Anda di halaman 1dari 11

PEMBERIAN OBAT

GLIBENKLAMID UNTUK PASIEN


DIABETES MELITUS TIPE 2
Diabetes Mellitus Tipe 2
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolisme yang
ditandai oleh kondisi hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas
metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. DM disebabkan oleh gangguan
sekresi insulin, sensitivitas reseptor insulin, atau keduanya.
.
Glibenklamid

Glibenklamid merupakan Obat Hipoglikemik Oral (OHO) golongan


sulfonylurea generasi kedua yang hanya digunakan untuk mengobati individu
dengan diabetes melitus tipe II untuk menurunkan konsentrasi gula darah.

.
Farmakologi Umum
Kontraindikasi:
• Diabetes Tipe 1
• Komplikasi diabetes karena
kehamilan
• Hipersensitif terhadap
Indikasi: Sulfonilurea
• Diabetes melitus pada orang • Gangguan hati atau ginjal,
dewasa, tanpa komplikasi yang namun glibenklamid
tidak responsive dengan diet dalam batas-batas tertentu
saja. masih dapat diberikan pada
beberapa pasien dengan
kelainan fungsi hati dan ginjal
ringan
• Diabetes melitus juvenile,
prekoma dan koma diabetes
Farmakodinamik
Menstimulasi pancreas untuk
memproduksi insulin dan meningkatkan
sensitivitas sel beta terhadap glukosa.
Sulfonilurea dapat menormalkan produksi
glukosa di hati dan secara parsial
membalikkan resistensi insulin pada
pasien diabetes melitus tipe 2.
Glibenklamide hanya bermanfaat pada
penderita diabetes dewasa yang
pankreasnya masih mampu memproduksi
insulin dengan baik..
Farmakokinetik
Distribusi:
Absorbsi: Dalam plasma sebagian besar terikat pada
Pemberian glibenklamid protein plasma terutama albumin (70%-
90%). Kadar puncak dalam darah tercapai
secara oral akan diabsorbsi setelah 2-4 jam. Waktu paruh glibenkamid
melalui saluran cerna dengan sekitar 4 jam yang tergolong pendek namun
efek hipoglikemiknya berlangsung selama
cukup efektif dan memiliki 12-24 jam, sehingga cukup diberikan satu
waktu paruh sekitar 4 jam. kali sehari.

Metabolisme: Ekskresi:
Metabolisme glibenklamid Hanya 25-50 % metabolit diekskresi melalui
sebagian besar berlangsung ginjal, sebagian besar diekskresi melalui
dengan jalan hidroksilasi gugus empedu dan dikeluarkan bersama tinja.
sikloheksil pada glibenklamid, Waktu paruh eliminasi sekitar 15-16 jam,
menghasilkan satu metabolit dapat bertambah panjang apabila terdapat
dengan aktivitas sedang dan kerusakan hati atau ginjal. Bila pemberian
beberapa metabolit inaktif. dihentikan, obat akan bersih keluar dari
serum setelah 36 jam.
Interaksi obat
• Efek hipoglikemia ditingkatkan oleh alkohol, siklofosfamid, antikoagulan
kumarina, inhibitor MAO, fenilbutazon, penghambat beta adrenergik,
sulfonamida.
• Efek hipoglikemia diturunkan oleh adrenalin, kortikosteroid, tiazid.
Dosis dan rute pemberian glibenklamid:
• Dosis awal: 2,5 – 5 mg sehari, bersama sarapan. Lakukan penyesuaian dosis tiap 7
hari dari dosis 2,5–5 mg sehari sampai 15 mg perhari
• Dosis untuk orang tua (Geriatri): 2,5 mg/ hari
• Dosis tertinggi atau dosis maksimal: 3 tab sehari dalam dosis terbagi.
Efek Samping

Efek samping glibenklamide umumnya ringan dan frekuensinya rendah,


antara lain gangguan saluran cerna dan gangguan susunan syaraf pusat.

Toksisitas
• Gejala hipoglikemia
• Merasa mual
• Nyeri ulu hati
• Efek samping gangguan lambung-usus seperti anorexia terutama pada dosis di atas
1,5g/hari
• Efek samping gastrointestinal pada awalnya sering terjadi, namun biasanya kemudian
berkurang.10
PEMBAHASAN
• Pada penelitian pertama, dengan judul “Kerja Glibenklamid Pada Fungsi Jantung
dan Insiden Aritmia Pada Jantung yang Sehat dan Diabetes”, menyatakan hasil
penelitian bahwa sulfonilurea digunakan sebagai agen hipoglikemik untuk
pengobatan diabetes tipe 2 juga memblokir saluran miokard KATP
memperpanjang APD selama iskemia, yang dengan membiarkan Ca2+entri untuk
jangka waktu yang lama, berpotensi membahayakan jantung. Dengan demikian
penggunaan sulfonilurea khususnya glibenklamid tidak dianjurkan pada pasien
dengan riwayat penyakit jantung seperti aritmia maupun gagal jantung. Meskipun
beberapa penelitian mengklaim ada penambahan risiko kardiovaskular karena
glibenklamid, peneliti menyimpulkan farmakologis agen ini harus diselidiki lebih
lanjut untuk memastikan administrasi aman pada pasien dengan penyakit jantung.
• Penelitian kedua, dengan judul “Glibenclamide Menurunkan Inflamasi, Vasogenic
Edema, dan Aktifasi Caspase-3 Setelah Perdarahan Subarachnoid” menyimpulkan
bahwa blok SUR1 oleh glibenklamid dapat memperbaiki beberapa efek patologis
yang berhubungan dengan peradangan yang mengarah pada disfungsi kortikal
setelah SAH (perdarahan subarachnoid).
KESIMPULAN

Diabetes melitus adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemi dan dapat
berakibat fatal pada penderitanya. Penatalaksanaan diabetes melitus dapat berupa
farmakologi dan non farmakologi. Glibenklamide adalah salah satu golongan
sulfonylurea yang digunakan untuk terapi diabetes melitus. Obat ini mempunyai reaksi
hipoglikemik yang kuat jika dibandingkan dengan glimepiride. Pada pasien diabetes
gestational yang gagal terapi dengan diet, dapat diterapi dengan glibenklamide. Selain
untuk terapi diabetes, glibenklamide dapat digunakan untuk menurunkan inflamasi,
vasogenic edema, dan aktifasi caspase-3 setelah perdarahan subaraknoid. Penelitian
lebih lanjut mengenai glibenklamide dibutuhkan untuk mengetahui keamanan obat ini
terhadap pasien dengan kelainan jantung
Thank You For
Attention