Anda di halaman 1dari 10

Hakikat Masalah Struktural

Indonesia adalah negara yang diberkahi oleh


sumberdaya melimpah. Itu semua sudah kita ketahui
sejak duduk di bangku SD. Para guru kita dengan
semangat berusaha menumbuhkan semangat
kebangsaan melalui pemahaman akan kondisi faktual
betapa kita sebenarnya memiliki modal besar untuk
melangkah maju. Yang biasanya tidak diajarkan sampai
kita kuliah adalah mengapa dengan modal yang begitu
besar Indonesia tidak kunjung maju, sejahtera, makmur,
dan berkeadilan sebagaimana yang diamanatkan oleh
Pembukaan UUD 1945
Tiga Masalah Strutural Dalam Pembangunan Di Indonesia

1. Minimnya sumber manusia yang berkualitas yang


terutama disebabkan oleh masih lemahnya kinerja
pendidikan ( berupa intelektualitas siswa di semua
tingkatan ) maupun kualitas pendidikan itu sendiri.
2. Keterbatasan infrastruktur, baik itu infrastrutur fisik
maupun non fisik.
3. Lemahnya kerangka kelembagaan (institusional
framework) atau bisa pula disebut infrastruktur lunak
(soft infrastructur). Dalam defenisi ini infrastruktur fisik
dan non fisik dapat disebut sebagai infrastruktur keras
(hard infrastructur)
URGENSI PENATAAN MENYELURUH
BIDANG PENDIDIKAN

ARTI PENTING PENDIDIKAN


Pendidikan adalah masalah besar dan fundamental
nomor satu bagi Indonesia. Kedengarannya
memang klise, namun itulah kenyataannya. Sebelum
memasuki pembahasan utama, marilah kita resapi
beberapa kenyataan dasar yang dirumuskan
Michael J.Bonnell ( www.mikebonnell.com ) berikut
ini :
1. Makmur tidaknya suatu negara / bangsa tidak
ditentukan oleh usia. Mesir dan India sudah berusia
ribuan tahun, kesejahteraan penduduknya masih
minim, ini kontras dengan Kanada, Selandia Baru atau
Singapura yang baru berusia setengah atau satu abad
ini, namun kesejahteraan penduduknya jauh lebih
tinggi dari penduduk di India dan Mesir.

2. Kesejahteraan suatu negara ternyata juga tidak


ditentukan kekayaan alamnya. Jepang yang 80 persen
tanahnya tidak bisa dibudidayakan, adalah negara
terkaya kedua di dunia. Demikian dengan Swiss, yang
sama sekali tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi
menjadi penghasil aneka produk olahan dari coklat
nomor satu di dunia.
3. Tingkat kecerdasan manusia tidaklah berbeda
berdasarkan warna kulit atau kebangsaannya, atau
apakah ia berasal dari negara makmur atau miskin. Para
pakar dan ilmuan dari India atau Cina punya kecerdasan
sebanding dengan rekan-rekannya dari Amerika
Serikat, Jepang dan Jerman. Para siswa dan
mahasiswa terbaik di AS sering kali adalah anak dari
imigran Korea, Taiwan, Iran dan Bangladesh.
4. Ras ternyata juga tidak berhubungan dengan semangat
dan kerja keras untuk maju. Kaum Yahudi dikenal
diseluruh dunia sebagai kaum cerdas dan sukses
berbisnis pada kenyataannya di AS saja terdapat jutaan
orang Yahudi miskin dan tidak dapat dikatakan sukses
dalam hal apapun. Sebaliknya orang Filipina dan
Vietnam yang di negara asalnya dicap sebagai orang
santai dan tidak punya motivasi bisa menjadi orang
yang sukses di AS.
Jika demikian, Apa yang menjadikan suatu bangsa/negara
menjadi maju dan sejahtera atau tidak ? Penentunya
adalah sikap hidup ( attitude ) orang-orang yang ada di
setiap negara. Sikap hidup berlatar kebudayaan, namun
pada intinya terbentuk dari proses pendidikan selama
bertahun-tahun. Dalam kalimat lain, pendidikanlah yang
menjadi penentu paling mendasar apakah suatu negara /
bangsa akan dapat maju / makmur atau tidak. Ukuran
keberhasilan pendidikan itu bukan semata-mata pada
jumlah insinyur atau dokter yang dimiliki, juga bukan pada
berapa medali yang diraih dalam olimpiade matematika
internasional, melainkan lebih pada terbentuknya sikap
hidup yang positif.
Di negara-negara yang maju mayoritas penduduknya
mempunyai sikap hidup positif,yakni :
1. Etika yang tinggi dan terpuji sebagai prinsip utama.
2. Integritas.
3. Penuh tanggungjawab.
4. Menghormati hak orang lain, namun juga menjunjung
tinggi hak-haknya sendiri.
5. Hormat pada hukum dan aturan.
6. Mau bekerja keras dan bertindak hebat.
7. Selalu berusaha menjadikan dirinya lebih baik.
8. Mendahulukan tabungan dan investasi dari pada
bersenang-senang atau ikut gengsi.
9. Menghargai waktu, sebagai bagian dari kebiasaan
menghargai janji dan semua ucapan yang telah
disampaikan, lisan apalagi tulisan.
Sedang di negara-negara terbelakang, berkembang
atau kurang maju, ternyata hanya sedikit saja
penduduk yang mempunyai sikap hidup positif seperti
diuraikan di atas. Mayoritas penduduknya masih
bersikap seenaknya yang jauh dari ciri-ciri di atas. Jadi
kesimpulannya, agar dapat maju, suatu negara harus
memiliki sistem pendidikan yang memungkinkan para
warga mengembangkan dan memiliki sikap hidup
positif
PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA
HUMAN DEVELOPMENT INDEX
Salah satu indikator yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana pembangunanan manusia
seutuhnya telah membuahkan hasil di suatu negara
adalah Human Development Index ( HDI ).
Secara konseptual HDI adalah perhitungan dalam
formula tertentu yang memadukan tiga komponen utama,
yakni :
1. Kualitas hidup material yang diwakili oleh indikator
tingkat pertumbuhan ekonomi (GDP) perkapita per
tahun.
2. Kondisi kesehatan penduduk yang diwakili oleh
indikator usia harapan hidup ( Life Expectancy ).
3. Kondisi pendidikan, indikator wakilnya pada awalnya
hanya tingkat melek huruf, namum kemudian diperluas
ke sejumlah indikator pendidikan lainnya.