Anda di halaman 1dari 44

TRANSFER PASIEN

Dr. Qodri F Tanjung, Sp. An, KAKV


TRANSFER PASIEN

Memindahkan pasien dari satu ruangan ke


ruang perawatan / ruang tindakan lain di dalam
RS (intra RS) atau memindahkan pasien dari 1
RS ke RS lain (antar RS). Termasuk juga
transfer dari lapangan (pre hospital) ke RS atau
dari RS ke rumah pasien.
TUJUAN MANAJEMEN TRANSFER PASIEN

Agar pelayanan transfer pasien dilaksanakan


secara profesional dan berdedikasi tinggi.
Agar proses transfer pasien berlangsung
aman, lancar dan pelaksanaannya
memperhatikan keselamatan pasien serta
seragam sesuai dengan prosedur yang telah
ditetapkan.
Untuk memenuhi kebutuhan pasien.
KEPUTUSAN TRANSFER PASIEN
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum diputuskan transfer :
1. Lakukan pendekatan yang sistematis dalam proses transfer pasien. Yaitu
tahapan perencanaan, evaluasi, komunikasi, dokumentasi, pemantauan,
penatalaksanaan, dan penyerahan pasien.
2. Awali dengan pengambilan keputusan melakukan transfer, kemudian lakukan
stabilisasi pre transfer dan manajemen transfer.
3. Pasien hanya diterima apabila RS dapat menyediakan pelayanan yang
dibutuhkan melalui proses skrining, misalnya di RSU tidak ada endoskopi,
bedah digestif, bedah ortopedi, dll.
4. Proses dan keputusan transfer pasien adalah berdasarkan atas status kesehatan
dan kebutuhan pelayanan selanjutnya.
5. Petugas kesehatan wajib menjelaskan kepada pasien tujuan transfer dan
meminta persetujuan / penolakan transfer dengan informed consent bila perlu.
6. Harus diingat bahwa transfer berpotensi mengekspos pasien dan personil RS
akan risiko bahaya tambahan, serta menambah kecemasan keluarga dan
kerabat pasien. Pengambilan keputusan harus melibatkan DPJP utama, DPJP
tambahan dan dokter umum.
KEPUTUSAN TRANSFER PASIEN
7. Saat keputusan transfer telah diambil, paramedis yang
bertanggung jawab (paling senior) / supervisor sebagai
komunikator akan menghubungi dan bernegosiasi dengan unit
yang dituju / RS yang memiliki MoU serta memiliki fasilitas
yang dibutuhkan pasien. Pasien harus dikategorikan sebagai
tipe ”emergency” atau “non emergency/elektif”.
8. Dokumentasi harus mencantumkan nama dokter yang
mengambil keputusan (berikut gelarnya), tanggal dan waktu
diambilnya keputusan, serta alasan yang mendasari. Selain itu
juga harus dicatat dalam form transfer pasien yang meliputi:
nama, jabatan, dan detail kontak personel yang membuat
kesepakatan baik di RS yang merujuk dan RS penerima,
tanggal dan waktu dilakukannya komunikasi antar RS serta
saran-saran / hasil negosiasi kedua belah pihak.
KEPUTUSAN TRANSFER PASIEN
9. Terdapat 4 alasan untuk transfer pasien:
a. Transfer untuk penanganan dan perawatan spesialistik lebih lanjut
b.Transfer antar RS untuk alasan non medis (misalnya karena ruangan
penuh, fasilitas kurang mendukung, jumlah petugas RS tidak
adekuat,dll)
c. Repatriasi / pemulangan kembali
d.Transfer pasien sementara (untuk melakukan pemeriksaan / tindakan
yang tidak dapat dilakukan di RS dan tidak memerlukan rawat inap)
12. Bagi pasien yang tidak tersedia kebutuhannya atau tempat tidur pada
unit yang dituju maupun di seluruh RS, maka kepada pasien ditawarkan
perawatan sementara di RS baik di IGD maupun di ruang rawatan
lainnya. Hal ini wajib terdokumentasi dalam rekam medis pasien,
persetujuan perawatan atau informed consent (k/p).
13. Supir ambulans harus diberitahu sesegera mungkin jika keputusan untuk
melakukan transfer telah dibuat termasuk tipe pasien yang ditransfer.
STABILISASI PRE TRANSFER DAN
MONITORING TRANSFER PASIEN
1. Meskipun menambah resiko bahaya terhadap pasien, transfer yang aman
dapat dilakukan bahkan pada pasien yang sakit berat dengan syarat pasien
distabilkan dulu.
2. Hal penting sebelum transfer adalah stabilkan C, A dan B. Kemudian
pastikan :
– Terdapat jalur/ akses vena yang adekuat, misalnya kanula perifer atau sentral (k/p)
– Pengukuran dan monitoring vital sign (Sens, HR, RR, Temp, TD, dan Nyeri)
termasuk saturasi oksigen serta lindungi telinga/mata pasien selama proses
transfer berlangsung.
– Pengukuran tekanan intracranial (k/p)
– Jika terdapat pneumotoraks, selang drainase dada (Water-Sealed Drainage-WSD)
harus terpasang dan tidak boleh diklem.
– Pasang kateter urin dan NGT (k/p)
– Tatalaksana pasien tidak boleh ditunda saat menunggu pelaksanaan transfer.
– Pada pasien yang terpasang ventilator, lakukan pemantauan suplai oksigen,
airway pressure, dan pengaturan ventilator.
STABILISASI PRE TRANSFER DAN
MONITORING TRANSFER PASIEN
3. Unit / RS yang dituju dapat memberikan saran mengenai resusitasi yang perlu
dilakukan pada situasi khusus, namun tanggung jawab tetap pada tim transfer.
4. Tim transfer harus familiar dengan obat dan alkes yang ada. Obat dan alkes tsb harus
dicek rutin oleh Karu IGD dan petugas transfer. (Daftar obat dan alkes terlampir)
5. Gunakan formulir cek- list transfer antar RS untuk memastikan semua persiapan
telah lengkap. Bawa pula form transfer yang diperlukan misalnya form monitoring
transfer. Lalu catatlah status pasien, tanda vital termasuk saturasi oksigen,
pengukuran pada monitor, tatalaksana yang diberikan, dan informasi klinis lainnya.
6. Untuk peralatan transfer mohon diperhatikan hal berikut :
– Hindari penggunaan tiang dengan selang infus yang banyak agar akses terhadap
pasien tidak terhalang dan stabilitas brankar terjaga baik.
– Penggunaan tabung O2 harus aman dan terpasang dengan baik.
– Peralatan listrik harus dapat berfungsi dengan baterai. Baterai tambahan juga
harus dibawa
– Monitor portabel memiliki layar jernih dan terang serta memperlihatkan
gambaran EKG, saturasi oksigen arteri, pengukuran tekanan darah, dll.
– Alarm dari alat harus terlihat jelas dan terdengar dengan cukup keras
PENDAMPINGAN TRANSFER PASIEN
1. Kebutuhan akan jumlah petugas yang mendampingi pasien bergantung pada
kondisi klinis dari tiap kasus.
2. Dokter jaga bersama DPJP/dokter Anestesi (k/p) menentukan petugas
pendamping pasien selama transfer.
3. Petugas pendamping harus paham akan kondisi pasien dan aspek lainnya
yang berkaitan dengan proses transfer misalnya harus membawa HP berisi
nomor telepon RS dan RS tujuan supaya dapat berkomunikasi mengenai
penanganan medis yang diperlukan dan memberikan update
perkembangannya.
4. Berikut pasien yang tidak memerlukan pendampingan dokter spesialis
anestesi :
– Pasien yang dapat mempertahankan patensi jalan napasnya dengan baik
dan tidak membutuhkan bantuan ventilator
– Pasien yang ditransfer untuk tindakan manajemen definitif akut di mana
intervensi anestesi tidak akan mempengaruhi hasil.
– Pasien dengan perintah ‘Do Not Resuscitation’ (DNR).
– Pasien level 3 yang disetujui dokter spesialis anestesi untuk ditemani cukup
oleh dokter jaga ICU.
KATEGORI PASIEN UNTUK TRANSFER

Derajat 0 :
Pasien yang dapat terpenuhi kebutuhannya dengan ruang rawat
biasa di unit / RS yang dituju

Derajat 1 :
Pasien dengan risiko perburukan kondisi, atau pasien yang
sebelumnya menjalani perawatan di ICU; di mana membutuhkan
perawatan di ruang rawat biasa dengan saran dan dukungan
tambahan dari tim perawatan kritis (k/p).
KATEGORI PASIEN UNTUK TRANSFER

Derajat 2 :
Pasien yang membutuhkan observasi / intervensi lebih ketat, termasuk
penanganan kegagalan satu sistem organ atau perawatan pasca-
operasi, dan pasien yang sebelumnya dirawat di ICU.

Derajat 3:
Pasien yang membutuhkan advanced respirator support dengan
dukungan / bantuan pada minimal 2 sistem organ, termasuk
pasien yang membutuhkan penanganan kegagalan multi-organ.
KOMPETENSI SDM UNTUK TRANSFER INTRA RS
KOMPETENSI SDM UNTUK TRANSFER ANTAR RS
ALAT TRANSPORTASI UNTUK TRANSFER PASIEN ANTAR RS
1. Gunakan mobil ambulans RSU Mitra Medika yang telah dilengkapi soket listrik 12 V
2. Sebelum transfer, pastikan standar peralatan telah lengkap oleh supir ambulans.
3. Standar Peralatan di Ambulans:
a. Suplai oksigen
b. Ventilator portable
c. Baterai cadangan
d. Syringe / infusion pumps (tinggi pompa sebaiknya tidak melebihi posisi pasien)
e. Alat penghangat ruangan portabel (untuk mempertahankan temperatur pasien)
f. Monitor dan Alat kejut jantung (defibrillator)
g. Obat-obatan emergency
h. Scoop stretcher/long spine board/rostrul/branchard,dll
4. Tim transfer dapat memberi saran mengenai kecepatan ambulans yang diperlukan, dengan
mempertimbangkan kondisi klinis pasien.
5. Keputusan menggunakan sirene diserahkan ke supir ambulans.
6. Pendampingan oleh polisi dapat dipertimbangkan pada area yang sangat padat penduduknya
7. Petugas harus tetap duduk selama transfer dan menggunakan sabuk pengaman.
8. Jika terdapat kegawatdaruratan medis dan pasien membutuhkan intervensi segera,
berhentikan ambulans di tempat yang aman dan lakukan tindakan yang diperlukan.
9. Jika petugas diperlukan untuk turun dari ambulans, gunakanlah pakaian yang jelas terlihat
oleh pengguna jalan lainnya.
PROSES PENYERAHAN TRANSFER PASIEN ANTAR RS

1. Saat tiba di RS tujuan, harus ada proses serah terima pasien


antara tim transfer dengan pihak RS yang menerima (dokter dan
paramedis) yang akan bertanggungjawab terhadap perawatan
pasien selanjutnya.
2. Untuk proses serah terima pasien harus mencakup pemberian
informasi (baik secara verbal maupun tertulis) mengenai riwayat
penyakit pasien, tanda vital, hasil pemeriksaan penunjang
(laboratorium, radiologi), terapi, dan kondisi klinis selama
transfer berlangsung menggunakan form serah terima pasien.
3. Hasil pemeriksaan laboratorium, radiologi, dan yang lainnya
(termasuk status administrasi) harus dideskripsikan dan
diserahterimakan kepada petugas RS tujuan.
4. Setelah serah terima pasien terkait hal-hal diatas selesai
dijelaskan maka tim transfer dibebas tugaskan dari kewajiban
kemudian izin kepada pasien/keluarga/wali dan petugas RS
tujuan.
Daftar Obat Transfer Antar RS
No Nama Obat Jumlah Satuan

1 Ringer Laktat 500 ml 4 botol

2 NaCl 0,9% 500 ml 4 botol

3 Epinephrine Injeksi 4 ampul

4 Sulfas Atropine 6 ampul

5 Diazepam/Stesolid Injeksi 2 ampul

6 Ketorolac Injeksi 2 ampul

7 Asam Traneksamat Injeksi 2 ampul

8 Dexametason Injeksi 2 ampul

9 Furosemide Injeksi 2 ampul

10 ISDN tablet 4 tablet

11 Aspilet/Aptor Tablet 2 tablet

12 Clopidogrel Tablet 4 tablet

13 Lidocain 4 ampul

14 Atracurium/Notrixium* 1 vial

15 Amiodaron 2 Ampul
Daftar Alkes Transfer Antar RS
No Nama Alkes Jumlah Satuan No Nama Alkes Jumlah Satuan

1 Monitor Transport* 1 Buah 22 Ambu bag bayi* 1 buah


2 APAR* 1 Buah 23 Kassa Steril 1 kotak
3 AED* 1 Buah 24 Simple mask dewasa* 1 buah
4 Oksigen Transport* 1 Buah 25 Simple mask anak* 1 buah
5 Scope stretcher/Long 1 Buah 26 Simple mask bayi* 1 buah
spine board* 27 Selang oksigen dewasa 1 buah
6 Bidai Set* 1 Set
28 Selang oksigen anak 1 buah
7 Kotak P3K* 1 Set
29 Selang oksigen bayi 1 buah
8 Minor Set* 1 Set
30 Rebreathing mask 1 buah
9 Oksimeter* 1 Buah dewasa*
10 Glucosemeter* 1 Set 31 Rebreathing mask anak* 1 buah
11 Stik KGD* 4 Buah 32 Abocath No 14 2 buah
12 Hemoject* 1 Buah 33 Abocath No 16 2 buah
13 Lanset* 4 Buah 34 Abocath No 18 2 buah
14 Suction Manual 1 Buah 35 Abocath No 20 2 buah
15 Colar neck (Hard)* 1 buah 36 Abocath No 22 2 buah
16 Stetoskop dewasa* 1 buah 37 Abocath No 24 2 buah
17 Stetoskop anak* 1 buah 38 Abocath No 26 2 buah
18 Tensimeter* 1 buah 39 Threeway 1 buah
19 Termometer* 1 buah 40 Oneway 1 buah
20 Ambu bag dewasa* 1 buah 41 Tegaderm 2 buah
21 Ambu bag anak* 1 buah 42 Spuit 60 cc 1 buah
Daftar Alkes Transfer Antar RS
No Nama Alkes Jumlah Satuan

43 Spuit 10 cc 2 buah
44 Spuit 5 cc 4 buah
45 Spuit 3 cc 6 buah
Keterangan :
46 LMA No 2 1 buah
47 LMA No 3 1 buah
48 LMA No 4 1 buah
49 NGT No 5 1 buah
50 NGT No 18 1 buah Tas obat dan alkes
51 KY Jelly 1 buah
52 Apron* 4 buah
emergency diambil
53 Handscoon Steril No 7-8 @2 Set
di Instalasi Farmasi
54 Handscoon Non Steril @4 Set

55
No 7-8
Masker 4 buah
sebelum transfer
56 Hypafix 1 kotak
57 Selang Suction soft* 1 buah
58 Selang Suction hard* 1 buah
59 Mesin Suction* 1 buah
60 Selimut Penghangat* 1 buah
61 Senter penlight 1 buah

*Tersedia khusus di mobil ambulans


Asesmen Resiko Jatuh
Pengkajian resiko jatuh dimulai dari awal pasien masuk RS baik dari
IGD atau poliklinik dengan tujuan rawat jalan maupun rawat inap.
Asesmen resiko jatuh rawat jalan dilakukan dengan tools Get Up and
Go sedangkan untuk rawat inap digunakan tools Humpty-Dumpty
untuk pasien anak <18 tahun, tools Morse Fall Scale untuk pasien 18-
65 tahun dan tools Sydney Fall Scale untuk pasien >65 tahun.

Asesmen ulang resiko jatuh


• Dilakukan oleh paramedis rawat inap setiap shift
• Setiap pasien baik rawat jalan maupun rawat
inap akan dilakukan asesmen ulang pada saat transfer ke unit/RS lain, a
danya perubahan kondisi pasien dan pengaruh penggunaan obat-
obatan, atau adanya kejadian jatuh pada pasien
KRITERIA MASUK ICU
• Kelompok Pasien Prioritas 1 • Kelompok Pasien Prioritas 2
Merupakan kelompok pasien Merupakan kelompok yang
kritis, tidak stabil yang memerlukan pelayanan
memerlukan terapi intensif dan
tertitrasi, seperti: pemantauan canggih di ICU, sebab
dukungan/bantuan ventilasi dan sangat beresiko bila tidak
alat bantú suportif organ/sistem mendapatkan terapi intensif segera.
yang lain, infus obat-obat Contoh pasien seperti ini antara
vasoaktif kontinyu, obat anti
arritmia kontinyu, pengobatan lain mereka yang menderita
kontinyu tertitrasi dll. Contoh penyakit dasar jantung paru,
kelompok ini antara lain, pasca gagal ginjal akut, dan berat atau
bedah kardiotorasik, pasien yang telah mengalami
sepsis berat, gangguan
keseimbangan asam basa dan pembedahan mayor.
elektrolit yang mengancam
nyawa.
Kelompok Pasien Prioritas 3
Pasien kelompok ini merupakan pasien
sakit kritis, yang tidak stabil status kesehatan
sebelumnya, penyakit yang mendasarinya, atau
penyakit akutnya, secara sendirian atau kombinasi.
Kemungkinan sembuh dan/atau manfaat terapi di ICU
pada golongan ini sangat kecil.
Contoh pasien ini antara lain pasien dengan
keganasan metastatic disertai penyulit infeksi,
pericardial tamponade, sumbatan jalan nafas,
atau pasien dengan penyakit jantung, penyakit
paru terminal disertai komplikasi penyakit akut
berat. Pengelolaan pada pasien golongan ini hanya
untuk mengatasi kegawatan akutnya saja, dan usaha
terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau
resusitasi jantung paru.
• Pengecualian
Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan Kepala
ICU, Indikasi masuk pada beberapa golongan pasien bisa
dikecualikan dengan catatan bahwa pasien golongan-golongan
ini demikian waktu dapat dikeluarkan dari ICU agar fasilitas
ICU yang terbatas dapat dipergunakan pada pasien prioritas
1,2,3. Pasien dengan golongan ini antara lain :
– Pasien yang memenuhi kriteria masuk tetapi menolak terapi tunjangan
hidup yang agresif dan hanya demi perawatan yang aman saja. Ini tidak
menyingkirkan pasien dengan perintah DNR. Pasien ini mungkin
mendapat manfaat dari tunjangan canggih yang tersedia di ICU untuk
meningkatkan kemungkinan survival-nya.
– Pasien dengan keadaan vegetative permanen atau pasien yang telah
dipastikan mengalami Mati Batang Otak (MBO). Menurut PMK No. 37
Tahun 2014, penentuan MBO hanya dapat dilakukan oleh tim dokter
yang terdiri dari 3 dokter yang kompeten (dr.Sp.An, dr.Sp.S dan DPJP
utama atau sesuai keputusan Komite Medis) secara mandiri dan
terpisah.
KRITERIA KELUAR ICU
Indikasi pasien keluar dari ICU:
 Pasien yang hanya memerlukan
 Pasien tidak memerlukan lagi terapi intensif
karena membaik dan stabil.
observasi intensif saja, sedangkan
 Stabil  suatu keadaan hemodinamik, dengan : ada pasien yang lebih gawat dan
– Tekanan darah sistolik > 90 mmHg, MAP > 65 mmHg lebih memerlukan terapi atau
tanpa bantuan obat-obatan, tetapi tidak krisis pemantauan intensif lebih lanjut.
hipertensi atau hipertensi berat dengan komplikasi
– Bernafas spontan dan baik ritmenya,  Pasien atau keluarga menolak untuk
– Denyut jantung relatif normal berdasarkan usia, dirawat lebih lanjut di ICU / pulang
– Nyeri ringan atau tidak ada nyeri termasuk tidak ada paksa.
nyeri kardiak,
– Suhu tubuh (36,5°C -40°C) dan,
– Sadar baik atau terdapat kontak terhadap
lingkungan sekitar.
 Pasien yang dengan terapi atau pemantauan
intensif tidak diharapkan atau tidak memberikan
hasil, sedangkan manfaat yang didapatkan kecil.
Pasien pada waktu itu tidak menggunakan
ventilator yaitu , pasien yang mengalami MBO
dan pasien terminal / stadium akhir.
PEMINDAHAN PASIEN
• Pemindahan ini dapat dari tempat tidur ke brankar atau
dari 1 tempat tidur ke tampat tidur lain atau dari tempat
tidur ke kursi roda. Pemindahan ini biasanya dilakukan
pada pasien yang tidak dapat atau tidak boleh melakukan
pemindahan sendiri.
Alat dan Bahan :
– Brankar atau tempat tidur
– Bantal (k/p)
– Oksigen portable (k/p)
– Strecher (k/p)
– Tiang infus
KETENTUAN PENGANGKATAN/PEMINDAHAN PASIEN

• Pada waktu mengangkat pasien hendaknya


menggunakan otot-otot tungkai atas dan panggul
KETENTUAN PENGANGKATAN/PEMINDAHAN PASIEN
• Tekukkan kedua lutut sehingga punggung membuat lengkungan,
saat menempatkan lengan di bawah / di belakang tubuh pasien
• Untuk mengangkat pasien, paramedis harus meluruskan kedua
lutut dan kalau mungkin pasien diangkat setinggi panggul
• Sebelum dan ketika berjalan hendaknya punggung anda berada
dalam keadaan lurus
• Tekukkan kembali kedua lutut anda (paramedis) ketika
membaringkan atau mendudukkan kembali pasien
• Mengangkat pasien dengan 2 atau 3 orang paramedis gerakan
harus dilakukan secara serentak
• Pada saat mengangkat pasien yang berbaring, maka orang yang
paling besar dan kuat harus berada pada bagian kepala pasien
• Catat prosedur dalam catatan keperawatan
SPO PEMINDAHAN PASIEN
• 2 atau 3 paramedis dengan tinggi badan kurang lebih sama
yang berdiri berdampingan menghadap tempat tidur pasien
• Setiap orang bertanggung jawab untuk salah satu dari area
tubuh pasien (kepala dan bahu, panggul, paha, dan
pergelangan kaki)
• Masing-masing paramedis membentuk dasar pijakan yang
luas yang mendekat ke tempat tidur di depan, lutut agak
fleksi
• Lengan paramedis ditempatkan di bawah kepala dan bahu,
panggul, paha, dan pergelangan kaki pasien,dengan jari
jemari mereka menggenggam sisi tubuh pasien
• Paramedis menggulingkan pasien ke arah dada mereka
• Pada hitungan ke-3, pasien diangkat dan digendong ke arah dada
paramedis
• Pada hitungan ke-3 yang kedua, paramedis melangkah ke
belakang dan menumpu salah satu kaki mengarah ke brankar atau
tempat tidur lain, dengan bergerak ke depan bila perlu
• Paramedis dengan perlahan menurunkan pasien ke bagian tengah
brankar atau tempat tidur lain dengan memfleksikan lutut dan
panggul mereka sampai siku mereka pada setinggi tepi brankar
atau tempat tidur
• Paramedis mengkaji kesejajaran tubuh pasien, tempatkan pagar
tempat tidur pada posisi terpasang
• Posisikan pasien pada posisi yang dipilih
• Observasi pasien untuk menentukan respons terhadap pemindahan.
Observasi terhadap kesejajaran tubuh yang tepat dan adanya
titik tekan
SPO PENGANGKATAN PASIEN
• 2 atau 3 paramedis dengan tinggi badan kurang lebih sama
yang berdiri berdampingan menghadap tempat tidur pasien
• Silangkan tangan di depan dada
• Tekuk lutut anda (paramedis) kemudian masukkan tangan ke
bawah tubuh pasien
• Paramedis pertama meletakkan tangan di bawah leher atau
bahu dan bawah pinggang, paramedis kedua meletakkan
tangan di bawah pinggang dan panggul pasien, paramedis
ketiga meletakkan tangan di bawah panggul dan kaki
• Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchard
• Atur posisi pasien di branchard
CARA MEMINDAHKAN PASIEN KE
BRANCHARD (2 ORANG)
POSISI MEMINDAHKAN PASIEN (2 ORANG)
MEMINDAHKAN PASIEN DARI TEMPAT TIDUR KE
KURSI RODA DAN SEBALIKNYA
• Letakkan kursi roda sejajar dengan tempat tidur.
• Naikkan tempat tidur pada bagian kepala sampai pada ketinggian yang
dapat di toleransi klien.
• Bantu pasien untuk miring menghadap ke arah kursi roda di letakkan.
• Bantu pasien pada posisi duduk pada sisi tempat tidur dan bantu pasien
untuk merapikan pakaian dan memakai sandal.
• Perawat berdiri dengan menghadap pasien dengan posisi kuda-kuda.
• Anjurkan pasien untuk memegang bahu perawat dan perawat memegang
pinggang klien. Bila perlu gunakan ikat pinggang.
• Bantu pasien untuk berdiri, yakinkan keseimbangan pasien dan kaji adanya
pusing, pastikan kursi roda dalam keadaan terkunci.
• Bantu pasien untuk melangkah ke arah kursi roda berlawanan arah
(mundur) perlahan-lahan.
• Bantu pasien untuk duduk di kursi roda dan meletakkan kakinya di pijakan
kursi roda.
• Buat pasien nyaman dengan menutup paha dengan selimut (bila
diperlukan).
MEMINDAHKAN PASIEN DARI TEMPAT TIDUR KE
KURSI RODA DAN SEBALIKNYA
SOAL KASUS TRANSFER
DERAJAT 2 DAN 3
SOAL KASUS DERAJAT 2
• Seorang pria berusia 45 tahun baru selesai
menjalani post op appendiks. Tanda- tanda
vital dalam batas normal. Pasien sudah bisa
dipindahkan keruangan. Perawat IBS
menghubungi perawat ruangan untuk
menjemput pasien.
Bagaimana prosedur perpindahan pasien dari
IBS ke ruangan??
SOAL KASUS DERAJAT 3
• Seorang wanita usia 57th dirawat di ICU RS
Medika dengan penurunan kesadaran ec
Stroke hemoragic dd SOL. TD: 160/90,
HR:92x/i, RR 28x/i, T:37,6, GCS: E:2,V:2,M:2.
• Pasien disarankan rujuk untuk penanganan
lebih lanjut.
• Bagaimanakah prosedur memindahkan pasien
ke RS lain dalam keadaan seperti ini ???
FORM TERKAIT TRANSFER
INTRA DAN ANTAR RS
FORM TERKAIT TRANSFER INTRA RS
FORM TERKAIT TRANSFER ANTAR RS

SURAT
RUJUKAN
CHECK-LIST
TRANSFER
ANTAR RS
MONITORING
PASIEN
TRANSFER
TANDA
TERIMA
RUJUKAN