Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN KOLESISTITIS

Oleh Kelompok 1

Lisfa Dayani 142310101001


Velinda Dewi Lutfiana 142310101004
Gafinda Andri Aswari 142310101006
Mufreda Yuliana 142310101008
Anisa Fiatul K 142310101014
Sofi Fitriyah S 142310101019
Neneng Dwi S 142310101020
Yessi Anggun P 142310101023
Selly Puspitasari 142310101026
Aisatul Zulfa 142310101029
Lisnawati 142310101033
Kasus 1

 Seorang pasien perempuan usia 45 tahun dibawa ke UGD karena


mengalami nyeri hebat pada perut sebelah kanan atas. Nyeri kadang
dirasakan pada daerah bahu. Pasien juga merasakan demam sejak 1 hari
yang lalu. Berdasarkan berbagai pemeriksaan yang dilakukan pasien
didiagnosa kolesistitis.
DEFINISI
Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan reaksi inflamasi
akut dinding kandung empedu disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri
tekan dan panas badan. Dikenal klasifikasi kolesistitis yaitu kolesistitis akut serta
kronik. (Dr. Suparyanto, M.Kes2009)
Pada kasus di atas, termasuk jenis kolesistitis akut karena terdapat nyeri hebat
pada daerah bahu kemudian pasien mengalami demam sejak 1 hari yang lalu.

Lisfa Dayani (142310101001)


Pridady. Kolesistitis. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. Edisi keempat. Jakarta: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2006. Hal 477-478.
Etiologi
 Dalam 90% kasus kolesistitis akut disebabkan oleh batu empedu menghalangi saluran di kantong
empedu
 pembedahan (terjadi perubahan fungsi)
 sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh)
 luka bakar
 Pemasangan infus dalam waktu lama
 Trauma abdomen

Faktor yang dapat mencetuskan respon peradangan pada kolesistitis:


 kepekatan cairan empedu
 kolesterol
 lisolesitin dan prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu yang diikuti oleh
reaksi inflamasi dan supurasi.

Dikerjakan oleh : velinda dewi 142310101004


Anami, Hannan. 2011. KOLESISTITIS. [Diakses pada: 26 April 2016]. Diunduh dari:
https://www.academia.edu/5914458/Kolesistitis
Faktor Resiko
 Usia, usia>40 thn lebih rentan
 Jenis kelamin, wanita:laki-laki = 2:1
 Berat badan, BMI tinggi resiko lebih tinggi
 Makanan, makanan yang mengandung lemakn hewani dan kolesterol bersiko
tinggi terjadi kolesistitis
 Aktivitas fisik, kurangnya Aktifitas fisik berhubungan dengan resiko semakin
meningkat.

Velinda Dewi Luthfiana (142310101004)


[serial online] repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34994/3/Chapter%2011.pdf
[diakses pada tanggal 26 April 2016]
Tanda dan Gejala

 sakit perut sisi kanan atas


 Nyeri yang berpindah pindah
 Mual, munta, perut terasa kembung
 Kulit berwarna kuning (apabila batu empedu menghalangi saluran
empedu).
 Suhu badan tinggi (demam)

Masjoer, Arif M. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Assculaplus /


Gafinda Andri A 142310101006
PATOFISIOLOGI
 Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada saat katup Oddi
tertutup. Dalam kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dengan mengabsorpsi air.
Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi zat-zat padat. Stasis empedu
dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan
kimia dan pengendapan unsur tersebut.
 Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis empedu,
dapat menyebabkan infeksi kandung empedu. Jika pengobatan tertunda atau tidak tersedia,
dalam beberapa kasus kandung empedu menjadi sangat terinfeksi dan bahkan gangren. Hal ini
dapat mengakibatkan keracunan darah (septikemia), yang sangat serius dan dapat mengancam
hidup.
 90 % kasus kolesistitis melibatkan batu di saluran kistik (kolesistitis calculous) dan 10%
sisanya merupakan kasus kolesistitis acalculous. Kolesistitis calculous akut disebabkan oleh
tersumbatnya duktus sistikus hingga menyebabkan distensi kandung empedu.
Cont’d
 Seiring membesarnya ukuran kantong empedu, aliran darah dan drainase limfatik menjadi terganggu
hingga menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis mukosa.
 Mekanisme yang akurat dari kolesistitis acalculous tidaklah jelas , namun beberapa teori mencoba
menjelaskan. Radang mungkin terjadi akibat kondisi dipertahankannya konsentrat empedu, zat yang
sangat berbahaya, di kandung empedu, pada keadaan tertentu. Misalnya pada kondisi puasa
berkepanjangan, kantong empedu tidak pernah menerima stimulus dari cholecystokinin ( CCK ) untuk
mengosongkan isinya , dengan demikian empedu terkonsentrasi tetap stagnan di lumen.
 Sebuah studi oleh Cullen dkk menunjukkan kemampuan endotoksin untuk menyebabkan nekrosis,
perdarahan, area pengendapan fibrin, dan hilangnya mukosa yang luas, konsisten dengan iskemik akut.
Endotoksin juga menghambat respon kontraktil kandung empedu terhadap CCK, sehingga
menyebabkan kondisi kandung empedu stasis

Mufreda Yuliana I. (142310101008)


[Serial On Line] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/35612/4/Chapter%20II.pdf
[Diakses tanggal 26 April 2016]
Pemeriksaan yang diperlukan
 Laboratorium darah lengkap
 Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
 CT Scan abdomen
 Kolangiopankreatografi Retrograd Endoscopik
 Kolangiografi Transhepatik Perkutaneus
 Kolesistogram
 Scan Hati
 Foto abdomen
 Foto Dada
 Foto polos abdomen
 Kolesistografi oral
 Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zat radioaktif HIDA atau 99nTc6

Anisa Fiatul Kharimah (142310101014)


Marilynn E. Dongoes. Rencana asuhan keperawatan Edisi 3. EGC
PENATALAKSANAAN MEDIS
 Non Pembedahan  Pembedahan

a. Penatalaksanaan pendukung dan a. In tervensi bedah dan sistem


Diet drainase
b. Farmakoterapi asam ursedeoksikolat b. Kolesistektomi
(urdafalk) dan kenodeoksiolat c. Minikolesistektomi
(chenodiol,chenofalk) d. Kolesistektomi laparaskopie
c. Pelarutan batu empedu tanpa
e. Kolesistektomi endoskopi
pembedahan
d. Ektracorporeal shock-wave
lithotripsy (ESWL)  Pendidikan pasien pasca
e. Terapi IV operasi
f. Posisi: semi fowler.
Sofi Fitriyah Santoso (142310101019)
[Serial On Line] http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-
diseases/kolelitiasis-_-951000103304 [Diakses Selasa, 26 April 2016]
PENGKAJIAN
a. Identitas klien: nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status
perkawinan, alamat, golongan darah, penghasilan, hubungan klien
dengan keluarga.
b. Keluhan Utama; nyeri hebat mendadak pada epigastrium atau abdomen
kuadran kanan atas, nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu
kanan.
c. Riwayat Penyakit Sekarang;
P = Nyeri bertambah bila klien bergerak atau batuk dan nyeri
berkurang bila klien tidak banyak bergerak atau beristirahat dan setelah
diberi obat
con’t
Q = Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan skala ≥ 5 (0-10) dan
biasanya membuat klien kesulitan untuk beraktivitas.
R = Nyeri dirasakan di area luka post operasi, dapat menjalar ke seluruh
daerah abdomen.
S = Biasanya aktivitas klien terganggu karena kelemahan dan
keterbatasan gerak akibat nyeri luka post operasi.
T = Nyeri dapat hilang timbul maupun menetap sepanjang hari.

d. Riwayat Penyakit Dahulu; pasien memiliki BMI tinggi


CON’T
e. Pemeriksaan Fisik
 Inspeksi : datar, eritem (-), sikatrik (-)
 Auskultasi : peristaltik meningkat
 Perkusi : timpani
 Palpasi : supel, nyeri tekan (+) regio kuadran kanan atas, hepar-lien tidak teraba, massa (-)
f. Pemeriksaan penunjang
g. Pola fungsi kesehatan

Neneng Dwi Saputri (142310101020)


Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Kolelitiasis
di Ruang Bedah Lantai 5 RSPAD Gatot Soebroto. [Serial On Line]
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&cad=rja&uact=8&ved=
0CDUQFjAE&url=http%3A%2F%2Flib.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F20351606-PR-
Sandra%2520Amelia.pdf&ei=u1E0VaaZFMPnuQSovIDwDA&usg=AFQjCNFJVykBTbuebMwgM
rRnX6OZUARKrA&bvm=bv.91071109,d.c2E [ Diakses tanggal 26 April 2016]
Diagnosa
NO DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA HASIL INTERVENSI IMPLEMENTASI

1 Nyeri Setelah dilakukan perawatan 3x24 1. Kaji nyeri dengan 1. Mengkaji nyeri dengan
berhubungan jam nyeri pasien hilang PQRST PQRST
dengan proses 2. Monitor TTV 2. memonitor TTV
inflamasi Kriteria hasil: 3. Pantau 3. Memantau karakteristik
1. Melaporkan nyeri berkurang/ karakteristik nyeri. nyeri
terkontrol. 4. Berikan lingkungan 4. Memberikan lingkungan
2. Menunjukkan ekspresi wajah/ yang tenang. yang tenang.
postur tubuh rileks. 5. Bantu melakukan 5. Membantu melakukan
teknik relaksasi teknik relaksasi
6. Kolaborasi dalam 6. Mengkolaborasikan dalam
pemberian pemberian analgesik
ANALGESIK 7. Melibatkan keluarga dalam
7. Libatkan keluarga perawatan
dalam perawatan.
2 Ketidakseimba Setelah 1. Monitor jumlah nutrisi 1. Memonitor jumlah nutrisi
ngan Nutrisi dilakukan dan jumlah kalori dan jumlah kalori
kurang dari tindakan 2. Beri nutrisi dalam 2. Memberi nutrisi dalam
kebutuhan keperawatan keadaan lunak, porsi keadaan lunak, porsi
tubuh selama 3x24 sedikit tapi sering sedikit tapi sering
berhubungan jam pasien 3. Hindari makanan dan 3. Menghindari makanan
dengan nutrisi pasien obat-obatan atau zat dan obat-obatan atau zat
penurunan adekuat yang dapat yang dapat menimbulkan
intake menimbulkan reaksi reaksi alergi
makanan Kriteria hasil: alergi 4. Supaya tidak memperberat
BB bertambah 4. Diet TKRPRL kerja empedu
Status nutrisi 5. Kolaborasi dengan ahli 5. Mengkolaborasikan
dalam batas gizi untuk dengan ahli gizi untuk
normal menentukkan jumlah menentukan jumlah kalori
Mual dan kalori dan nutrisi yang dan nutrisi yang
muntah dibutuhkan pasien dibutuhkan pasien
berkurang 6. Berikan nutrisi 6. Supaya tidak memperberat
intravena kerja empedu
EVALUASI
 Dx 1
S: pasien mengatakan nyeri hilang
O: skala nyeri berkurang
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi

 Dx 2
S: Pasien mengatakan sudah tidak merasa mual dan muntah-muntah lagi.
O: Pasien terlihat sudah tidak muntah lagi dan tidak menunjukkan ekspresi
mual lagi.
A: Masalah teratasi.
P: Intervensi dihentikan.
Discharge Planning
 Perawat memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang penyakit
yang dialami dan potensi terjadinya komplikasi lanjutan berupa kolangitis.
 Berikan instruksi ke klien atau anggota keluarga mengenai perawatan lanjutan,
tanda-tanda adanya infeksi, rawat jalan dan jadwal perawatan berikutnya.
 Ingatkan pasien untuk meminum obat-obatan harian yang diperlukan untuk
proses penyembuhan, serta jelaskan tujuan, dosis, jadwal, tindakan pencegahan,
interaksi obat dengan dan potensial efek samping.
 Ajarkan klien tentang manajemen nyeri, terapi diet, pembatasan aktivitas dan
perawatan kesehatan tindak lanjut.
 Ajarkan klien cara perawatan diri di rumah dan semua hal yang diperlukan
untuk perawatan di rumah (Black, 1997).
 Beri tahu klien untuk melakukan diet rendah lemak dan menghindari makanan
berlemak tinggi seperti susu, gorengan, alpukat, mentega dan cokelat. Anjurkan
minum cairan yang adekuat sedikitnya 2-3 L/hari.
Yessi Anggun Perdana (142310101023)
Selly Puspita (142310101026)
Aisatul Zulfa (142310101029)
Lisnawati (142310101033)

 Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3.


Jakarta: EGC
 Ignatavicius, Donna D. & Workman M.L. 2006. Medical-Surgical Nursing,
Critical Thinking for Collaborative Care. St. Louis: Elsevier Saunders
 Marry, Marilynn, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Akarta: EGC
 Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 2 Vol 2. Jakarta:
EGC.
 Carpenito-Moyet, Lynda Juall. 2003. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:
EGC.
TERIMA KASIH 
SEMOGA BERMANFAAT