Anda di halaman 1dari 14

Bell’s Palsy

Lim Terry Lesmana


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Sulianti Saroso
Periode 30 Oktober – 2 Desember 2017
Jakarta
Anatomy
Bell’s palsy

Definisi •Bell’s palsy didefinisikan sebagai suatu keadaan paresis atau kelumpuhan yang akut dan
idiopatik akibat disfungsi nervus facialis perifer.
•Bell’s palsy ditemukan oleh dokter dari inggris yang bernama Charles Bell (1821).

•Teori iskemik vaskuler. Teori ini dikemukakan oleh Mc. Groven pada tahun 1955 yang
menyatakan bahwa adanya ketidakstabilan otonomik dengan respon simpatis yang
berlebihan.
•Pada tahun 1972 Mc Cromick menyebutkan bahwa pada fase laten HSV tipe 1 pada
Patofisiologi ganglion genikulatum dapat mengalami reaktivasi saat daya tahan tubuh menurun.
•Teori kombinasi, teori ini dikemukakan oleh Zalvan yang menyatakan bahwa
kemungkinan Bell’s palsy disebabkan oleh suatu infeksi atau reaktivitas virus Herpes
Simpleks dan merupakan reaksi imunologis sekunder atau karena proses vaskuler
sehingga menyebabkan inflamasi dan penekanan saraf perifer ipsilateral.
Etiologi

4
Gejala Klinis

• Kelemahan wajah bersifat unilateral


• Wajah tidak simetris
• Kelopak mata tidak dapat menutup sempurna
• Gangguan pada pengecapan
• Sensasi mati rasa pada wajah yang sakit
• Heperakusis
• Telinga berdenging
• Nyeri kepala dan perasaan melayang
• Tidak dapat mengerutkan dahi
1. Lesi di luar foramen stylomastoideus
2. Lesi di canalis facialis (melibatkan chorda
tympani)
3. Lesi di canalis facialis lebih tinggi lagi
(melibatkan musculus stapedius)
4. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi
(melibatkan ganglion genikulatum)
5. Lesi di daerah meatus acusticus interna
6. Lesi di tempat keluarnya facial nerve (N.VII)
dari pons.
Diagnosis

Pemeriksaan neurologi :
• Mengerutkan dahi
• Mengangkat alis
Anamnesa :
• Memejamkan mata dengan
• Rasa nyeri.
kuat
• Gangguan atau kehilangan
• Mengembungkan pipi
pengecapan.
• Pasien menyeringai
• Riwayat pekerjaan
• Pemeriksaan sensorik pada
• Riwayat penyakit seperti
nervus fasialis.
infeksi saluran pernafasan,
• Pemeriksaan Refleks.
otitis, herpes, dan lain-lain.
• Stethoscope Loudness Test
• Schirmer Blotting Test.
Diagnosis

Skala House Brackmann Skala Ugo Fisch


Diagnosis
banding

• Ruam merah
• Kelemahan (kelumpuhan) pada sisi yang sama seperti telinga yang terkinfeksi
• Kesulitan menutup satu mata
Ramsay Hunt Syndrome • Sakit telinga
(RHS) • Pendengaran berkurang
• Dering di telinga (tinnitus)
• Sebuah sensasi berputar atau bergerak (vertigo)
• Perubahan dalam persepsi rasa

Miller Fisher • Miiler Fisher syndrom  opthalmoplegi, ataksia, dan arefleksia yang kuat (Trias)
• double vision
• Kelumpuhan nervus facialis tipe perifer otot wajah bilateral
Syndrom • rasa kebas, pusing dan mual
TATA LAKSANA

Medikamentosa Non-medikamentosa

kortikosteroid  menghilangkan • Tindakan fisioterapi seperti terapi


penekanan, menurunkan edema panas superfisial, elektroterapi
akson dan kerusakan N.VII dapat menggunakan arus listrik
diberikan prednison
• Mendidik kembali kerja otot
antiviral untuk terapi pasien
dengan infeksi virus HSV 1. • Melatih otot-otot yang paralysis
Analgetik  untuk menghilangkan • Penguatan dan hypertrofi otot-
nyeri seperti gabapentin otot
Kortikosteroid Anti-Viral

Acyclovir 400 mg dapat diberikan 5 kali


Prednison 1 mg/kgBB/hari selama 5 hari perhari selama 7 hari, atau 1000 mg/hari
kemudian diturunkan bertahap 10 mg/hari dan selama 5 hari sampai 2400 mg/hari selama 10
berhenti selama 10-14 hari. hari. Dapat juga menggunakan Valactclovir 1
gram yang diberikan 3 kali selama 7 hari12
1 mg/kg atau 60 mg PO qd selama 7 Asikovir, obat antiviral yan

hari diikuti tappering off dengan total menghambat kerja HSV-1. HSV-

Dosis dewasa pemakaian 10 hari. Nama Obat dan VZV

1 mg/kg PO qd selama 6 hari diikuti 400 mg PO 5 kali/hari selama 10 ha


Dosis dewasa
tappering off dengan total pemakaian
Dosis Anak <2 tahun : belum dipastikan
10 hari.
>2 tahun : 20 mg/kg PO selama

Hipersensitivitas, diabetes berat yang Dosis Anak 10 hari

tak terkontrol, infeksi jamur, ulkus


Kontraindikasi peptikum, TBC, osteoporosis.
Hipersensitif, penderita gagal ginjal
Kontraindikasi
Komplikasi

Crocodile tear • Yaitu keluarnya air mata pada saat penderita makan makanan

phenomenon . • Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum.

• tot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau tersendiri.


selalu timbul gerakan bersama.
Synkinesis • Penyebabnya adalah innervasi yang salah, serabut saraf yang
mengalami regenerasi bersambung dengan serabut-serabut
otot yang salah

• Timbul “kedutan” pada wajah (otot wajah bergerak secara


spontan dan tidak terkendali) dan juga spasme otot wajah
Tic Facialis sampai
• Komplikasi ini terjadi bila penyembuhan tidak sempurna,
Hemifacial Spasme yang timbul dalam beberapa bulan atau 1-2 tahun
kemudian
Prognosis

• Penderita Bell’s Palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala


sisa. Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bell’s palsy
adalah

• Usia di atas 60 tahun


• Paralisis komplit
• Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang
lumpuh
• Nyeri pada bagian belakang telinga
• Berkurangnya air mata.
14