Anda di halaman 1dari 23

IDENTIFIKASI DAN ISOLASI

MIKOSIS SUPERFISIAL
Mikosis Superfisial

Mikosis Superfisial adalah infeksi penyakit


yang terjadi pada bagian stratum korneum
(lapisan kulit paling luar) dan juga rambut yang
disebabkan oleh jamur patogen. Mikosis
superfisial dibedakan menjadi Dermatofitosis
dan Non – Dermatofitosis.
Jamur Penyebab Mikosis
Superfisial Dermatofitosis

Fungi Lokasi Penyakit


Dermatofitosis
Microsporum canis Rambut, kulit Tinea kapitis
Microsporum audouinii Rambut

Microsporum gypseum Kulit, rambut Tinea kapitis


Trychophyton tonsurans Rambut, kulit, kuku Tinea kapitis
Trychophyton rubrum Rambut, kulit, kuku Tinea pedis, Tinea cruris, Tinea
unguium
Trychophyton mentagrophytes Rambut, kulit Tinea unguium

Trychophyton violaceum Rambut, kulit, kuku


Epidermophyton flocosum Kulit Tinea kruris
Jamur Penyebab Mikosis
Superfisial Non-Dermatofitosis

Non-Dermatofitosis

Ptyrosporum orbiculare Kulit Tinea vesikolor


(Malasezia furfur)
Clasdoporium werneckii Kulit Tinea nigra

Piedrai Rambut Piedra hitam

Trichosporon beigelii Rambut Piedra putih


Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis mikosis superfisialis ditegakkan berdasarkan gambaran
klinis, didukung dengan pemeriksaan laboratorium penunjang,
yaitu Pemeriksaan Laboratorium:
Pemeriksaan Preparat Langsung (Mikroskopik),
Pembiakan atau Pemeriksaan kultur,
Reaksi Imunologik (Alergi),
Pemeriksaan dengan Sinar Wood

SPESIMEN
Spesimen terdiri dari kerokan kulit dan kuku serta rambut yang
dicabut dari area yang terkena mikosis.
Pemeriksaan Preparat Langsung
(Mikroskopik)
• Untuk melihat apakah ada infeksi jamur, perlu dibuat
preparat langsung dari kerokan kulit, rambut atau
kuku.
• Untuk pemeriksaan ini menggunakan KOH (10-20 %)
atau calcoflour white.
• Apabila terdapat elemen jamur, akan tampak adanya
hifa (benang-benang) yang berbentuk kontur ganda,
bersekat, bercabang. Selain itu juga tampak spora
berbentuk bola-bola kecil sebesar (1-3 µ).
Pemeriksaan Malassezia furfur
Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%.

diperiksa langsung
kulit dibersihkan
lalu dikerok dengan dengan KOH% yang
dengan kapas
skalpel steril diberi tinta Parker
alkohol 70%
Biru Hitam

ditutup dengan
Dipanaskan gelas penutup dan
sebentar diperiksa di bawah
mikroskop
Pembiakan atau Pemeriksaan kultur
• Pembiakan jamur dapat dilakukan dengan
menggunakan media agar, yaitu SDA (Sabouroud
Dextrose Agar) yang ditambahkan dengan antibiotik,
inkubasi pada suhu kamar (25-30) 0C.
• kemudian setelah 1 minggu dilihat dan dinilai apakah
ada perubahan atau pertumbuhan koloni jamur.
• Pertumbuhan koloni cepat dan berwarna putih,
kuning, abu-abu, hitam dan kuning kecokelatan atau
hijau, spesies diidentifikasi berdasarkan morfologi
dan struktur konidia.
Reaksi Imunologik (Alergi)
• Reaksi ini diperoleh dengan menyuntikan secara
intrakutan semacam antigen yang dibuat dari koloni
jamur. Bila reaksi (+) berarti infeksi oleh jamur (+).
Misalnya :
Reaksi trikofitin, yaitu antigen yang dibuat dari
pembiakan jamur Tricophyton. Kalau (+), berarti ada
infeksi Tricophyton sp.
Pemeriksaan dengan Sinar Wood
• Sinar Wood adalah sinar ultraviolet yang telah melewati saringan
wood, sinar yang tadinya polikromatik menjadi monokromatik
dengan panjang gelombang 3600 A. Sinar ini tidak dapat dilihat
(invisible).
• Bila sinar diarahkan ke kulit atau rambut yang mengalami infeksi
oleh jamur-jamur tertentu, maka sinar ini berubah menjadi
dapat dilihat, dengan memberi warna kehijauan (terjadi
flouresensi). Apabila pemeriksaan dengan cara ini memberi
fluoresensi, maka pemeriksaan dengan sinar Wood dinyatakan
(+). Sebaliknya, apabila tidak ada fluoresensi tersebut negatif (-).
• Jenis-jenis jamur yang memberikan fluoresensi adalah:
Microsporum lanosum, Microsporum audolini, Microsporum
canis, Malasezzia furfur
Pembuatan Kerokan Kulit
• Bagian kulit yang akan dikerok dihapus beberapa kali
dengan kapas yang telah dibasahi dengan alcohol
(bagian kulit yang dikerok, sebaiknya bagian pinggir
lesi yang aktif dan tertutup dengan sisik)
• Bagian tersebut dikerok perlahan-lahan dengan
menggunakan scalpel (Cara memegang skalpel harus
miring membentuk sudut 45⁰ ke atas).
• Kerokan kulit ditampung dengan petri disk atau
wadah khusus (kertas berwarna gelap/ hitam).
Pembuatan Sediaan Langsung
• Meletakkan bahan (sampel) di atas objek glass
• Kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH. (Konsentrasi 10%-
20%)
• Kemudian tutup dengan kaca penutup.
• Setelah sedian dicampur dengan KOH, tunggu 15-20 menit
untuk melarutkan jaringan
• Untuk mempercepat pelarutan dilakukan pemanasan sediaan
basah di atas api kecil
• Pada saat mulai keluar uap, pemanasan dihentikan.
• Periksa sediaan dibawah mikroskop. Mula-mula dengan
objektif 10X kemudian dengan objektif 40X
• Periksalah di bawah mikroskop, cari adanya hifa dan spora.
Pembiakan
• Jamur ditanam pada media SDA secara aseptik
kemudian menginkubasi pada suhu kamar
selama 5-7 hari
• Hitung diameter jamur dan amati morfologi
jamur pada media SDA.
Pembuatan slide culture
• Disiapkan media SDA steril yang belum terpakai
• Potong agar tersebut sebesar 0,5 x 0,5 cm
• Potongan agar diletakkan di atas gelas benda yang
terletak di dalam cawan petri steril
• Jamur diinokulasikan pada potongan agar tersebut,
kemudian ditutup dengan kaca penutup
• Tambahkan air ke dalam cawan petri
• Inkubasi pada suhu kamar selama 1 minggu
• Diamati morfologi di bawah mikroskop.
CIRI MIKROSKOPIS FUNGI DERMATOFIT

Epidermophyton Floccosum
Ciri – Ciri :
Memiliki dinding halus sekitar 1-1,5
mikrometer.
Mempunyai makrokonidia berbentuk
tongkat, berdinding tebal, terdiri atas 2-4 sel
dan tersusun pada satu konidiofora.
Trichophyton rubrum
• Ciri – Ciri :
• Mikrokonidia berdinding halus,
berbentuk tetesan air mata
sepanjang sisi- sisi hifa, pada
beberapa strain terdapat banyak
mikrokonidia bentuk ini. Koloni
sering menghasilkan warna
merah pada sisi yang sebaliknya.
Trichophyton mentagrophytes
Ciri – Ciri :
• Koloni yang berbutir kasar
• Berwarna krem sampai coklat
muda,
• Di sebalik koloni terlihat pigmen
yang bervariasi dari kuning, krem,
coklat, sampai coklat merah, Hifa
dan mikrokonidia tidak khas,
Mikrokonidia banyak,
menggerombol seperti buah
anggur (en grappe) atau tunggal
seperti tetes air mata (tear drop),
Makrokonidia berbentuk seperti
rokok atau pensil,
• Multiseluler (3-4 sel), berdinding
tipis, halus, dan memiliki rambut
tambahan yang disebut rat tail
CIRI MIKROSKOPIS FUNGI NON-DERMATOFIT

• Hifa-hifa Pendek, Lurus


atau bengkok berkelompok,
• Sel-sel bulat
• Berdinding tebal
• Spora bulat berkelompok

Malassezia furfur

• Koloni berwarna krem


kekuningan
• Permukaan halus,
• Cembung
Piedra hitam (Piedraia hortae)

Anyaman hifa dan


askus membentuk
benjolan hitam

Tampak koloni yang


awalnya tumbuh sebagai
koloni ragi yang
berwarna kuning,
kemudian dalam 2-4 hari
akan berubah menjadi
koloni filamen.
Piedra Hortae
Ciri – Ciri :
• Jamur ini tergolong kelas Ascomycetes
dan membentuk spora seksual. Dalam
sediaan KOH, rambut dengan benjolan
hitam terlihat lebih jernih, berbentuk
bulat atau lonjong, yaitu askus yang
berisi 2-8 askospora.
• Askospora berbentuk lonjong
memanjang agak melengkung dengan
ujung yang meruncing, seperti pisang.
Askus-askus dan anyaman hifa yang
padat membentuk benjolan hitam yang
keras di luar rambut.
• Pada rambut dengan benjolan, tampak
hifa endotrik (dalam rambut) sampai
ektotrik (diluar rambut) yang besarnya
1-2 um berwarna tengguli dan
ditemukan spora yang besarnya 1-2 um.
Piedra putih (Piedra/Trichosporon beigelii)

• Hifa yang tidak


berwarna
• Menghasilkan
arthrokonidia dan
blastoconidia

Tampak anyaman
hifa yang padat tidak
berwarna atau putih
kekuningan
Cladosporium
werneckii

tampak hifa dan


TINEA NIGRA tunas yang berwarna
hitam atau hijau tua
dengan spora yang
bergerombol.

koloni granuler
yang berwarna
hitam.
Aspergillus sp.

Aspergillus niger