Anda di halaman 1dari 54

CASE REPORT

BRONKOPNEUMONIA
Disusun Oleh:
Cathleen Kenya
1361050253

Pembimbing:
dr. Nurbani, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD PASAR MINGGU
PERIODE 30 SEPTEMBER – 9 DESEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2018
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
1. No. RM : 16.23.46
2. Nama : An. M. R. A
3. Tanggal Lahir : 25 Maret 2016
4. Usia : 2 tahun 7 bulan
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Agama : Islam
7. Pendidikan :-
8. Tanggal Datang : 28 Oktober 2018
ANAMNESIS

Keluhan Utama
• Batuk 2 minggu SMRS

Keluhan Tambahan
• mual, muntah
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT
Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Minggu pada tanggal 28 Oktober 2018
dengan keluhan utama batuk sejak 2 minggu SMRS. Batuk dirasakan
sepanjang hari, dahak (+), darah (-). Ibu pasien mengatakan bahwa pasien
sudah dibawa ke puskesmas dan sudah diberi obat, namun tidak ada
perbaikan. Pasien juga mengeluh mual dan muntah setelah batuk, muntah
berisi dahak. Demam ataupun kejang tidak ada. Nafsu makan dan minum
pasien baik. BAK dan BAB tidak ada keluhan. Riwayat trauma kepala
disangkal. Di lingkungan tempat tinggal pasien tidak ada yang mengalami
batuk-batuk.
Riwayat Penyakit • Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya
Dahulu • Riwayat alergi disangkal.

Riwayat Penyakit • Pada keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang
Keluarga sama seperti pasien

Riwayat • Saat hamil ibu pasien rutin control kehamilannya ke dokter spesialis
kandungan.
Kehamilan Ibu • Ibu pasien tidak pernah mengalami masalah atau terjatuh saat
hamil

• Pasien dilahirkan di rumah sakit, ditolong oleh bidan.


Riwayat • Pasien lahir dengan kelahiran pervaginam (38 minggu), bayi lahir
langsung menangis.
Kelahiran • Berat badan lahir 2900 gram, panjang badan lahir 47 cm dan
lingkat kepala 37 cm
RIWAYAT TUMBUH KEMBANG
1. Gigi Pertama : 4 bulan
2. Psikomotor
a. Tengkurap : 4 bulan
b. Duduk : 6 bulan
c. Berdiri : 9 bulan
d. Berjalan : 12 bulan
e. Berbicara : 12 bulan
f. Membaca/menulis : 24 bulan

Kesan: riwayat tumbuh kembang sesuai dengan usia


RIWAYAT IMUNISASI
RIWAYAT MAKANAN
ASI eksklusif tiap 2-3 jam sekali, selama 10-15 menit, hisapan kuat
0 – 2 bulan
dipayudara kanan dan kiri bergantian
ASI tiap 5 jam sekali, selama 5-10 menit, hisapan kuat, payudara kanan
2 – 6 bulan dan kiri bergantian. Susu formula 5 botol (120cc)/hari. Habis sebanyak
5x/hari
Susu formula 5 botol (120 cc)/hari. Habis dalam 3x/hari. Nasi tim berisi
6 – 12 bulan
wortel dan daging ayam sebanyak 2x/hari ukuran 1 piring anak
Susu formula 3 botol (120 cc) dalams ehari sebanyak 3x, nasi dengan
12 bulan – 2 tahun
sayur + daging ayan dan ikan 3x/hari, ukuran 1 piring anak

Kesan: Kualitas dan kuantitas makanan cukup, tahapan makanan sesuai usia
RIWAYAT KEBIASAAN PRIBADI, SOSIAL, DAN EKONOMI

• Pasien merupakan anak tunggal, ia anak yang aktif dan jarang sakit.
• Pasien tinggal serumah dengan kedua orangtuanya.
• Ayah pasien memiliki kebiasaan merokok di dalam rumah.
• Ayah pasien bekerja sebagai karyawan swasta (penghasilan ±
Rp5.000.000,- per bulan) dan ibu sebagai ibu rumah tangga.
• Pasien berobat menggunakan BPJS.
PEMERIKSAAN FISIK
•Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
•Kesadaran : Composmentis
•Tekanan Darah : 110/70 mmHg
•Frekuensi Nadi : 108 x/menit
•Frekuensi Napas : 21 x/menit
•Suhu : 36.70C
DATA ANTROPOMETRI MENURUT DATA WHO

a. Berat Badan : 12 kg a. BB/U : 0 s/d -2


b. Tinggi Badan : 90 cm b. TB/U : 0 s/d -2
c. Lingkar Lengan Atas : 14.5 cm c. BB/TB : 0 s/d -1
d. Lingkar Kepala : 47 cm d. BMI/U : 0 s/d -2
STATUS GENERALIS
a. Kepala b. Mulut : sianosis orofacial (-)
•Kepala : normocephali, ubun-ubun •Bibir : mukosa kering (-), sianosis (-)
cekung (-)
•Gigi geligi : utuh, karies dentis (-)
•Mata : kelopak mata tampak cekung
(-/-), sclera ikterik (-/-), konjungtiva •Lidah : letak di tengah, lidah kotor (-
anemis (-/-), air mata +/+ )
•Hidung : deviasi septum (-/-), mukosa •Tonsil : T1-T1
hiperemis (-/-), secret -/-, napas •Faring : hiperemis (-)
cuping hidung (-)
•Telinga : normotia, lapang (+/+),
serumen (-/-), secret (-/-) c. Leher : Tidak ada pembesaran KGB
d. Thorax •Perkusi : -
•Inspeksi : pergerakan dinding •Auskultasi : bunyi jantung I-II
dada simetris, retraksi iga (-) regular, murmur (-), gallop (-)
•Perkusi : sonor/sonor
•Palpasi : stem fremitus simetris f. Abdomen
kanan-kiri •Inspeksi :perut tampak datar
•Auskultasi : bunyi napas dasar •Auskultasi : BU (+) 9x per menit
vesikuler, ronkhi +/+,
wheezing+/+ •Perkusi : timpani, nyeri ketok (-)
•Palpasi : supel, nyeri tekan (-),
e. Jantung turgor kembali cepat
–Hepar : tidak teraba membesar
•Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat –Lien : tidak teraba membesar
•Palpasi : ictus cordis teraba
g. Extremitas : Kiri Kanan 5. Pemeriksaan Neurologis
•Atas : Akral hangat Akral hangat •Nervus cranialis : dalam batas
normal
CRT <2” CRT <2”
•Pemeriksaan Reflex : fisiologis
•Bawah : Akral hangat Akral (normoreflex pada extremitas
hangat superior dan inferior), patologis (-)
CRT <2” CRT <2” •Rangsangan meningeal : negatif

h. Vertebrae : lordosis (-), kifosis (-),


skoliosis (-)

i. Kulit : ruam kemerahan (-)


PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Hb : 13.7 g/dl (10.5-12.9 g/dl) • Basofil : 0% (0.0-1.0%)
• Ht : 39% (35-43%) • Eosinofil : 2% (1.0-5.0%)
• Leukosit : 10.700/ul (5.500-15.500/ul) • Netrofil Batang : 3% (3.0-5.0%)
• Trombosit : 279.000/ul (217.000-497.000/ul) • Netrofil Segmen : 32% (25.0-60.0%)
• Eritrosit : 5.31 x 106/ul (3.60-5.20 x 106//ul) • Limfosit : 58% (25.0-50.0%)
• MCV : 73 fl (73-101 fl) • Monosit : 5% (1.0-6.0%)
• MCH : 26 pg (23-31 pg)
• MCHC : 35 g/dl (26-34 g/dl) •Mantoux test : negatif

•Foto thorax: gambaran bronkopneumonia


DIAGNOSIS KERJA

Toddler wheezing Bronkopneumonia


RENCANA TERAPI
• Diet lunak
• IVFD kaen IB 1000 cc/hari
• Inj. Ceftriaxon 2x500 mg
• Inj.metilprednisolon 3x10 mg
• Inj. Ranitidine 2x15 mg
• Salbutamol 3x1 mg pulv
• Inhalasi ventolin 1 resp + ns 2 cc/8 jam lanjut pulmicort 1 resp + ns 2cc tiap 6 jam
• Paracetamol syrup 4x1,5cth
PROGNOSIS
• Quo Ad vitam : Ad bonam
• Quo Ad functionam : Ad bonam
• Quo Ad Sanationum : Dubia ad bonam
FOLLOW UP
SENIN, 29 OKTOBER 2018 (PH-1)
Subjektif Objektif Assessment Planning

- Demam (-) KU: TSS Kes: CM GCS: 15 HR: 110 x/menit RR: - Toddler wheezing - Diet lunak
- Batuk (+) 37 x/menit Suhu: 36.60C BB: 12 kg - Bronkopneumonia - IVFD kaen IB 1000
- Mual (+) cc/hari
- Muntah (-) Status generalis - Inj. Ceftriaxon 2x500
mg
- BAB cair (-) Kepala: normocephali
- Inj.metilprednisolon
- Nafsu makan Mata: CA (-/-), SI (-/-), cekung (-/-) Hidung: 3x10 mg
dan minum baik NCH (-/-), secret (-/-) - Inj. Ranitidine 2x15 mg
Mulut: MB (+), sianosis (-) - Salbutamol 3x1 mg pulv
THT: Faring hiperemis (-) Tonsil T1-T1 - Inhalasi ventolin 1 resp
Leher: KGB tidak membesar. + ns 2 cc/8 jam lanjut
Thorax : BND vesikuler, rh (+/+), wh (+/+) BJ I- pulmicort 1 resp + ns 2cc
II reguler Abdomen : NTE-, BU (+) 9x/menit, tiap 6 jam
- Paracetamol syrup
turgor kembali cepat Extremitas : akral hangat
4x1,5cth
CRT < 2”
SELASA, 30 OKTOBER 2018 (PH-2)
Subjektif Objektif Assessment Planning

- Demam (-) KU: TSS Kes: CM GCS: 15 HR: 105 x/menit - Toddler wheezing - Diet lunak
- Batuk (+) RR: 23x/menit Suhu: 36.5C BB: 12 kg - Bronkopneumonia - Bolus aminofilin 72 mg aminofilin
- Mual (+) dalam 27cc D5% 30 cc selama
30
- Muntah (-) Status generalis
Menit selanjutnya infuse D5% +
- BAB cair (-) Kepala: normocephali
144mg (6cc) aminofilin
- Nafsu makan Mata: CA (-/-), SI (-/-), cekung (-/-) 500cc/hari
dan minum baik Hidung: NCH (-/-), secret (-/-) - Inj. Ceftriaxon 2x500mg
Mulut: MB (+), sianosis (-) - Inj. gentamisin 1x100 mg (h1)
THT: Faring hiperemis (-) Tonsil T1-T1 kemudian 1x70 mg (h2 dst)
Leher: KGB tidak membesar. - Inj.metilprednisolon 3x10 mg
Thorax : BND vesikuler, rh (+/+), wh (+/+) - Inj. Ranitidine 2x15 mg
BJ I-II reguler Abdomen : NTE-, BU (+) - Salbutamol 3x1 mg pulv
- Inhalasi ventolin 1 resp + ns 2 cc
9x/menit, turgor kembali cepat Extremitas
lanjut pulmicort 1 resp + ns 2cc tiap
: akral hangat CRT < 2”
6jam
- Paracetamol syrup 4x1,5cth
RABU, 31 OKTOBER 2018 (PH-3)
Subjektif Objektif Assessment Planning

- Demam (-) KU: TSS Kes: CM GCS: 15 HR: 108 x/menit - Toddler wheezing - Diet lunak
- Batuk (+) RR: 24 x/menit Suhu: 36.5C BB: 12 kg - Bronkopneumonia - O2 NC 1 lpm selama
- Mual (-) Status generalis sesak
- Muntah (-) Kepala: normocephali - IVFD kaen IB 1000
- BAB cair (-) Mata: CA (-/-), SI (-/-), cekung (-/-) Hidung: cc/hari
- Nafsu makan NCH (-/-), secret (-/-) - Inj. Ceftriaxon 2x500
dan minum baik Mulut: MB (+), sianosis (-) mg
THT: Faring hiperemis (-) Tonsil T1-T1 - Inj. Ranitidine 2x15
Leher: KGB tidak membesar. mg
Thorax : BND vesikuler, rh (-/-), wh (+/+) BJ I- - Inhalasi ventolin 1
II reguler Abdomen : NTE-, BU (+) 9x/menit, resp + ns 2 cc/8 jam
turgor kembali cepat Extremitas : akral hangat - Paracetamol syrup
CRT < 2” 4x1,5cth
KAMIS, 1 NOVEMBER 2018 (PH-4)
Subjektif Objektif Assessment Planning

- Demam (-) KU: TSS Kes: CM GCS: 15 HR: 108 x/menit - Toddler wheezing - Diet lunak
- Batuk (+) RR: 24 x/menit Suhu: 36.5C BB: 12 kg - Bronkopneumonia - O2 NC 1 lpm selama
berkurang Status generalis sesak
- Mual (-) Kepala: normocephali - IVFD kaen IB 1000
- Muntah (+) Mata: CA (-/-), SI (-/-), cekung (-/-) Hidung: cc/hari
pasca batuk NCH (-/-), secret (-/-) - Inj. Ceftriaxon 2x500
berisi dahak Mulut: MB (+), sianosis (-) mg
- BAB cair (-) THT: Faring hiperemis (-) Tonsil T1-T1 - Inj. Ranitidine 2x15
- Nafsu makan Leher: KGB tidak membesar. mg
dan minum baik Thorax : BND vesikuler, rh (-/-), wh (+/+) BJ I- - Inhalasi ventolin 1
II reguler Abdomen : NTE-, BU (+) 9x/menit, resp + ns 2 cc/8 jam
turgor kembali cepat Extremitas : akral hangat - Paracetamol syrup
CRT < 2” 4x1,5cth
JUMAT, 2 NOVEMBER 2018 (PH-5)
Subjektif Objektif Assessment Planning

- Demam (-) KU: TSS Kes: CM GCS: 15 HR: 108 x/menit - Toddler wheezing - Diet lunak
- Batuk (+) RR: 24 x/menit Suhu: 36.5C BB: 12 kg - Bronkopneumonia - O2 NC 1 lpm selama
berkurang Status generalis sesak
- Mual (-) Kepala: normocephali - IVFD kaen IB 1000
- Muntah (-) Mata: CA (-/-), SI (-/-), cekung (-/-) Hidung: cc/hari
- BAB cair (-) NCH (-/-), secret (-/-) - Inj. Ceftriaxon 2x500
- Nafsu makan Mulut: MB (+), sianosis (-) mg
dan minum baik THT: Faring hiperemis (-) Tonsil T1-T1 - Inj. Ranitidine 2x15
Leher: KGB tidak membesar. mg
Thorax : BND vesikuler, rh (-/-), wh (+/+) BJ I- - Inhalasi ventolin 1
II reguler Abdomen : NTE-, BU (+) 9x/menit, resp + ns 2 cc/8 jam
turgor kembali cepat Extremitas : akral hangat - Paracetamol syrup
CRT < 2” 4x1,5cth
ANALISIS KASUS
Batuk dirasakan sepanjang
Pasien di diagnosis Dari anamnesis didapatkan hari, dahak (+), darah (-). Ayah pasien memiliki
mengalami pasien mengalami batuk- Di lingkungan sekitar kebiasaan merokok di
bronkopneumonia dan batuk sejak 2 minggu SMRS tempat tinggal pasien tidak dalam rumah
toddler wheezing ada yang mengalami
batuk-batuk lama

Sedangkan asma adalah Berdasarkan teori pneumonia


Demam (-), keringat malam mengi berulang dan/atau adalah infeksi akut parenkim
hari (-), dan penurunan batuk persisten dengan Kejadian pneumonia pada paru yang meliputi alveolus
karakteristik seperti timbul anak dikatakan cukup tinggi
dan jaringan interstitial serta
berat badan (-) secara episodic, cenderung berdasarkan gejala dan
kecenderungan TB (-) pada malam/ dini hari tanda klinis serta perjalanan
(nocturnal), musiman penyakitnya

Dari tanda dan gejala


didapatkan mual dan Pada pemeriksaan Scoring TB Paru pada
muntah pasca batuk, muntah Pada PF: ronkhi +/+ dan laboratorium didapakan anak:, batuk-batuk lama
berisi dahak berwarna wheezing +/+ peningkatan kadar limfosit (+1) lainnya 0
kuning, mengarah pada 58% dan mantoux negative
infeksi bakteri

tatalaksana selanjutnya Pasien dengan saturasi Pada tatalaksana awal


dapat diberikan ceftriaxon oksigen ≤92% diberikan asma serangan ringan
2x500 mg, metilprednisolon terapi oksigen dengan kanul dapat dilakukan nebulisasi Pasien tidak mengalami TB
3x10mg, ranitidine nasal agar saturasi oksigen 1-3x selang 20 menit dan paru
2x15mg, salbutamol 3x1 >92% nebulisasi ketiga ditambah
mg pulv antikolinergik
KESIMPULAN
Pneumonia
merupakan penyakit
infeksi saluran Ada beberapa cara
pernapasan akut mikroorganisme
yang masih menjadi penyebab pneumonia
masalah kesehatan di masuk sampai
dunia, terutama menginfeksi saluran
pada anak. pernapasan.

Insiden dan Terdapat beberapa


prevalensi kejadian faktor risiko
pneumonia di terjadinya
Indonesia masih pneumonia.
dikatakan cukup
tinggi.
PENDAHULUAN
Pneumonia adalah infeksi
akut parenkim paru yang
meliputi alveolus dan
jaringan interstitial

Patogenesis inokulasi
langsung, penyebaran Salah satu penyebab
melalui pembuluh kematian pada anak-
darah, inhalasi bahan anak di seluruh dunia
aerosol, dan kolonisasi
dipermukaan mukosa

Klasifikasi pneumonia Indonesia termasuk


dibagi berdasarkan dalam urutan ke 8,
klinis dan yaitu sebanyak 22.000
epidemiologis, etiologi, kematian
dan predileksi
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI PNEUMONIA
“Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi
alveolus dan jaringan interstitial.”

Pudjiadi AH, Badrul H, Setyo H et al. 2009. Pedoman Pelayanan Medis


Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
EPIDEMIOLOGI PNEUMONIA

Salah satu penyebab kematian pada anak nomor 2 setelah diare

Insidens pneumonia pada anak <5 tahun di negara maju adalah 2-4
kasus/100 anak/tahun, sedangkan di negara berkembang 10-20
kasus/100anak/tahun

Indonesia urutan ke-8 (22.000 kematian)

Kemenkes RI 2018 kasus pneumonia pada balita terbanyak pada


provinsi DKI Jakarta (98,66%)
KLASIFIKASI PNEUMONIA
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2003)

Klinis dan Etiologi Predileksi Infeksi


Epidemiologis
• Pneumonia komuniti • Pneumonia bakterial • Pneumonia lobaris
• Pneumonia atau tipikal • Bronkopneumonia
nosokomial • Pneumonia atipikal • Pneumonia interstisial
• Pneumonia aspirasi • Pneumonia virus
• Pneumonia pada • Pneumonia jamur
penderita
Immunocompromised
Menurut WHO

Bayi kurang Anak umur 2


dari 2 bulan bulan – 5 tahun

Pneumonia Pneumonia
berat ringan

Pneumonia Pneumonia
sangat berat
berat

Pneumonia
sangat
berat
ETIOLOGI PNEUMONIA
FAKTOR RISIKO

Jenis Kelamin Umur

Status Imunisasi Status ASI Eksklusif


Campak dengan dengan Kejadian
Kejadian Pneumonia Pneumonia pada
pada Balita Balita
PATOGENESIS PNEUMONIA
DIAGNOSIS PNEUMONIA
TATALAKSANA PNEUMONIA

Tatalaksana Pemberian
Umum Antibiotik
DEFINISI ASMA
“Asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik
sebagai berikut: timbul secara episodic, cenderung pada malam/ dini hari
(nocturnal), musiman, setelah aktivitas fisik serta terdapat riwayat asma atau
atopi lain pada pasien dan/atau keluarganya.”

“Eksaserbasi (serangan asma) adalah episode perburukan gejala-gejala


asma secaa progresif.”

Pudjiadi AH, Badrul H, Setyo H et al. 2009. Pedoman Pelayanan Medis


Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
KLASIFIKASI
ASMA
DIAGNOSIS ASMA
TATALAKSANA ASMA
DAFTAR PUSTAKA
1. Pudjiadi AH, Badrul H, Setyo H et al. 2009. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
2. Frini M, Nurdin R, dan Herman. Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Wilayah
Kerja Puskesmas Kamonji Kota Palu. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2018:1(9): 34-37.
3. Sutarjo US, Didik B, Rudy K et al. 2018. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia
2017. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Pneumonia Komuniti Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan Di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
5. Puspitasari DE, dan Fariani S. Faktor Risiko Pneumonia Pada Balita Berdasarkan Status
Imunisasi Campak Dan Status ASI Eksklusif. Jurnal Berkala Epidemiologi,2015:1(3): 69-81.
6. Rahajoe NN, Bambang S, dan Darmawan BS. 2008. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi
Pertama. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.