Anda di halaman 1dari 19

AKHLAK

BERPAKAIAN DALAM
ISLAM
Zuhara Afifah 201510490311035
Delfi Maretta A.S 201510490311046
Retno Pudyastuti 201510490311073
PAKAIAN
Pakaian (sandang) adalah salah satu
kebutuhan pokok manusia di samping
makanan (pangan) dan tempat tinggal
(papan). Selain berfungsi menutup
tubuh, pakaian juga dapat merupakan
pernyataan lambang status seseorang
dalam masyarakat. Sebab berpakaian
ternyata merupakan perwujudan dari
sifat dasar manusia yang mempunyai
rasa malu sehingga berusaha selalu
menutupi tubuhnya.
Aspek Aspek Aspek
biologis psikologis sosial
Aspek
biologis
■ Untuk melindungi tubuh manusia dari cuaca, sinar
matahari, debu, gangguan binatang, serta dari
segala sesuatu yang lainnya yang dapat
membahayakan atau mengganggu tubuhnya.
■ Dapat menutupi atau menyamarkan tubuh asli
pemakainya. Dari segi fisiknya setiap manusia
memiliki sisi-sisi kelebihan dan kekurangannya
masing-masing.
Aspek
psikologis
■ Memberikan atau menambah rasa keyakinan dan
peraya diri pada jiwa seseorang. Dalam hal ini,
ketepatan seseorang dalam memakai busana atau
pakaian sangat berpengaruh terhadap kemunculan
rasa percaya diri seseorang.
■ Memberikan rasa nyaman bagi pemakainya.
Kehadiran pakaian dapat memberikan rasa nyaman
pada diri sendiri. Sebab dengan pakaian ia dapat
menutupi tubuhnya dari pandangan atau tatapan
orang lain. Kenyamanan seseorang dalam
mengenakan pakaian sangat tergantung dari situasi
dan konidisinya.
Aspek
sosial
■ Untuk menutupi aurat atau memenuhi syarat
kesusilaan. Seperti terlihat pada masyarakat yang
beragama Islam, diwajibkan menutupi auratnya. Dan
didalam aturan sosial ketika seseorang berada di
tempat umum hendaklah memakai pakaian yang sopan.
■ Untuk menggambarkan adat atau budaya suatu
daerah. Fungsi pakaian dalam kehidupan sosial dapat
menjadi satu simbol yang menunjukkan adat atau
budaya yang bersangkutan.
Surat al-A’raf ayat 26

“Wahai anak cucu Adam!

Akhlak Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada


kalian pakaian untuk menutup aurat kalian dan
berpakaian perhiasan bagi kalian. Tetapi pakaian takwa, itulah

dalam yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda


kekuasaan Allah. Mudah-mudahan mereka ingat.”
Islam
Surat al-A’raf ayat 31

“Wahai anak cucu Adam!

Pakailah pakaian kalian yang indah pada setiap


kalian ke masjid(Tempat ibadah) dan makanlah
serta minumlah oleh kalian dan jangan pula
kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
suka akan orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Kaidah umum
pakaian muslim dan muslimah

■ Pakaian harus menutup aurat, longgar tidak membentuk lekuk


tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada dibaliknya.
■ Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan
atau sebaliknya.
■ Pakaian tidak merupakan pakaian syuhroh (untuk ketenaran).
■ Tidak menyerupai pakaian khas orang-orang non muslim
Pakaian harus menutup aurat, longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak
memperlihatkan apa yang ada dibaliknya.

Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat Al-A’raf


ayat 26
“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami
telah menyediakan pakaian untuk menutup aurat.”
Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai
pakaian perempuan atau sebaliknya.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, dia


berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita
dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.”
(HR. al-Bukhari).
Pakaian tidak merupakan
pakaian syuhroh (untuk ketenaran).

Pakaian syuhroh (ketenaran) adalah pakaian yang


menjadi terkenal di masyarakat karena warnanya
berbeda dengan warna pakaian mereka, sehingga
pandangan manusia tertuju kepadanya dan dia
bergaya dengan kebanggan dan kesombongan.
Pakaian yang dimaksudkan untuk tenar di mata
manusia, baik pakaian itu adalah pakaian mahal yang
dikenakannya karena kebanggaan terhadap dunia
serta perhiasannya.

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhu ia berkata bahwa


Rasulallah shallallahu alaihi wasallam telah
bersabda, "Barangsiapa mengenakan pakaian
ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan
padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat." (HR.
Ahmad, Abu Dawud, al-Nasa’I dan Ibnu Majah)
Tidak menyerupai pakaian khas
orang-orang non muslim

Pakaian khas yang dipakai oleh orang


non muslim seperti pakaian pendeta,
tukang sihir, atau memakai assesoris
orang non muslim seperti salib. Haram
hukumnya memakai pakaian-pakaian
tersebut.
Nabi Muhammad bersabda, “barangsiapa
yang menyerupai tradisi suatu kaum
maka dia bagian dari mereka.” (HR. Abu
Dawud).
Hukum Isbal
Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala” yang bermakna menurunkan,
melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan
oleh Imam Ibnu al-Arobyrahimahullah dan selainnya adalah, “memanjangkan, melabuhkan
dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena
sombong ataupun tidak.”
Dalam Islam, isbal dilarang baik karena sombong maupun tidak. Larangan isbal
bagi laki-laki telah dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulallah shollAllahu alaihi wa
sallam yang sangat banyak. Larangan untuk melakukan Isbal adalah larangan yang
bersifat umum,apakah karena sombong atau tidak. Adapun jika pelakunya melakukan
isbal karena sombong maka larangannya lebih berat lagi dan termasuk dosa besar.
Dalil larangan isbal
Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda: “Sesuatu yang berada di bawah mata kaki dari pakaian (sarung)
adalah di dalam Neraka” (HR. al-Bukhori)
Hadits ini menunjukkan larangan isbal. Maka tidak diperkenankan celana,
sarung pakaian atau sejenisnya terlalu panjang hingga menutup mata kaki. Nash
ini menunjukan larangan secara umu, baik pelakunya sombong ataupun tidak.
Batasan
Aurat
Laki-laki QS.An-Nur ayat 30-31:
dan “Katakanlah kepada seorang laki-laki yang beriman:
Perempuan Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah
lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang mereka perbuat”(30)

Katakanlah kepada wanita yang beriman:Hendaklah


mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa)nampak dari padanya. (31)
Menurut yusuf Al-Qardhawi, diantara yang harus ditundukannya
pandangan iaah aurat. Karena Rasulullah telah melarangnya sekalipun anatara
laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan baik dengan
syahwat ataupun tidak.
"Seseorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga
perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang
laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga
perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian.”

Batasan aurat

Aurat laki-laki : Antara pusar dan lutut


Aurat perempuan : Seluruh badannya kecuali muka dan kedua telapak tangan

Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya wanita apabila telah datang haid maka ia tidak pantas menampakan
anggota badannya kecuali ini dan ini (‘Aisyah menunjukkan wajah dan kedua telapak
tangannya).”
Berjilbab atau Berhijab yang Baik dan Benar

■ Niat berjilbab hanya kerena Allah SWT.


■ Jilbab atau hijab yang baik adalah yang dapat menutup aurat
wanita secara sempurna. Adapun yang termasuk aurat wanita
adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
■ Memakai jilbab atau hijab yang tidak transparan.
■ Memakai jilbab atau hijab yang longgar dan tidak
menampakkan bentuk tubuh
■ Menghindari pemakaian model jilbab kepala yang menyerupai
punuk unta
TERIMA KASIH
Semoga penjelasan dari kelompok 13 bermanfaat 