Anda di halaman 1dari 10

PROSPEK

BISNIS
BATUBARA
PT. BUKIT ASAM, Tbk, by : Romi Anton
Setelah mencapai puncaknya Pada 2014, pertumbuhan konsumsi
batu bara mencapai angka terendah
pada 2010, harga batu bara dalam lima tahun terakhir.
berangsur turun. Berdasarkan Angkanya hanya naik 0,1 persen
studi Bank Dunia, harganya dari penggunaan tahun sebelumnya.
Pada 2015, impor pun turun hingga
turun hingga 60 persen sepertiga angka sebelumnya, seiring
terhitung sejak awal 2011. melemahnya aktivitas industri dan
Bank Dunia dalam proyeksinya dipilihnya sumber energi lain.
Karena itu jugalah Cina
memperkirakan harga batu menghentikan sementara
bara akan turun hingga 13 persetujuan tambang baru dalam
persen pada 2016. tiga tahun ini.

Selama ini, Cina disorot dunia


Dengan harga batu bara di karena polusinya yang tinggi. Xinhua
kisaran USD 50 per ton, melaporkan Cina akan menurunkan
mereka harus nombok. rasio konsumsi batu bara terhadap
konsumsi energi primer dari 66
Pasalnya, biaya penambangan persen pada 2015 menjadi 50
mencapai USD 60 per ton. Ini persen saja pada 2050. Sebagai
artinya perusahaan tambang perbandingan, Amerika Serikat
menggunakannya untuk sepertiga
batu bara mengalami kerugian keseluruhan kebutuhan listrik.
hingga USD 10 untuk setiap
ton batu bara yang Kebijakan Cina ternyata berdampak
sangat signifikan terhadap harga
ditambangnya. batu bara dunia. Di Indonesia, harga
acuan batu bara juga terus
cenderung turun. Terhitung sejak
tahun 2012, harga sudah turun lebih
dari setengahnya.
Batu bara memegang PLTU juga masih menjadi
tumpuan pembangkit listrik
peran penting dalam di masa depan. Dalam 10
proyek listrik nasional. tahun ke depan, diharapkan
ada tambahan PLTU hingga
Berdasarkan RUPTL PLN 42.089 MW. Ini berarti
2015-2024, untuk sistem hampir 60 persen tambahan
pembangkit berbahan baku
Jawa-Bali, saat ini PLTU batu bara. Total tambahan
berbahan bakar batu bara pembangkit dalam 10 tahun
ke depan diharapkan
mencapai 19.545 MW mencapai 70.433 MW.
atau 58,3 persen dari Pemerintah menargetkan
batu bara dapat memenuhi
kapasitas pembangkit sekitar 66 persen dari
nasional. Sementara sumber energi promer
pembangkit listrik nasional
PLTGU yang berbahan
di tahun 2024. Angka itu
bakar gas alam dan batu setara dengan 361 Gwh
produksi listrik PLTU berbasis
bara mencapai 8.271 MW
batu bara.
atau 24,7 persen.
Tingkat profitabilitas
sektor batubara jatuh
Hasil dari kajian pada titik terendah dan
menunjukkan bahwa terjadi pengurangan
EBITDA (Earning Before
Interest, Tax, produksi oleh
Depreciation & perusahaan-perusahaan
Amortization) emiten yang memiliki struktur
batu bara turun hingga biaya produksi tinggi.
60 persen dari USD 6,5 Memburuknya kinerja itu
miliar pada 2011 berdampak pada
menjadi USD 2,6 miliar
pada 2014. Untuk 2015 penurunan harga saham.
diperkirakan turun Berdasarkan penelusuran
hingga 16 persen. Tirto.id, pada 2014 hingga
Belanja modal (capital 2015, harga saham
expenditure/capex) emiten-emiten batu bara
juga turun sekitar 79 mengalami penurunan
persen sejak 2012 dari
USD 1,9 miliar menjadi besar. Penurunan paling
USD 0,4 miliar pada parah diderita oleh
2015. Survei perusahaan batu bara
mengindikasikan milik grup Bakrie, PT
penurunan capex Bumi Resources Tbk
berlanjut pada 2016 (BUMI) yang sahamnya
sebesar 10-20 persen.
Dengan demikian, turun hingga 97,7 persen.
eksplorasi untuk
menemukan cadangan
baru batu bara relatif
terhenti.
"Indonesia perlu meninggalkan bahan
CADANGAN bakar kotor ini. Dana yang diminta oleh
perusahaan-perusahaan batubara ini lebih
BATUBARA baik diinvestasikan dalam energi
terbarukan yang pada jangka panjang
akan memberikan energi yang bersih dan
DUNIA lebih murah untuk rakyat Indonesia,"
tegasnya.
Negara-negara maju sudah mulai
meninggalkan batu bara sebagai sumber
energinya. Arahnya jelas, menggunakan
energi bersih dan ramah lingkungan.
Sementara Indonesia tampaknya masih
sulit untuk mengurangi ketergantungan
terhadap batu bara. Dalam rencana
jangka panjang, belum terlihat kemauan
Indonesia untuk tidak bergantung pada
batu bara.
Hal itu terlihat dari RUPTL PLN dalam 10
tahun ke depan. Batu bara masih menjadi
andalan. Jika ini faktanya, maka suara-
suara kegelisahan para pengusaha bara
tak bisa diabaikan begitu saja. Kecuali,
Indonesia memang ingin meniru kebijakan
energi di negara-negara maju.