Anda di halaman 1dari 46

EPILEPSI

(Case Report)

Oleh
Ayu Aprilia 1518012131

dr. Diah Astika Rini, Sp. A

SMF ILMU PENYAKIT ANAK


RUMAH SAKIT UMUM AHMAD YANI
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
Pendahuluan

Menurut konsesnsus International Insidens epilepsi di negara maju


League Against Epilepsy (ILAE) menurut WHO berkisar 50 per 100.000
epilepsi didefinisikan sebagai penduduk, sedangkan di negara
gangguan otak yang ditandai oleh berkembang 100 per 100.000 ribu.
berlangsungnya terus menerus faktor di Indonesia penderita epilepsi sekitar
predisposisi yang memicu bangkitan 1 - 4 juta jiwa.
epilepsi dan oleh kondisi neurobiologis, Di Bagian llmu Kesehatan Anak Rumah
kognitif, psikologis dan sosial. definisi Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
epilepsi memerlukan bangkitan didapatkan sekitar 175 - 200 pasien
epileptik berulang setidaknya satu kali baru per tahun, dan yang terbanyak
pada kelompok usia 5 -12 tahun
masing-masing 43,6% dan 48,670.
BAB II
STATUS PASIEN
■ Tanggal Masuk : 02 Febuari 2017 M: 231069
■ Pukul : 05.15 wib Ruang : RA I.1

Nama Ayah : Tn. P


■ Anamnesis Umur : 50 tahun
Agama : Islam
■ Nama Anak : An. AR Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Karang Rejo
■ Jenis Kelamin : laki-laki
■ Umur : 5 tahun 11 bulan Nama Ibu : Ny. E
Umur : 49 tahun
■ Anak ke- : 3 dari 3 bersaudara Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga (IRT)
Alamat : Karang Rejo
Riwayat Penyakit

Keluhan Utama : Kejang

Keluhan Tambahan : lemas

Riwayat Penyakit Sekarang :

Kejang yang dialami Berhenti saat


Kejang terjadi 2x seluruh tubuh diberikan diazepam
Kejang 15 menit Dan manifestasi terasa kaku, kedua rektal. Pasca kejang
SMRS kejang berlangsung tangan dan kaki pasien tidak sadar.
>15 menit. bergerak seperti Tidak sadar sampai
menyentak > 5 menit.
Riwayat penyakit dahulu
Kejang sejak usia 5
bulan. Demam berdarah
Dan sampai saat ini dengue
masih meminum diare
as. Valproat
Riwayat penyakit keluarga
Pemeliharaan Kehamilan Ibu dan Prenatal Riwayat Persalinan

Pemeriksaan di : Bidan Lahir di : Bidan


Frekuensi : Trimester I : 1x
Cukup bulan : Cukup bulan
Trimester II : 1x
Trimester III : 4x Berat Badan : 3500 gram

Keluhan selama kehamilan :- Panjang Badan : 49 cm


Obat yang dikonsumsi selama hamil : Suplemen
Cacat :-

Kesan : Ibu kontrol kehamilan teratur dan tidak terdapat Anak ke :3


masalah pada kehamilan
Kesan: Persalinan normal
•BCG : 1 bulan
•DPT 1 : 2 bulan
•DPT 2 : 4 bulan
•DPT 3 : 6 bulan
•Hepatitis B : Saat lahir
•Hepatitis B 2 : 1 Bulan
Riwayat •Hepatitis B 3 : 6 Bulan
•Polio : 2 bulan
Immunisasi •Polio 2 : 4 bulan
•Polio 3 : 6 bulan
•Campak : 9 bulan
•KESAN : Imunisasi dasar lengkap
a. Riwayat Perkembangan

•Pasien hanya •Berjalan dengan


dapat mandiri
mengatakan 1
kata

Bicara
Motorik
dan
kasar
bahasa

Adaptif-
Personal
motorik
Sosial
halus
•Pasien dapat •Pasien
mencoret-coret mengenakan
membuat garis baju masih
memerlukan
bantuan.

Kesan : Terdapat gangguan perkembangan pada aspek bahasa. Saat ini pasien sedang

menjalani terapi wicara.


a. Riwayat Makanan

0-3 bulan : ASI

3 bulan-6 bulan : ASI + Susu formula

6 bulan dst : ASI + Susu formula +

Makanan Pendamping ASI

Kesan: Pemberian makanan sesuai


a. Status Present

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Somnolen

GCS E2M4V3

Suhu : 36,6°C (aksila)

Frekuensi Nadi : 108x/menit

Frekuensi Nafas : 28x/ menit

Berat Badan Awal : 19 kg

Berat Badan Sekarang : 19 kg

Tinggi Badan : 113 cm


Antrhopo
metri
BB
terhadap
umur
TB
terhadap
Umur
Status Generalis

Kelainan Mukosa Kulit/ Subkutan Yang Menyeluruh

Pucat :-

Sianosis :-

Ikterus :-

Oedem :-

Turgor : Baik

Pembesaran KGB :-

Kesan : Status generalis dalam batas normal


Kepala

Muka : Simetris, normochepal Leher

Rambut : Dalam batas normal, allopecia (-) Bentuk : Simetris

Ubun-ubun besar : tidak cekung, tidak menonjol Trakea : deviasi (-)

Mata : Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-, KGB : Tidak terdapat

cekung -/- pembesaran

Telinga : simetris, sekret (-) Kaku kuduk dan GRM : tidak ditemukan

Kesan : Pemeriksaan leher dalam batas normal


Hidung : Simetris, tidak ada napas cuping hidung,

sekret (-)

Mulut : sianosis (-), bibir kering (-)

Kesan : Pemeriksaan kepala dalam batas normal


Thorak

Bentuk : Normochest

Retraksi : (-)

Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba

Perkusi : Batas jantung normal

Auskultasi : BJ1 BJ2 murni reguler, murmur (-) gallop (-)

Kesan: Pemeriksaan jantung dalam batas normal


Pemeriksaan Fisik Paru

Anterior Posterior

Kanan Kiri Kanan Kiri

Inspeksi Normochest, pergerakan Normochest, Normochest, Normochest,

dada simetris pergerakan dada pergerakan dada pergerakan dada

simetris simetris simetris

Palpasi Fremitus taktil dextra = Fremitus taktil dextra Fremitus taktil dextra Fremitus taktil dextra

sinistra = sinistra = sinistra = sinistra

Perkusi Sonor Sonor Sonor sonor

Auskultasi Suara napas vesikuler Suara napas Vesikuler Suara napas Suara napas

(N) , ronki -/-, wheezing - (N), ronki -/-, wheezing Vesikuler (N), ronki -/-, Vesikuler (N), ronki -

/- -/- wheezing -/- /-, wheezing -/-

Kesan : Pemeriksaan paru dalam batas normal


Abdomen

Inspeksi : Datar Ekstremitas :

Palpasi : Supel, organomegali (-) Jari Tangan : Lengkap, tanpa cacat, tidak

Perkusi : Tympani sianosis, tidak oedem


Auskultasi : Bising Usus (+) Normal
Jari Kaki : Lengkap, tanpa cacat, tidak
Kesan : Pemeriksaan abdomen dalam batas normal
sianosis, tidak oedem
Genetalia Eksterna : Pergerakan : Aktif
Jenis Kelamin : laki-laki
Kesan : Ekstremitas dalam batas normal
Lubang Anus : Ada

Bentuk : Simetris

Keadaan : Bersih

Kesan : Genetalia dalam batas normal


Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis Banding
■ Status epileptikus
■ Kejang demam kompleks

Diagnosis Kerja
■ Epilepsi dengan bangkitan kejang tonik klonik
Tatalaksana
■ Patensi jalan nafas
■ Berikan O2 2 L/menit
■ IVFD D5 ½ 10 tpm makro
■ Diazepam rectal 10 mg sesaat masuk RS
■ Inj. Diazepam 6 mg iv pelan bila kejang berulang sesuai tatalaksana kejang akut
■ Oral :
■ - Asam Valproat 2 x 3,2 cc
■ Observasi TTV ketat
Follow up pasien
Hari rawat ke-1, tanggal 2/02/17 Hari rawat ke-2, tanggal 3/02/17

S Kejang 2x, demam (-) S Kejang (-), demam (-)

Riw/epilepsi sejak usia 5 bulan


O HR : 100 x/menit
RR : 20 x/menit
O HR : 100 x/menit
T : 37,1 ºC
RR : 22 x/menit
Spo2: 97%
T : 36,4 ºC
Retraksi thorax (-), fremitus taktil Ka=Ki, sonor +/+, vesikuler +/+, ronki -/-,
Retraksi thorax (-), fremitus taktil Ka=Ki, sonor +/+, vesikuler +/+, ronki -/-,
wheezing -/-
wheezing -/-
Nyeri tekan epigastrium (+), Hepar teraba (-), lien teraba(-), shifting dullness (-
Nyeri tekan epigastrium (+), Hepar teraba (-),lien teraba (-), shifting dullness (-
),fluidwave (-) , akral hangat, turgor baik
),fluidwave (-)
Bb : 19kg

A Epilepsi
A Epilepsi
P IVFD D5 ½ NS 10 tpm makro
P Berikan O2 2 L/menit Inj. Paracetamol (jika demam >39,0 C)
INJ. Diazepam 3mg (jika kejang)
IVFD D5 ½ NS 10 tpm makro
Asam.valproat 2x3,8 cc
INJ. Diazepam 3mg (jika kejang)
Oral : as. Valproat 2x3,2 cc
Hari rawat ke-3, tanggal 4/02/17

S Kejang (-), demam (-)

O HR : 115 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 37,1 ºC
Retraksi thorax (-), fremitus taktil Ka=Ki, sonor +/+, vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-
Nyeri tekan epigastrium (+), Hepar teraba (-), lien teraba (-), shifting dullness (-), fluidwave (-) ,
turgor kulit baik, akral hangat

A Epilepsi

P Boleh pulang
ANALISA KASUS
Definisi Epilepsi

■ Menurut konsesnsus International League Against Epilepsy (ILAE) 2011, Epilepsi


didefinisikan sebagai gangguan otak yang ditandai oleh berlangsungnya
terus-menerus faktor predisposisi yang memicu bangkitan epilepsi dan dengan
konsekuensi terhadap neurobiologis, kognitif, psikologis dan sosial pada kondisi ini.
Definisi epilepsi membutuhkan pengulangan kejang setidaknya satu kali.
■ Definisi klinis epilepsi :
Epilepsi merupakan penyakit yang ditandai dengan kondisi dibawah ini :
1. Setidaknya terdapat 2 kejang yang tidak terprovokasi dalam 24 jam
2. Satu kejang yang tidak terprovokasi dan kemungkinan risiko kejang berulang
selanjutnya sama dengan pasca dua kejang yang tidak terprovokasi (sekitar 75%
atau lebih)
3. Setidaknya terdapat dua kejang pada keadaan refleks epilepsi
Anamnesis
■ Kejang terjadi > 15 menit SMRS, kejang terjadi 2x pukul 04.30 dan 05.15.
■ Kejang berawal dari kedua tangan dan kaki kaku, kemudian tangan dan kaki bergerak seperti menyentak
■ Setelah kejang os belum sadar hingga > 5 menit.

Riwayat terdahulu
Os sering mengalami kejang sejak usia 5bulan
Telah melakukan EEG didapatkan hasil abnormal
Sejak saat itu os rutin minum obat asam valproat, rutin kontrol dan tidak pernah putus obat
■ Riwayat Perkembangan
– Terdapat keterlambatan dalam hal bicara dan bahasa

■ Pemeriksaan Fisik
– Didpatkan suhu T: 36,6°C
– status gizi baik
– Tidak ada kelainan berarti pada pemeriksaan fisik lain.

■ Pemeriksaan Penunjang
- Tidak terdapat hasil yang meningkat signifikan.
Berdasarkan teori kejang umum tonik-klonik adalah :
salah satu jenis kejang pada epilepsi yang dimulai
dengan fase tonik, yaitu kontraksi yang terjadi pada
otot secara tiba-tiba yang menyebabkan pasien jatuh
dan berbaring kaku selama lebih 10-30 detik.
Sehingga berdasarkan Anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang didapatkan diagnosis epilepsi
dengan bangkitan kejang umum tonik-klonik
dengan, gangguan perkembangan
menyeluruh dan gizi kurang
Tatalaksana

Diazepam rectal
Patensi jalan Berikan O2 2 IVFD D5 1/2 10
10 mg sesaat
nafas L/menit tpm makro
masuk RS

Oral : asam Inj. Diazepam 6


Observasi TTV
Valproat 2 x 3,2 mg iv pelan bila
ketat
cc kejang berulang
■ Dosis as. Valproat sebelumnya sebanyak 17 mg/kgBB/hari dikarenakan pemberian
obat anti epilepsi dengan tanpa putus obat dan rutin kontrol tetap mengalami
bangkitan epilepsi sehingga dosis dinaikkan 20 mg/kgBB/hari
■ Sehingga 20 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis pada berat badan 19 kg
didapatkan 20 mg x 19 kg =380 : 2 = 190mg/kali pemberian
■ Dalam as. Valproat sirup 1 cc = 50 mg sehingga pasien mendapatkan asam
valproat sirup sebanyak 3,8cc
Prinsip pengobatan epilepsi

Serangan tonik • OAE I :Karbamazepin, fenobarbital, primidon, fenitoin, asam


valproat
klonik • OAE II : Benzodiazepin, asam valproate

• OAE I : Etosuksimid, asam valproat


Serangan absens • OAE II : Benzodiazepin

Serangan • OAE I : Benzodiazepin, asam valproat


mioklonik • OAE II : Etosuksimid

Serangan tonik, • Semua OAE kecuali etosuksinid


klonik, atonik
TERIMAKASIH
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Epilepsi

■ Menurut konsesnsus International League Against Epilepsy (ILAE) 2011, Epilepsi


didefinisikan sebagai gangguan otak yang ditandai oleh berlangsungnya
terus-menerus faktor predisposisi yang memicu bangkitan epilepsi dan dengan
konsekuensi terhadap neurobiologis, kognitif, psikologis dan sosial pada kondisi ini.
Definisi epilepsi membutuhkan pengulangan kejang setidaknya satu kali.
■ Definisi klinis epilepsi :
Epilepsi merupakan penyakit yang ditandai dengan kondisi dibawah ini :
1. Setidaknya terdapat 2 kejang yang tidak terprovokasi dalam 24 jam
2. Satu kejang yang tidak terprovokasi dan kemungkinan risiko kejang berulang
selanjutnya sama dengan pasca dua kejang yang tidak terprovokasi (sekitar 75%
atau lebih)
3. Setidaknya terdapat dua kejang pada keadaan refleks epilepsi
Epidemiologi epilepsi

Di Indonesia, diperkirakan, jumlah penderita epilepsi sekitar 1 - 4 juta jiwa.

Penderita terbanyak pada golongan umur 1 - 6 tahun (46,5%)

Umur 6 - 10 tahun (29,1%)

Umur 10 - 18 tahun (16,28%)

Umur 0 - 1 tahun (8,14%)


Faktor risiko

Prenatal : Natal Postnatal


• Umur ibu saat hamil terlalu • Asfiksia • Kejang demam
muda (<20 tahun) atau • Bayi dengan berat badan • Trauma kepala
terlalu tua (>35 tahun) lahir rendah (<2500 gram) • Infeksi SSP
• Kehamilan dengan eklamsia • Kelahiran prematur atau • Gangguan Metabolik
dan hipertensi postmatur
• Kehamilan primipara atau • Partus lama
multipara • Persalinan dengan alat
Klasifikasi berdasarkan sindroma
• Parsial sederhana
Kejang parsial • Parsial kompleks
• Umum sekunder

• Lena/absens

Kejang • Mioklonik
• Klonik

umum • Atonik
• tonik
• Tonik-klonik

Kejang epileptik
yang tidak
tergolongkan
Klasifikasi berdasarkan sindroma menurut ILAE 1989

Tak dapat
Umum ditentukan fokal Sindroma khusus
Letak fokus atau umum
• Idiopatik • Bangkitan •Kejang demam
• Idioptik • Umum umum dan •Bangkitan
• Simptomatik kriptogenik fokal kejang/status
• kriptogenik atau • Tanpa epileptikus
simptomatik gambaran •Bangkitan yang
hanya terjadi
• simptomatik tegas fokal atau apabila terdapat
umum kejadian
metabolic akut
atau toksis, obat,
eklampsia,
hiperglikemi non
ketotik
•Bangkitan dengan
pencetus spesifik
Etiologi Epilepsi
• Abnormalitas neuroanatomis
dan neuropatologis (+)
• Misalnya pada trauma
kepala, infeksi SSP, kelainan
Simptomatik kongenital

• Timbul apabila terdapat faktor


sistemik yang spesifik atau
faktor lingkungan yg memicu • Dianggap simptomatik namun
• Abnormalitas neuroanatomis penyebab tidak diketahui
dan neuropatologi (-) Provoked Epilepsi Kriptogenik • Tanpa disertai abnormalitas yg
mendasari di otak atau abnormalitas
• Biasanya memiliki riwayat
tidak diketahui
genetik • Misalnya pada West Syndrome Lenno

• Kejang umum
Idiopatik • Penyebab tidak diketahui
• Abnormalitas neuroanatomis dan
neuropatologis (-)
Penegakan diagnosis

Pola / bentuk serangan Pada anak - anak EEG

Pemeriksaan Fisik
Anamnesis

Pemeriksaan Penunjang
Lama serangan harus
Gejala sebelum, selama dan
paska serangan
memperhatikan CT Scan
adanya
Frekuensi serangan
keterlambatan MRI
Faktor pencetus
Ada atau tidaknya penyakit perkembangan
lain yang diderita sekarang
Organomegali
Usia saat serangan terjadinya
pertama Perbedaan ukuran
Riwayat kehamilan, persalinan antara anggota tubuh
dan perkembangan
Riwayat penyakit, penyebab
dan terapi sebelumnya
Riwayat keluarga
Tatalaksana Epilepsi
Tujuan pengobatan adalah untuk mengatasi kejang dengan dosis optimal terendah.
Yang terpenting adalah kadar obat antiepilepsi bebas yang dapat menembus sawar
darah otak dan mencapai reseptor susunan saraf pusat.

Prinsip pengobatan epilepsy (Markam dkk, 2009):


■ Mendiagnosis secara pasti, menentukan etiologi, jenis serangan dan sindrom
epilepsy
■ Memulai pengobatan dengan satu jenis obat antiepilepsi
■ Penggantian obat antiepilepsi secara bertahap apabila obat antiepilepsi yang
pertama gagal
■ Pemberian obat antiepilepsi sampai 1-2 tahun bebas kejang.
Serangan tonik • OAE I :Karbamazepin, fenobarbital, primidon, fenitoin, asam
valproat
klonik • OAE II : Benzodiazepin, asam valproate

• OAE I : Etosuksimid, asam valproat


Serangan absens • OAE II : Benzodiazepin

Serangan • OAE I : Benzodiazepin, asam valproat


mioklonik • OAE II : Etosuksimid

Serangan tonik, • Semua OAE kecuali etosuksinid


klonik, atonik