCLATURE
Nomenclature parasit (Zooparasit) berdasarkan
International Code of Zoological Nomenclature.
Setiap parasit dikelompokkan ke dalam filum,
kelas, ordo, famili, genus dan spesies.
Nama genus & spesies dicetak dengan huruf
miring (italics) atau dicetak dengan huruf tegak
dan di garis bawah. Nama genus dimulai dengan
huruf besar dan spesies dimulai dgn huruf kecil.
Ascaris lumbricoides  A. lumbricoides
Ascaris lumbricoides  A. lumbricoides
16
DISTRIBUSI GEOGRAFIK
Parasit ditemukan di seluruh dunia (kosmopolit)
terutama pada daerah tropik dan subtropik
Endemisitas parasit di satu daerah tergantung :
1. Adanya hospes yang sesuai
2. Mudahnya parasit meninggalkan hospes
3. Keadaan lingkungan yang memungkinkan
kelangsungan hidup parasit diluar hospes
4. Keadaan sosioekonomi
5. Upacara-upacara keagamaan tertentu
6. Perpindahan penduduk
17
DAUR HIDUP

Daur hidup parasit sangat beragam.


Setiap parasit mempunyai daur hidup tersendiri,
ada yang sederhana dan ada yang kompleks

Makin kompleks daur hidup suatu parasit, makin


kecil peluang utk menyelesaikan daur hidupnya

18
Daur hidup parasit mungkin membutuhkan :
1. Fase bebas di luar hospes
2. Perkembangan dalam fase bebas di luar hospes
3. Satu hospes perantara dengan atau tanpa fase bebas
di luar hospes
4. Dua hospes perantara dengan atau tanpa fase bebas
di luar hospes
5. Hospes perantara dan hospes definitif pada spesies
yang sama
Daur hidup parasit secara umum
Hospes Perantara
(HP)

HP-1

Hospes Definitif

Oto-infeksi Fase Bebas HP

HP-2
KLASIFIKASI

Parasit

Protozoa Helminthes Arthropoda


PROTOZOA

Protozoa adalah parasit berupa hewan


bersel satu yang hidup sendiri atau
berkelompok yang dapat melakukan semua
fungsi kehidupan
Morfologi
Bentuk : - bulat,
- lonjong,
- simetris kiri-kanan,
- tidak teratur atau
- tidak tentu,
Ukuran : 1 – 200 µm
Terdiri atas : - Inti (satu atau lebih)
- Sitoplasma
Inti terdiri atas : - selaput inti (membran inti)
- butir-butir kromatin
- serabut inti
- cairan inti
- kariosom (endosom, nucleolus)

Fungsi inti : - mempertahankan hidup


- reproduksi
Sitoplasma terdiri atas : - ektoplasma
- endoplasma
Fungsi ektoplasma : - pergerakan
- mengambil makanan
- ekskresi
- respirasi
- proteksi
Fungsi endoplasma : - mengurus gizi sel
Alat gerak protozoa :
1. Pseudopodium (kaki palsu)
2. Silium (bulu getar)
3. Flagel (bulu cambuk)
4. Membran undulans
(membran bergelombang)
Klasifikasi
A. Berdasarkan morfologi/alat gerak
B. Berdasarkan habitat
C. Berdasarkan patogenitas
A. Berdasarkan morfologi/alat gerak :
I. Kelas Rhizopoda (Sarcodina)
II. Kelas Flagellata (Mastigophora)
III. Kelas Ciliata (Ciliophora)
IV. Kelas Sporozoa
B. Berdasarkan habitat :
I. Protozoa usus
II. Protozoa Atrial (Mulut dan Alat kelamin)
II. Protozoa darah dan jaringan
C. Berdasarkan patogenitas :
I. Protozoa patogen
II. Protozoa apatogen (komensal)
Klasifikasi Protozoa
Berdasarkan habitat:
Berdasarkan morfologi: A. Usus
1. Rhizopoda/Sarcodina B. Atrial
2. Ciliata/Ciliophora C. Darah/Jaringan
3. Flagellata/Mastigophora
4. Sporozoa Berdasarka patogenitas :
A. Patogen
B. Komensal
Protozoa
Rhizopoda Flagellata

Ciliata Sporozoa
Protozoa
Usus Atrial Darah/Jaringan
Rhizopoda Entamoeba histolityca Entamoeba gingivalis

(Pseudopodia +) Entamoeba hartmanni


Entamoeba coli
Endolimax nana
Iodamoeba buetschii
Dientamoeba fragilis
Flagellata Giardia lamblia Leishmania donovani
Trichmonas tenax Leishmania tropca
(Flagel +) Chilomastix mesnili
Trichomonas vaginalis Leishmania brasiliensis
Retortamonas intestinalis
Trypanosoma gambiense
Enteromonas hominis
Trypanosoma rhodesiense
Trichomonas hominis
Trypanosoma cruzi
Ciliata (silia +)
Balantidium coli
Plasmodium vivax
Sporozoa Isospora belli
Plasmodium falciparum
(gamet +) Plasmodium malariae
Plasmodium ovale
Toxoplasma gondii
Pneumocysts carinii
Protozoa
__________________________________________________________________________
Kelas Spesies Habitat Patogenitas

Rhizopoda Entamoeba histolytica Usus besar Patogen


Entamoeba hartmanni Usus besar Komensal
Entamoeba coli Usus besar Komensal
Entamoeba gingivalis Mulut Komensal
Endolimax nana Usus basar Komensal
Iodomoeba buetschlii Usus besar Komensal
Dientamoeba fragilis Usus besar Komensal

Ciliata Balantidium coli Usus besar Patogen


Flagellata Giardia lamblia Usus halus Patogen
Chilomastix mesnili Usus besar Komensal
Retortamonas intestinalis Usus besar Komensal
Enteromonas hominis Usus besar Komensal
Trichomonas hominis Usus besar Komensal
Trichomonas tenax Mulut Komensal
Trichomonas vaginalis Alat kelamin Patogen
Leishmania donovani* Sel SRE Patogen
Leishmania tropica* Sel SRE Patogen
Leiahmanis brasiliensis* Sel SRE Patogen
Trypanosoma gambiense* Darah, otak Patogen
Trypanosoma rhodesiense* Darah, otak Patogen
Trypanosoma cruzi* Darah, Saraf, Patogen
jantung
Sporozoa Plasmodium vivax Sel darah merah Patogen
Plasmodium falciparum Sel darah merah Patogen
Plasmodium malariae Sel darah merah Patogen
Plasmodium ovale Sel darah merah Patogen
Isospora belli Usus besar Patogen
Cryptosporidum sp Usus halus Patogen
Toxoplasma gondii Sel SRE Patogen
Pneumocystis carinii Paru Patogen
______________________________________________________________________________
* Tidak ditemukan di Indonesia
SRE = sistim retikuloendotel
HELMINTHES (CACING)
Cacing adalah parasit berupa hewan
bersel banyak yang tubuhnya simetris kiri-
kanan.
Klasifikasi Helminthes

HELMINTHES
(CACING)

NEMATHELMINTHES PLATYHELMINTHES
(CACING BULAT) (CACING PIPIH)

NEMATODA TREMATODA CESTODA


(CACING BULAT) (CACINGDAUN) (CACING PITA)
Ciri-ciri umum cacing
Nematoda Trematoda Cestoda
Bentuk silindris Bentuk daun Bentuk pita
Segmen - Segmen - Segmen +
Saluran cerna + Saluran cerna + Saluran cerna -
Anus + Anus - Anus -
Rongga badan + Rongga badan - Rongga badan -
Batil isap - Batil isap + Batil isap +
Sex: Diecious Sex: Monocious, Sex: Monocious
(jantan & betina) kec. Schistosoma (hermafrodit)
Helminthes (Cacing)

Cestoda

Nematoda

Trematoda
Cacing
Nematoda Trematoda Cestoda
Ascaris lumbricoides Fasciola hepatica Diphyllobothrium latum
Trichuris trichiura Fasciola gigantica Diphyllobothrium mansoni
Necator americanus
Opisthorchis felineus
Ancylostoma duodenale
Ancylostoma ceylanicum
Opisthorchis viverrini Taenia saginata
Ancylostoma caninum Clonorchis sinensis Taenia solium
Ancylostoma braziliense Dicrocoelium dendriticum Echinococcus granulosus
Strongyloides stercoralis Echinococcus alveolaris
Enterobius vermicularis Fasciolopsis buski Multiceps multiceps
Trichinella spiralis
Echinostoma ilocanum Dipylidium caninum
Capillaria philippinensis
Trichostrongylus spp
Heterophyes heteroppyes Hymenolepis nana
Wuchereria bancrofti Metagonimus yokogawai Hymenolepis diminuta
Brugia malayi Gastrodiscoides hominis
Brugia timori
Loa loa Paragonimus westermani
Onchocerca volvulus
Mansonella ozzardi
Mansonella perstans
Schistosoma haematobium
Mansonella streptocerca Schistosoma mansoni
Dracunculus medinensis Schistosoma japonicum
Capillaria hepatica Schistosoma mekongi
Angiostrongylus cantonensis
Gnathostoma spinigerum
Toxocara cati
Toxocara canis
Nematoda
1. Nematoda usus

- Ascaris lumbricoides - Oxyuris vermicularis


- Trichuris trichiura - Trichinella spiralis
- Necator americanus - Capillaria phillipinensis
- Ancylostoma duodenale - Trichostrongylus sp
- Ancylostoma ceylanicum - Toxacara cati
- Ancylostoma caninum - Toxacara canis
- Ancylostoma braziliense
- Strongyloides stercoralis
2. Nematoda Jaringan/Darah
- Wuchereria bancrofti - Dracunculus medinensis
- Brugia malayi - Capillaria hepatica
- Brugia timori - Angiostrongylus cantonensis
- Loa loa - Gnathostoma spinigerum
- Onchocerca volvulus
- Mansonella ozzardi
- Mansonella perstans
- Mansonella streptocerca
Trematoda
1. Trematoda usus
- Fasciolopsis buski
- Echinostoma ilocanum
- Heterophyes heterophyes
- Metagonimus yokogawai
- Gastrodiscoides hominis
2. Trematoda hati
- Fasciola hepatica
- Fasciola gigantica
- Opisthorchis felineus
- Opisthorchis viverrini
- Clonorchis sinensis
- Dicrocoelium dendriticum
3. Trematoda paru
- Paragonimus westermani
- Paragonimus heterotremus

4. Trematoda darah
- Schistosoma haematobium
- Schistosoma mansoni
- Schistosoma japonicum
- Schistosoma mekongi
Cestoda

1. Pseudophyllidea
- Diphyllobothrium latum
- Diphyllobothrium mansoni
2. Cyclophyllidea
- Taenia saginata
- Taenia solium
- Hymenolepis nana
- Hymenolepis diminuta
- Echinococcus granulosus
- Echinococcus multilocularis
- Multiceps multiceps
- Dipylidium caninum
Arthropoda
I. Crustacea
II. Chilopoda
III. Diplopoda
IV. Arachnida
V. Insecta
I. Crustacea :
1. Copepoda : - Cyclops
- Diaptomus
2. Decapoda : - Shrims (Udang)
- Lobster
- Crabs (Kepiting)
II. Chilopoda : Centipedes (Lipan)

III. Diplopoda : Millipedes (Kaki seribu)


III. Arachnida :
1. Scorpionida : Scorpion (Kalajengking)
2. Aranea : Spider (Laba-laba)
3. Acarina : - Ixodoidea (Tick, Sengkenit)
- Sarcoptoidae (Mite, Tungau)
IV. Insecta (Serangga) :
1. Diptera : Nyamuk & Lalat
2. Siphonaptera : Pinjal
3. Anoplura : Tuma
4. Hemiptera : Kutu busuk
5. Orthoptera : Kecoa
6. Lepidoptera : Kupu-kupu
7. Coleoptera : Kumbanmg
8. Hemyloptera : Lebah & Rayap
Arthropoda
PENULARAN
Penularan parasit bergantung 3 faktor :
I. Sumber infeksi
II. Cara penularan
III. Hospes yang sesuai
I. Sumber infeksi
1. Manusia : - dengan gejala klinis
- tanpa gejala klinis
2. Hewan : - hospes reservoar
- hospes perantara
- hospes definitif
II. Cara Penularan
1. Kontak langsung/tidak langsung dgn penderita
- Trichomonas vaginalis
- Sarcoptes scabiei
- Pediculus humanus capitis
- Pediculus humanus corporis
- Phthirus pubis

55
2. Menelan bentuk infektif bersama makanan/
minuman yang terkontaminasi
a. Menelan telurnya b. Menelan kistanya
- Ascaris lumbricoides - Entamoeba histolytica
- Trichuris trichiura - Giardia lamblia
- Toxocara cati - Balantidium coli
- Toxacara canis - Toxoplasma gondii
- Oxyuris vermicularis
Trichostrongylus sp
- Hymenolepis nana
3. Bentuk infektif menembus kulit
a. Larva filariform menembus kulit
- Necator americanus
- Ancylostoma duodenale
- Ancylostoma ceylanicum
- Ancylostoma braziliense
- Ancylostoma caninum
- Strongyloides stercoralis
b. Serkaria menembus kulit
- Schistosoma haematobium
- Schistosoma mansoni
- Schistosoma japonicum
- Schistosoma mekongi
4. Menelan hospes perantara yg mengandung
bentuk infektif
- Taenia saginata  Sapi
- Taenia solium  Babi
- Diphyllobothrium latum  Ikan air Tawar
- Clonorchis sinensis  Ikan air tawar
- Opisthorchis felineus  Ikan air tawar
- Opisthorchis viverrini  Ikan air tawar
- Heterophyes heterophyes  Ikan air tawar
- Metagonimus yokogawai  Ikan air tawar
- Paragonimus westermani  Ketam
- Echinostoma ilocanum  Keong air tawar
- Fasciolopsis buski  Tumbuh2 an air
- Dracunculus medinensis  Cyclops
5. Melalui vektor
- Plasmodium vivax - Wuchereria bancrofti
- Plasmodium falciparum - Brugia malayi
- Plasmodium malaraie - Brugia timori
- Plasmodium ovale - Loa loa
- Leishmania donovani - Onchocerca volvulus
- Leishmania tropica - Mansonella ozzardi
- Leishmania brasiliensis - Mansonella pestans
- Trypanosoma gambiense - Mansonella streptocerca
- Trypanosoma rhodesiense
- Trypanosoma cruzi
6. Melalui plasenta dari ibu ke janin
(transplacentair)
- Toxoplasma gondii
- Plasmodium vivax
- Plasmodium falciparum
- Plasmodium malariae
- Plasmodium ovale
7. Melalui air susu ibu dari ibu ke anak
(transmammary)
Strongyloides fuelleborni
8. Melalui transfusi darah
- Toxoplasma gondii
- Plasmodium falciparum
- Plasmodium vivax
- Plasmodium malariae
- Plasmodium ovale
9. Inhalasi bentuk infektif
- Oxyuris vermicularis
III. Hospes yang sesuai :
1. Manusia : - hospes tunggal
- hospes utama
- hospes insidentil
- hospes definitif
- hospes perantara
2. Hewan
PATOGENESIS
Kerusakan jaringan akibat infeksi parasit dapat
1. Terlokalisasi pada tempat parasit berada
2. Meluas ke bagian/organ lain tubuh

65
Penyebab kerusakan jaringan adalah :
1. Trauma mekanik parasit
2. Iritasi parasit
3. Toksin parasit

66
Derajat kerusakan jaringan tergantung pada :
1. Jumlah parasit
2. Ukuran parasit
3. Aktifitas parasit
4. Toksin parasit
5. Lokasi parasit

67
PATOLOGI
Kerusakan/kelainan yang ditimbulkan oleh
parasit dapat berupa :
1. Kerusakan traumatik/fisikal
2. Nekrosis jaringan/lisis sel
3. Merangsang reaksi jaringan hospes
4. Fenomena toksik dan alergi

68
1. Kerusakan traumatik/fisikal
Superficial
- kerusakan kulit oleh Sarcoptes scabiei,
beberapa larva cacing,
tick (sengkenit)
Internal
- ruptur kapiler paru akibat migrasi larva cacing
- trauma dan perdarahan akibat telur Schistosoma sp
keluar dari venula mesenterik atau kandung kemih
- kerusakan vili usus oleh perlekatan cacing tambang
- obstruksi usus oleh massa cacing yang besar
(A. lumbricoides, T. saginata, T.solium)
2. Nekrosis jaringan /lisis sel
- E. histolytica menyebabkan nekrosis jaringan
- Parasit malaria menyebabkan lisis eritrosit
3. Merangsang reaksi jaringan hospes
- Proliferasi dan infiltrasi seluler pada tempat
parasit berada
- Peningkatan jenis sel tertentu secara sistemik
terutama yg bersirkulasi dalam aliran darah

Reaksi jaringan hospes tsb untuk :


- merusak/memusnahkan parasit
- mengisolasi parasit dgn pembentukan kapsul
fibrosa
4. Fenomena toksik dan alergi

A. Fenomena toksik B. Fenomena alergik


- Laba-laba - Kista hidatid yg pecah
- Sengkenit - Dermatitis Schistosoma
- Kalajengking
- Lebah
- Semut
- Ulat bulu
- Ubur-ubur
GEJALA KLINIS
Infeksi parasit pada seseorang dapat :
1. Tanpa gejala klinis
2. Dengan gejala klinis : - sistemik
- lokal
Gejala klinis tergantung pada :
1. Spesies parasit
2. Kondisi hospes
3. Organ yang terkena
4. Jumlah parasit
5. Sensitifitas hospes

74
Gejala sistemik
Demam
Menggigil
Sakit kepala
Nyeri otot dan sendi
Kelelahan
Penurunan berat badan
Malnutrisi
Kakeksia
Gejala Gastrointestinal
Penurunan nafsu makan
Mual/muntah
Abdominal discomfort
Diare
Konstipasi
Nyeri epigastrium / hypochondrium
Kolik abdomen
Gejala Saraf
- Tekanan intrakranial meninggi
- Parastesi & amnesia
- Lumpuh

Gejala Psikis
- Ringan (confusion, irritability, insomnia)
- Berat (instability/incoordination, hallusinasi,
perubahan personality, kemunduran
mental)
Gejala alergi
Gastrointestinal (anorexia, mual, muntah,
diare, nyeri perut , kolik)

Kulit (pruritus, eritem, makula, papula,


purpura , urtika, edem)

Paru (batuk, bersin, sesak, nyeri dada, asma)


DIAGNOSIS
1. Berdasarkan gejala klinis
2. Berdasarkan pemeriksaan penunjang :
a. Laboratorium : - Pemeriksaan darah
- Pemeriksaan tinja
- Pemeriksaan urine
- Pemeriksaan sputum
- Biopsi organ tubuh
b. Radiologi
79
TERAPI
1. Obat-obat anti parasit
2. Operasi (kasus-kasus tertentu)

80
Rhizopoda
Nucleus
E. coli E. histolytica
Ciliata: Balantidium coli
Flagellata usus
Chilomastix mesnili
Trichomonas hominis

Giardia lamblia
Protozoa usus
Flagellata darah/jaringan:
- Leishmania spp
-Trypanosoma spp
-
Leishmania :
- Leishmania donovani
- Leishmania tropica
- Leishmania brazilliensis
Trypanosoma

African’s Sleeping Sickness

Chagas diseases
Sporozoa: Plasmodium
Toxoplasma gondii
Daur hidup
Nematoda
Daur hidup Nematoda

Hospes Perantara
- Nyamuk (Wuchereria bancrofti ,
Telur/Larva Brugia malayi, B. timori
-Ascaris lumbricoides - Chrysops ( Loa loa )
-Trichuris trichiura -Simulium (Onchocerca volvulus )
-Enterobius vermicularis -Culicoides (Mansonella ozzardi)
-Necator americanus - Cyclops (D. medinensis)
-Ancylostoma duodenale - Babi (Trichinella spiralis)
-Strongyloides stercoralis
Enterobius vermicularis
Trichuris trichuria
Trichuris trichiura

Strongyloides stercoralis

Ancylostoma duodenale
Ascaris lumbricoides Necator americanus
Ascaris lumbricoides
Mikrofilaria Cacing Filaria

Berselubung

Tidak berselubung
Trematoda
Daur hidup Trematoda
Trematoda usus, hati, paru

HP-1
Water
Snail
HP
Trematoda darah
Water
Snail
Manusia

HP-2
Water
animal/plant
Clonorchis sinensis
Fasciola hepatica

Paragonimus westermani

Ophistorchis felineus Heterophyes heterophyes

Schistosoma spp.

Metagonimus yokogawai
Fasciolopsis buski
Cestoda
Daur hidup Cestoda
D. latum

HP-1
H. diminuta (pinjal) Cyclops
D. caninum (pinjal)
T. saginata (Sapi)
HP T. solium (babi)
Manusia

Free H. nana
Hewan

E. granulosus HP-2
Ikan
Hymenolepis nana Hymenolepis diminuta
Taenia saginata Taenia solium
Diphyllobothrium latum
Telur-telur cacing
Cyclops

Cyclops
Lipan
Kalajengking

Laba-laba

Tungau
Anopheles Aedes Mansonia
Aedes Mansonia
Anopheles

Nyamuk

Culex

Toxorrhynchites
Telur, larva, pupa & dewasa
Simulium
Dewasa, telur, larva & pupa
Phlebotomus
Dewasa & larva
Culicoides
Tabanus
Pupa, dewasa & larva
Musca domestica
Dewasa, larva & pupa
Glossina (lalatTsetse)
Pinjal
Phthirus pubis
Pediculus humanus capitis

Tuma

Telur
Kutu busuk

Jantan

Betina