Anda di halaman 1dari 9

Tugas Referat

Santi Prima Natasia


Rabies
Tetanus
Teknik Penjahitan Luka
Proses penyembuhan Luka
• 1. Fase Inflamasi
• Fase ini bermula sejak terjadinya luka dan badan menghentikan perdarahan lanjut dengan proses koagulasi.
Setelah perdarahan berhenti, tubuh secepatnya menghantar cairan seperti plasma protein, sel darah, dan
antibody pada area luka mengakibatkan area luka membengkak, sakit, dan merah. Neutrofil dan makrofag juga
dilepaskan pada area luka untuk membersih, menghilangkan bakteri, dan mempersiappkan daerah luka un tuk
proses penyembuhan. Fase ini berlangsung selama 2 hingga 4 hari pasca luka. Area luka akan bengkak dan terasa
sakit akibat proses inflamasi, rasa sakit akan berkurang bila proses inflamasi mereda secara natural.

• 2. Fase Proliferasi
• Fase ini tumpang tindih dengan akhir dari fase inflamasi selama sehari atau lebih setelah inflamasi mereda, tubuh
berusahah untuk menutup area luka. Fibroblast mula masuk dan berkumpul di area luka sekitar 3 hari pasca luka.
Ini merupakan petanda bermulanya proses transisi dari fase inflamasi ke fase proliferasi. Proses granulasi pada tisu
akan mula tampak pada area luka pada akhir minggu pertama. Tisu granulasi ini akan terus tumbuh sehingga luka
sembuh. Tisu ini mengandungi pembuluh darah yang baru dan komponen lain untul mengisi bagian tisu yang telah
rosak. Tisu granulasi biasanya berwarna merah terang, llembap. Lembut pada penekanan, dan menonjol. Fase ini
berjalan selama 8 minggu pada luka eksisi biasa yang terbuka dan 4 minggu pada luka yang dijahit.
• Pada sekitar hari ke 5, eksudat akan terbentuk di dalam luka (sebagai produk sampingan dari proses
penyembuhan).

• 3. Fase Penyudahan (Remodelling)
• Fase ini tumpang tindih pada akhir dari fase proliferasi. Ini adalah fase remodelling dimana collagen mula
terbentuk di fase ini. Hujung- hujnug saraf mula tumbuh dan tisu mula tersusun sendiri, pada fase ini akan terasa
bagian dalam dari luka tegang selama beberapa lama sehingga tisu baru mengalami stabilisasi. Fase ini kontinu
terjadi setelah 18 bulan penutupan luka terjadi.
TIPE PENYEMBUHAN LUKA

• Luka dapat juga diklasifikasikan berdasarkan dari proses penyembuhan lukanya. Tipe penyembuhan
luka dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu 1,2,3;
• a. Penyembuhan primer
• Penyembuhan luka dengan alat bantu seperti jaritan, klip atau tape. Pada penyembuhan primer ini,
kehilangan jaringan minimal dan pinggiran luka ditutup dengan alat bantu. Menghasilkan skar yang
minimal. Misalnya; luka operasi, laserasi dan lainnya.
• b. Penyembuhan sekunder
• Penyembuhan luka pada tepi kulit yang tidak dapat menyatu dengan cara pengisian
jaringan granulasi dan kontraksi. Pada penyembuhan ini, terdapat kehilangan jaringan yang cukup
luas, menghasilkan scar lebih luas, dan memiliki resiko terjadi infeksi. Misalnya pada leg ulcers,
multiple trauma, ulkus diabetik, dan lainnya
• c. Penyembuhan primer yang terlambat/ tersier
• Ketika luka terinfeksi atau terdapat benda asing dan memerlukan perawatan luka/ pembersihan
luka secara intensif maka luka tersebut termasuk penyembuhan primer yang terlambat.
Penyembuhan luka tersier diprioritaskan menutup dalam 3-5 hari berikutnya. Misalnya luka
terinfeksi, luka infeksi pada abdomen dibiarkan terbuka untuk mengeluarkan drainase sebelum
ditutup kembali, dan lainnya.
Macam – macam
dressinghttps://www.medione.com.au

/wound-care.html
1. Film dressing
• Dressing ini dapat digunakan sebagai dressing utama atau tambahan. Biasanya digunakan sebagai pelindung untuk area
tubuh yang sering mengalami gesekan seperti tumit. Dressing ini tembus udara sehingga luka menjadi tidak terlalu basah
karena lembab. Dressing ini bisa menjaga luka tetap kering dan mencegah kontaminasi bakteri.
• 2. Simple island dressing
• Dressing ini hanya digunakan untuk menutup luka yang telah dijahit seperti pada luka operasi. Pada bagian tengah dressing
ini mengandung selulosa yang berfungsi untuk menyerap cairan-cairan yang merembes keluar dari luka selama 24 jam
pertama setelah operasi.
• 3. Non-adherent dressing
• Dressing jenis ini didesain agar tidak melekat pada cairan yang mengering yang berasal dari luka dengan tujuan agar ketika
dressing dibuka tidak menimbulkan luka dan nyeri. Hal ini menjadi penting karena apabila menggunakan dressing yang lekat,
dapat melukai jaringan baru yang terbentuk sehingga menimbulkan luka dan perdarahan.
• 4. Moist dressing
• Dressing ini berfungsi untuk menjaga kelembapan luka dengan cara menghambat kulit kehilangan kelembapannya atau
secara aktif menambah kelembapan pada area tersebut. Moist dressingdapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu hydrogel dan hydrocolloid.
• Hydrogel dressing mengandung 60-70% air yang disimpan dalam bentuk gel. Biasanya digunakan untuk luka yang
mengandung jaringan mati, dimana jaringan tersebut menjadi keras dan hitam, sekaligus melekat pada jaringan hidup
dibawahnya menghambat proses penyembuhan. Fungsi air adalah untuk melunakkan jaringan mati sehingga jaringan mati
dapat dibuang oleh tubuh dan membantu proses penyembuhan luka.
• Hydrocolloid dressing tidak mengandung air didalamnya, namun ia berperan sebagai segel agar kelembapan tidak hilang
lewat penguapan.
• 5. Absorbent dressing
• Dressing ini mampu menyerap cairan yang keluar dari luka. Cocok untuk luka yang basah. Tujuannya adalah untuk mencegah
terjadinya maserasi pada luka akibat cairan yang terus menerus merembes keluar dari luka.
1. Kassa steril
2. Film dressing
3. Simple Island dressing
4. Non-adherent dressing
5. Moist dressing
6. Absorbent dressing
• Non adherent
https://www.medione.com.au/wound-
care/non-adherent-dressings.html