Anda di halaman 1dari 56

PRESENTASI KASUS

SEORANG LAKI-LAKI 39
TAHUN DENGAN
ODS KATARAK MATUR
Disusun oleh :
Imasari Aryani G99162041 Vincentius Novian R G99171046
Atika Rahmah G99172051 Mas Wardah A G99172109
M Fakhri K W G99172104 Ivander Kent K G99162042
Lukluk Al Ulya G99162055
Pembimbing :
dr.Raharjo Kuntoyo, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2018
IDENTITAS
 Nama : Tn. S
 Umur : 39 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Suku : Jawa
 Kewarganegaraan : Indonesia
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Cleaning Service
 Alamat : Kepuh RT 003 RW 003, Lalung, Karanganyar
 Tgl pemeriksaan : Selasa, 7 Agustus 2018
 No. RM : 01428130
 Cara Pembayaran : Umum
KELUHAN UTAMA

Pandangan mata kanan dan kiri


kabur dan gelap
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

3 Tahun SPRS
1 bulan SPRS
pandangan mata kabur, gelap,
dan silau pada mata kiri. Keluhan yang sama di
Keluhan disertai dengan mata mata kanan. Pasien juga
berair dan gatal pada kedua mengeluh melihat adanya
mata. pandangan mata dobel (- titik hitam di mata kanan
),blobok (-), pedes (-), pusing (-
), cekot-cekot (-), nyeri (-), mata yang ikut bergerak pada
merah (-) ngganjel (-) saat pasien melihat ke
segala arah.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat hipertensi : disangkal


Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat alergi : debu dan dingin
Riwayat trauma mata : disangkal
Riwayat kacamata : disangkal
Riwayat OP mata : disangkal
RIWAYAT KELUARGA

Riwayat hipertensi : disangkal


Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat sakit serupa : disangkal
KESIMPULAN ANAMNESIS

OD OS

Proses Degenerasi Degenerasi

Lokalisasi Lensa Lensa

Perjalanan Kronis Kronis

Komplikasi Belum ditemukan Belum ditemukan


PEMERIKSAAN FISIK
 Kesan umum
Keadaan umum baik, compos mentis, gizi kesan
cukup
 Vital Sign
TD : 120/70 mmHg RR : 20 x/menit
HR : 88x/menit Suhu : 36.20C
TB : 165 cm BB : 74 kg
PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
OD OS

A. Visus Sentralis

1. Visus sentralis jauh 1/300 1/~

a. pinhole Tidak maju Tidak maju

b. koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

c. refraksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

2. Visus sentralis dekat Tidak dilakukan Tidak dilakukan

B. Visus Perifer

1. Konfrontasi tes Tidak dilakukan Tidak dilakukan

2. Proyeksi sinar Tidak dilakukan Tidak dilakukan

3. Persepsi warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan


PEMERIKSAAN OBJEKTIF
1. Sekitar mata OD OS
a. tanda radang Tidak ada Tidak ada
b. luka Tidak ada Tidak ada
c. parut Tidak ada Tidak ada
d. kelainan warna Tidak ada Tidak ada
e. kelainan bentuk Tidak ada Tidak ada
2. Supercilia
a. warna Hitam Hitam
b. tumbuhnya Normal Normal
c. kulit Sawo matang Sawo matang

d. gerakan Dalam batas Dalam batas


normal normal
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
3. Pasangan bola mata dalam orbita

a. heteroforia Tidak ada Tidak ada

b. strabismus Tidak ada Tidak ada

c. pseudostrabismus Tidak ada Tidak ada

d. exophtalmus Tidak ada Tidak ada

e. enophtalmus Tidak ada Tidak ada

4. Ukuran bola mata

a. mikroftalmus Tidak ada Tidak ada

b. makroftalmus Tidak ada Tidak ada

c. ptisis bulbi Tidak ada Tidak ada

d. atrofi bulbi Tidak ada Tidak ada


PEMERIKSAAN OBJEKTIF

6. Kelopak mata

a. pasangannya

1.) edema Tidak ada Tidak ada

2.) hiperemi Tidak ada Tidak ada

3.) blefaroptosis Tidak ada Tidak ada

4.) blefarospasme Tidak ada Tidak ada

b. gerakannya

1.) membuka Tidak tertinggal Tidak tertinggal

2.) menutup Tidak tertinggal Tidak tertinggal


PEMERIKSAAN OBJEKTIF
c. rima
1.) lebar 13 mm 13 mm
2.) ankiloblefaron Tidak ada Tidak ada
3.) blefarofimosis Tidak ada Tidak ada
d. kulit
1.) tanda radang Tidak ada Tidak ada
2.) warna Sawo matang Sawo matang

3.) epiblepharon Tidak ada Tidak ada


4.) blepharochalasis Tidak ada Tidak ada
e. tepi kelopak mata
1.) enteropion Tidak ada Tidak ada
2.) ekteropion Tidak ada Tidak ada
3.) koloboma Tidak ada Tidak ada
4.) bulu mata Dalam batas Dalam batas
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
7. Sekitar glandula lakrimalis
a. tanda radang Tidak ada Tidak ada
b. benjolan Tidak ada Tidak ada
c. tulang margo tarsalis Tidak ada Tidak ada
kelainan kelainan
8. Sekitar saccus lakrimalis
a. tanda radang Tidak ada Tidak ada
b. benjolan Tidak ada Tidak ada
9. Tekanan intraocular
a. palpasi Kesan normal Kesan normal
b. tonometri schiotz Tidak dilakukan Tidak
dilakukan
c. non contact tonometer 15.0 13.0
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
10. Konjungtiva
a. konjungtiva palpebra superior
1.) edema Tidak ada Tidak ada
2.) hiperemi Tidak ada Tidak ada
3.) sekret Tidak ada Tidak ada
4.) sikatrik Tidak ada Tidak ada
b. konjungtiva palpebra inferior
1.) edema Tidak ada Tidak ada
2.) hiperemi Tidak ada Tidak ada
3.) sekret Tidak ada Tidak ada
4.) sikatrik Tidak ada Tidak ada
c. konjungtiva fornix
1.) edema Tidak ada Tidak ada
2.) hiperemi Tidak ada Tidak ada
3.) sekret Tidak ada Tidak ada
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
10. Konjungtiva
d. konjungtiva bulbi

1.) edema Tidak ada Tidak ada

2.) hiperemis Tidak ada Tidak ada

3.) sekret Tidak ada Tidak ada

4.)injeksi konjungtiva Tidak ada Tidak ada

5.) injeksi siliar Tidak ada Tidak ada

e. caruncula dan plika


semilunaris

1.) edema Tidak ada Tidak ada

2.) hiperemis Tidak ada Tidak ada

3.) sikatrik Tidak ada Tidak ada


PEMERIKSAAN OBJEKTIF
11. Sclera
a. warna Putih Putih
b. tanda radang Tidak ada Tidak ada
c. penonjolan Tidak ada Tidak ada
12. Kornea
a. ukuran 12 mm 12 mm
b. limbus Jernih Jernih
c. permukaan Rata, mengkilap Rata, mengkilap

d. sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan

e. keratoskop ( placido ) Tidak dilakukan Tidak dilakukan

f. fluorecsin tes Tidak dilakukan Tidak dilakukan


PEMERIKSAAN OBJEKTIF
13. Kamera okuli anterior
a. kejernihan Jernih Jernih
b. kedalaman Dalam Dalam
14. Iris
a. warna Cokelat Cokelat
b. bentuk Tampak Tampak
lempengan lempengan
c. sinekia anterior Tidak tampak Tidak tampak
d. sinekia posterior Tidak tampak Tidak tampak
15. Pupil
a. ukuran 4 mm 4 mm
b. bentuk Bulat Bulat
c. letak Sentral Sentral
d. reaksi cahaya langsung Positif Positif
e. tepi pupil Tidak ada Tidak ada
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
16. Lensa
a. ada/tidak Ada Ada
b. kejernihan Keruh padat Keruh padat
c. letak Sentral Sentral
e. shadow test - -
17. Corpus vitreum
a. Kejernihan Tidak Tidak
b.Reflek fundus dilakukan dilakukan

Tidak Tidak
dilakukan dilakukan
KESIMPULAN PEMERIKSAAN
OD OS
A. Visus sentralis jauh 1/300 1/~
A. Visus perifer
Konfrontasi tes Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Proyeksi sinar Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Persepsi warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
A. Sekitar mata Dalam batas normal Dalam batas normal
A. Supercilium Dalam batas normal Dalam batas normal
A. Pasangan bola mata Dalam batas normal Dalam batas normal
dalam orbita
A. Ukuran bola mata Dalam batas normal Dalam batas normal
A. Gerakan bola mata Dalam batas normal Dalam batas normal

A. Kelopak mata Dalam batas normal Dalam batas normal


A. Sekitar saccus lakrimalis Dalam batas normal Dalam batas normal

A. Sekitar glandula Dalam batas normal Dalam batas normal


KESIMPULAN PEMERIKSAAN
A. Tekanan intarokular Dalam batas normal Dalam batas normal

A. Konjungtiva palpebra Dalam batas normal Dalam batas normal

A. Konjungtiva bulbi Dalam batas normal Dalam batas normal


A. Konjungtiva fornix Dalam batas normal Dalam batas normal
A. Sklera Dalam batas normal Dalam batas normal
A. Kornea Dalam batas normal Dalam batas normal
A. Camera okuli anterior Dalam batas normal Dalam batas normal

A. Iris Bulat, warna coklat Bulat, warna coklat


A. Pupil Diameter 4 mm, bulat, Diameter 4 mm, bulat, sentral
sentral
A. Lensa Keruh Padat, Shadow Test (-) Keruh Padat, Shadow Test (-)

A. Corpus vitreum Tidak dilakukan Tidak dilakukan


A. Non Contact Tonometer 15.0 13.0
GAMBAR KLINIS
GAMBAR KLINIS
DIAGNOSIS BANDING

ODS katarak matur


ODS katarak imatur
DIAGNOSIS KERJA

ODS katarak matur


TATALAKSANA

 Motivasi untuk ekstraksi katarak


 Motivasi untuk mengurus BPJS
PROGNOSIS

OD OS
1. Ad vitam Bonam Bonam
2. Ad fungsionam Bonam Bonam
3. Ad sanam Bonam Bonam
4. Ad kosmetikum Bonam Bonam
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI MATA
ANATOMI LENSA
FISIOLOGI LENSA
 Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke
retina.
 Pada orang dewasa lensa mata lebih padat dan bagian
posterior lebih konveks.
 Proses sklerosis bagian sentral lensa dimulai pada masa
kanak-kanak dan terus berlangsung perlahan-perlahan
sampai dewasa dan setelah ini proses bertambah cepat, di
mana nukleus menjadi besar dan korteks bertambah tipis
 Pada orang tua lensa lebih besar, lebih gepeng, warnanya
kekuningan, kurang jernih, dan tampak seperti “gray reflek”
atau “senil reflek”, yang sering disangka sebagai katarak.
 Sklerosis menyebabkan lensa menjadi kurang elastis dan
daya akomodasinya perlahan akan semakin berkurang
PEMERIKSAAN LENSA

Slitlamp

Oftalmoskop

Penlight

Loop
KATARAK
DEFINISI
 merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa
kekeruhan lensa yang menyebabkan tajam
penglihatan penderita berkurang.
 Penuaan merupakan penyebab katarak yang
terbanyak, tetapi banyak juga faktor lain yang mungkin
terlibat, antara lain : trauma, toksin, penyakit sistemik
(seperti diabetes mellitus), merokok, dan faktor
herediter.
 Kekeruhan LENSA  sulitnya cahaya untuk mencapai
retina, sehingga penderita katarak mengalami
gangguan penglihatan di mana objek terlihat kabur.
ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO
 Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi yang menyebabkan lensa mata menjadi
keras dan keruh
 Pengeruhan lensa dapat dipercepat oleh faktor risiko seperti
o Merokok
o paparan sinar ultraviolet yang tinggi
o Alkohol
o defisiensi vitamin E
o radang menahun dalam bola mata
o polusi asap motor atau pabrik yang mengandung timbal
o Cedera pada mata seperti pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi, dan trauma kimia

 Katarak pada anak-anak dapat terjadi, disebut Katarak kongenital  akibat adanya peradangan atau
infeksi ketika hamil
 Katarak juga dapat terjadi sebagai komplikasi penyakit infeksi dan metabolik lainnya seperti diabetes
mellitus
PATOFISIOLOGI

 Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya


transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang
memanjang dari badan siliar ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia
dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan
hambatan jalannya cahaya ke retina
 Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu teori hidrasi dan
sklerosis:
 Teori hidrasi di mana terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel
lensa yang berada di subkapsular anterior, sehingga air tidak dapat
dikeluarkan dari lensa. Air yang banyak ini akan menimbulkan bertambahnya
tekanan osmotik yang menyebabkan kekeruhan lensa.6
 Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula di mana serabut kolagen
pada lensa terus bertambah, sehingga terjadi pemadatan serabut kolagen di
tengah lensa. Makin lama serabut tersebut semakin bertambah
banyak sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa.6
Perubahan yang terjadi pada lensa
usia lanjut:
 Kapsula
 Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak)
 Mulai presbiopia
 Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
 Terlihat bahan granular

 Epitel semakin tipis


 Sel epitel (sel germinatif pada ekuator bertambah besar dan berat)
 Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
 Serat lensa
 Serat iregular
 Pada korteks jelas terlihat kerusakan serat sel
 Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama - kelamaan merubah protein nukleus lensa, di mana warna coklat protein
lensa nucleus pada penderita katarak mengandung lebih banyak histidin dan triptofan dibandingkan lensa normal
 Korteks tidak berwarna karena kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi foto oksidasi.
KLASIFIKASI

Morfologi Maturitas Onset

Kapsular Insipien Kongenital

Subkapsular Intumesen Infantile

Kortikal Immatur Juvenile

Supranuklear Matur Presenile

Nuklear Hipermatur Senile

Polar Morgagni
Katarak menurut umur penderita

 Katarak Kongenital
 Katarak Juvenil
 Katarak Senil
 Stadium awal (insipien).
 Stadium imatur.
 Stadium matur.
 Stadium hipermatur.
 Katarak Intumesen.
 Katarak Brunesen
Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi

 Katarak Nuklear :homogenitas nukleus lensa dengan hilangnya lapisan tipis


seluler
 Katarak Kortikal : Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa
 Katarak Subkapsularis Posterior : Katarak subkapsularis posterior terdapat
pada korteks di dekat kapsul posterior bagian sentral
DIAGNOSA

 Anamnesis
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan laboratorium pre-operasi untuk mendeteksi adanya penyakit-
penyakit yang menyertai, seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan kelainan
jantung.
 Pemeriksaan visus untuk mengetahui kemampuan melihat pasien
 Pemeriksaan adneksa okuler dan struktur intraokuler dapat memberikan
petunjuk terhadap penyakit pasien dan prognosis penglihatannya
 Pemeriksaan slit lamp sebaiknya tidak hanya difokuskan untuk evaluasi
opasitas lensa tetapi dapat juga struktur okuler lain, misalnya konjungtiva,
kornea, iris, dan bilik mata depan
TATA LAKSANA

 Terapi untuk katarak yang masih tipis: Kaca mata, lensa pembesar, cahaya
yang lebih terang, atau kacamata yang dapat meredamkan cahaya
 Operasi katarak perlu dilakukan jika:
 kekeruhan lensa menyebabkan penurunan tajam penglihatan
 katarak terjadi bersamaan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis,
glaukoma, dan/atau retinopati diabetikum,
 hasil yang didapat setelah operasi jauh lebih menguntungkan dibandingkan
dengan risiko operasi yang mungkin terjadi.
 mengganggu kehidupan sosial atau atas indikasi medis lainnya
Indikasi penatalaksanaan bedah pada
kasus katarak

 Indikasi visus; merupakan indikasi paling sering. Indikasi ini berbeda pada tiap
individu, tergantung dari gangguan yang ditimbulkan oleh katarak terhadap
aktivitas sehari-harinya.
 Indikasi medis; pasien bisa saja merasa tidak terganggu dengan kekeruhan
pada lensa matanya, namun beberapa indikasi medis dilakukan operasi katarak
seperti glaukoma imbas lensa (lens-induced glaucoma), endoftalmitis
fakoanafilaktik, dan kelainan pada retina misalnya retiopati diabetik atau
ablasio retina.
 Indikasi kosmetik; kadang-kadang pasien dengan katarak matur meminta
ekstraksi katarak (meskipun kecil harapan untuk mengembalikan visus) untuk
memperoleh pupil yang hitam.
Persiapan pre-operasi katarak
 Pasien sebaiknya dirawat di rumah sakit semalam sebelum operasi peningkatan tekanan intra okuler, serta hilangnya refleks oculo-
cardiac (stimulasi pada nervus vagus yang diakibatkan stimulus rasa
 Pemberian informed consent sakit pada bola mata, yang mengakibatkan bradikardia dan bisa
menyebabkan cardiac arrest)
 Bulu mata dipotong dan mata dibersihkan dengan larutan
Povidone-Iodine 5%  Komplikasi :

 Pemberian tetes antibiotik setiap 6 jam  Perdarahan retrobulbar

 Pemberian sedatif ringan (diazepam 5 mg) pada malam harinya bila  Rusaknya saraf optik
pasien cemas
 Perforasi bola mata
 Pada hari operasi, pasien dipuasakan
 Injeksi nervus opticus
 Pupil dilebarkan dengan midriatikum tetes sekitar 2 jam sebelum
operasi. Tetesan diberikan setiap 15 menit  Infeksi
 Obat-obat yang diperlukan dapat diberikan, misalnya obat asma,
antihipertensi, atau anti glaukoma. Akan tetapi, untuk pemberian  Subtenon Block
obat antidiabetik sebaiknya tidak diberikan pada hari operasi untuk
mencegah hipoglikemia dan obat antidiabetik dapat diteruskan
sehari setelah operasi.
 Memasukkan kanula tumpul melalui insisi
pada konjungtiva dan kapsul tenon 5 mm
 Pemberian tindakan anestesi pada pasien3 dari limbus dan sepanjang area subtenon.
 Anestesi umum Anestesi diinjeksikan di antara ekuator bola
 Digunakan pada orang dengan kecemasan yang tinggi, tuna rungu,
mata.
atau retardasi mental, juga diindikasikan pada pasien dengan
penyakit Parkinson, dan reumatik yang tidak mampu berbaring  Topical-intracameral anesthesia
tanpa rasa nyeri.
 Anestesi lokal :
 Anestesi permukaan dengan obat tetes atau
gel (proxymetacaine 0.5%, lidocaine 2%)
 Peribulbar block yang dapat ditambah dengan injeksi
 Paling sering digunakan. Diberikan melalui kulit atau konjungtiva intrakamera atau infus larutan lidokain 1%,
dengan jarum 25 mm. Efek : analgesia, akinesia, midriasis, biasanya dilakukan selama hidrodiseksi.
Jenis Operasi Ekstraksi Katarak

 Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE)


 Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama
kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake
dan dipindahkan dari mata melalui insisi korneal superior yang lebar.
Sekarang metode ini hanya dilakukan pada keadaan subluksasi dan
dislokasi lensa. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan
merupakan tindakan pembedahan yang popular untuk waktu yang
sangat lama. ICCE tidak boleh dilakukan atau merupakan kontraindikasi
pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen
hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini
adalah astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.
Jenis Operasi Ekstraksi Katarak

 Extra Capsular Cataract Extraction ( ECCE )


 Tindakan pembedahan pada lensa katarak di mana dilakukan
pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa
anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui
robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, kelainan
endotel, implantasi lensa intra okular posterior, perencanaan implantasi
sekunder lensa intra okular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma,
mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata
sebelahnya telah mengalami prolaps badan kaca, ada riwayat
mengalami ablasi retina, mata dengan edema sistoid makular, pasca
bedah ablasi, serta untuk mencegah penyulit pada saat melakukan
pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat
timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.1,3,6
Jenis Operasi Ekstraksi Katarak

 Extra Capsular Cataract Extraction ( ECCE )


 Tindakan pembedahan pada lensa katarak di mana dilakukan
pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa
anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui
robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, kelainan
endotel, implantasi lensa intra okular posterior, perencanaan implantasi
sekunder lensa intra okular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma,
mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata
sebelahnya telah mengalami prolaps badan kaca, ada riwayat
mengalami ablasi retina, mata dengan edema sistoid makular, pasca
bedah ablasi, serta untuk mencegah penyulit pada saat melakukan
pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat
timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.
Jenis Operasi Ekstraksi Katarak

 Phakoemulsifikasi (phaco) adalah teknik untuk membongkar dan


memindahkan kristal lensa. Pada teknik ini hanya diperlukan irisan yang
sangat kecil (sekitar 2-3 mm) di kornea. Getaran ultrasonik akan digunakan
untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot
massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah IOL yang dapat
dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena insisi yang kecil maka
tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang
memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas
sehari-hari. Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan
kebanyakan katarak senilis
Jenis Operasi Ekstraksi Katarak

 Small Incision Cataract Surgery (SICS)


 Insisi dilakukan pada sklera dengan ukuran insisi bervariasi dari 5-8 mm.
Namun tetap dikatakan SICS sejak desain arsitekturnya dilakukan tanpa
jahitan. Penutupan luka insisi terjadi dengan sendirinya (self-sealing). Teknik
operasi ini dapat dilakukan pada stadium katarak imatur, matur, dan
hipermatur. Teknik ini juga telah dilakukan pada kasus glaukoma fakolitik
dan dapat dikombinasikan dengan operasi trabekulektomi.
Jenis teknik bedah Keuntungan Kerugian
katarak
Extra capsular cataract  Insisi kecil  Kekeruhan pada kapsul posterior
extraction (ECCE)  Tidak ada komplikasi vitreus  Dapat terjadi perlengketan iris
 Kejadian endophtalmodonesis lebih dengan kapsul
sedikit
 Edema sistoid makula lebih jarang
 Trauma terhadap endotelium kornea
lebih sedikit
 Retinal detachment lebih sedikit
 Lebih mudah dilakukan
Intra capsular cataract  Semua komponen lensa diangkat  Insisi lebih besar
extraction (ICCE)  Edema sistoid pada makula
 Komplikasi pada vitreus
 Sulit pada usia < 40 tahun
 Endopthalmitis
Fakoemulsifikasi  Insisi paling kecil  Memerlukan dilatasi pupil yang
 Astigmatisma jarang terjadi baik
KOMPLIKASI
 Komplikasi preoperatif
 Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat ketakutan akan operasi. Agen
anxiolytic seperti diazepam 2-5 mg dapat memperbaiki keadaan.
 Nausea dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid dan/atau gliserol. Kasus ini dapat
ditangani dengan pemberian antasida oral untuk mengurangi gejala.
 Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topikal preoperatif, ditangani dengan
penundaan operasi selama dua hari.
 Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan menggunakan tonometer Schiotz.
Penanganannya berupa pemberian salep antibiotik selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama
dua hari.
 Komplikasi intraoperatif
 Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.
 Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau selama insisi ke bilik mata depan.
 Cedera pada kornea (robekan membrane Descement), iris, dan lensa; dapat terjadi akibat instrumen operasi
yang tajam seperti keratom.
 Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
 Lepas atau hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi akibat ruptur kapsul posterior
(accidental rupture) selama teknik ECCE.
KOMPLIKASI

 Komplikasi postoperatif awal


 Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema,
prolaps iris, keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan
endoftalmitis bakterial.
 Komplikasi postoperatif lanjut
 Cystoid Macular Edema (CME), delayed chronic postoperative
endophtalmitis, Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina,
dan katarak sekunder merupakan komplikasi yang dapat terjadi
setelah beberapa waktu paska operasi.
 Komplikasi yang berkaitan dengan IOL
 I mplantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-
glaucoma-hyphema syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan
sindrom lensa toksik (toxic lens syndrome).
UPAYA PREVENTIF DAN PROMOTIF

 Pencegahan terhadap hal-hal yang memperberat seperti mengontrol


penyakit metabolik, mencegah paparan langsung terhatap sinar
ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap
 Pemberian intake antioksidan (seperti asam vitamin A, C dan E) secara
teori bermanfaat mencegah perkembangan katarak senilis
 Bagi perokok sebaiknya diusahakan berhenti merokok, karena rokok
memproduksi radikal bebas yang meningkatkan risiko katarak
 Mengkonsumsi makanan bergizi yang seimbang, memperbanyak porsi
buah dan sayuran
PROGNOSIS

 Tindakan pembedahan secara definitif pada katarak senilis dapat


memperbaiki ketajaman penglihatan pada lebih dari 90% kasus
 Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan
pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya
ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina
membatasi tingkat pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini.
Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah operasi paling
buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak
kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat
PENUTUP

 Kesimpulan
 Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi, pasien didiagnosa
ODS Katarak Matur. Tatalaksana pasien ini direncanakan dengan ekstraksi
katarak, yaitu fakoemulsifikasi dan pemasangan intraocular lens (IOL).
Operasi pada mata dapat dipertimbangkan jika kekeruhan lensa
menyebabkan penurunan tajam pengelihatan sedemikian rupa sehingga
mengganggu pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Pasien belum memiliki
BPJS, sehingga pasien terlebih dahulu dimotivasi untuk mengurus BPJS dan
kemudian melakukan ekstraksi katarak.
PENUTUP

 Saran
 Dokter umum sebaiknya mengenali tanda – tanda dari katarak sehingga
dapat memberikan penatalaksanaan awal dan rujukan yang tepat bagi
pasien sehingga mengurangi resiko kebutaan.