Anda di halaman 1dari 71

Keselamatan Pasien Rumah

Sakit
(Patient safety)
• Suatu sistem dimana RS membuat
asuhan pasien lebih aman.

• Sistem ini mencegah terjadinya


cedera yg disebabkan oleh kesalahan
akibat melaksanakan suatu tindakan
atau tdk mengambil tindakan yg
seharusnya diambil.
PRIMUM, NON NOCERE
FIRST, DO NO HARM

PRINSIP ETIKA DOKTER


1. BENEFICIENCE
2. NON MALEFFICIENCE
3. JUSTICE
4. VERACITY

HIPPOCRATES’S TENET
(460-335 BC)
Rumah Sakit :

Jenis obat,Jenis pemeriksaan dan prosedur, Alat


medis/Non Medis, jumlah pasien , staf Rumah Sakit

Potensi “ Medical Error “

MEMBAHAYAKAN
KESELAMATAN PASIEN
MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI :

“Blaming Culture” ke “Safety


Culture”
*CULTURE OF
SAFETY KESELAMATAN PASIEN
KONSEP KPC,KNC
DASAR Pasien KTC
tidak cidera

Medical Error
-

Pasien
cidera Adverse Event (AE)
(KTD=Kejadian Tdk Diharapkan)
PROGRAM SENTINEL EVENT
KESELAMATAN
PASIEN

Medical Malpractices : involves the physicians failure to conform to


the standard of care for treatment of the patients condition,or lack
of skills,or negligence in providing care to the patient,which is the
direct cause of an injury to the patient (WHO,1992)
JENIS INSIDEN

Pasien Near Miss


tidak terpapar (KNC=Kejadian NYARIS CIDERA)
- ERROR, diket, dibatalkan (prevention)

Proses of Care
Error Tidak No Harm Event
cidera

-Kesalahan proses (KTC=Kejadian TIDAK CIDERA)


-Dpt dicegah - Dpt obat “ KI”, tdk timbul (chance)
- Dpt obat “ KI”, diket, beri anti-nya
-Pelaks Plan action (mitigation)
tdk komplit Pasien
-Plan action yg terpapar
salah Pasien Adverse Event
-Krn berbuat : cidera
commission (KTD=Kejadian Tdk Diharapkan)
-Krn tidak berbuat : Dpt dicegah
omission
JENIS INSIDEN
significant
potential for harm Tidak reportable
situation cidera circumstance

(KPC=Kondisi Potensi Cedera)


Proses of Care
Non Error

Pasien Pasien Adverse Event


terpapar cidera

(KTD=Kejadian Tdk Diharapkan)

-TIDAK Dpt dicegah


KESALAHAN MEDIS (Medical Error)

 Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan


medis yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien.
 Cedera juga bisa diakibatkan bukan oleh karena
kesalahan medis ( kejadian yang tidak dapat
diduga/dicegah )
Multi-Causal Theory “Swiss
Cheese” diagram (Reason, 1991)
Terminologi

 Kondisi Potensial Cedera (KPC)


Kondisi/situasi yang sangat berpotensi untuk
menimbulkan cidera.( belum terjadi insiden)
 Kondisi Nyaris Cedera (KNC )
- kondisi yang terjadi oleh karena
melakukan/tidak melakukan sesuatu 
tetapi belum terjadi cedera
 Kondisi Tidak Cedera ( KTC )
 Kondisi yang terjadi pada pasien tetapi tidak
menimbulkan cedera pada pasien
KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN (KTD)/ Adverse
Event

 Suatu kejadian yang mengakibatkan cedera


yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu
tindakan (commission) atau karena tidak
bertindak (ommision), dan bukan karena
“underlying disease” atau kondisi pasien (KKP-
RS).
KEJADIAN NYARIS CEDERA (KNC)/ Near
Miss
 Suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan
(commission) atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil (omission), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi,
karena :
“keberuntungan”(mis.,pasien terima suatu obat kontra
indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat),
“pencegahan” (suatu obat dengan overdosis lethal akan
diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan
membatalkannya sebelum obat diberikan), atau
“peringanan” (suatu obat dengan over dosis lethal
diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan
antidotenya).
KEJADIAN SENTINEL(SENTINEL
EVENT)
 Suatu KTD yang mengakibatkan kematian
atau cedera berat pada pasien.
 Dipakai pada kejadian yang tidak bisa
diterima dan sangat tidak diharapkan
PROGRAM
“KESELAMATAN PASIEN ”
International Patient Safety Goals
(IPSG)
1. Identifikasi pasien secara benar.
2. Meningkatkan komunikasi efektif.
3. Meningkatkan keselamatan penggunaan obat-
obat yang perlu kewaspadaan tinggi.
4. Menerapkan keselamatan Operasi dengan
menjamin sisi Operasi yang tepat, prosedur
yang tepat, & pasien yang tepat.
5. Menurunkan risiko infeksi nosokomial.
6. Menurunkan risiko cedera karena jatuh.
1. Identifikasi Pasien secara
benar
Ucapkan Salam,
 Minta pasien menyebutkan Nama dan Nomer Rekam Medik
sebelum melakukan prosedur, dengan pertanyaan terbuka.
 Untuk pasien tidak sadar, Pasien anak atau Pasien yang
mengalami keterbatasan lainnya, Identitas pasien dapat
ditanyakan kepada penunggu pasien.
 Petugas mencocokkan Identitas pasien dengan gelang Identitas
Pasien pasien.
 Pasien yang tidak dapat menyebutkan nama: gelang Identitas
diperiksa dengan rekam medik oleh 2 orang petugas
IDENTIFIKASI PASIEN SECARA AKURAT

Ada 2 gelang identitas :


• gelang warna biru untuk laki-
laki
• gelang merah muda (pink)
untuk wanita.
Dan warna gelang tambahan:
• Merah : alergi
• Kuning : resiko jatuh
Indikator melalukan identifikasi pasien secara benar:
1. Pasien diidentifikasi minimal dua Identitas pasien: untuk pasien rawat
jalan tanyakan nama dan tanggal lahir,untuk pasien rawat inap: nama
pasien dan nomer rekam medik (RM)
Tidak boleh menggunakan nomor kamar atau nomor
tempat tidur .

2. Pasien diidentifikasi sebelum melakukan pemberian obat,


transfusi darah atau produk darah lainnya.

3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah


dan spesimen lain untuk keperluan pemeriksaan.

4. Pasien diidentifikasi sebelum memberikan perawatan atau


prosedur pelayanan.
Arjaty/IMRK/2008
2. Meningkatkan Komunikasi Efektif
 SBAR
(Situation – Background – Assessment – Recommendation)
 Pendekatan sistematik untuk memperbaiki komunikasi diantara
tenaga kesehatan.
 Berlaku untuk semua petugas saat melakukan pelaporan/saat
melaporkan pasien kritis lewat telepon atau mendapat intruski lisan
pada saat serah terima pasien antar shift (hand off) dan pada saat
serah terima pasien antar ruangan.
 Komunikasi Verbal (Write Down/ Tulis, Read Back/ Baca
Kembali)
 Komunikasi verbal menerapkan TBAK  T ulis BA ca K embali.
 Pasang stiker SIGN HERE sebagai pengingat dokter harus tanda
tangan.
 Singkatan terstandar
 Gunakan singkatan yang sudah terstandar.
 Tulis kata dengan lengkap bila tidak ada dalam daftar singkatan.
 Gunakan huruf cetak untuk penulisan diagnosa dan therapy.
Stempel read back
2. TINGKATKAN KOMUNIKASI
EFEKTIF
Handover
Read back
Repeat back

Check back

Teach back

Jangan
membuat
Singkatan

Critical Result
Arjaty/IMRK/2008
25
JANGAN GUNAKAN SINGKATAN

Arjaty/IMRK/2008
Poor handwriting

Lotrison or Lotrimin ? Coumadin or Kemadrin ?

Doxorubicin or Daunorubicin ? Pentobarbital or Phenobarbital ?

Arjaty/IMRK/2008
LOOK ALIKE SOUND ALIKE

Arjaty/IMRK/2008
Arjaty/IMRK/2008
Arjaty/IMRK/2008
Examples

Intended dose of 4 units in patient history


interpreted as 44 units. “U” should be written out
as “unit.”

Arjaty/IMRK/2008
Examples

Intended dose of “.4 mg” interpreted as 4 mg


from medication order. Should be written as
“0.4 mg.”

Arjaty/IMRK/2008
Examples

Intended recommendation of “less than 10” was


interpreted as 4. “<” should be written out as “less
than.”

Arjaty/IMRK/2008
3. Meningkatkan Keselamatan Penggunaan
Obat Risiko Tinggi

1. Elektrolit pekat tidak disimpan dalam unit perawatan pasien, mencegah


penggunaan yang tidak seharusnya.
2. Elektrolit pekat yang disimpan dalam unit perawatan pasien memiliki
label yang jelas dan disimpan di tempat dengan akses terbatas.

 Elektrolit Pekat
 KCl 7,46%
 MgSO4 20%
 NaCl 3%
 Heparin injeksi
 Insulin injeksi
 Muscle relaxan
 Chemoterapy
 Kontras radiologi
STIKER HIGH ALERT
Stiker High Alert

Stiker high alert untuk


ampul

Stiker high alert untuk


vial

Stiker high alert untuk


cairan elektrolit pekat
botol 25 ml dan infus
Buat Daftar Obat LASA / NORUM

Lakukan CHECK BACK jika Instruksi


tidak jelas

Gunakan Prinsip 6 BENAR

Arjaty/IMRK/2008
Arjaty/IMRK/2008
MEDICAL ERROR
Slips

Error in
Execution
Arjaty/IMRK/2010 41
Similar Vials: Similar Vials:
Cefazolin and Atropine &
Vecuronium Phenylephrine

42
Medication Cart Drawer

43
Arjaty/IMRK/2008
ProblemsAmpoule
with labelling
Labelling
Hati-hati .....
SEDACUM & ROCULAX

Arjaty/IMRK/2008
Wayne meninggal dunia di “QUeen’s Medical
Center”, Nottingham, Inggris, tepat j 08.00 setelah
diberi “Vincristine” yang harusnya IV, tapi diberikan
ke tulang belakang. Yang harusnya disuntikkan di
tulang belakang adalah “Cytosine”.

Dr Feda M dikenai hukuman 8 bulan penjara


setelah mengakui secara tidak sengaja
“membunuh” pasien leukemia yang usianya
sangat muda.

Arjaty/IMRK/2008
Kasus di Texas

Seorang dokter ditemukan lalai karena


menulis resep dengan tulisan yang tidak jelas.
Kardiolog yang terlibat mengatakan dia
meresepkan Isordil® (isosorbide dinitrate)
untuk pasien angina. Petugas farmasi
memberikan Plendil ®(felodipine). Pasien
mengalami serangan jantung dan meninggal.

Arjaty/IMRK/2008
4. Menerapkan Keselamatan Operasi/
Tindakan Berisiko Tinggi

 Protokol Umum
 Tandai lokasi operasi/ tindakan (Marking Site ) melibatkan
pasien, terutama:
 Pada organ yang memiliki 2 sisi, kanan dan kiri.
 Multiple structures (jari tangan, jari kaki).
 Multiple level (operasi tulang belakang: cervical, thoracal, lumbal).
 Multiple lesi yang pengerjaannya bertahap.
 Khusus untuk neonatus menggunakan gelang warna putih yang
bertuliskan tempat area operasi

 Sebelum dilaksanakan operasi terapkan pengisian


Checklist Keselamatan Operasi untuk memastikan:
 Tepat pasien.
 Tepat prosedur.
 Tepat daerah/ lokasi operasi.
S4 : MENGURANGI RESIKO SALAH LOKASI, SALAH PASIEN DAN
TINDAKAN OPERASI
 Beri tanda pada sisi
operasi (surgical site
marking) yang tepat
dengan cara yang jelas
dimengerti dan
libatkan pasien dalam
hal ini (informed consent)
 Laksanakan di kamar
operasi, Radiologi,
Endoscopy dan Chat
Lab Safety Surgical
Checklist (Sign In, Time
Out & Sign Out)
Indikator Keselamatan Operasi/
Tindakan Berisiko Tinggi:
1. Menggunakan tanda yang mudah dikenali untuk
identifikasi lokasi operasi/ prosedur dan
mengikutsertakan pasien dalam proses penandaan.

2. Menggunakan checklist atau proses lain untuk


verifikasi lokasi yang tepat, prosedur yang tepat, dan
pasien yang tepat sebelum operasi/ tindakan, dan
seluruh dokumen serta peralatan yang dibutuhkan
tersedia, benar, dan berfungsi.

3. Seluruh tim operasi/ tindakan membuat dan


mendokumentasikan prosedur Time-out sesaat
sebelum prosedur operasi/ tindakan dimulai.
SAFE SURGERY SAVE LIVES

Arjaty/IMRK/2008
CHECK LIST KESELAMATAN PASIEN DI RUANG OPERASI
SEBELUM PASIEN MENINGGALKAN
SEBELUM DIANESTESI SEBELUM INSISI RUANG OPERASI
Time Out
Masuk Ruang Operasi
Paraf Keluar Ruang Operasi
Par Pastikan semua anggota tim
Pasien sudah dipastikan : af Memperkenalkan nama dan Perawat konfirmasi dgn tim: Para
perannya f
 Identitas Dokter bedah, anestesi dan perawat Nama prosedur yang tercatat
 Sisi Operasi Konfirmasi secara verbal mengenai
Kebenaran, jlh instrumen,
 Prosedur  Pasien
kassa, jarum
 Sisi
 Informed Consent
 Prosedur
Tanda operasi ada/tidak Antisipasi keadaan kritis Bagaimana spesimen diberi
Cek Keselamatan Anestesi Dokter bedah review label (termasuk nama
Oximeter siap dan berfungsi keadaan kritis atau langkah-langkah pasien)
yang tidak diharapkan, lama operasi, Apakah ada masalah pada
Apakah pasien alergi?
antisipasi kehilangan darah alat
Ya
Tidak Tim anestesi review Dokter bedah, anestesi dan
Adakah risiko aspirasi? apakah ada keadaan pasien yang Perawat review hal-hal
perlu diperhatikan?
Ya penting untuk pemulihan
Tim perawat review
Tidak pasien
Sudah steril (termasuk indikator
Adakah risiko perdarahan? hasil) ?Adakah masalah alat?
Apakah antibiotik profilaksis telah
500 ml (7ml/kg BB pd
diberikan
anak) Ya
Tidak Tidak
Ya, sudah disiapkan Apakah ada hasil imaging?
Ya
transfusi
Tidak
54
5. Menurunkan Infeksi Nosokomial
 Hand Hygiene  cuci tangan
 Indikator Usaha Menurunkan Infeksi
Nosokomial:
1. Menggunakan panduan hand-hygiene terbaru
dan yang diakui umum.
2. Mengimplementasikan program kebersihan
tangan yang efektif.
 Pastikan pengisian tanggal pada pemasangan
alat invasif.
 Pastikan alat – alat yang digunakan dalam
keadaan steril
Reduksi risiko infeksi nosokomial

 Sediakan diarea kerja Alcohol Hand Rub/Gel


 Efektif dan efisien
Arjaty/IMRK/2008
Pelabelan tindakan invasif
6. Menurunkan Risiko Cedera karena Jatuh

 Pasien sebaiknya di nilai risiko jatuh:


• Saat pendaftaran
• Saat transfer dari unit satu ke unit lain
• Setelah pasien jatuh
• Regular interval. Bulanan, dua mingguan atau harian
 Setiap pasien yang akan MRS, dinilai risiko
jatuhnya dengan menggunakan Checklist Penilaian
Risiko Jatuh Morse Fall Scale (MFS) untuk pasien
dewasa skala humpty dumpty untuk anak-anak,
Scala Edmonson untuk pasien Psikiatri
 Pasang gelang kuning jika skala morse score
lebih dari 7 dan skala hampty dampty score lebih
Indikator Usaha Menurunkan Risiko Cedera
karena Jatuh:

1. Semua pasien baru dinilai risiko jatuhnya dan


penilaian diulang jika diindikasikan oleh perubahan
kondisi pasien atau pengobatan, dan lainnya.

2. Hasil pengukuran dimonitor dan ditindaklanjuti


sesuai derajat risiko jatuh pasien guna mencegah
pasien jatuh serta akibat tak terduga lainnya.
symbol
Letakkan tanda ini pada:
 bed pasien
Depan pintu kamar
pasien
Area yang berpotensi
untuk menyebabkan
jatuh/cedera

JANGAN LUPA PASIEN YANG


BERISIKO JATUH
TAMBAHKAN GELANG
WARNA KUNING………..
Prediksi pasien jatuh

3 Kelompok pasien Resiko Jatuh


 Geriatrik
 Bedah
 Umum (pediatrik)
Arjaty/IMRK/2008
Laporan IKP berdasarkan
Tipe Insiden
PROSES / PROSEDUR KLINIS
 Kematian yg disebabkan keterlambatan penanganan karena hasil CT Scan yg terlambat
dibaca o/ SpR
 Penundaan operasi karena pasien perdarahan namun tidak tersedia darah
 Perdarahan pasca operasi lama ditangani
 Dokter salah melakukan diagnosa pasien yang menderita tetanus
 Pemeriksaan MSCT dobel
 Bayi baru lahir mengalami aspirasi akibat minum susu dengan sendok
 Pasien meninggal karena terapi tidak adekuat
 Pasien mengalami dekubitus akibat kurang mobilisasi
 Hasil CT Scan terlambat dibaca
 Pasien phlebitis akibat monitoring infus tidak adekuat
 Ditemukan jarum pada tutup botol cairan infus saat ronde KP
 Ditemukan pagar pengaman tempat tidur tidak terpasang saat ronde KP
 Pasien geriatric mengalami perdarahan lambung pasca op dan meninggal
Arjaty/IMRK/2008
berdasarkan
Tipe Insiden
DOKUMENTASI
 Salah cetak nama pasien di label ID : TARA  TORA
 Salah ID hasil ekspertise CT Scan
 Rekam medik pasien dengan 2 data yg berbeda : Nama sama DIAH,
umur beda : 25 thn dan 64 thn, alamat sama Majalaya, dokter sama,
diagnose berbeda : DHF dan CKD ec. Nefropathy Diabetes.
 Salah menulis no lab oleh kasir UGD
 Catatan medik pasien tidak tersedia di IGD karena masih tersimpan di
poli bedah yang sudah tutup

67
Laporan IKP berdasarkan
Tipe Insiden
Medikasi
 Obat suntik yang diberikan expired namun segera diketahui dan obat
tidak jadi diberikan
 Obat Tn L diberikan kepada TN R
 Pasien mengalami adverse drug event akibat obat phenytoin
 Salah tulis R/ TM  TT
 Salah obat & salah rute : IM --IV
 Salah tulis dosis - keracunana digitalis
 Salah suntik Vitk K - CPZ
 Salah dosis 1,5 mg  1,5 ml (10x dosis yg diberikan)
 Salah route : kenacort IM diberi IA
 Salah obat Evocef  epicef, strocain- stugeron
 Salah obat metronidazol  metoclopramid
68
berdasarkan
Medikasi Tipe Insiden

 Salah baca obat (AA) : ottopan  ottopain TT (wrong drug)


 Salah input obat Motilex --> Natrilex --> (wrong drug)
 Salah baca: carmaryl drop --> gentamicin Eye drop (wrong drug)
 Salah input obat Fevrin --> Ferlin drop (wrong drug)
 Salah kemas obat (input benar) : Topamax 25 mg dikemas 15 mg (Wrong
label)
 Salah baca : sanmol 3x2,5 diberikan 3 x 0,5 (wrong dose)
 salah label obat : smecta isinya tp label Antibiotik, Acetosal isinya tp
labelnya smecta (wrong label)
 salah baca R/ Napoek diberi Nifural (wrong drug)
 salah itiket r/ tertukar dik & kakak (wrong label)

69
KUNCI KEBERHASILAN PROGRAM
KESELAMATAN PASIEN
 KOMPREHENSIF: disusun berdasarkan
risiko,(Risk Based Concepts),mulai dari
identifikasi risiko,analisis risiko,sampai
pengendalian risiko. Melibatkan semua
stakeholders dan diintegrasikan dengan
program lainnya
 KONSISTEN : mengacu pada rencana
dan SOP yang sudah dibuat