Anda di halaman 1dari 31

TINEA CORPORIS

OLEH : dr. Muhammad Sakban S.


BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

• Dermatofitosis  infeksi kulit terbanyak di di


Indonesia setelah dermatitis (Harahap, 2000)
• Dermatofitosis 
penyakit pada jaringan yang mengandung zat
tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada
epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan
golongan jamur dermatofita
Penyebab Dermatofitosis

Microsporum

Trichophyton

Epidermophyton
Faktor Predisposisi
Iklim yang panas

Higiene sebagian masyarakat yang masih kurang

Adanya sumber penularan di sekitarnya

penggunaan obat-obatan kortikosteroid, antibiotika dan


sitostatika yang meningkat,
Adanya penyakit kronis dan penyakit sistemik lainnya seperti
diabetes mellitus, keganasan, HIV-AIDS dan penyakit lainnya
Dermatofitosis dibagi berdasarkan lokasi
bagian tubuh manusia
tinea kapitis (kulit dan rambut kepala)

Tinea barbae (dagu dan jenggot)

Tinea cruris (genitokrural, perineum, perianal dan meluas ke pubis


dan gluteus)

Tinea unguium (kuku jari tangan dan kaki)

Tinea pedis et manum (kaki dan tangan)

Tinea korporis (daerah kulit halus tak berambut (glabrous skin)


pada wajah (facialis), badan, axilla, lengan, dan tungkai.

Tinea corporis dapat terjadi di setiap bagian


tubuh dan bersama – sama dengan kelainan
pada sela paha, dalam hal ini disebut dengan
Tinea Corporis et Cruris atau sebaliknya.
Tepi polisiklis
(karena beberapa
lesi kulit yang
menjadi satu) Tepi aktif
Macula (meninggi, ada
eritematousa papul, vesikel,
berbatas jelas meluas )

Kadang-kadang
Lesi bulat atau terlihat erosi dan
lonjong, EFFLORESENSI krusta akibat
garukan
Tinea Corporis • makula atau plak yang berwarna merah atau
hiperpigmentasi dengan tepi aktif dan daerah
bagian tengah lebih tenang (central healing)
• pada tepi lesi dijumpai papul-papul eritema atau
vesikel, polisiklis
• kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat
garukan
Kandidiasis Kulit nyeri, inflamasi, eritematous, dan ada lesi satelit
(papul, vesikel, atau pustula), bula atau papulpustular
yang pecah meninggalkan permukaan yang kasar
dengan tepi yang erosi
Dermatitis Terdapat bagian tubuh yang banyak terdapat kelenjar
seboroik sebasea (kelenjar minyak)
Gambaran klinis yang khas dari dermatitis seboroik
adalah skuamanya yang berminyak dan kekuningan
Psoriasis • makula yang eritematus, bentuknya dapat bulat atau
vulgaris lonjong yang tertutup skuama tebal, transparan atau
putih keabu-abuan
• tanda-tanda khas yakni skuama kasar, transparan
serta berlapis-lapis, fenomena tetes lilin, dan
fenomena auspitz.
• kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah
ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung
Dermatitis • Akut: lesi polimorf yaitu tampak makula eritematosa
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan langsung dengan KOH 10 – 20% (dapat ditambah tinta
Parker). Sediaan dapat diambil dari kulit / skuama untuk melihat ada
tidaknya hifa bersepta (gambaran double contour, 2 garis lurus sejajar
dan transparan; bersepta/sekat dan dikhotomi/cabang dua-dua).

Kultur dengan media Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) ditambah


chloramphenicol dan cyclohexamide (actidion): Mycobiotik –
Mycosel, tumbuh rata-rata 10 – 14 hari.

Wood’s lamp, bisa mendeteksi fluoresensi pada beberapa


dermatofita, termasuk strain zoofilik.
PENATALAKSANAAN
• Jaga kebersihan perorangan
• Jaga kebersihan lingkungan
Umum • Sebisa mungkin hindari garukan yang berlebihan
karena resiko infeksi sekunder

• Topikal: Miconazole Nitrat 2% cream diberikan 2


kali sehari setelah mandi, dioleskan pada daerah
yang lesi dan gatal
Anti jamur • Sistemik: Ketokonazole 3 – 6 mg/kgBB/hr diberikan
dalam puyer (pulveres), sesuai BB (15 kg)  6 x 15
kg/hr = 90 mg/hr dan diberikan selama 7 hari

• Mebhidrolin Napdisilat 50 mg/tab, diberikan 1 – 3


Antipruritu tablet untuk anak usia 2 – 5 tahun, diberikan
s dalam puyer (pulveres). Diminum 1 kali sehari
untuk mengurangi rasa gatal.
Bila infeksi ringan
Diagnosis dibuat
cukup diberikan obat
berdasarkan gambaran Pengobatan terhadap
topikal kecuali pada
klinis yg khas, hasil dermatofitosis dapat
infeksi kronis dan luas,
pemeriksaan sediaan dilakukan dengan cara
di rambut dan kuku
langsung yang positif topikal dan sistemik
diperlukan obat
dan biakan.
sistemik
BAB 2
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN

 Nama : Tn. S
 Jenis kelamin : Laki-laki
 Umur : 76 tahun 11 bulan
 Status : Kawin
 Alamat : Ujung Nondar
 Pekerjaan : Petani
 Pendidikan terakhir : SMP
 Suku : Batak
 Agama : Kristen Protestan
ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan di Puskesmas Tiga Dolok pada hari Kamis
10 januari 2019 pukul 10.45 secara Autoanamnesis
 Keluhan Utama : Gatal-gatal di seluruh tubuh
 Keluhan Tambahan : Nyeri pada bekas garukan
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poliklinik Puskesmas Tiga Dolok dengan
keluhan gatal-gatal pada seluruh tubuh terutama pada bagian dada
dan ketiak, namun juga dirasakan pada lengan, leher dan punggung
pasien.Pada daerah tersebut ditemukan penebalan kulit, warna kulit
menjadi gelap dan bintik-bintik kemerahan. Keluhan dirasakan sejak
bertahun-tahun yang lalu ( pasien lupa tepatnya kapan) . Gatal
dirasakan hilang-timbul, terutama pada saat pasien berkeringat atau
terkena debu dan hilang setelahnya.Pasien sudah pernah berobat ke
Bidan desa dan di beri obat antigatal serta bedak namun keluhan
tidak berkurang.Untuk mengurangi keluhan, pasien sering menggaruk
tempat yang gatal dengan kuku hingga luka dan berdarah sampai
terasa nyeri.
 Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini
sebelumnya.Riwayat hipertensi, kolesterol, diabetes mellitus
dan penyakit ginjal disangkal. Riwayat alergi terhadap obat-
obatan (-)
 Riwayat Penyakit Keluarga :
Di keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan yang
sama dengan pasien. Riwayat sakit asma, alergi debu/makanan
yang diturunkan disangkal.
 Riwayat Kehidupan Pribadi :
Pasien memiliki kebiasaan menggaruk-garuk bagian yang
gatal dengan kuku.Pasien jarang menggunting dan
membersihkan kuku.
Pasien mandi sehari 1x dengan air dingin menggunakan
sabun Lux dan jarang mengganti baju saat berkeringat.
PEMERIKSAAN FISIK
 Fisik umum
 Kesadaran : Kompos mentis
 Keadaan umum : Tampak sakit ringan
 Nadi : 100x/ menit ( regular, kuat angkat, isi
cukup)
 Pernapasan : 20 x/ menit ( regular, retraksi otot
pernapasan- )
 Suhu : 36.3 0c ( Aksila)
 Tekanan darah : 130/80 mmhg
 Berat badan : 55 kg
 Tinggi badan : 165 cm
 Kepala : Normocephali, rambut hitam, distribusi merata, tidak
terdapat kelainan kulit
 Leher : Kelenjar getah bening tidak teraba membesar
 Thorax :
 Inspeksi = bentuk dan pergerakan dinding dada simetris
kanan-kiri
 Palpasi = Fremitus vocal simetris kanan-kiri
 Perkusi = Sonor di kedua lapang paru
 Auskultasi = Bunyi napas dasar vesikuler, rhonki - /-, wheezing
-/-, Bunyi jantung
 Abdomen :
 Inspeksi = perut tampak datar
 Auskultasi = Bising usus + 4x/menit
 Perkusi = timpani, nyeri ketuk -
 Palpasi = nyeri tekan -, hepatosplenomegali -
 Ekstremitas : akral hangat
Status dermatologis

 Distribusi : Regional
 Regio : Cervicalis anterior dan posterior, deltoidea,
thoracalis anterior dan posterior, axilaris, brachii
anterior dan posterior, cubitalis, antebrachii anterior
dan posterior
Regio thoracalis anterior dan posterior, cervicalis
 Makula hiperpigmentasi, tepi tegas, multiple, permukaan
berisisik dan kering
 Makula eritem, tepi tegas, multiple, permukaan kasar dan
kering
 Patch hiperpigmentasi , tepi tegas dan aktif, multiple,
ukuran mulai dari diameter 1 cm- 10 cm, bentuk bulat-oval,
ada central healing, terpisah-pisah dan polisiklik, kering.
 Erosi berukukran 0,1-0,5 cm, multiple, bentuk bulat-tidak
teratur
 Eksoriasi berukuran 0,1cm -0,3 cm, multiple.
 Krusta berwarna putih dan kecoklatan, berukuran 0,1-0,2
cm, multiple, bentuk tidak teratur
 Regio brachii anterior dan posterior, antebrachii
anterior dan posterior
 Plakhiperpigmentasi , tepi tegas, luas 2/3 dari
seluruh lengan, skuama dengan bentuk
iktiosiformis, tepi tegas, kasar dan kering.
 Lesi pada seluruh region bersifat kronik, dengan
tanda-tanda peradangan sudah tidak ada, lesi
kering , dan terdapat erosi/eksoriasi
Regio thoracalis anterior dan
posterior, cervicalis
Regio thoracalis posterior
Regio cervicalis
Regio brachii dan antebrachii anterior
dan posterior
 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan parasitologi jamur dengan KOH 10 % tidak
dilakukan .

 DIAGNOSA KERJA
Tinea korporis

 DIAGNOSA BANDING
Psoriasis, Dermatitis kontak alergi.
PENATALAKSANAAN
 Non-medika mentosa
 Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit pasien, mulai dari
penyebab hingga cara penularannya
 Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan perserorangan terutama
kuku tangan dan kaki, seperti rajin menggunting kuku dan
membersihkannya , mandi 2x sehari, dan segera mengganti baju bila
berkeringat atau menggunakan pakaian jenis katun yang dapat
menyerap keringat.
 Menjelaskan kepada pasien untuk tidak menggaruk lesi yang gatal
dengan kuku, tetapi di usap-usap saja dengan tangan yang bersih.
 Mengganti sabun yang digunakan dengan sabun dove atau sabun bayi
yang mengandung pelembab
 Menjelaskan kepada pasien untuk minum obat sesuai petunjuk dan
teratur.
 Menjelaskan kepada pasien untuk mencuci pakaian, sprei, dan handuk
pasien di rumah dengan air panas. Tidak bertukar-tukar pakaian dan
handuk dengan anggota keluarga yang lain.
 Medikamentosa
 Sistemik
 Antifungi oral : Ketokonazol 2x200 mg selama 7 hari
 Antihistamin oral : ctm 1x 4 mg

 Topikal
 Keratolitik : asam salisilat 3%
 Kortikosteroid : kloderma ( klobetasol)
 Anti fungi : Fungisol ( ketoconazole)
Prognosis

Prognosis tinea corporis dapat menjadi bagus jika


terapi dan pengobatan yang dilakukan bagus
tetapi rekuren dapat terjadi jika penderita
tidak menjaga kebersihan dan hygiene tempat
yang terkena infeksi jamur itu dengan baik
BAB 3
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari kasus ini adalah :

 Pasien didiagnosa dengan tinea korporis karena dari anamnesis


dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang yang
dilakukan mendukung kearah diagnosa tersebut.
 Penyebab terjadinya tinea korporis yang tersering adalah
Trichophyton rubrum. Faktor predisposisi, terutama lingkungan
dengan kelembaban yang tinggi dan cuaca panas sangat
berperan memudahkan timbulnya penyakit ini.
 Penanganan yang diberikan pada pasien ini adalah terapi
medikamentosa dan pemberian KIE. Terapi medikamentosa
yang diberikan yaitu obat topikal berupa ketoconazol 2%
cream.
 Pemberian KIE sangat penting dalam kasus ini, hal ini
disebabkan karena penyakit ini memerlukan waktu yang cukup
lama untuk sembuh dan angka kekambuhannya cukup tinggi dan
sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi dan
kesabaran serta ketaatan pasien untuk berobat
Terima Kasih