Anda di halaman 1dari 53

ANATOMI RADIOGRAFIK

Gambaran-gambaran Anatomi (normal) yang tampak dalam


Radiografik Gigi, Jaringan Penyangga dan Rahang

GIGI
• Enamel
• Dentin
• Sementum
• Ruang Pulpa
• Saluran Akar

JARINGAN PENYANGGA GIGI


• Lamina Dura
• Ligamen Periodontal
• Tulang Trabekula
MAKSILA
1. Sutura Intermaksilaris
• Disebut juga Sutura Palatina Mediana
• Garis radiolusen tipis mulai dari alveolar crest diantara incisive
sentral RA sampai ke posterior (palatum)
2. Spina Nasalis Anterior
• Terletak 1,5 – 2 cm diatas alveolar crest incisive
sentral RA
• Gambaran radiopak berbentuk menyerupai huruf
V terbalik
3. Fossa Nasalis
Gambaran Radiolusen diatas regio anterior RA yang dibatasi
dinding radiopak bilateral dari dasar spina nasalis anterior sampai
regio posterior
4. Foramen Insisivus
• Disebut juga foramen nasopalatina/foramen palatina anterior
• Tampak bulatan radiolusen diantara akar iuncisive sentral RA
kira-kira 1/3 apikal  letak, bentuk, ukuran, ketajaman bervariasi
tergantung pada sudut penyinaran dan variasi anatomi px.
• Bila gambar bergeser mendekati apikal  DD: kista/granuloma/abses
5. Foramen Superior dari Naso Palatina
• Foramen dari kanalis nasopalatina pada dasar cavum nasi
• Tampak jelas pada proyeksi oklusal anterior atau periapikal
anterior dengan sudut penyinaran lebih vertikal
• Tampak dua bulatan radiolusen diatas apikal incisive sentral
pada dasar cavum nasi
6. Fossa Lateral
• Disebut juga fossa insisivus
• Sedikit penurunan/lekukan pada maksila didekat apeks I2 RA
• Gambar radiografik :
radiolusen diffuse pada tulang alveolar I2  hati-hati salah interpretasi
7. Kanalis Nasolacrimal
• Pada proyeksi oklusal tampak bulatan radiolusen pada regio molar
• Pada proyeksi periapikal dengan angulasi agak vertikal dapat
tampak diatas apeks C
8. Nasolabial Fold
• Bayangan radiopak oblique pada regio premolar RA, meluas ke posterior
• Tampak lebih jelas dengan bertambahnya usia
9. Sinus Maksilaris
• Rongga radiolusen yang dibatasi garis radiopak tipis,
biasanya diatas distal C sampai ke dinding posterior maksila
diatas tuber maksilaris
• Menyerupai huruf W  oleh krn adanya septum posterior sinus
Menyerupai huruf Y terbalik  bila dasar sinus dan cavum nasi
superimposed dan tampak menyilang
• Pada area yang tidak bergigi, dasar sinus meluas sampai ke tulang
alveolar
10. Processus Zygomaticus
Tampak garis radiopak tebal menyerupai huruf U
disekitar apeks M1-M2 RA
11. Tuber Maksila
• Tuberositas Maxillaris
• Batas akhir dari maksila pada distal regio M3

12. Hamular Process & Pterygoid Plates


• Pterygoid Plates terletak posterior dari tuber maksila
• Bayangan yang tampak sangat bervariasi dan selalu terlihat pada IO
• Bila meluas ke inferior akan tampak hamular process
MANDIBULA
1. Symphisis
Garis radiolusen pada pertengahan mandibula diantara bayangan benih gigi i1 RB
Mengalami fusi pada akhir usia 1 tahun dan tidak tampak lagi dalam radiografik
2. Genial tubercle dan foramen lingualis
• Genial tubercle disebut juga spina mentalis
• Penonjolan tulang pada permukaan lingual  tampak jelas pada
proyeksi oclusal RB
• Proyeksi periapikal tampak masa radiopak dibawah apikal I1 RB,
kadang-kadang bersamaan dengan titik radiolusen foramen lingualis.
Jika hanya tampak genial tubercle  DD : kondensasi tulang
3. Mental ridge
• Garis radiopak memanjang dari regio premolar RB kanan dan kiri yang
bertemu pada tengah mandibula
• Densitas dan tebal bervariasi
4. Fossa mentalis
• Penurunan/lekukan tulang mandibula pada aspek labial diatas mental ridge
• Radiolusen pada tulang alveolar sebelah lateral geligi incisive RB
5. Foramen mentale
• Terletak pada pertengahan batas inferior mandibula dan alveolar crest
disekitar apeks P1 – P2 RB
• Radiolusen yang kadang-kadang superimpused dengan apeks gigi 
DD : abses/granuloma/kista
6. Canalis mandibula

• Garis radiolusen yang dibatasi radiopak tipis menghubungkan for. Mentale


dan for. Mandibula
• Jika berjarak sangat dekat dengan apeks P2 – M3 RB lamina dura
dapat tampak seperti terputus dan ligamen periodontal melebar
7. Kanal nutrisi ( Nutrient Canal )
• Berisi pembuluh darah dan syaraf
• Garis radiolusen vertikal dari inferior dental canal ke apeks geligi
• Pada anterior RB  kearah interdental space
• Pada porterior RB  tampak radiopak karena dibatasi oleh korteks
• Tampak jelas pada ras kulit hitam, orang tua, px hipertensi,
px penyakit periodontal yang parah
8. Mylohyoid ridge

• Disebut juga internal obliqua ridge


• Penonjolan tulang pada permukaan lingual dari regio premolar – ramus ascendens
• Radiopak agak diffuse dan kadang-kadang superimposed dengan apeks geligi
posterior
9. Fossa glandula submandibula

• Pada permukaan lingual dibawah mylohyoid ridge dari premolar – ramus ascendens
• Tampak radiolusen dengan pola trabekula yang jarang
10. External obliqua ridge
• Penebalan tulang pada permukaan bukal dari regio molar – ramus ascendens
• Radiopak memanjang yang kadang-kadang superimposed dengan apeks
geligi molar
11. Processus coronoideous
• Bagian dari ramus mandibula, tempat perlekatan m. temporalis
• Tampak radiopak tebal pada distal M3 RA yang superimposed dengan
tuber maksila
FASE GELIGI PERGANTIAN
FASE GELIGI PERGANTIAN
FORAMEN INSISIVUS
FORAMEN MENTALE
 Adanya gigi kelebihan yang pada keadaan normal seharusnya tidak
ada
 Gigi yang kelebihan terdapat pada :
* Regio Insisivus disebut Mesiodens
* Regio M1, M2 disebut Paramolar
* Regio M3 disebut Distomolar

Paramolar

Mesiodens Distomolar
Yaitu tidak adanya benih gigi sehingga jumlah gigi seluruhnya
berkurang.
Etiologi : * faktor keturunan
* gangguan keseimbangan kelenjar indokrin
Lebih sering terjadi pada gigi permanen

Hypodontia Oligodontia
(Agenisi pada satu gigi) (Agenisi pada beberapa gigi)
A. Macrodontia
Adalah suatu keadaan dimana ukuran lebar mahkota gigi lebih
besar dari pada ukuran yang normal.
ada 2 macam makrodontia :
* Murni : yaitu ukuran gigi lebih besar dari normal, ukuran rahang
normal.
* Relatif : yaitu ukuran gigi normal dan ukuran rahang lebih kecil
B. Microdontia
adalah suatu keadaan dimana ukuran lebar gigi lebih kecil dari
ukuran gigi normal
Yaitu penggabungan dari 2 benih gigi tumbuh menjadi 1 gigi.
- Klinis tampak 1 gigi dengan mahkota yang lebar.
Dapat terjadi pada gigi sulung dan gigi permanen
- Radiografik terlihat bentuk & ukuran gigi yang besar mulai dari
mahkota sampai apikal, dan mempunyai 2 saluran akar & 2
ruang pulpa
Yaitu 1 benih gigi yang tumbuh membelah membentuk 2 mahkota.
- Klinis tampak 1 gigi dengan mahkota yang lebar.
- Radiografik terlihat 1 gigi dengan mahkota lebar dan 1 saluran akar
yang lebar
Yaitu suatu keadaan dimana akar dari 2 gigi menjadi 1 mulai dari c.e.j.
sampai apikal / sementum melekat jadi 1.
Sering terjadi pada M3 RA dan distomolar.
Yaitu suatu perubahan bentuk gigi dimana bentuk gigi menjadi
panjang, bagian akar terlihat pendek & ruang pulpa melebar &
meluas.
Biasanya terjadi pada gigi molar, dapat melibatkan
1 gigi atau beberapa gigi pada 1 sisi unilateral atau bilateral
Radiografik:
• terlihat ruang pulpa yang meluas kedaerah mahkota.

• terlihat pemendekan dari akar gigi dan saluran akar

• Radiopak dari enamel di bagian mahkota tampak normal


Yaitu bentuk gigi yang membengkok (melengkung) disebabkan adanya
gangguan pertumbuhan waktu proses pembentukan gigi.
Etiologi diduga adanya trauma mekanik waktu pembentukan gigi
sehingga kalsifikasi tidak sempurna danbetuk gigi menjadi bengkok.
Radiografik terlihat akar yang membengkok (melengkung) diikuti
saluran akarnya
Yaitu gejala gigi erupsi dan terletak pada tempat yang salah
urutannya.
Sering terjadi pada gigi permanen.
Klinis dan radiografik terlihat posisi/letak gigi tidak pada tempat
sebenarnya (bertukar tempat)
Gigi kaninus & insisivus ke 2 bertukar tempat
Terjadi oleh karena Pembentukan sementum gigi yang berlebihan di
daerah apikal sehingga ujung apikal tampak membulat.
Klinis : gigi tampak normal
Ro : Ujung apikal membulat & membesar.
KONTRIBUSI RADIOGRAFIK

Mengevaluasi :
1. Tulang yg ada/tersisa
2. Kondisi alveolar crest
3. Furcation involvement
4. Pelebaran ligamen periodontal
5. Faktor lokal
6. Rasio panjang akar – mahkota
7. Keadaan anatomi
8. Keadaan patologis
KETERBATASAN RADIOGRAFIK

1. Gambaran 2 dimensi
- defek tulang overlap dg dinding tulang
- overlap struktur gigi → hanya tampak
interproksimal
2. Destruksi tulang tampak lebih ringan
3. Tidak menunjukkan hub jaringan keras – lunak
4. Pengukuran tinggi alveolar crest dr CEJ tdk valid
untuk gigi overeruption dan severe atrition
Radiografi yang dianjurkan :
1. Bitewing (vertikal/horisontal)
2. Periapikal (paralel)

Panoramik tdk direkomendasikan untuk


penyakit periodontal
GAMBARAN ANATOMI NORMAL

Tinggi alveolar crest ± 1 – 1,5 mm dari CEJ :


- Regio Posterior
- Regio Anterior
Ligamen periodontal, agak melebar pada servikal ( gigi
baru erupsi ) → normal
Variasi densitas alveolar crest → tdk menunjukkan
adanya penyakit
1. Radiografik tdk selalu dpt menunjukkan
gambaran periodontal sehat
2. Kualitas radiografik dipengaruhi oleh :
- teknik proyeksi
- teknik prosessing
- faktor paparan
- variasi anatomi pd bentuk dan densitas
tulang alveolar
3. Bila tx berhasil, jaringan periodontal sehat
tetapi gambaran radiografik tampak bone
loss dini
Oleh karena itu pemeriksaan klinis dan
radiografik saling melengkapi
Klasifikasi gambaran radiografik

1. Periodontitis
a) Mild periodontitis
b) Moderate periodontitis :
• Hilang bukal/lingual cortical plate
• Horizontal bone loss (mild, moderate, severe)
• Vertical bone loss
a) Severe periodontitis
Furcation involvement

 Abses periodontal

3. Aggressive periodontitis
a) Localized aggressive periodontitis (I dan M1)
b) Generalized aggressive periodontitis (>2 gigi, tidak
selalu I dan M1)
Furcation involvement RA
- Furcation involvement RB
- Vertical bone loss
Bone loss pd gigi miring

Abses periodontal