Anda di halaman 1dari 6

Penagihan Piutang Negara

(tanpa Surat Paksa)

Oleh Pemerintah
Peraturan terkait penagihan Piutang Negara

PP 29/2009 tentang Tata Cara Piutang terkait


UU Nomor 1/2004 tentang ketentuan di bidang
Penentuan Jumlah, Pembayaran, dan
Perbendaharaan Negara; PERPAJAKAN dan
penyetoran Penerimaan PNBP Terutang;
Kepabeanan dan
Cukai
Pimpinan Instansi Pemerintah selaku
Definisi
Pengguna Anggaran wajib
piutang negara melakukan penagihan dan/ atau
pemungutan Penerimaan Negara
Bukan Pajak yang Terutang.

Menteri pimpinan K/L


menetapkan pejabat
untuk mengelola Dihitung dengan
Utang dan piutang
menggunakan tarif
(Pasal 4)
Menteri Keuangan
Selaku BUN
mengelola dan perpajakan
tata cara penagihan dan/ atau
menagih Piutang pemungutan Penerimaan PNBP
Negara (pasal 7) diatur dengan Peraturan Menteri

Non perpajakan
menagih
Pimpinan Instansi Pemerintah Wajib Bayar
Surat Tagihan Pertama

1 bulan

Surat Tagihan Kedua

1 bulan
Kualitas
Surat Tagihan Ketiga piutang

1 bulan

Surat Penyerahan Tagihan


kepada Instansi yang
mengurus Piutang Negara
Ruang Lingkup UU No.1/2004 dalam
mengelola Piutang

1. Dalam pengelolaannya Menteri/pimpinan lembaga selaku


Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Kementerian
Negara/lembaga yang dipimpinnya berwenang
menetapkan pejabat yang bertugas melakukan
pengelolaan utang dan piutang (vide Pasal 4 ayat (2)).
2. Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara
(BUN) berwenang melakukan penagihan piutang negara,
menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan
negara dan menyajikan informasi keuangan negara (vide
Pasal 7 ayat (2) huruf n, huruf o dan huruf p).
3. Setiap pejabat yang diberi kuasa untuk mengelola pendapatan,
belanja, dan kekayaan negara/daerah wajib mengusahakan
agar setiap piutang negara/daerah diselesaikan seluruhnya
dan tepat waktu (vide Pasal 34 ayat (1)).
4. Piutang negara/daerah yang tidak dapat diselesaikan
seluruhnya dan tepat waktu, diselesaikan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku (vide Pasal 34 ayat (2)).
Pengelolaan Piutang
vide UU 1/2004

Putang wajib diselesaikan seluruhnya dan tepat


waktu;

Piutang yang tidak dapat diselesaikan seluruhnya


dan tepat waktu diselesaikan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Piutang negara yang memiliki hak mendahulu


diselesaikan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku.