Anda di halaman 1dari 23

SYPHILIS

lues / raja singa

Merupakan penyakit sistemik yang


menular disebabkan oleh sphirochete
treponema , mempunyai karakteristik
sebagai penyakit asimptomatik selama
bertahun-tahun, bersifat laten. Dapat
mengenai jaringan vascular pada tubuh
dan menular dari ibu ke bayi yang
dilahirkan
Klasifikasi:
Accquired (didapat) dan congenital
Syphilis primair adalah stadium pada acquired syphilis
dimana terjadi lesi primer
Syphilis sekunder adalah stadium pada acquired syphilis
yang ditandai dengan terjadinya lesi dermatologic
Tertiary syphilis
Early infectious syphilis dibagi menjadi early latent dan late
latent
Latent syphilis diidentifikasikan sebagai symptomatic late
atau tertiary syphilis
Late syphilis kmd diklasifikasikan sebagai benign tertiary (or
late benign) syphilis, cardiovascular syph, dan neuruo
syphilis.
•acquired : 1. primer ( lesi primer).
2. sekunder (lesi dermatologic).
3. tertiary (latent syphilis) :
early latent dan late latent
( neuro, cardio vasc syphilis)

•congenital
Acquired syphilis
Etiologi dan patologi

• Treponema pallidum, merupakan organisme dengan bentuk spiral


dengan tebal 0.25 u dan panjang 5-20 u

• Tidak dapat tumbuh di dalam media buatan, tidak dapat hidup lama
diluar tubuh manusia, akan tetapi dapat dipertahankan hidup beberapa
jam pada media khusus dan pada temperatur dibawah titik beku.

• Pada acquired syphilis, T pallidum memasuki tubuh melalui membran


mukosa atau terdapatnya luka pada kulit

• Dalam beberapa jam dapat mencapai limphonodi regional dan segera


menyebar keseluruh tubuh.

• Jaringan tubuh bereaksi dengan terjadinya perivaskular infiltration dari


limfosit, plasma sel, fibroblast, terjadi scar tissue formation
Pada late syphilis

dapat terjadi gummatous ulceration dan


nekrosis
Terjadi proses degeneratif pada kardiovaskuler
dan sentral nervous system
• T pallidum memasuki CNS pada awal infeksi, pada tahap
kedua dari penyakit lebih dari 30% penderita kelainan
CNS
• Setelah 5-10 tahun mengalami infeksi, secara prinsip
penyakit telah mengenai meninges dan pembuluh darah
sehingga terjadi meningovascular neurosyphilis
• Kemudian parenchym dan spinal cord terkena, mengalami
kerusakan dan keadaan degeneratif, menyebabkan
terjadinya parenchymatous neurosyphilis
• Kemudian terjadi kerusakan pada cerebral cortex,
keseluruhan permukaan meniges mengakibatkan general
paresis.
• Proses degenerasi terjadi pada posterior collumns dan root
ganglia dari spinal cord menghasilkan suatu keadaan tabes
dorsalis
Epidemiology
• Penyebaran penyakit biasanya melalui sexual intercourse,
kadang2 melalui kissing atau body contact
• Penderita syphilis primer atau sekunder yang tidak diobati
yang mempunyai lesi aktif merupakan penderita yang
sangat infeksius (risiko paling besar pada 2 tahun pertama),
pada masa ini treponema tersebar diseluruh tubuh.
• Setelah 2 tahun terjadi penurunan
• Early latent syphilis juga mempunyai potensi bersifat
infeksius, akan tetapi tidak pada late latent syphilis
• Infeksi dengan syphilis tidak menimbulkan kekebalan ,
khususnya pada pengobatan anti syphilis diberikan pada
awal terjadinya penyakit
Gejala klinis
• Masa inkubasi bervariasi dari 1-13 minggu, biasanya
berkisar 3-4 minggu
• Lesi primer biasanya muncul 4 minggu setelah terjadinya
infeksi, mengalami peningkatan pada 4-8 minggu pada
penderita yang tidak diobati
• Pada secondary syhilis cutaneous syphilis rashes biasanya
terjadi pada 12 minggu setelah infeksi
• Phase laten: dapat terjadi beberapa tahun tahun tidak
menampakkan gejala
• Pada penderita yang tidak diobati, 1/3 dari penderita yang
terinfeksi mengalami “late” atau tertiary syphilis, hal ini dapat
terjadi setelah beberapa tahun dari initial infeksi
• Inscidence dari late syphilis mengalami yang penurunan
tidak terjadi karena peningkatan diagnosis dan pengobatan,
akan tetapi oleh karena banyak dari penderita dengan early
dan latent syphilis mendapatkan pengobatan dengan
treponemicidal antibiotik ( mis. nya penisilin) untuk
penyakit2 yang tidak berhubungan dengan syphilis

• Cardiovascular syphilis merupakan manifestasi serius dari


tertiary siphilis, biasanya muncul setelah 10-40 tahun
setelah initial infeksi

• 10-12% dari penderita yang tidak diobati akan mengalami


neuro syphilis
Symptoms dan signs
Primary syphilis
• Lesi primer berupa papula merah yang dengan cepat berubah menjadi
ulcer yang tidak sakit
• Biasanya single, dapat terjadi multiple, mempunyai undurasi, dengan
dasar keras
• Tidak berdarah, akan tetapi dapat mengandung eksudat berisi serum
yang mengandung T. pallida yang banyak
• Sekitar ulcer berwarna merah (red areola)
• Regional nodus limphaticus menjadi membesar, berisi cairan, indolent,
tidak sakit pada perabaan (palpasi)
• Kebanyakan lesi primer terdapat pada alat (area) genital
• Pada laki2: terdapat pada penis, anus, rectum
• Pada wanita : pada vulva, cervix, pernieum
• Extra genital lesi dapat terjadi pada: bibir, lidah, tonsill. Jari, jarang pada
bagian lain.
Gambaran klinis pada wanita dan pria
Gambaran penyakit pada alat kelamin pria dan wanita
Gambaran kelainan pada kulit
Secondary syphilis
• Biasanya terjadi 2 bulan setelah infeksi
• 80% penderita mengalami mucocutaneous lesi
• 50% mengalami pembesaran limfonodi
• 10% mengalami lesi pada mata, tulang dan sendi,
meninges, liver.
• Terdapat rasa sakit pada tulang, pyrexia, jaundice,
albuminuria, kaku leher (neck stiffness)
• Pada tahap ini beberapa penderita mengalami acute
syphilitic meningitis dengan gejala pusing, kaku leher, lesi
pada cranial nerve dan tuli, serta terdapat papil udema
• Terjadi syphilitic skin rash, beberapa dermatologic condition,
biasanya pada flexor tubuh
• Spot berwarna pinkish atau pale red pada Kaukasian tetapi
lebih gelap pada ras Negro
• Sering terjadi lesi undurasi pada telapak tangan dan kaki
• Spot tidak menimbulkan rasa gatal
• Pada lesi mukokutaneus tsb kemudian timbul menjadi
papula, terjadi penebalan, datar, berwarna putih/abu2
disebut condylomalata , bersifat sangat infeksius
• Pada beberapa penderita dapat terjadi uveitis, jaundice,
atau meningitis.

LATEN SYPHILIS
Symptoms dan signs yang terdapat pada infeksi aktif tidak
terdapat dan penderita tampak normal
Late/ tertiary syphilis

1. Benign tertiary syphilis of the bone, skin and viscera


2. Cardiovascular syphilis
3. Neuro syphilis

Ad 1.
• Terjadi 3-10 tahun setelah infeksi
• Lesi tipical : gumma, merupakan chronic granulomatous
infection

Ad 3.
• Terjadi Argyl Robertson pupil, hanya terjadi pada
neuro syphilis
, pupil kecil iregulair, reaksi normal pada akomodasi tetapi
tidak pada penyinaran
• parenchymatous neuro syphilis, terjadi general paresis,
dementia paralytica, biasanya terjadi setelah umur 40-50
tahun
• Lesi disebut tabes dorsales, terjadi ataxia, hilangnya reflex
tendon, onset berlangsung lambat, Romberg Signs positif
• Terjadi visceral crisis, paroxysm pain pada beberapa
organ, gastric crisis, vomiting, rectal, bladder, laryngeal.
• Terjadi ulcer yang sangat dalam pada telapak kaki, sampai
ke tulang
• Charcot`s arthropathy pembengkakan sendi, gerakan
abnormal
Diagnosis
• Berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, tes
serologis, pemeriksaan cairan pada lesi.
• investigasi pada kontak person

Terapi
Berdasarkan stadium yang terdapat
The first (primary) stage: This involves the
formation of the chancre. At this stage, syphilis
is highly contagious. The primary stage can last
one to five weeks. The disease can be
transmitted from any contact with one of the
ulcers, which are teeming with spirochetes. If
the ulcer is outside of the vagina or on the
scrotum, the use of condoms may not help in
preventing transmission. Likewise, if the ulcer
is in the mouth, merely kissing the infected
individual can spread syphilis. Even without
treatment, the early infection resolves on its own
in most women.
The second (secondary) stage: However, 25
percent of cases will proceed to the secondary
stage of syphilis, which lasts four to six weeks.
This phase can include hair loss; a sore throat;
white patches in the nose, mouth, and vagina;
fever; headaches; and a skin rash. There can be
lesions on the genitals that look like genital warts,
but are caused by spirochetes rather than the
wart virus. These wart-like lesions, as well as the
skin rash, are highly contagious. The rash can
occur on the palms of the hands, and the
infection can be transmitted by casual contact.
The third (tertiary) stage: This final
stage of the disease involves the brain
and heart, and is usually no longer
contagious. At this point, however, the
infection can cause extensive damage to
the internal organs and the brain, and can
lead to death.